Vietnam benar-benar fantastis. Sejak kebijakan renovasi (doi moi) diterapkan di
Vietnam, negeri ini seperti macan tidur yang bangkit dan berusaha melompat
tinggi, berusaha menerkam mangsa di atas ketinggian sekalipun. Saya sering
terhenyak, saat menyusuri kota-kota sepanjang teluk tonkin, kota-kota yang
dulunya mati ini berubah drastis, banyak bangunan baru yang modern, pusat
pembelanjaan, dan beragam tempat yang freshly seperti layaknya kota modern.
Kota-kota di sebelah selatan hanoi juga berkembang luar biasa, seperti Phu Ly,
Nam Dinh, Hung Yen, juga di utara Bao Ninh, Vin Yen, dll. Suasana perancis
seperti menyihir negeri ini, barangkali sisa-sisa kolonialisme perancis masih
terpatri dalam imajinasi arsitektural vietnam, namun sekarang vietnam modern
bertemu dengan perancis modern. Tidak saja arsitekturnya yang terpatri, tetapi
juga intelektualitas, aestetika dan romantika perancis mempengaruhi masyarakat
vietnam. Vietnam kini tidak segarang kisah perang vietnam, namun masyarakatnya
sangat hospitable and friendly.
Orang vietnam tidak terlalu ribut soal agama, negeri komunis ini terkesan
longgar dalam kebebasan beragama, namun tidak berminat membahas soal-soal
agama. Kemajuan Vietnam multi sektoral, selain industri dan perdagangan, juga
pembangunan yang tidak main-main di bidang pendidikan, kesejahteraan dan
community development. Etos kerja mereka mirip dengan saudara dan tetangganya,
tiongkok (RRC), kerja tanpa mengenal lelah. Mereka punya semangat untuk maju,
sepertinya kemajuan diri (self-progress) menjadi kebutuhan hidup yang utama,
ada semacam kebutuhan untuk selalu maju terus (need for achievement). Di
beberapa tempat, workshop dan trainning human resources development menjadi
fokus pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM vietnam, dan pesertanya
membludak! Saya kemudian teringat Indonesia, kebanyakan orang-orang di
Indonesia diikutkan training biasanya hanya untuk memenuhi formalitas, tidak
untuk need for achievement...!
Seorang pegawai hotel di nam dinh, Ngu Li namanya, ketika saya tanya tentang
tabungan, untuk apa dia menabung?, dia menjawab tabungan yang saya miliki untuk
persiapan anak-anak saya bisa sekolah ke perancis atau negeri lain, katanya.
Biasanya kalau prestasi akademiknya baik, akan dibantu oleh pemerintah juga,
katanya. Ya, vietnam telah menyadari bahwa pendidikan adalah investasi masa
depan. Education is asset. Menjadikan kesadaran pendidikan sebagai asset tidak
saja ditentukan oleh program pemerintah, tetapi juga oleh mentalitas dan kultur
sebuah masyarakat! Di beberapa tempat di vietnam juga terpampang slogan dalam
bahasa Inggris: Do not back down, keep going forward. Semangat yang luar biasa,
mentalitas dan kultur inilah yang belum terukir pada kebanyakan masyarakat
Indonesia!
Nam Dinh (Vietnam), 26 Jan 08
Salam,
Lukas Kristanto
Looking for the perfect gift? Give the gift of Flickr!
http://www.flickr.com/gift/