Sedikit koreksi untuk Republika:

sastrawan, bukan satrawan
represi, bukan respresi

Kenapa untuk Taufik Ismail pakai huruf besar semua? TS = "Sastrawan Senior"
Sepertinya kalau sudah ditabalkan sebagai sastrawan, tak perlu disebut senior 
atau yunior.

Lembaga sensor itu hanya cocok untuk negara otoriter dan fasis, macam Uni 
Soviet, RRC zaman dahulu kala. LSF adalah peninggalan Orba yang amat represif. 
Biarkan masyarakat yang menilai langsung sebuah karya film baik atau buruk. 
Kalau tidak pas, gugat saja.

---------------------------------------

Dian Sastro Ngotot Bubarkan Lembaga Sensor 
By  plinplan on  January 
24th, 2008 @ 19:01:04 
   
             
Dian Sastrowardoyo (eby/hot)
 
Jakarta, Dian Sastrowardoyo cs yang tergabung dalam Masyarakat Film 
Indonesia tetap meminta kepada Mahkamah Konstitusi untuk membubarkan 
Lembaga Sensor Film (LSF). Mereka beranggapan kalau LSF sudah tidak 
mampu menjalankan tugasnya dengan baik.
 
Menurut mereka, Undang-undang nomor 8 tahun 1992 tentang perfilman 
sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Undang-undang 
tersebut tidak sesuai lagi dengan animo perfilman Indonesia.
 
"Selain itu juga tadi di persidangan saksi-saksi yang diajukan oleh 
pemerintah mengatakan kalau mereka ketika nonton bioskop masih ada 
adegan ciuman atau kekerasan, tapi anak-anak masih bisa nonton. Jadi 
kelihatan sekali kalau LSF tidak menjalankan tugasnya dengan baik, 
jadi lebih baik dibubarkan saja LSF itu," jelas Riri Riza, sutradara 
film yang juga tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia saat 
ditemui di gedung Mahkamah Konstitusi, Jl. Medan Merdeka Barat, 
Jakarta Pusat, Kamis (24/1/2008) petang.
 
Tak hanya Riri yang bersuara kritis terhadap fungsi dan keberadaan 
LSF dalam perfilman nasional. Produser film Nia Dinata yang ditemui 
di kesempatan yang sama pun mengungkapkan demikian.
 
"Fungsi LSF menurut kami seharusnya diganti oleh Lembaga 
Klasifikasi Film yang bertugas memilah film yang beredar sesuai 
dengan rate-nya," imbuh Nia.
 
Sineas-sineas muda itu memang mengaku kecewa dengan LSF. Namun 
mereka mengaku tidak membenci LSF, Masyarakat Film Indonesia 
mengungkapkan kalau apa yang mereka perjuangkan di Mahkamah 
Konstitusi itu demi kebaikan industri film Indonesia.
 
Dian Sastro yang seharusnya memberikan kesaksian dari pihak 
Masyarakat Film Indonesia batal bersaksi. Namun dirinya mengaku 
tidak kecewa dan akan memberikan kesaksiannya seputar permohonan 
Masyarakat Film Indonesia soal keberadaan LSF 6 Februari 2008 
mendatang. 
 
Bintang film 'AADC' itu pun juga mempersoalkan keberadaan LSF dalam 
industri film Indonesia. "Kalau gue lebih cocok dengan Lembaga 
Klasifikasi Film, jadi gue bisa milih film-film yang cocok dengan 
selera gue. Masyarakat pun bisa memilih film yang sesuai dengan rate 
yang dicantumkan," pungkas Dian.(fjr/yla)




  ----- Original Message ----- 
  From: Satrio Arismunandar 
  To: [email protected] ; Forum Kompas ; news Trans TV ; Begundal 
Salemba ; jurnalisme ; pantau ; naratama naratama ; Eks DR 
  Sent: Friday, January 25, 2008 7:51 PM
  Subject: [ppiindia] Pro-kontra pembubaran Lembaga Sensor Film


  Sidang pleno uji materi UU No.8 tahun 1992 tentang
  perfilman di Mahkamah Konstitusi terkait dengan
  pro-kontra perlu tidaknya Lembaga Sensor Film (LSF)
  turut menghadirkan para saksi ahli dari kalangan
  budayawan dan satrawan.

  Budayan Goenawan Mohammad mengatakan saat ini ada
  respresi yang terjadi secara perlahan-lahan. Sastrawan
  Seno Gumira Ajidarma, yang menjadi ahli pemohon
  (pelaku perfilman Indonesia) mengatakan LSF sebagai
  representasi negara dan regulasi sudah tidak berdaya
  di tengah samudera informasi saat ni. Keberadaan LSF
  menyiratkan penonton dianggap masih pasif yang tidak
  mengetahui apa-apa. (Koran Tempo, 25 Januari 2008)

  Keberadaan LSF digugat sejumlah insan perfilman karena
  dipandang membatasi kreativitas seni.

  Berbeda dengan Goenawan dan Seno, Sastrawan Senior
  Taufik Ismail mengkritik upaya insan perfilman yang
  menginginkan LSF dibubarkan. Bahkan Taufik membacakan
  puisinya berjudul Tebing tak Tampak, Jurang tak
  Tampak.

  Di desa kami ada tebing yang curam dan ada jurang yang
  dalam. Diantaranya ada sepetak tanah datar tempat
  anak-anak bermain. Tebing dan jurang tersebut
  dikelilingi oleh pagar. Tiba-tiba anak-anak muda ABG
  yang sedang bermain, berdemo. Kami menuntut pagar
  dibongkar, kami menuntut kebebasan. Kami tolak
  pembatasan dalam bentuk apa pun. Apa itu pagar, apa
  itu pembatasan. Kami mau bebas sebebas-bebasnya. Demo
  berlangsung dengan hiruk-pikuk, Namun, sekelompok anak
  muda lainnya yang tidak ikut berdemo hanya mengatakan
  bahwa mereka yang berdemo itu adalah buta semua
  matanya. Karena mereka tidak bisa melihat tebing yang
  tinggi dan jurang yang dalam. Yang kalau masuk ke
  dalamnya bisa patah tulang bahkan mati.

  (Republika, 25 Januari 2008)

  Taufik juga menantang pembuat film untuk membuat film
  porno yang dibintangi sendiri oleh ibu, istri dan
  saudara perempuan para pembuat film untuk mengelitik
  rasa malu. 

  =========
  (Saya kutip dari Multiply. Satrio)

  __________________________________________________________
  Looking for last minute shopping deals? 
  Find them fast with Yahoo! Search. 
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping


   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.11/1242 - Release Date: 24/01/2008 
20:32


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke