Hallo Mas Lukas, Menarik nih kisahnya. Terima kasih banyak untuk ceritanya.
Apakah masih di Vietnam? salam, radityo ----- Original Message ----- From: Lukas Kristanto To: [email protected] Sent: Saturday, January 26, 2008 8:09 AM Subject: [ppiindia] Belajar Dari Vietnam, Jangan Tidur Vietnam benar-benar fantastis. Sejak kebijakan renovasi (doi moi) diterapkan di Vietnam, negeri ini seperti macan tidur yang bangkit dan berusaha melompat tinggi, berusaha menerkam mangsa di atas ketinggian sekalipun. Saya sering terhenyak, saat menyusuri kota-kota sepanjang teluk tonkin, kota-kota yang dulunya mati ini berubah drastis, banyak bangunan baru yang modern, pusat pembelanjaan, dan beragam tempat yang freshly seperti layaknya kota modern. Kota-kota di sebelah selatan hanoi juga berkembang luar biasa, seperti Phu Ly, Nam Dinh, Hung Yen, juga di utara Bao Ninh, Vin Yen, dll. Suasana perancis seperti menyihir negeri ini, barangkali sisa-sisa kolonialisme perancis masih terpatri dalam imajinasi arsitektural vietnam, namun sekarang vietnam modern bertemu dengan perancis modern. Tidak saja arsitekturnya yang terpatri, tetapi juga intelektualitas, aestetika dan romantika perancis mempengaruhi masyarakat vietnam. Vietnam kini tidak segarang kisah perang vietnam, namun masyarakatnya sangat hospitable and friendly. Orang vietnam tidak terlalu ribut soal agama, negeri komunis ini terkesan longgar dalam kebebasan beragama, namun tidak berminat membahas soal-soal agama. Kemajuan Vietnam multi sektoral, selain industri dan perdagangan, juga pembangunan yang tidak main-main di bidang pendidikan, kesejahteraan dan community development. Etos kerja mereka mirip dengan saudara dan tetangganya, tiongkok (RRC), kerja tanpa mengenal lelah. Mereka punya semangat untuk maju, sepertinya kemajuan diri (self-progress) menjadi kebutuhan hidup yang utama, ada semacam kebutuhan untuk selalu maju terus (need for achievement). Di beberapa tempat, workshop dan trainning human resources development menjadi fokus pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM vietnam, dan pesertanya membludak! Saya kemudian teringat Indonesia, kebanyakan orang-orang di Indonesia diikutkan training biasanya hanya untuk memenuhi formalitas, tidak untuk need for achievement...! Seorang pegawai hotel di nam dinh, Ngu Li namanya, ketika saya tanya tentang tabungan, untuk apa dia menabung?, dia menjawab tabungan yang saya miliki untuk persiapan anak-anak saya bisa sekolah ke perancis atau negeri lain, katanya. Biasanya kalau prestasi akademiknya baik, akan dibantu oleh pemerintah juga, katanya. Ya, vietnam telah menyadari bahwa pendidikan adalah investasi masa depan. Education is asset. Menjadikan kesadaran pendidikan sebagai asset tidak saja ditentukan oleh program pemerintah, tetapi juga oleh mentalitas dan kultur sebuah masyarakat! Di beberapa tempat di vietnam juga terpampang slogan dalam bahasa Inggris: Do not back down, keep going forward. Semangat yang luar biasa, mentalitas dan kultur inilah yang belum terukir pada kebanyakan masyarakat Indonesia! Nam Dinh (Vietnam), 26 Jan 08 Salam, Lukas Kristanto Looking for the perfect gift? Give the gift of Flickr! http://www.flickr.com/gift/ ------------------------------------------------------------------------------ No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.11/1242 - Release Date: 24/01/2008 20:32 [Non-text portions of this message have been removed]

