++++ Ini lho salma pei pei dan haris bin bilal bin yamaha kenyataan 
yang mendera umat mayo di Indonesia. jadi jangan ngoceh terus terusan 
mengenai tuhan yang lebih merakhmati kamu dkk. Jadi jangan urus 
akherat dulu sebelum homework-mu didunia ini tuntas..

Tuhan Tuhan umat lain kayaknya lebih murah hati terhadap umatnya 
dehhh...




Gizi Masyarakat dan Kualitas Manusia Indonesia

Jumat, 25 januari 2008 | 03:44 WIB 
Siswono Yudo Husodo

Tanggal 25 Januari setiap tahun kita peringati sebagai Hari Gizi, dan 
seyogianyalah dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kualitas 
gizi masyarakat adalah salah satu penentu kemajuan bangsa-negara kita 
ke depan.

Krisis ekonomi yang telah berlangsung lama telah meningkatkan angka 
kemiskinan dan diikuti dengan penurunan kualitas gizi masyarakat. 
Indikatornya, di berbagai daerah terus ditemukan kasus busung lapar, 
gizi buruk, dan aneka penyakit rakyat karena melemahnya fisik serta 
menurunnya daya tahan tubuh karena kualitas gizi yang rendah, yang 
disebabkan oleh terbatasnya pengetahuan dan ketidakberdayaan ekonomi. 
Banyak keluarga menghabiskan uang untuk rokok daripada untuk susu 
bagi anaknya.

Kualitas pangan rakyat kita selama ini telah meningkat cukup baik 
melalui kampanye intensif 4 Sehat 5 Sempurna. Empat sehat: nasi, 
jagung, ubi kayu (sumber karbohidrat), daging, telur, ikan (sumber 
protein dan lemak), sayur dan buah-buahan (sumber serat, vitamin dan 
mineral); dan sempurna dengan ditambah susu. Namun, bangsa-bangsa 
lain asupan gizinya meningkat jauh lebih baik, akibatnya secara 
relatif kualitas pangan rakyat kita menjadi kurang baik jika 
dibandingkan dengan banyak negara lain.

Di mana pun, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) 
ditentukan oleh kualitas pangan yang dikonsumsi rakyat yang akan 
menentukan tingkat pertumbuhan fisiknya, termasuk kecerdasannya, di 
samping pendidikan yang bermutu dan pelayanan kesehatan yang baik.

Makan seadanya

Terlalu lama kita membiarkan bangsa ini makan seadanya. Jika 
dibandingkan dengan negara-negara lain, kecuali beras, tingkat 
konsumsi per kapita tiap tahun Indonesia untuk berbagai produk pangan 
penting masih sangat rendah. 

Tingkat konsumsi rakyat Indonesia untuk telur 3,48 kg/kapita/tahun, 
Malaysia 17,62 kg, dan Filipina 4,51 kg. Konsumsi rakyat Indonesia 
untuk daging 7,1 kg/kapita/tahun, Malaysia 46,87 kg, dan Filipina 
24,96 kg.

Sebagai negara yang 75 persen wilayahnya berupa lautan yang luasnya 
5,8 juta km persegi, konsumsi ikan rakyat kita juga masih rendah, 
baru 26 kg/kapita/tahun, di bawah Malaysia yang 45 kg dan jauh di 
bawah Jepang yang 70 kg/ kapita/tahun. Konsumsi sayuran bangsa kita 
37,94 kg/kapita/tahun, sementara standar FAO 65,75 kg dan tingkat 
konsumsi susu rakyat Indonesia baru 6,50 liter kapita/tahun, 
sementara India telah mencapai 40 liter.

Tak akan ada peningkatan kualitas SDM bangsa kita tanpa peningkatan 
kualitas gizi makanan sehari-hari masyarakat, terutama protein, 
mineral, dan vitamin.

Tantangan untuk mengupayakan perbaikan gizi rakyat tidaklah kecil. 
Pertumbuhan penduduk Indonesia yang tinggi, sekitar 1,4 persen per 
tahun, dan kondisi gizi masyarakat saat ini yang masih rendah 
menyebabkan Indonesia menghadapi tantangan ganda; memerlukan 
peningkatan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan akibat 
pertambahan penduduk yang tinggi dan peningkatan konsumsi per kapita.

Dunia tempat kita tinggal berkembang ke arah kompetisi yang semakin 
ketat. Semua negara di Bumi ini berlomba mencapai standar hidup dan 
kualitas manusia yang semakin tinggi. Tinggi rendahnya harkat, 
derajat, dan martabat suatu bangsa semakin diukur dari tingkat 
kesejahteraan, budaya, dan peradabannya.

Dahulu, tahun 50 dan 60-an, di bidang olahraga kita dapat unggul 
bersaing di tingkat Asia, kini di tingkat ASEAN pun kita kalah 
dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Padahal, sampai 
tahun 1997 kita selalu memegang juara umum. Buruknya kualitas gizi 
masyarakat kitalah yang sesungguhnya menjadi penyebabnya, di samping 
sistem pembinaan yang kurang baik dan kurangnya sarana olahraga.

Daya saing nasional

Laporan Human Development Index (HDI) tahun 2005 menunjukkan bahwa 
kita ada di peringkat 107, sementara Malaysia 63 dan Singapura 25. 
Peringkat daya saing nasional kita juga memperlihatkan posisi yang 
terus merosot. Posisi daya saing Indonesia tahun 2001 ada di 
peringkat 46 dunia, dan terus menurun hingga tahun 2006 ada di posisi 
ke-60. 

Berbeda dengan China yang tahun 2001 ada di peringkat 26, tahun 2006 
naik ke posisi 19; atau India yang tahun 2001 ada di posisi 42, tahun 
2006 naik ke peringkat 29.



------deleted----------

+++ Nahhhh? ayo deh terus urusin agama orang lain, yang notabene 
lebih berhasil dalam mengatasi hidup daripada Pei pei dkk...

Kirim email ke