----- Original Message ----
From: fitra sukiadi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, 16 January, 2008 1:40:31 PM
Subject: [IDVI] BERBEDA: Anwari Doel Arnowo

Intro:
Tulisan ini dibuat oleh Anwari Doel Arnowo, salah satu putra tokoh perjuangan 
sahabat BK yaitu Doel Arnowo yg pernah menjabat Walikota Surabaya tahun 
60-70an. Anwari sekarang menetap di Kanada sebagai Permanent Resident. 
Tulisan ini sangat penting untuk dibaca dan direnungkan bahwa kharisma, 
kejayaan dan kemuliaan seseorang tidak bisa dibungkam, dipungkiri, 
dimanipulasi, apalagi direkayasa.. apa yang akan terjadi pada mantan penguasa 
orde baru yang sedang "menggantung" nasibnya.. hanya Tuhan yang tahu! Yang 
paling penting tulisan ini bisa menambah wacana sejarah baru bagi kita generasi 
penerus bangsa.
 
happy reading, have a nice day! 
philosophia indirasari (fitra)
 
 
Berbeda.....!
Oleh: Anwari Doel Arnowo
Sabtu, 12 Januari 2008.   
 
Pagi-pagi tanggal 21 Juni 1970 saya sudah berada di sebuah lubang yang 
disiapkan untuk kuburan manusia. Sederhana sekali dan sesederhana semua makam 
di sekelilingnya. Sudah ada sekitar seratusan manusia hidup berada di situ dan 
semua hanya berada di situ, tanpa mengetahui apa saja tugas mereka sebenarnya. 
Yang jelas semuanya bermuka murung dan ada yang matanya penuh airmata akan 
tetapi bersinar dengan garang, kelihatan roman muka yang marah. Ya, sayapun 
marah hanya saja saya bisa menahan diri agar tidak terlalu kentara terlihat 
oleh umum. 
 
Kita semua di kota Malang mendengar tentang almarhum yang diberitakan telah 
meninggal dunia sejak pagi hari dan sudah menyiapkan diri untuk menunggu 
keputusan pemakamannya di mana. Sesuai amanat almarhum,  seperti sudah menjadi 
pengetahuan masyarakat umum yang secara luas, keinginannya amat jelas agar 
dimakamkan di sebuah tempat di pinggir kali di bawah sebuah pohon yang rindang 
di Jawa Barat {asumsi semua orang adalah di rumah Bung Karno di Batu Tulis di 
kota Bogor}. Tetapi lain wasiat dan amanah, lain pula Pemerintah mengambil 
keputusan agar dimakamkan di kota Blitar, menyebutkan sebagai tempat 
kelahirannya. Saya menilai hal ini adalah sebuah keputusan yang amat ceroboh. 
Bung Karno, yang kita bicarakan ini, terlahir di Surabaya di daerah Pasar Besar 
[bukan di Kota Blitar] dengan nama Koesno dan ikut orang tuanya yang jabatan 
ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru yang mengajar di 
sebuah Sekolah di Mojokerto dan kemudian dipindah ke
 Blitar. Di sinilah ayah Bung Karno, meninggal dunia dan dimakamkan juga di 
sisinya, istrinya (yang orang Bali) bernama Ida Ayu Nyoman Rai. 
 
Makam kedua orang tuanya ini akhirnya ditempatkan bersama-sama dengan para 
pahlawan yang gugur membangun dan mempertahankan Indonesia. Taman Makam 
Pahlawan ini bernama SENTUL dan menjadi tujuan di mana pemakaman Bung Karno 
akan dilaksanakan. 
Maka setelah matahari sudah tinggal sepenggalan sebelum terbenam, rombongan 
jenazah akhirnya sampai di tempat tujuan. Yang hadir didorong-dorong oleh 
barisan tentara angkatan darat yang berbaris dengan memaksa kumpulan manusia 
agar upacara dapat dilaksanakan dengan layak. Tampak Komandan Upacara jenderal 
Panggabean memulai upacara dan kebetulan saya berdiri berdesak-desakan 
disamping Bapak Kapolri Hoegeng Iman Santosa, yang sedang sibuk berbicara 
dengan suara ditahan agar rendah frekuensinya tidak mengganggu suara aba-aba 
yang sudah diteriak-teriakkan. Saya berbisik kepada beliau, ujung paling 
belakang rombongan ini berada di mana? Beliau menjawab singkat di kota Wlingi. 
Huh?? Sebelas kilometer panjangnya iring-iringan rombongan ini sejak dari 
lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, di sebelah Utara kota Malang. 
Pak Hoegeng yang sederhana itu kelihatan murung dan sigap melakukan tugasnya. 
Dia berbisik kepada saya: " There goes a very great
 man!!" – Maka pergilah seorang yang hebat luar biasa!! Saya amat terharu 
mendengarnya, apalagi melihat ambulans (mobil jenazah) yang mengangkut Bung 
Karno kita, Bung Karno-ku, terlalu amat sederhana bagi seorang besar seperti 
beliau, Putra Sang Fajar (julukan ini digunakan karena Bung karno lahir pada 
waktu fajar sedang menyingsing). Saya lihat amat banyak manusia mengalir 
seperti aliran sungai dari pecahan rombongan pengiring. Sempat saya tanyakan, 
ada yang mengaku dari Madiun, dari Banyuwangi bahkan dari Bali.. Saya menuju ke 
arah berlawanan dengan tujuan ke rumah Bung Karno, di mana kakak kandung 
beliau, Ibu Wardojo tinggal. Hari sudah gelap dan perut terasa lapar karena 
kita tidak berhasil mendapatkan makanan atau minuman, sebab kalaupun ada warung 
atau penjual makanan, pasti sudah kehabisan minuman / makanan apapun yang bisa 
ditelan. 
Saya ingat bahwa orang Muhammadiyah tidak memberi hidangan, minum sekalipun, 
kepada kaum pelayat. Bung Karno adalah orang Muhammadiyah. Kota Blitar tidak 
siap menampung orang sekian banyak.. Setelah dilakukan pemakaman jenazah Bung 
Karno, beberapa waktu di kemudian hari semua makam Pahlawan di Taman Pahlawan 
Sentul ini dipindahkan ke Mendukgerit, yang telah saya kenal sebelumnya sebagai 
Bendogerit. 
 
Pemindahan ini dilaksanakan dengan alasan di lokasi pemakaman sudah penuh, 
tetapi pada kenyataannya kemudian ada proyek pembangunan makam Bung Karno yang 
memakan area cukup lebar. Sejarah mencatat bahwa sejak tahun 1971 sampai dengan 
1979 makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi oleh umum, dan dijaga oleh 
tentara. Kalau mau mengunjungi makam harus minta ijin terlebih dahulu ke 
Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan ijin mengunjungi 
makam? Saya bersama ibu saya dan beberapa saudara datang secara mendadak pergi 
ke Blitar dengan tujuan utama ziarah ke Makam Bung Karno. Tanpa ragu kita ikuti 
aturan dan akhirnya sampai ke pimpinannya yang paling tinggi. Saya ikut sampai 
di meja pemberi ijin dan sudah ditentukan oleh kita bersama, bahwa salah satu 
saudara saya saja yang berbicara. Saya sendiri meragukan emosi saya, bisakah 
saya bertindak tenang terhadap isolasi kepada sebuah makam oleh Pemerintah atau 
rezim? Nah, ternyata meskipun tidak
 terlalu ramah, mereka melayani dengan muka stoned face- muka yang seperti 
dilipat. Mungkin dengan menunjukkan muka seperti itu merasa bertambah rasa 
gagahnya terhadap rakyat biasa macam kami. 
 
Akhirnya semua OKAY dan kami mendapat sepucuk surat. Apa yang terjadi? 
Sesampainya di makam kami turun dari kendaraan kami dan saya bawa surat ijin 
dari "malaikat KODIM" itu, menunjukkan kepada tentara yang menjaga makam. Waktu 
kumpeni (sebutan umum kalau sedang jengkel terhadap tentara) ini membaca 
suratnya, saya terdorong untukmenoleh ke arah belakang. Terkejut saya. Selain 
rombongan sendiri, Ibu saya dan saudara-saudara, telah mengikuti kami sebanyak 
lebih dari tiga puluh orang, bergerombol. Mereka, orang-orang yang tidak kami 
kenal sama sekali, melekat secara rapat dengan rombongan kami. Saya lupa persis 
bagaimana, akan tetapi saya ingat kami memasuki pagar luar dan kami bisa 
mendekat sampai ke dinding kaca tembus pandang dan hanya memandang makamnya 
dari jarak, yang mungkin hanya sekitar tiga meter. 
 
Para pengikut dadakan yang berada di belakang rombongan kami dengan muka 
berseri-seri, merasa beruntung dapat ikut masuk ke dalam lingkungan pagar luar 
itu. Ada yang bersila, memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya, posisi 
menyembah. Saya tidak memperhatikannya, tetapi jelas dia bukan berdoa cara 
Islam. Mereka khusyuk sekali dan waktu kami kembali menuju ke kendaraan kami, 
beberapa diantara mereka menjabat tangan dan malah ada yang menciumnya, membuat 
saya merasa risih (segan, malu dan salah tingkah bercampur-aduk). Salah seorang 
dari mereka ini mengatakan bahwa dia sudah dua hari bermalam di sekitar situ di 
udara terbuka menunggu sebuah kesempatan seperti yang telah terjadi tadi. Tanpa 
kata-kata, saya merasakan getar hati rakyat, rakyat Marhaen kata Bung Karno! 
 
Mereka menganggap Bung Karno bukan sekedar Proklamator, tetapi seorang Pemimpin 
mereka dan seorang Bapak mereka. Apapun yang disebarluaskan dan berlawanan arti 
dengan kepercayaan mereka itu semuanya dianggap persetan. Dalam hubungan Bung 
Karno dengan Rakyat, tidak ada unsur uang berbicara. 
Saya ketik ini pukul: 10:36:04 malam, datang telepon seorang teman menanyakan 
saya sedang apa. Saya katakan saya sedang berada di depan komputer. Dia bilang 
di TV sedang disiarkan detik-detik terakhir. Saya balas bertanya apa maksudnya? 
Sebelum dia sempat menjawab, pikiran saya segera sadar bahwa yang dimaksud 
tentunya mengenai "pahlawan" jenderal berbintang lima: Suharto. Ditayangkan 
kesibukan di Rumah Sakit Pertamina di Jalan Kyai Maja di Kebayoran Baru. Mulai 
penayangan kesibukan petugas keamanan, petugas dari media dengan alat-alat 
perekamnya berupa kamera photo maupun kamera video.. Pakai jas putih 
berderet-deret dari kiri ke kanan dan dari belakang ke depan, para dokter. 
Diantara para dokter itu saya kenali satu orang tetapi hati saya tetap geli 
karena saya kok seperti berada di dalam ruangan tokoya san-barber-tukang cukur 
rambut. 
Lepas dari beberapa pernyataan para dokter yang dihiasi dengan penggambaran 
mengenai kondisi sang jenderal berbintang lima buah masing-masing di kiri dan 
di kanan, secara detil memberikan gambaran organ ini dan itu, alat-alat serta 
status kondisi medisnya. 
Obat apa yang kiranya yang diaplikasikan dan konon ada cerita yang menyebutkan 
adanya pembelian alat scan baru untuk kegiatan upaya memanjangkan umur. Kata 
rumor sih harganya satu juta USDollar. Wallahualam. Empat puluh dokter Tim 
Medis, untuk kesembuhan satu orang jenderal ditambah pembelian alat baru yang 
sekian, berapakah kiranya jumlah biaya seluruh upaya seperti ini yang 
ditanggung oleh uang rakyat … ? 
Alangkah beda sekali.
Beda sekali dengan Bung Karno.
Seperti bumi dengan langit!!
Kami sudah mendengar bahwa Bung Karno sakit sejak lama.
Berita bagaimana keadaannya tidak dapat diakses oleh orang kebanyakan. Bung 
Karno kita yang ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki 
Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto, dikhabarkan amat menderita. Anak-anaknya 
tidak dapat bebas mengunjunginya dan kemudian sekali saya mengetahui dari 
kisah-kisah mereka, banyak resep dokter Mahar Mardjono hanya ditumpuk di sebuah 
sudut di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di aitu 
tidak pernah ditukarkan dengan obat, itu berarti tidak pernah diaplikasikan 
kepada sang pasien, Bung Karno yang kita cintai.  
Pada tahun 1988an saya berkenalan dengan seorang pensiunan Polisi Militer. 
Karena sesuatu keperluan saya pergi ke rumah pak Djajadi, seorang pelaksana 
pekerjaan di lingkungan PT Ancol. Rumahnya di daerah Bungur, dekat daerah Senen 
/ Kemayoran, di mana sang pensiunan CPM itu tinggal. Dia menunjukkan kepada 
saya sebuah pena yang diterimanya karena diberi oleh Bung Karno waktu menjaga 
Bung Karno yang sedang ditahan di Wisma Yasso. Dia diberitau bahwa pena itu 
adalah yang dipakai sebagai pena yang menandatangani Surat Perintah Sebelas 
Maret. 
Dia bercerita demikian sambil matanya berkaca-kaca karena rasa haru dan dia 
memberitaukan bahwa Bung Karno itu manusia yang baik hati. Ini dia katakan 
karena beliau mau memberikan sebuah kenangan benda bersejarah seperti itu 
kepadanya, sebagai kenang-kenangan, karena tidak mempunyai apapun lagi yang 
bisa di berikan kepadanya. 
Tidak lupa dia menceritakan sesuatu yang tidak saya duga-duga sebelumnya. Dalam 
pergaulannya selama berbulan-bulan menjaga beliau itu, Bung Karno mengatakan 
kepadanya bahwa Surat Perintah Sebelas Maret itu telah dipakai dan 
disalahgunakan oleh penerimanya dengan menumpangkan kepentingannya sendiri. Dia 
akhiri dengan: "Saya selaku seorang anggota militer hanya bisa menjalankan 
tugas yang dibebankan kepada saya, meskipun tindakan saya selama bertugas itu 
banyak bertentangan dengan hati nurani saya sendiri. 
 
Kalau mengenai kondisi seperti ini Presiden yang sedang berkuasa tidak 
mengetahui, maka itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Saya kira pendukungnya, 
terutama yang sekarang, saat ini, sedang membelanya mati-matian, tentu tau 
ungkapan terkenal: 
Tidak ada seorang prajurit yang salah. 
Yang salah adalah Komandan mereka!! 
Banyak nian orang Indonesia yang mengetahui hal-hal seperti ini tidak berani, 
tidak sempat dan terhalang untuk menceritakannya kepada orang lain, sehingga 
sejarah tidak dapat hadir dengan utuh kepada rakyat Indonesia. Sejarah banyak 
diberi kosmetik dan diputar dan dibalik sekehendak penguasa. Itulah sebabnya 
selalu saya ulangi bahwa ejaan dalam bahasa Inggris untuk kata sejarah adalah 
HISTORY dengan satu huruf s, bukan dua buah: HISSTORY yang bisa dipisahkan 
menjadi HIS STORY (Cerita Dia).


      ___________________________________________________________
Support the World Aids Awareness campaign this month with Yahoo! For Good 
http://uk.promotions.yahoo.com/forgood/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke