ini juga ada postingan yang mengisahkan tentang wafatnya Putra sang 
Fajar,Presiden Pertama kita yang tercinta Ir Soekarno...
   
   
    Posted by Iman Brotoseno 
  under: SEJARAH; SOEKARNO
   
  Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam
  ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel
  goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai
  Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah
  menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik
  mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua
  saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara
  langsung jenasah Soekarno.
  Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan
  Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan.
  " Pak Karno seda " ( meninggal )
  Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso.
  Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3
  truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan
  Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO
  Hartono - Panglima KKO - pernah berkata ,
  " Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah
  kata KKO "
  Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk
  turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral
  Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa
  divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan
  panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.
   
  Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia
  tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah
  dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan
  membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.
  The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun
  menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan
  istana pindah ke istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari
  Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi
  yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang.
  Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang
  barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang
  barang lain semuanya ditinggalkan.
  " Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi ,
  demikian Bung Karno menenangkan istrinya.
  Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis
  sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso.
  Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie
  diasingkan menjadi dubes di London . Jendral KKO Hartono secara
  misterius mati terbunuh di rumahnya.
   
  Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak
  yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka
  masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan
  kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya
  dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan
  mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta! dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta -
  yang juga berasal dari KKO Marinir.
   
  Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta
  baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak.
  Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh
  dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya
  termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam
  dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan
  jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman
  belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !.
  Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet
  di lantai di ruang tengah.
  Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah,
  sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang
  lain.
  Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan
  jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak
  dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor . Pihak militer tetap tak mau
  mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu
  kota.
  Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan
  terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.
   
  Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa,
  " Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso.
  Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul
  mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap
  Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan
  pengobatan yang seharusnya diberikan. "
  ( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )
   
  dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung
  Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter
  Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang
  diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi
  penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat
  yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.

  ( Kompas 11 Mei 2006 )
   
  Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut,
  " Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana
  Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad
  "
  ( Kompas 13 Januari 2008 )
   
  Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden
  Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan
  canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela
  yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun
  Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan
  ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus
  menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden !
   
  Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah
  sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan
  munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika
  justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah tragis ini 
tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena 
selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada 
korban dari mereka yang mempertentangkan
  benar atau salah.
   
  Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.
  Kesadaran adalah Matahari
  Kesabaran adalah Bumi
  Keberanian menjadi cakrawala
  Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata
  ( * WS Rendra )
   
  

Deddy Wahyudi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          BUNG...DERITAMU....TERLUKIS DALAM SEJARAH.....! SUPAYA MATA 
MELIHAT... BAHWA KAU, MANTAN PRESIDEN DAN PROKLAMATOR YANG DISIA-SIAKAN 
PENGGANTIMU....! PERLAKUAN REZIM ORBA AKAN TERBALAS GENERASI-GENERASI YANG AKAN 
DATANG....! SEJARAH ADALAH SEJARAH..., YANG REL NYA TIDAK PERNAH BENGKOK...., 
SEMUA YANG DITUTUPI AKAN TERKUAK....!

Salam
Deddy Wahyudi

Rulita Damayanti wrote: 
> ----- Original Message ---- 
> From: fitra sukiadi < [EMAIL PROTECTED] com > 
> To: islamic_discussion_ via_internet@ yahoogroups. com 
> Sent: Wednesday, 16 January, 2008 1:40:31 PM 
> Subject: [IDVI] BERBEDA: Anwari Doel Arnowo 
> Intro: 
> Tulisan ini dibuat oleh Anwari Doel Arnowo, salah satu putra tokoh perjuangan 
> sahabat BK yaitu Doel Arnowo yg pernah menjabat Walikota Surabaya tahun 
> 60-70an. Anwari sekarang menetap di Kanada sebagai Permanent Resident. 
> Tulisan ini sangat penting untuk dibaca dan direnungkan bahwa kharisma, 
> kejayaan dan kemuliaan seseorang tidak bisa dibungkam, dipungkiri, 
> dimanipulasi, apalagi direkayasa.. apa yang akan terjadi pada mantan penguasa 
> orde baru yang sedang "menggantung" nasibnya.. hanya Tuhan yang tahu! Yang 
> paling penting tulisan ini bisa menambah wacana sejarah baru bagi kita 
> generasi penerus bangsa. 
> happy reading, have a nice day! 
> philosophia indirasari (fitra) 
> Berbeda..... ! 
> Oleh: Anwari Doel Arnowo 
> Sabtu, 12 Januari 2008. 
> Pagi-pagi tanggal 21 Juni 1970 saya sudah berada di sebuah lubang yang 
> disiapkan untuk kuburan manusia. Sederhana sekali dan sesederhana semua makam 
> di sekelilingnya. Sudah ada sekitar seratusan manusia hidup berada di situ 
> dan semua hanya berada di situ, tanpa mengetahui apa saja tugas mereka 
> sebenarnya. Yang jelas semuanya bermuka murung dan ada yang matanya penuh 
> airmata akan tetapi bersinar dengan garang, kelihatan roman muka yang marah. 
> Ya, sayapun marah hanya saja saya bisa menahan diri agar tidak terlalu 
> kentara terlihat oleh umum. 
> Kita semua di kota Malang mendengar tentang almarhum yang diberitakan telah 
> meninggal dunia sejak pagi hari dan sudah menyiapkan diri untuk menunggu 
> keputusan pemakamannya di mana. Sesuai amanat almarhum, seperti sudah menjadi 
> pengetahuan masyarakat umum yang secara luas, keinginannya amat jelas agar 
> dimakamkan di sebuah tempat di pinggir kali di bawah sebuah pohon yang 
> rindang di Jawa Barat {asumsi semua orang adalah di rumah Bung Karno di Batu 
> Tulis di kota Bogor}. Tetapi lain wasiat dan amanah, lain pula Pemerintah 
> mengambil keputusan agar dimakamkan di kota Blitar, menyebutkan sebagai 
> tempat kelahirannya. Saya menilai hal ini adalah sebuah keputusan yang amat 
> ceroboh. Bung Karno, yang kita bicarakan ini, terlahir di Surabaya di daerah 
> Pasar Besar [bukan di Kota Blitar] dengan nama Koesno dan ikut orang tuanya 
> yang jabatan ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru yang 
> mengajar di sebuah Sekolah di Mojokerto dan kemudian dipindah ke 
> Blitar. Di sinilah ayah Bung Karno, meninggal dunia dan dimakamkan juga di 
> sisinya, istrinya (yang orang Bali) bernama Ida Ayu Nyoman Rai. 
> Makam kedua orang tuanya ini akhirnya ditempatkan bersama-sama dengan para 
> pahlawan yang gugur membangun dan mempertahankan Indonesia. Taman Makam 
> Pahlawan ini bernama SENTUL dan menjadi tujuan di mana pemakaman Bung Karno 
> akan dilaksanakan. 
> Maka setelah matahari sudah tinggal sepenggalan sebelum terbenam, rombongan 
> jenazah akhirnya sampai di tempat tujuan. Yang hadir didorong-dorong oleh 
> barisan tentara angkatan darat yang berbaris dengan memaksa kumpulan manusia 
> agar upacara dapat dilaksanakan dengan layak. Tampak Komandan Upacara 
> jenderal Panggabean memulai upacara dan kebetulan saya berdiri 
> berdesak-desakan disamping Bapak Kapolri Hoegeng Iman Santosa, yang sedang 
> sibuk berbicara dengan suara ditahan agar rendah frekuensinya tidak 
> mengganggu suara aba-aba yang sudah diteriak-teriakkan. Saya berbisik kepada 
> beliau, ujung paling belakang rombongan ini berada di mana? Beliau menjawab 
> singkat di kota Wlingi. Huh?? Sebelas kilometer panjangnya iring-iringan 
> rombongan ini sejak dari lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, di 
> sebelah Utara kota Malang. Pak Hoegeng yang sederhana itu kelihatan murung 
> dan sigap melakukan tugasnya. Dia berbisik kepada saya: " There goes a very 
> great 
> man!!" – Maka pergilah seorang yang hebat luar biasa!! Saya amat terharu 
> mendengarnya, apalagi melihat ambulans (mobil jenazah) yang mengangkut Bung 
> Karno kita, Bung Karno-ku, terlalu amat sederhana bagi seorang besar seperti 
> beliau, Putra Sang Fajar (julukan ini digunakan karena Bung karno lahir pada 
> waktu fajar sedang menyingsing) . Saya lihat amat banyak manusia mengalir 
> seperti aliran sungai dari pecahan rombongan pengiring. Sempat saya tanyakan, 
> ada yang mengaku dari Madiun, dari Banyuwangi bahkan dari Bali.. Saya menuju 
> ke arah berlawanan dengan tujuan ke rumah Bung Karno, di mana kakak kandung 
> beliau, Ibu Wardojo tinggal. Hari sudah gelap dan perut terasa lapar karena 
> kita tidak berhasil mendapatkan makanan atau minuman, sebab kalaupun ada 
> warung atau penjual makanan, pasti sudah kehabisan minuman / makanan apapun 
> yang bisa ditelan. 
> Saya ingat bahwa orang Muhammadiyah tidak memberi hidangan, minum sekalipun, 
> kepada kaum pelayat. Bung Karno adalah orang Muhammadiyah. Kota Blitar tidak 
> siap menampung orang sekian banyak.. Setelah dilakukan pemakaman jenazah Bung 
> Karno, beberapa waktu di kemudian hari semua makam Pahlawan di Taman Pahlawan 
> Sentul ini dipindahkan ke Mendukgerit, yang telah saya kenal sebelumnya 
> sebagai Bendogerit. 
> Pemindahan ini dilaksanakan dengan alasan di lokasi pemakaman sudah penuh, 
> tetapi pada kenyataannya kemudian ada proyek pembangunan makam Bung Karno 
> yang memakan area cukup lebar. Sejarah mencatat bahwa sejak tahun 1971 sampai 
> dengan 1979 makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi oleh umum, dan dijaga 
> oleh tentara. Kalau mau mengunjungi makam harus minta ijin terlebih dahulu ke 
> Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan ijin mengunjungi 
> makam? Saya bersama ibu saya dan beberapa saudara datang secara mendadak 
> pergi ke Blitar dengan tujuan utama ziarah ke Makam Bung Karno. Tanpa ragu 
> kita ikuti aturan dan akhirnya sampai ke pimpinannya yang paling tinggi. Saya 
> ikut sampai di meja pemberi ijin dan sudah ditentukan oleh kita bersama, 
> bahwa salah satu saudara saya saja yang berbicara. Saya sendiri meragukan 
> emosi saya, bisakah saya bertindak tenang terhadap isolasi kepada sebuah 
> makam oleh Pemerintah atau rezim? Nah, ternyata meskipun tidak 
> terlalu ramah, mereka melayani dengan muka stoned face- muka yang seperti 
> dilipat. Mungkin dengan menunjukkan muka seperti itu merasa bertambah rasa 
> gagahnya terhadap rakyat biasa macam kami. 
> Akhirnya semua OKAY dan kami mendapat sepucuk surat. Apa yang terjadi? 
> Sesampainya di makam kami turun dari kendaraan kami dan saya bawa surat ijin 
> dari "malaikat KODIM" itu, menunjukkan kepada tentara yang menjaga makam. 
> Waktu kumpeni (sebutan umum kalau sedang jengkel terhadap tentara) ini 
> membaca suratnya, saya terdorong untukmenoleh ke arah belakang. Terkejut 
> saya. Selain rombongan sendiri, Ibu saya dan saudara-saudara, telah mengikuti 
> kami sebanyak lebih dari tiga puluh orang, bergerombol. Mereka, orang-orang 
> yang tidak kami kenal sama sekali, melekat secara rapat dengan rombongan 
> kami. Saya lupa persis bagaimana, akan tetapi saya ingat kami memasuki pagar 
> luar dan kami bisa mendekat sampai ke dinding kaca tembus pandang dan hanya 
> memandang makamnya dari jarak, yang mungkin hanya sekitar tiga meter. 
> Para pengikut dadakan yang berada di belakang rombongan kami dengan muka 
> berseri-seri, merasa beruntung dapat ikut masuk ke dalam lingkungan pagar 
> luar itu. Ada yang bersila, memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya, 
> posisi menyembah. Saya tidak memperhatikannya, tetapi jelas dia bukan berdoa 
> cara Islam. Mereka khusyuk sekali dan waktu kami kembali menuju ke kendaraan 
> kami, beberapa diantara mereka menjabat tangan dan malah ada yang menciumnya, 
> membuat saya merasa risih (segan, malu dan salah tingkah bercampur-aduk) . 
> Salah seorang dari mereka ini mengatakan bahwa dia sudah dua hari bermalam di 
> sekitar situ di udara terbuka menunggu sebuah kesempatan seperti yang telah 
> terjadi tadi. Tanpa kata-kata, saya merasakan getar hati rakyat, rakyat 
> Marhaen kata Bung Karno! 
> Mereka menganggap Bung Karno bukan sekedar Proklamator, tetapi seorang 
> Pemimpin mereka dan seorang Bapak mereka. Apapun yang disebarluaskan dan 
> berlawanan arti dengan kepercayaan mereka itu semuanya dianggap persetan. 
> Dalam hubungan Bung Karno dengan Rakyat, tidak ada unsur uang berbicara. 
> Saya ketik ini pukul: 10:36:04 malam, datang telepon seorang teman menanyakan 
> saya sedang apa. Saya katakan saya sedang berada di depan komputer. Dia 
> bilang di TV sedang disiarkan detik-detik terakhir. Saya balas bertanya apa 
> maksudnya? Sebelum dia sempat menjawab, pikiran saya segera sadar bahwa yang 
> dimaksud tentunya mengenai "pahlawan" jenderal berbintang lima: Suharto. 
> Ditayangkan kesibukan di Rumah Sakit Pertamina di Jalan Kyai Maja di 
> Kebayoran Baru. Mulai penayangan kesibukan petugas keamanan, petugas dari 
> media dengan alat-alat perekamnya berupa kamera photo maupun kamera video.. 
> Pakai jas putih berderet-deret dari kiri ke kanan dan dari belakang ke depan, 
> para dokter. Diantara para dokter itu saya kenali satu orang tetapi hati saya 
> tetap geli karena saya kok seperti berada di dalam ruangan tokoya 
> san-barber-tukang cukur rambut. 
> Lepas dari beberapa pernyataan para dokter yang dihiasi dengan penggambaran 
> mengenai kondisi sang jenderal berbintang lima buah masing-masing di kiri dan 
> di kanan, secara detil memberikan gambaran organ ini dan itu, alat-alat serta 
> status kondisi medisnya. 
> Obat apa yang kiranya yang diaplikasikan dan konon ada cerita yang 
> menyebutkan adanya pembelian alat scan baru untuk kegiatan upaya memanjangkan 
> umur. Kata rumor sih harganya satu juta USDollar. Wallahualam. Empat puluh 
> dokter Tim Medis, untuk kesembuhan satu orang jenderal ditambah pembelian 
> alat baru yang sekian, berapakah kiranya jumlah biaya seluruh upaya seperti 
> ini yang ditanggung oleh uang rakyat … ? 
> Alangkah beda sekali. 
> Beda sekali dengan Bung Karno. 
> Seperti bumi dengan langit!! 
> Kami sudah mendengar bahwa Bung Karno sakit sejak lama. 
> Berita bagaimana keadaannya tidak dapat diakses oleh orang kebanyakan. Bung 
> Karno kita yang ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki 
> Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto, dikhabarkan amat menderita. Anak-anaknya 
> tidak dapat bebas mengunjunginya dan kemudian sekali saya mengetahui dari 
> kisah-kisah mereka, banyak resep dokter Mahar Mardjono hanya ditumpuk di 
> sebuah sudut di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat 
> di aitu tidak pernah ditukarkan dengan obat, itu berarti tidak pernah 
> diaplikasikan kepada sang pasien, Bung Karno yang kita cintai. 
> Pada tahun 1988an saya berkenalan dengan seorang pensiunan Polisi Militer. 
> Karena sesuatu keperluan saya pergi ke rumah pak Djajadi, seorang pelaksana 
> pekerjaan di lingkungan PT Ancol. Rumahnya di daerah Bungur, dekat daerah 
> Senen / Kemayoran, di mana sang pensiunan CPM itu tinggal. Dia menunjukkan 
> kepada saya sebuah pena yang diterimanya karena diberi oleh Bung Karno waktu 
> menjaga Bung Karno yang sedang ditahan di Wisma Yasso. Dia diberitau bahwa 
> pena itu adalah yang dipakai sebagai pena yang menandatangani Surat Perintah 
> Sebelas Maret. 
> Dia bercerita demikian sambil matanya berkaca-kaca karena rasa haru dan dia 
> memberitaukan bahwa Bung Karno itu manusia yang baik hati. Ini dia katakan 
> karena beliau mau memberikan sebuah kenangan benda bersejarah seperti itu 
> kepadanya, sebagai kenang-kenangan, karena tidak mempunyai apapun lagi yang 
> bisa di berikan kepadanya. 
> Tidak lupa dia menceritakan sesuatu yang tidak saya duga-duga sebelumnya. 
> Dalam pergaulannya selama berbulan-bulan menjaga beliau itu, Bung Karno 
> mengatakan kepadanya bahwa Surat Perintah Sebelas Maret itu telah dipakai dan 
> disalahgunakan oleh penerimanya dengan menumpangkan kepentingannya sendiri. 
> Dia akhiri dengan: "Saya selaku seorang anggota militer hanya bisa 
> menjalankan tugas yang dibebankan kepada saya, meskipun tindakan saya selama 
> bertugas itu banyak bertentangan dengan hati nurani saya sendiri. 
> Kalau mengenai kondisi seperti ini Presiden yang sedang berkuasa tidak 
> mengetahui, maka itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Saya kira 
> pendukungnya, terutama yang sekarang, saat ini, sedang membelanya 
> mati-matian, tentu tau ungkapan terkenal: 
> Tidak ada seorang prajurit yang salah. 
> Yang salah adalah Komandan mereka!! 
> Banyak nian orang Indonesia yang mengetahui hal-hal seperti ini tidak berani, 
> tidak sempat dan terhalang untuk menceritakannya kepada orang lain, sehingga 
> sejarah tidak dapat hadir dengan utuh kepada rakyat Indonesia. Sejarah banyak 
> diberi kosmetik dan diputar dan dibalik sekehendak penguasa. Itulah sebabnya 
> selalu saya ulangi bahwa ejaan dalam bahasa Inggris untuk kata sejarah adalah 
> HISTORY dengan satu huruf s, bukan dua buah: HISSTORY yang bisa dipisahkan 
> menjadi HIS STORY (Cerita Dia). 
> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ 
> Support the World Aids Awareness campaign this month with Yahoo! For Good 
> http://uk.promotion s.yahoo.com/ forgood/ 
> [Non-text portions of this message have been removed] 
> 

__________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals? 
Find them fast with Yahoo! Search. 
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping



                         


BUDI ARLIUS PUTRA, IAI 
  (Registered Architect, No.105360721300) 
Ph.D Scholar in Urban Design 
School of Planning And Architecture 
New Delhi, India 
Mobile Number:+919910459489
                                +919997448535 (India)

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke