Oleh : Muhibuddin
27-Jan-2008, 00:41:31 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Tulungagung, Pusaka kebanggan warga
Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Tombak Kiai Upas, Jumat (25/1)
pagi dijamasi (dicuci). Ratusan warga berdesakan berebut air kembang
bekas jamasan pusaka yang diyakini mendatangkan berkah. Padahal, air
yang baru digunakan menjamas ujung tombak dari besi itu mengandung
bahan beracun yang bisa membahayakan keselamatan jiwa.
Jamasan Pusaka Tombak Kiai Upas dilaksanakan di Pendopo
Kanjengan Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kota Tulungagung. Selain
diikuti ratusan warga dan kerabat kanjengan, ritual yang dilakukan
setiap Jumat Pahing bulan Suro itu juga dihadiri Bupati Tulungagung,
Ir. Heru Tjahjono, MM, Muspida dan pejabat Pemkab lainnya.
Prosesi jamasan pusaka andalan Kabupaten Tulungagung ini
diawali dengan upacara mengeluarkan pusaka yang sehari-hari
disemayamkan di dalam kamar pendopo kanjengan. Diringi alunan
gendhing-gendhing Jawa, tombak Kiai Upas diusung beberapa kerabat
kanjengan menuju belakang pendopo.
Pusaka yang panjangnya sekitar 5 meter dengan ujung
tombak sepanjang sekitar 70 centimeter itu kemudian diletakkan
membujur. Lalu, ujung tombak dijamasi menggunakan air kembang
dicampur air jeruk nipis. Jamasan pusaka legendaris ini dipimpim
Mbah Winarto, warga Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru, yang sudah
turun temurun menjadi penjamas Tombak Kiai Upas.
Di sela-sela jamasan, sebagian warga melakukan doa-doa
Islami di ndalem pendopo kanjengan. Tak pelak, begitu warangan ujung
tombak usai dijamasi, ratusan warga yang mengerumuni langsung
berdesakan rebutan air bekas jamasan. Warga tak mempedulikan meski
panitia memperingatkan air bekas jamasan mengandung bahan
beracun. ''Kata para orang tua dulu, air jamasan ini bisa
mendatangkan berkah,'' ujar Sugeng (45), warga Kelurahan Kepatihan
yang ikut berdesakan rebutan air jamasan pusaka sambil menggendong
anak lelakinya.
Begitu mendapatkan air bekas jamasan pusaka, Sugeng
bersama ratusan lainnya langsung mengguyurkan air bekas jamasan ke
bagian tubuhnya. Air jamasan itu juga disiramkan ke tubuh anak
lelakinya yang ada dalam gendongannya. Hal serupa juga dilakukan
ratusan warga lainnya yang susah payah berebut air jamasan pusaka
jelmaan lidah ular Baru Klinthing itu.
Sesepuh warga Tulungagung, Suharto (65), menuturkan,
setiap digelar ritual jamasan pusaka Tombak Kiai Upas, warga selalu
berdatangan untuk berebut berkah. ''Air bekas jamasan diyakini
membawa berkah. Padahal, kita sudah mengumumkan air itu mengandung
racun,'' kata Suharto yang juga panitia upacara ritual jamasan
Tombak Kiai Upas ini.
Nasi tumpeng yang digunakan dalam selamatan jamasan
Tombak Kiai Upas, kata dia, juga diburu warga. ''Banyak warga yang
membawa pulang nasi yang digunakan selamatan. Setiba di rumah, nasi
itu dikeringkan menjadi karak (nasi yang dikeringkan). Karak itu
kemudian diambil sedikit-sedikit untuk campuran memasak nasi. Mereka
yakin nasi dari selamatan ini ada berkahnya,'' kata Suharto.
Usai dijamasi, Tombak Kiai Upas kemudian diusung lagi
untuk disemayamkan kembali ke dalam kamar penyimpanannya. Barulah
setelah itu di pendopo kanjengan digelar selamatan. Berbagai nasi
tumpeng dan ubo rampe sesajian telah disiapkan. ''Selamatan ini
untuk menutup prosesi jamasan pusaka,'' kata R.M. Indronoto, kerabat
kanjengan yang masih keturunan pemilik Pusaka Tombak Kiai Upas,
Eyang Pringgokusuma.
Dituturkan, Tombak Kiai Upas merupakan pusaka andalan
Bupati Tulungagung pada masa lalu. Tombak yang berasal dari Kerajaan
Mataram ini merupakan pusaka yang dijadikan piyendel (andalan) para
Bupati Tulungagung. ''Pusaka ini dijadikan piyandel untuk menolak
segala bentuk marabahaya (pagebluk). Yang sudah riil, pusaka ini
bisa untuk penolak banjir,'' kata R.M. Indronoto dibenarkan Suharto.
Dikatakan, keberadaan Tombak Kiai Upas untuk penolak
banjir bukan sekedar mitos. Faktanya, suatu ketika, tombak Kiai Upas
dipinjamkan kepada Bung Tomo saat masa perjuangan merebut
kemerdekaan. Kala itu, kara Indronoto, Kiai Upas dipinjamkan Bung
Tomo lewat ayahnya, Kombes Minotokusuma. ''Setelah tombak Kiai Upas
dibawa ke Surabaya, tiba-tiba Tulungagung dilanda banjir besar.
Namun, setelah Tombak Kiai Upas dipulangkan, banjir besar yang
menenggelamkan Kota Tulungagung segera surut,'' kata dia.
Indronoto juga menjelaskan kesaktian Tombak Kiai Upas
saat dipinjamkan Bung Tomo di Surabaya. Waktu itu, tambah dia,
tombak Kiai Upas ditaruh di bawah bantalan rel kereta api yang
menggantung di kawasan gubernuran Surabaya. ''Waktu gantungan rel
jadi sasaran tembak, ternyata tak ada sedikit pun yang rusak,''
terang dia.
mediacare
http://www.mediacare.biz
[Non-text portions of this message have been removed]