Kronik Dokumentasi Wida: RENUNGAN BACHTIAR SIAGIAN 
   
   
  MENCARI DALAM SEPI 
   
   
  I
   
   
  Hidup ini -- menurut pengamatan dan pengalamanku -- adalah rangkaian gerak 
tanpa henti dalam ruang dan waktu yang terus-menerus berobah, berkembang. Gerak 
itu sendiri punya kedudukan yang nisbi;  ia menggerakkan dan digerakkan. Dalam 
kenisbisiannya itu gerak menimbulkan perobahan dan perkembangan dalam berbagai 
dimensi.   Kita tak pernah seseorang dua kali dalam kondisi yang sama. Setiap 
kali bertemu keadaannya telah berobah. Sekurang-kurangnya umurnya dan umur kita 
telah bertambah
   
   
   
  Oleh karena gerak dalam kenisbiannya itu terus-menerus menimbulkan perobahan 
dan perkembangan, maka akumulasi perobahan dan perkembangan itulah yang kita 
sebut sejarah.  Menurut pengamatan, sejarah itu sendiri -- dalam peristiwa apa 
pun, baik tertulis mau pun tidak -- senantiasa merefleksikan ke-tak-selarasan 
yang melahirkan keselarasan melalui konflik-konflik, pertentangan-pertentangan. 
Keselarasan yang terjadi melalui konflik-konflik, pertentangan-pertentangan 
itu, pada tingkat tertentu berobah pula menjadi ke-tak-selarasan yang baru. 
Ke-tak-selarasan yang baru timbul itu akan melahirkan suatu keselarasan yang 
lain pula melalui konflik-konflik dan pertentangan-pertentangan.  Dari dorongan 
proses itulah terjadi perobahan dan pekembangan. 
   
   
  Begitulah sejarah mencatat gerak "ke-tak-selarasan" yang bergerak dan 
digerakkan menciptakan keselarasan melalui konflik dalam bentuk 
kebangkitan-kebangkitan, perlawanan-perlawanan dan keruntuhan-keruntuhan . Yang 
bangkit adalah gerak yang mendekati tingkat keselarasan dan yang runtuh adalah 
gerak keselarasan yang berobah menjadi ke-tak-selarasan. Begitu juga hakikat 
kisah penindasan dan pemberontakan, perang dan damai yang mengisi sejarah.
   
   
   
  Drama sudah maùa mengenengahkan hal ini di atas pentas. Ia mengungkapkan 
gerak ke-tak-selarasan yang membentuk keselarasan melalui konflik, antara 
tokoh-tokoh, lewat dialog-dialog, lewat aksi dan reaksi  yang sesungguhnya 
adalah gerak tanpa henti, yang digerakkan dan menggerakkan. Gerak yang 
tolak-menolak, tarik-menarik dan sebagainya melalui dialog, aksi dan reaksi, 
terus-menerus melahirkan perobahan,  perkembangan menuju berbagai tahap 
klimaks. Klimaks membangun klimaks yang lebih tinggi dan klimaks yang lebih 
tinggi itu membangun lagi klimaks-klimaks sampai ke puncak krisis, menuju tahap 
akhir, tahap penyelesaian. Penyelesaian itu sendiri  -- dilihat dari hukum 
gerak dan perkembangan -- hanya bersifat sementara. Akhir sebuah drama adalah 
awal sebuah drama yang belum ditulis.
   
   
  Manusia sebagai gerak tak dapat menghindar dari kenisbian gerak itu sendiri, 
digerakkan dan menggerakkan. Ia obyek dan subyek, ia berada di antara tahu dan 
tidak tahu. Ia penentu pilihan, tetapi juga penerima pilihan yang bukan 
pilihannya... Oleh karena ia gerak, ia pun pencerminan dari ke-sementaraan, 
ke-tak-langgengan. Pilihannya yang pada suatu saat dianggap benar, pada saat 
lain dianggap salah. Begitu pula sebaliknya. Segalanya berobah dan berkembang 
terus-menerus. Yang tidak mengalami perobahan dan perkembangan adalah hukum 
perobahan dan perkembangan itu sendiri. Ia merupakan suatu kemutlakan yang 
berada di luar gerak. Ia bersifat abadi. Oleh karena manusia berada pada 
lingkaran gerak ke-tak-langgengannya, ia tak mungkin sampai pada pengertian di 
luar ukuran kesementaraannya. Mungkin itu  sebabnya diperlukan Wahyu-Wahyu dan 
Nabi-Nabi untuk menjelaskan suatu kehidupan di luar gerak, di luar 
kesementaraan, kehidupan abadi.
   
   
   
  Nusakambangan, 1972. 

       
---------------------------------
 
 Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke