Dari Koran Jurnal Nasional, 28 Januari 2008

Jalan Berliku Anak Kemusuk


Indonesia pada masa Orde Baru adalah antitesis kehidupan Soeharto di masa kecil

Bonnie Triyana
[EMAIL PROTECTED]


"Saya mengalami banyak penderitaan  yang tidak mungkin dialami oleh orang-orang 
lain," ujar Soeharto dalam otobiografinya. Kehidupan Soeharto memang suram: 
terlahir dari orangtua yang bercerai dan harus hidup berpindah-pindah asuhan 
semasa belia samapi dengan remaja. Bahkan sekalipun diukur dari standar 
kehidupan keluarga di Jawa pada masa itu, ketika perceraian dianggap hal biasa, 
hidup Soeharto terlalu nelangsa untuk dibandingkan dengan yang lain. Kedua 
orangtua Soeharto, Kertosudiro dan Sukirah bercerai selang lima minggu setelah 
kelahirannya pada 8 Juni 1921. Ayahnya menikah lagi, begitu juga dengan Sukirah 
dua tahun setelah perceraiannya. 


Praktis untuk beberapa lamanya Soeharto tumbuh tanpa didampingi ayahnya. 
Sementara Sukirah yang mungkin mengalami kelelahan mental selama proses 
melahirkan dan perceraian yang tiba-tiba, menderita tekanan psikis yang cukup 
berat. Dalam pengertian kedokteran zaman kini kemungkinan ia menderita baby 
blues syndrom, hal itu pula yang membuatnya meninggalkan Soeharto yang baru 
berusia 40 hari untuk pergi bertapa ngebleng selama beberapa hari. Sukirah yang 
"hilang" itu membuat panik keluarga, tujuh hari kemudian ia ditemukan dalam 
keadaan lemah pada sebuah rumah di dusun Kemusuk. 


Keadaan fisik dan psikis demikian membuat Sukirah tak mampu merawat anaknya. 
Keluarga kemudian memutuskan supaya Soeharto diasuh oleh kakak perempuan 
Kertosudiro, istri dari Kromodiwiryo, bidan yang membantu proses persalinan 
Sukirah. Pada usia empat tahun Soeharto kembali diasuh oleh ibunya yang kini 
telah menikah lagi. Paling tidak sampai menginjak masa remaja, Soeharto selalu 
mengalami tarik-ulur asuhan antara keluarga ayahnya dengan ibunya sendiri. 


Salah satu periode "gelap" dalam sejarah kehidupan Soeharto yaitu soal 
asal-usulnya sendiri. Ketidakjelasan riwayat Soeharto itu pula yang mendorong 
awak redaksi Majalah POP di Jakarta menurunkan laporan mengenai asal-usulnya 
pada 1974. Diberitakan bahwa Soeharto adalah anak dari Padmodipoero, seorang 
priayi keturunan Hamengkubuwono II yang membuang Soeharto yang berusia enam 
tahun bersama dengan ibunya kepada seorang penduduk desa Kertorejo. 
Padmosudiro, ayah Soeharto versi Majalah POP melakukan itu karena harus 
menikahi putri seorang kepala distrik berpengaruh (RE Elson: 2005, hal 29). 
Membaca laporan itu Soeharto berang. Ia mengadakan konferensi pers di Bina 
Graha, membantah gosip yang diembuskan Majalah POP. Belasan orang tua dan kawan 
sepermainannya dihadirkan di sana, dan mereka serempak mengatakan bahwa 
Soeharto adalah anak petani dari desa Kemusuk. Majalah POP lantas dibreidel 
karena dianggap mengganggu stabilitas nasional  dan menciptakan 
ketidakpercayaan pada pemimpinnya. 


Kontroversi mengenai asal usul Soeharto tak berhenti di sana. Versi resmi yang 
mengutip langsung keterangan Soeharto pun tidak menyurutkan kebingungan 
mengenai siapa orang tua Soeharto yang sebenarnya. Melalui OG Roeder dalam The 
Smiling General Soeharto mengatakan ibu Kertosoediro (nenek Soeharto dari pihak 
ayah) sebagai bidan yang membantu kelahirannya, pada lain kesempatan Soeharto 
mengatakan tante dari pihak ayahnyalah yang menolong Sukirah saat melahirkan 
Soeharto. Semua pernyataan yang membingungkan itu justru datang dari Soeharto 
sendiri, sehingga semakin mempertebal dugaan bahwa sebetulnya Soeharto lahir 
dari keluarga yang lebih dari sekadar biasa-biasa saja.


RE Elson dalam biografi politik Soeharto mengatakan gambaran kabur itu 
menghasilkan sebuah "kesimpulan" bahwa Soeharto adalah anak dari hasil 
perkawinan di bawah tangan dari seorang pria berstatus sosial cukup tinggi. Ia 
memprediksi hal itu dengan melihat kenyataan bahwa ayah biologis Soeharto masih 
bisa mengawasi dia dari jauh dan tetap turut campur tangan secara tidak 
langsung di dalam mengasuh Soeharto. Alasan lain yang juga memerkuat dugaan 
bahwa Soeharto bukan orang biasa adalah standar pendidikan yang ditempuhnya 
terlalu baik untuk ukuran "anak petani" pada masa itu. Satu kabar mengejutkan 
datang dari Mashuri, mantan tetangga sekaligus sahabat dekat Soeharto, yang 
mengatakan bahwa ayah biologis Soeharto adalah pedagang kelontong keturunan 
China.  


Kehidupan yang penuh penderitaan dan masa kanak-kanak Soeharto yang kurang 
cemerlang membawa dampak psikologis bagi diri Soeharto. Kelak turut memengaruhi 
berbagai keputusannya yang menyangkut soal perekonomian dan - terutama - soal 
anak-anaknya. Ia seperti terobsesi pada kemakmuran yang semata-mata ia 
persempit maknanya menjadi pemenuhan kebutuhan sandang dan pangan rakyat. Tak 
aneh jika semasa ia berkuasa, Soeharto menomorsatukan ekonomi ketimbang bidang 
lainnya. Ia juga tak mau melihat anaknya hidup menderita, sebagaimana yang ia 
pernah alami semasa kecil. 


Berbeda dengan Soekarno atau Sjahrir yang sejak dini telah terbiasa membaca 
buku, Soeharto hanya akrab dengan filsafat Jawa yang ia pelajari dari Kiai 
Daryatmo di Wuryantoro. Filosofi hidup Soeharto tidak serumit Soekarno atau 
Sjahrir yang intim dengan pemikiran Karl Marx atau Ernest Renan. Cukup tiga 
aja: aja kagetan (jangan kaget), aja gumunan (jangan heran) dan aja dumeh 
(jangan mentang-mentang), Soeharto meniti jalan hidupnya.


Dengan tiga azimat sakti itu pula ia mengatur strategi ketika meletus peristiwa 
G.30.S 1965. Kolonel Abdul Latief mengaku telah melapor pada Soeharto perihal 
akan adanya gerakan dari sebagian perwira Angkatan Darat yang tak puas dengan 
kepemimpinan beberapa jenderal. Soeharto tidak kaget (aja kagetan), ia tetap 
menunggu apa yang bakal terjadi keesokan harinya. 


Ternyata sejumlah perwira tinggi diculik pada dini hari 1 Oktober 1965. Melalui 
Hamid, juru kamera TVRI Soeharto mendapat laporan adanya suara tembakan. 
Beberapa jam kemudian atas perintah Umar Wirahadikusumah, Letkol. Sadjiman 
melaporkan kepada Soeharto tentang situasi di sekitar Monas yang dipenuhi 
tentara tak dikenal. Soeharto yang sudah mengetahui informasi hilangnya para 
jenderal segera mengumpulkan informasi dan tidak merasa heran dengan kejadian 
itu (aja gumunan). Ia sadar langkah apa yang harus dilakukanya. Merujuk pada 
kebiasaan di Angkatan Darat, mana kala Jenderal Yani berhalangan tugas, 
Soeharto mengambilalih posisi pimpinan Komando Angkatan Darat. Pada saat itulah 
ia melakoni ajaran ketiga dari Kiai Daryatmo: aja dumeh (jangan 
mentang-mentang).


Jalan berliku yang licin ia tempuh untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan 
Soekarno. Dengan janji sanggup mengatasi keamanan dan keselamatan bangsa, ia 
meminta surat perintah dari Soekarno untuk melakukan semua itu sekaligus 
mengatakan pada Soekarno ia akan "mikul dhuwur mendhem jero" (memikul 
setinggi-tingginya jasa orang tua dan memendam sedalam-dalamnya kesalahan orang 
tua) Berbekal Surat Perintah Sebelas Maret 1966 itulah Soeharto meraih posisi 
puncak sebagai presiden. Ia tak bergeming betapa pun Soekarno mengemukakan 
dalam pidato 17 Agustus 1966 bahwa SP 11 Maret bukan suatu "transfer of 
sovereignity", bukan peralihan kekuasaan. Para sejarawan menyebut apa yang 
dilakukan oleh Soeharto itu sebagai kudeta ala Jawa: merangkak pelan, tapi 
mematikan.


Setelah berkuasa jadi presiden, agaknya Soeharto mulai melupakan ajaran guru 
spiritualnya. Tahun 1974, ketika terjadi huru-hara 15 Januari (Malari), ia 
menutup beberapa koran termasuk di antaranya Pedoman milik Rosihan Anwar. Saat 
ditanya oleh Menteri Penerangan Mashuri SH soal bagaimana tindakan terhadap 
Pedoman, Soeharto menjawab "wis pateni wae!" (sudah, bunuh/tutup saja!). 
Soeharto menistakan ajaran aja kagetan, karena peristiwa Malari 1974 dan 
pemberitaan minor tentang ia dan istrinya di Pedoman membuatnya panik dan 
marah. 


Dresden, 7 April 1995 sekelompok pengunjuk rasa mencaci-maki dan 
menghalang-halangi rombongan Presiden Soeharto yang sedang berkunjung ke kota 
itu Dalam perjalanan udara pulang ke Jakarta ia mengatakan kepada pers "akan 
menggebuk" mereka yang terlibat aksi itu. Beberapa aktivis ditangkap, termasuk 
di antaranya Sri Bintang Pamungkas. Soeharto tak mawas diri, ia malah heran 
mengapa ada orang yang begitu membenci dirinya. Lagi-lagi ia lupa soal ilmu aja 
gumunan yang sebelumnya ia pegang teguh. 


Semakin lama ia berkuasa, semakin lupa pula ia menjalankan ajaran terakhir Kiai 
Daryatmo, aja dumeh. Soeharto menggunakan kekuasaannya untuk memberi izin 
kepada Tommy Soeharto mengimpor mobil dari Korea tanpa dibebani satu sen pun 
pajak. Izin itu dituangkan dalam Keputusan Presiden tentang mobil nasional 
(Keppres) No. 42/ 1996. 


Entah karena tulah atau mungkin putaran roda sejarah,  kekuasaan Soeharto 
akhirnya tumbang pada 21 Mei 1998 setelah didahului oleh krisis ekonomi yang 
menghumbalang Indonesia. Ribuan mahasiwa turun ke jalan menuntut Soeharto 
mundur. Dan ketika kekuasaannya berada di ujung tanduk, Soeharto teringat 
kembali pada filosofi Jawa yang ia dapat dari Kiai Daryatmo sekian puluh tahun 
lalu: lengser keprabon, mandeg pandhita.



mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke