Kronik Dokumentasi Wida:
   
   
  RENUNGAN BACHTIAR SIAGIAN [2]
   
   
  Renungan Bachtiar Siagian yang terhimpun di bawah judul "Mencari Dalam Sepi" 
ini, ditulis selama almarhum berada di Nusa Kambangan, salah sebuah pulau 
Pembuangan Orde Baru. Nusananta, nama pena penyair-esais Harsono Setiyadi dari 
Yogyakarta, menurut keterangan yang aku terima di Jakarta, telah meninggal di 
pulau pembuangan ini. 
   
   
  Berikut adalah lanjutan renungan Bachtiar Siagian, salah seorang pekerja 
filem terkemuka pada zamannya.   
   
   
  JJ
   
   
   
   
  II
   
   
   
  Setiap orang dalam gerak hidupnya yang digerakkan dan menggerakkan akan 
terus-menerus menghadapi persimpangan-persimpangan yang terjadi  karena 
ke-tak-selarasan dan pertentangan, konflik.  Di sana terdapat berbagai 
alternatif, berbagai kemungkinan: menyerah atau berlawan, mati terhormat atau 
hidup terhina dan seterusnya.
   
   
  Dalam menghadapi saat-saat begitu, orang berada pada kedudukan antara bebas 
dan tidak bebas.  Pada suatu saat dia bebas menetapkan pilihannya; yang ini 
atau yang itu, ke sini atau ke situ, dan seterusnya. Pada saat lain dia tidak 
bebas dan harus menerima pilihan yang bukan pilihannya dan tak sesuai dengan 
keinginannya, kepentingannya.
   
   
   
  Umumnya orang merasa puas dan senang, jika bebas menetapkan pilihannya.  
Orang merasa puas dan senang karena dengan kebebasan itu ia bisa menetapkan 
pilihan sesuai dengan kepentingannya. Sebaliknya orang yang harus menerima 
pilihan yang bukan pilihannya itu merasa jengkel dan kecewa karena pilihan itu 
tak sesuai dengan kepentingannya.
   
   
   
  Oleh karena manusia sebagai gerak yang terus-menerus berobah, berkembang, 
baik perasaan puas dan senang orang yang bebas menetapkan pilihan, mau pun 
kejengkelan dan kekecewaan orang yang harus menerima pilihan yang bukan 
pilihannya, umumnya bersifat sementara. Sejarah banyak mencatat  terjadinya 
arus balik: mereka yang mulanya merasa puas dan senang karena bebas menentukan 
pilihan,  pada suatu ketika menyesali pilihannya itu. Sebaliknya orang yang 
merasa jengkel dan kecewa karena harus menerima pilihan yang bukan pilihannya, 
pada suatu saat merasa puas dan senang atas pilihan yang dipaksakan kepadanya. 
   
   
   
  Menurut pengamatanku, hal itu merupakan manifestasi gerak ke-tak-selarasan 
yang berada dalam proses pengadaankeselarasan melalui konflik. Perasaan puas 
dan senang orang yang bebas memilih itu adalah keselarasan yang bergerak menuju 
ke-tak-selarasan, sedangkan orang yang merasa jengkel  dan kecewa karena harus 
menerima pilihan yang bukan pilihannya adalah ke-tak-selarasan yang bergerak 
menuju ke-tak-selarasan.
   
   
   
  Manusia yang berada pada siklus ke-sementaraan, tidak akan pernah bisa 
memastikan secara mutlak, apa akibat lanjut dari keputusan, pilihannya.  Ia ada 
di antara tahu dan tak tahu. Kendati langit sangat mendung ia tidak bisa 
memastikan bahwa hujan pasti turun. Langit yang sangat mendung bisa secara 
mendadak menjadi cerah karena angin yang berhembus mendadak.  Perobahan, 
perkembangan ke suatu arah tertentu bisa menjurus ke arah lain karena kehadiran 
unsur yang tak terduga.
   
   
   
  Barangkali untuk mengimbangi kedudukan manusia yang nisbi, kedudukan antara 
tahu dan tak tahulah para Nabi mengajarkan sesuatu yang disebut Do'a.
   
   
   
  Nusa Kambangan, 1972.

       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke