weleh himar engtjun, apa kaga bisa nangkap dengan yang aye tulis? oke deecchhh,
simak yang dibawah ini, maka himar engtjun akan paham kenapa Allah akan lebih
sayang pada pak Ahmadi Agung. yang abis ya nyimaknya, ntar kalo masih kaga
nangkep juga, dikasi deng yang lebih sederhana, seseuai dengan kapasitas otak
himar engtjun.
Sudahkah Kita Mengenal dan Mencintai Allah ?
Dikirim Oleh Kontributor || Kamis, 11 Mei 2006 -
Pukul: 01:00 WIB
Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengaku
mengenal Allah, tapi mereka tidak cinta kepada Allah. Buktinya, mereka banyak
melanggar perintah dan larangan Allah. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal
Allah dengan sebenarnya. Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah
bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang
demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal
pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua?
Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu
atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau
ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan
terlontar pertanyaan demikian.
Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu mengenal Allah yang akan membuahkan
rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan
hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan
menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika
orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika
orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam
problema hidup.
Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat
kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau
keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah sementara kita
melanggar perintah dan larangan-Nya?
Maka dari itu mari kita menyimak pembahasan tentang masalah ini, agar kita
mengerti hakikat mengenal Allah dan bisa memetik buahnya dalam wujud amal.
Mengenal Allah ada empat cara yaitu mengenal wujud Allah, mengenal Rububiyah
Allah, mengenal Uluhiyah Allah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.
Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al Quran dan di dalam As
Sunnah baik global maupun terperinci.
Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: Allah mengajak
hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Quran dengan dua cara yaitu
pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi
serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam
terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.
(QS. Ali Imran: 190)
Juga dalam firman-Nya yang lain: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi
dan pergantian malam dan siang, serta bahtera yang berjalan di lautan yang
bermanfaat bagi manusia. (QS. Al Baqarah: 164)
Mengenal Wujud Allah.
Yaitu beriman bahwa Allah itu ada. Dan adanya Allah telah diakui oleh fitrah,
akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syariat.
Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna,
jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang
mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita
mengakui adanya Allah di mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah
dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah
telah disebutkan oleh Allah di dalam Al Quran:
Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman ):
Bukankah Aku ini Tuhanmu Mereka menjawab: (Betul Engkau Tuhan kami) kami
mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat
tidak mengatakan: Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya
orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami
ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.. (QS. Al Araf:
172-173)
Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa fitrah seseorang mengakui
adanya Allah dan juga menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal
Rabbnya. Adapun bukti syariat, kita menyakini bahwa syariat Allah yang dibawa
para Rasul yang mengandung maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa
syariat itu datang dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah Al
Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 41-45)
Mengenal Rububiyah Allah
Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu
penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al
Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 14)
Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan,
mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala
mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya
dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah.
Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang
menandingi Allah dalam hal ini. Allah mengatakan: Katakanlah! Dialah Allah
yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara
dengan-Nya. (QS. Al Ikhlash: 1-4)
Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah ada yang memiliki kemampuan
untuk melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah
dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.
Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak
mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan
demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama
ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa
tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui
jikalau tuhan-tuhan mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang
mereka inginkan dari sesembahan itu?
Allah telah menceritakan di dalam Al Quran bahwa mereka memiliki dua tujuan.
Pertama, mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya
sebagaimana firman Allah:
Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong (mereka
mengatakan): Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan
kami di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az Zumar: 3 )
Kedua, agar mereka memberikan syafaat (pembelaan ) di sisi Allah. Allah
berfirman:
Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-apa yang tidak bisa memberikan
mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata: Mereka (sesembahan itu)
adalah yang memberi syafaat kami di sisi Allah. (QS. Yunus: 18, Lihat kitab
Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)
Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah telah dijelaskan
Allah dalam beberapa firman-Nya:
Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Mereka
akan menjawab Allah. (QS. Az Zukhruf: 87)
Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan
bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah.
(QS. Al Ankabut: 61)
Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit
lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah. (QS. Al
Ankabut: 63)
Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid
Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka
masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga
Rasulullah mengumumkan peperangan melawan mereka.
Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum
muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda
saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah, ada yang
mampu menolak mudharat dan mendatangkan mamfaat, meluluskan dalam ujian,
memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga,
mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang shalih,
atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat.
Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau
dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini,
merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allah.
Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan segala macam
penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan segala macam manfaat,
membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin dan kaya, yang
menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan seseorang dari segala macam
ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali
Allah. Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah semata dan
tidak kepada selain-Nya.
Mengenal Uluhiyah Allah
Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti
berdoa, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan
selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam.
Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim
yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah.
Allah berfirman di dalam Al Quran:
Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami
meminta. (QS. Al Fatihah: 5)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu
anhu dengan sabda beliau: Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah
dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah. (HR.
Tirmidzi)
Allah berfirman:
Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun
(QS. An Nisa: 36)
Allah berfirman:
Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan
orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.
(QS. Al Baqarah: 21)
Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah jelas
mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan
sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu hanyalah milik Allah semata.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Allah berfirman kepada ahli
neraka yang paling ringan adzabnya. Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan
apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu?
Dia menjawab ya. Allah berfirman: Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih
rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu
enggan kecuali terus menyekutukan-Ku. ( HR. Muslim dari Anas bin Malik
Radhiallahu Anhu )
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Allah berfirman dalam hadits
qudsi: Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan
satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan
membiarkannya dan sekutunya. (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu )
Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika seseorang
mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu
orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke
tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni
tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang
menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia
pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beritikaf di
tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang.
Ibnul Qoyyim mengatakan: Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan
pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.
Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah
Maksudnya, kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang Dia telah menamakan
diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah
memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah
disifati oleh Rasul-Nya. Allah memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang
tinggi berdasarkan firman Allah:
Dan Allah memiliki nama-nama yang baik. (Qs. Al Araf: 186)
Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi. (QS. An Nahl: 60)
Dalam hal ini, kita harus beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai
dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya dan tidak menyelewengkannya
sedikitpun. Imam Syafii meletakkan kaidah dasar ketika berbicara tentang
nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagai berikut: Aku beriman kepada Allah dan
apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah.
Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai
dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah (Lihat Kitab Syarah Lumatul Itiqad
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 36)
Ketika berbicara tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah yang menyimpang dari
yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kita telah berbicara tentang Allah
tampa dasar ilmu. Tentu yang demikian itu diharamkan dan dibenci dalam agama.
Allah berfirman:
Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak
ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tampa
alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang
Allah tidak menurunkan hujjah (keterangan) untuk itu dan (mengharamkan) kalian
berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu. (QS. Al Araf: 33)
Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak memiliki ilmu padanya,
sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta
pertanggungan jawaban. (QS. Al Isra: 36)
Wallahu alam
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]