Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Suatu pagi seusai mandi, putri kecilku bernyanyi, dengan lidahnya yang sedikit 
cadel menghasilkan vokal yang artikulasinya kurang jelas. Meski sudah ratusan 
kali aku mendengar bahkan menyanyikan lagu itu, namun ketika lagu itu 
dinyanyikan oleh makhluk kecil yang sangat kucintai, tak urung hatiku tergetar 
menyimak lirik lagu itu. Sebuah lagu yang sangat sederhana, yang mungkin setiap 
anak Indonesia hafal dengan lagu itu. Siapapun yang menciptakan lagu itu 
pastilah orang yang sangat pandai berterima kasih terhadap jasa tak terhingga 
dari seorang ibu. Anakku mungkin tidak tahu apa arti lagu yang dinyanyikannya, 
tapi saat itu tiba-tiba aku seperti mendapat sebuah pencerahan kecil yang 
sangat berharga.

Lagu yang bertutur tentang cinta kasih dalam makna yang hakiki. Sosok seorang 
ibu adalah gambaran tentang cinta kasih sejati. Hanya memberi dan terus 
memberi, tanpa mengharap kembali. Mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan si 
buah hati. Memberi semua yang terbaik untuknya, mengesampingkan kesenangan 
dirinya, dan selalu mengharapkan hanya yang terbaik yang terjadi pada diri 
putra-putrinya. Seorang ayah mungkin juga mempunyai cinta kasih yang besar 
terhadap putra-putrinya tetapi tentu saja tidak sedekat ikatan batin seorang 
ibu dan anaknya yang telah menyatu dalam satu tubuh tanpa terpisah sedetikpun 
selama + 280 hari dalam proses kandungan.

Seringkali kita sebagai manusia hanya pandai berkata-kata tanpa memahami makna 
dari kata yang kita ucapkan, seperti anak kecil, atau seperti burung beo yang 
pandai berbahasa inggris tanpa tahu apa yang diucapkannya. Sejak kecil kita 
sudah hafal artinya Metta adalah cinta kasih, Karuna adalah belas kasih atau 
kasih sayang, tapi benarkah kita sudah bisa memaknainya? Setiap hari kita 
mendengung-dengungkan tentang cinta kasih, kasih sayang, tetapi masih saja kita 
melukai hati orang lain, membuat celaka orang lain. Dunia masih penuh dengan 
kejahatan, pembunuhan massal dengan dalih-dalih agama masih terus berlangsung 
diberbagai belahan dunia. Benarkah kita punya cinta kasih?

Manusia menciptakan moment-moment tertentu untuk mengungkapkan cintanya pada 
sesuatu atau seseorang. Dalam tradisi Buddhis kita punya hari Metta setiap 
tanggal 1 Januari. Dalam kalender nasional kita punya hari-hari khusus untuk 
berterima kasih pada figur-figur tertentu seperti Hari Pahlawan, Hari Guru, 
Hari Ibu, Hari Buruh. Para remaja seluruh dunia, tanpa melihat agama tertentu, 
juga mengenal Hari Valentine. Dengan memberi sebungkus kado, sebatang coklat 
atau seikat bunga sekali setahun, apakah itu arti cinta kasih yang 
sesungguhnya? Yah, itu mungkin hanya salah satu cara untuk mengungkapkan cinta. 
Cinta yang sesungguhnya tidak hanya sekali setahun.

Berabad-abad lampau, Guru Agung Buddha Gotama juga telah mengajarkan satu 
kebajikan tertinggi yakni cinta kasih (Metta), disamping belas kasih (Karuna), 
perasaan simpati (Mudita) dan keseimbangan batin (Upekkha). Dalam agama Buddha 
memang tidak ada dogma, semuanya adalah anjuran. Semua perbuatan adalah 
tanggung jawab kita sendiri, baik akan menerima balasan yang baik, perbuatan 
buruk akan menghasilkan akibat yang buruk pula. Jika kita ingin dicintai 
makhluk lain, kita juga harus belajar untuk mencintai makhluk lain. Buddha 
mengajarkan agar setiap saat kita mengembangkan cinta kasih kepada semua 
makhluk di segenap arah.

Mata yatha niyam puttam, ayusa ekaputtamanurakkhe, evampi sabbabhutesu, 
manasambhavaye aparimanam
Sebagaimana seorang ibu mempertaruhkan jiwanya, melindungi putra tunggalnya, 
demikianlah terhadap semua makhluk, kembangkan pikiran cinta kasih tanpa batas 
(Karaniyametta Sutta)

Para pendahulu kita telah menyusun tata cara puja bhakti dengan alur berpikir 
yang sangat indah. Paritta-paritta yang kita baca dalam Puja Bhakti semuanya 
berintikan cinta kasih kepada semua makhluk. Buddha mengajarkan untuk tidak 
egois, berdoa hanya untuk diri sendiri. Sebelum memulai pembacaan 
Paritta-paritta kita terlebih dahulu memanjatkan Aradhana Devata agar para 
deva, yakkha, gandhabba dan naga juga ikut mendengarkan sabda Sang Buddha. Puja 
Bhakti selalu kita akhiri dengan mendoakan semua makhluk untuk selalu 
berbahagia seperti kita, melimpahkan jasa kebajikan kita kepada makhluk lain 
dengan Ettavata dan Pattidana.

Untuk itu, atas nama cinta, marilah kita setiap saat belajar menjadi orang yang 
penuh cinta. Tidak hanya berharap dicintai, tetapi juga belajar mencintai tanpa 
membuat batasan-batasan siapa saja yang perlu dicintai. Mencintai tanpa perlu 
mencari alasan-alasan kenapa kita harus mencintai. Mari kita saling mencintai 
karena kita adalah orang yang penuh cinta.

Sabbe satta sukhita hontu, niddukkha hontu, avera hontu, anigha hontu, 
abyapajjha hontu, sukhi attanam pariharantu
  
Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari derita, bebas dari mendengki, bebas 
dari menyakiti, bebas dari derita jasmani dan batin, semoga mereka dapat 
menjalankan hidup dengan bahagia (Brahmaviharapharana)
  
  



agussyafii <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Cinta Menurut Al Qur'an

Menurut al Qur'an, manusia diciptakan Alloh SWT berpasangan lelaki -
perempuan dan kepada mereka dianugerahi perasaan cinta dan kasih
sayang, dan sudah menjadi fitrahnya bahwa manusia ingin mencintai dan
dicintai. Tercapainya kebutuhan cinta itu, jika ditunaikan secara
benar maka hal itu akan membuat manusia merasa tenteram , tenang dan
bahagia, sebaliknya cinta tidak mengikuti prosedur akan mengantar pada
penderitaan.

Dalam al Qur'an perasaan cinta antar laki perempuan disebut dengan
term mawaddah, rahmah, (Q/30:31) syaghafa,(Q/12:30) mail (Q/4:129),
dan hubb-mahabbah (Q/12:30). Term yang berbeda-beda itu menunjuk pada
rumit, mendalam dan ragamnya cinta. Cinta memang memiliki dimensi yang
sangat luas dan mendalam dimana perbedaan karakteristik itu akan
membawa implikasi pada perbedaan tingkah laku.

Cinta itu sendiri diungkap dalam bahasa Arab dengan tiga kelompok
karakteristik, yaitu (1) apresiatip (ta`dzim), (2) penuh perhatian
(ihtimaman) dan (3) cinta (mahabbah). Yang pertama, orang yang
dicintai itu menempati kedudukan harimau atau pedang, (yang ditakuti
dan dikagumi), yang kedua seperti bencana (yang harus diwaspadai) dan
ketiga seperti minuman keras (yang membuat ketagihan).

Tiga kelompok karakteristik itu terkumpul dalam ungkapan mahabbah,
orangnya disebut habib, habibah atau mahbub. Secara lebih spesifik,
bahasa Arab menyebut dengan enam puluh istilah jenis cinta, seperti
`isyqun (dalam bahasa Indonesia menjadi asyik), hilm, gharam (asmara),
wajd, syauq, lahf dan sebagainya, tetapi Al Qur'an hanya menyebut enam
term saja

Salam Cinta,
agussyafii

==============================================
Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui
[EMAIL PROTECTED] atau http://mubarok-institute.blogspot.com
==============================================



                         

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke