Berikut ini kami kirimkan artikel menarik bung Yanuar Nugroho bertitel Globalisasi, Teknologi Informasi dan Perubahan Sosial. Cermati paparannya tentang peran teknologi informasi dalam episode aksi-aksi massa penurunan Soeharto.
Selain itu Yanuar Nugroho mengkaji lebih jauh peran TI dalam perubahan sosial khususnya. Bagaimana efektifitas gerakan sosial (CSO) memanfaatkan TI untuk misi perubahan sosial dalam thesisnya. Yanuar Nugroho membagikan temuan-temuannya (di ekstrak dari thesisnya) melalui 14 artikel menarik. Selain menyoroti temuan umum tentang tema terkait dan Nugroho juga menyajikan studi kasus 5 CSO. Informasi yang sangat baik tentunya saying kalau tidak kita jadikan referensi penting untuk kalangan gerakan sosial bahkan untuk aktivis dan perorangan yang ingin memanfaatkan IT dan khusus blog pribadinya untuk perubahan sosial. Silahkan mengakses informasi , temuan ilmiah yang sangat berharga ini. Salam Andreas Iswinarto Petikan artikel Yanuar Nugroho Peran teknologi informasi dalam episode penurunan Soeharto Namun, angka sekecil itu yang diperkuat dengan TI, khususnya pemanfaatan jaringan internet, bisa cukup menimbulkan dilema bagi pemerintah, lebih khusus lagi bagi negara yang memiliki peraturan ketat. Di jaman Orde Baru berkuasa dulu, TI disikapi dengan penuh kebingungan, seperti misalnya dalam kasus penggerebekan salah satu Internet Service Provider (ISP) di Jakarta saat "Kudatuli" -kerusuhan dua puluh tujuh juli-yang menghebohkan itu. Kasus ini layaknya menghadapkan kemajuan TI dengan alat perang dan kekuasaan. Dan seperti biasanya, senjata lebih berkuasa daripada teknologi. Namun, kekuatan TI yang ditekan itu kemudian tampil "jumawa" dalam episode jatuhnya Orde Baru. Konon, dipercaya bahwa gerakan mahasiswa dan bantuan logistiknya dikoordinasikan dengan memanfaatkan kecanggihan TI ini. Bahkan, komunikasi militer pun disadap dan semua sandi militer diterjemahkan oleh para aktivis dan dibagikan lewat pager, telepon gengam dan email pada para koordinator lapangan untuk mengantisipasi blokade militer yang menyapu Jakarta dan kota-kota lainnya saat itu, 1998 dan 1999. TI, secara langsung atau tidak, berkontribusi atas terjadinya suatu perubahan sosial yang bermakna di Indonesia, yaitu jatuhnya rejim militeristik yang sudah berkuasa 32 tahun lamanya. Globalisasi, Teknologi Informasi dan Perubahan Sosial Sumer url unisosdem Oleh: Yanuar Nugroho Yanuar Nugroho Sekretaris Jenderal Uni Sosial Demokrat Jakarta, Sekretaris Yayasan Elsppat Bogor dan Staf Pengajar Luarbiasa Jurusan Teknik Industri Universitas Trisakti Globalisasi : Proses yang Adil? Globalisasi adalah satu kata yang mungkin paling banyak dibicarakan orang selama lima tahun terakhir ini dengan pemahaman makna yang beragam. Namun, apa yang dipahami dengan istilah globalisasi akhirnya membawa kesadaran bagi manusia, bahwa semua penghuni planet ini saling terkait dan tidak bisa dipisahkan begitu saja satu sama lain walau ada rentang jarak yang secara fisik membentang. Dunia dipandang sebagai satu kesatuan dimana semua manusia di muka bumi ini terhubung satu sama lain dalam jaring-jaring kepentingan yang amat luas. Pembicaraan mengenai globalisasi adalah pembicaraan mengenai topik yang amat luas yang melingkupi aspek mendasar kehidupan manusia dari budaya, politik, ekonomi dan sosial. Globalisasi di bidang ekonomi barangkali kini menjadi kerangka acuan dan sekaligus contoh yang saat ini paling jelas menggambarkan bagaimana sebuah kebijakan global bisa berdampak pada banyak orang di tingkat lokal, sementara wacana globalisasi dalam hal yang lain mungkin tidak begitu mudah diamati secara jelas. Contoh yang bisa diangkat mungkin adalah perdagangan internasional, kebijakan dana moneter internasional hingga ijin operasi perusahaan multi nasional yang menunjukkan bahwa mata-rantai-dampaknya pada akhirnya akan berakhir pada pelaku ekonomi lokal, baik positif maupun negatif. Desain globalisasi ekonomi sendiri misalnya, memang pada awalnya dinilai beritikad positif, yaitu menaikkan kinerja finansial negara-negara yang dianggap masih terbelakang secara ekonomi dengan melakukan kerjasama perdagangan dan kebijakan industri. Namun, dampak negatifnya ternyata tidak bisa dielakkan ketika penyesuaian kebijakan global itu tidak bisa dilakukan di tingkat lokal. Situasi menang-menang yang ingin dicapai berubah menjadi situasi kalah-menang yang tak terhindarkan bagi pelaku ekonomi lokal. Kasus fenomenal seperti Freeport yang tak kunjung usai, penjualan perkebunan kelapa sawit oleh pemerintah Indonesia pada Malaysia baru-baru ini, atau kasus lain yang nyaris tidak terliput secara luas seperti hilangnya jutaan plasma nuftah di hutan Kalimantan dan Papua Barat, menunjukkan hal itu dengan jelas. Tentu masih ada banyak yang lain. Maka, tidak heran apabila kemudian sebagian merasa bahwa isu globalisasi berhembus ke arah negatif, yaitu bahwa globalisasi hanya menguntungkan mereka yang sudah lebih dahulu kuat secara ekonomi dan punya infrastruktur untuk melanggengkan dominasi ekonominya, sementara negara yang terbelakang hanya merasakan dampak positif globalisasi yang artifisial, namun sebenarnya tetap ditinggalkan. Sebagian yang lainnya tetap optimis dengan cita-cita hakiki globalisasi dan yakin bahwa tata manusia yang setara di muka bumi ini akan terwujud suatu saat nanti dengan upaya-upaya membangun kebersatuan sebagai sesama penghuni bola-dunia. Nampaknya, apapun esensi perdebatannya, yang ada di depan mata adalah berjalannya proses globalisasi di hampir segala bidang tanpa bisa dihentikan. Teknologi Informasi (TI) Teknologi Informasi (TI) yang kini berkembang amat pesat, tak bisa dipungkiri memberikan kontribusi yang signifikan terhadap seluruh proses globalisasi ini. Mulai dari wahana TI yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi, hingga internet dan telepon gengam dengan protokol aplikasi tanpa kabel (WAP), informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang. Perubahan informasi kini tidak lagi ada dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam, melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik. Perubahan harga saham sebuah perusahaan farmasi di Bursa Efek Jakarta hanya membutuhkan waktu kurang dari sepersepuluh detik untuk diketahui di Surabaya. Indeks nilai tukar dollar yang ditentukan di Wall Street, AS, dalam waktu kurang dari satu menit sudah dikonfirmasi oleh Bank Indonesia di Medan Merdeka. Demikian juga peragaan busana di Paris, yang pada waktu hampir bersamaan bisa disaksikan dari Gorontalo, Sulawesi. selanjutnya silahkan link http://ruangasadirumahkata.blogspot.com/ Demikian pula untuk mendapatkan link artikel Yanuar Nugroho selanjutnya yang di ekstrak dari thesis menarik tersebut : Teknologi Informasi dan Organisasi Masyarakat Sipil di Indonesia : Studi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di kalangan kelompok/organisasi masyarakat sipil di Indonesia bagi perubahan sosial Barriers to Internet adoption in Indonesian CSOss/ The Internet and mobilisation of direct action What are the strategic uses of the Internet in Indonesian CSOs? IGJ and GJU: Shaping civil society views on globalisation issues AKATIGA and research for CSOs INFID, NusaNet, and its advocacy network JRS and its works with the vulnerable YDA, Advokasi and the endeavour to spread global awareness Weighing impacts of Internet appropriation in Indonesian CSOs Framing attributes of Internet adoption in CSOs: Miles approach Indonesian CSOs - Formal status as strategy Indonesian CSOs - Blooming activism Post Scriptum Untuk anda para blogger silah juga diakses Wimar: Blog Pelengkap Demokrasi9 ____________________________________________________________________________________ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs

