Kan ada salma pei pei dan haris ben bilal yang suka wisata kealam fana, mereka 
bisa liput dan ngobrol dengan tuhan...buktinya mereka suka katakan yang tuhan 
mau ini mau itu dan senang reportase mengenai akherat, heibat kan?
   
  

mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Lalu apakah media bisa meliput saat Soeharto diadili "di atas sana"?

Mohon petunjuk bagaimana caranya.

----- Original Message ----- 
From: soni anggara 
To: [email protected] 
Sent: Monday, January 28, 2008 8:17 PM
Subject: [ppiindia] pencari hakim

Pencari Hakim
Catatan Edy Supratno

PEMERINTAH memutuskan untuk mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk 
rasa duka yang mendalam atas meninggalnya Soeharto. Penguasa terlama dalam 
sejarah Indonesia itu kemarin menghembuskan napas terakhir setelah sekian lama 
dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta.
Sejak kembali masuk rumah sakit, Soeharto terus menghiasi media massa. Tak ada 
televisi yang tanpa liputannya. Begitu juga dengan media cetak, halamannya 
selalu mengabarkan tentang kondisi terkini tentang Jenderal Besar itu. Bahkan 
wartawannya pun selalu bermalam di rumah sakit tempat Soeharto dirawat. Tak ada 
yang ingin kecolongan. Soeharto tetap jadi magnet.
Karena rajin menunggu detik demi detik, media massa mendapatkan gambar yang tak 
pernah dibayangkan sebelimnya. Ketika Soeherto terekam kamera pada saat yang 
terlemah. Penguasa Orde Baru itu tergolek lemah. Tak ada sedikit pun kekuatan 
padanya kecuali pada alat medis yang ada. Bintang Lima yang disematkan di 
pundaknya pun sudah tak ada artinya.
Di saat demikian, doa terus berdatangan. Namun, barangkali kesemua doa itu 
mempunyai sesuatu yang kurang mengenakkan. Doa yang pertama, sebagian 
pendukungnya banyak yang minta umurnya diperpanjang. 
Bayangkan, jika doa ini benar-benar dikabulkan, Soeharto akan mendapat julukan 
baru. Jika selama ini dia menjadi presiden terlama, dengan dikabulkan doa 
tersebut, dia bakal menjadi mantan presiden terlama.Yang lebih menyiksanya, dia 
akan awet tua.
Sebagian yang lain berdoa agar Bapak Pembangunan itu disehatkan. Ini juga tak 
enak. Kalau doa ini dikabulkan, maka Soeharto akan segera dibawa ke pengadilan. 
Dia didakwa dengan banyak hal. Dari persoalan pidana korupsi, kasus perdata, 
hingga pelanggaran HAM. Jadi, semua doa itu mengandung hal yang tidak enak. 
Satu kata yang mengandung doa bijak adalah yang diucapkan dokter Mardjo 
Soebiandono beberapa saat sebelum Soeharto benar-benar wafat. Di depan puluhan 
wartawan dia mengatakan, semoga beliau diberi yang terbaik. Saya merasa, inilah 
doa yang benar-benar baik. Daripada berdoa minta panjang umur atau disehatkan 
terhadap pasien yang memang sudah berusia uzur. 
Atau barangkali kita memang sudah terbiasa dengan mengucapkan kata yang kurang 
dipikirkan maknanya. Meskipun itu,--menurut saya keliru. Sering kita mendengar 
kata atau kalimat yang tidak pas. Misalnya, dalam mengamankan Soeharto ada juga 
polisi yang menggunakan pakaian preman. 
Sepertinya sederhana kalimat ini. Tapi sesungguhnya tidak. Yang dimaksud 
pakaian preman dalam kalimat itu adalah tidak pakai seragam (uniform). Artinya, 
pakaian yang biasa dikenakan masyarakat biasa. Repotnya, arti preman di mata 
masyarakat mempunyai konotasi negatif. Yaitu orang yang bertato, pemeras, 
mencuri, nodong, merampok, dan tindakan buruk lainnya. Apakah kita semua memang 
penjahat?
Di saat kondisi kesehatan Soeharto naik turun, orang banyak memberi tanggapan. 
Ada yang mengatakan karena sejumlah kekebalannya belum diambil. Ada yang 
mengatakan karena fisiknya memang kuat. Sebagian mengatakan menunggu satu Suro, 
dan lain sebagainya. Pokoknya semakin lama dirawat, semakin banyak opini yang 
berkembang.
Kita tidak bisa menilai pendapat mana yang benar. Tapi, mudah-mudahan bukan 
karena tradisi yang selama ini dikembangkan Orde Baru. Yaitu tradisi minta 
petunjuk kepada atasan jika sedang menghadapi sebuah persoalan. 
"Mohon petunjuk, Pak. Kondisi Bapak sudah sangat mengkhawatirkan." 
Wah, kacau sekali kalau ini terjadi. Karena, sang pemberi petunjuk sedang 
kondisi yang lemah tak berdaya. Akibatnya, jawaban tak segera diberikan. Tapi, 
saya berdoa, mudah-mudahan bukan karena faktor tradisi ini.
Tapi yang jelas, Bapak Pembangunan itu meninggalkan kita semua dalam status 
hukum yang masih mengambang. Sebagian ada yang mengatakan, dia koruptor. 
Termasuk lembaga dunia yang mengatakan dia adalah pencuri uang rakyat terbesar. 
Misalnya atas dugaan penyelewengan dalam mengelola tujuh yayasan yang di bawah 
pimpinannya. 
Sejumlah media massa memberitakan, duit Soeharto triliunan rupiah di luar 
negeri. Dia disejajarkan dengan mantan diktator dari negara lain yang hartanya 
baru bisa terbongkar setelah meninggal dunia. Anak-anaknya mempunyai rumah dan 
vila mewah di luar negeri. Tapi, selama ini semua itu sulit dibuktikan. Dan 
Soeharto pun bersikukuh bahwa dia adalah pemimpin yang bersih. 
Apa pun saling tuding itu, ini adalah tradisi buruk yang harus kita akhiri. Ke 
depan, seseorang pemimpin meninggal diharapkan dengan kondisi yang sudah 
terbebas dari urusan dunia. Sehingga, namanya sudah bersih dan keluarga yang 
ditinggalkan tak menanggung beban sepanjang zaman. 
Pelajaran berharga bagi pejabat yang berurusan sebuah kasus. Tidak perlu 
menghindari pengadilan dengan menyuap wartawan agar kasusnya tidak dimuat di 
media massa atau menyuap hakim dan jaksa. Karena, itu hanya membohongi diri dan 
mengulur-ulur waktu. Vonis di masyarakat lebih menyakitkan karena akan 
hukumannya sepanjang zaman.
Positive thinking kita, Pak Harto meninggalkan kita bukan karena apa-apa. Bukan 
karena takut karena kasus korupsi dan pelanggaran HAM-nya. Tapi yang 
bersangkutan sedang mencari hakim yang benar-benar adil. 
Dia sangat tahu, hakim di dunia tidak hanya sangat mudah tergoda dengan materi. 
Dia pun sangat hapal bahwa hakim-hakim di dunia sangat tergantung atasan. Dia 
juga sangat paham, sebagai penguasa yang sangat berjasa, penegak hukum di 
Indonesia tak akan berani sembarangan menghakiminya. 
Yang lebih penting lagi, dia ingin menghindari hakim di dunia karena semua 
hakim pernah jadi anak buahnya. Yang semuanya pernah puluhan tahun tunduk atas 
titahnya. Dia sangat khawatir jika para hakim juga masih terbawa kebiasaan 
lama. 
"Mohon petunjuk, Pak, kami harus berbuat apa dan bagaimana?" 
Maka pengadilan atas Soeharto di dunia ini tak akan pernah tuntas. Untuk itulah 
barangkali beliau mendahului kita untuk mencari hakim yang tak pernah minta 
petuntuk padanya. Jika yang bersangkutan sudah bertemu, bagi yang pernah 
disakiti barangkali tak perlu lagi menyimpan dendam. Semoga!
[EMAIL PROTECTED]

---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

----------------------------------------------------------

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.13/1246 - Release Date: 27/01/2008 
18:39

[Non-text portions of this message have been removed]



                         

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke