http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/soeharto_schizofrenia080\
129 Soeharto Mati, Indonesia Idap Schizofrenia?
Radio Nederland Wereldomroep, Laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta
29-01-2008
Laporan Aboeprijadi Santoso
<http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/indonesia_idap_schizofrenia_2008\
0129_44_1kHz.mp3>
Reaksi terhadap kematian mantan presiden dan diktator Indonesia,
Soeharto menunjukkan seolah-olah bangsa ini terjebak jiwa-ganda atau
schizofrenia yang membingungkan dunia. Hanya sepuluh tahun lalu, dunia
menyaksikan kemarahan publik atas KKN Soeharto, dan kagum akan gelombang
protes masyarakat yang memaksa Soeharto mundur. Kini, orang
mengelu-elukan iringan jenazah Soeharto, merindukan zaman "enak dan
aman"nya Soeharto, elit politik Jakarta mengimbau pemaafan, Presiden SBY
menyebut Soeharto "pejuang nasional", dan pemerintah menganjurkan tujuh
hari berkabung.
Bangsa ini bahkan lupa akan Jusuf Ronodipuro, reporter RRI yang
memberitakan proklamasi kemerdekaan, yang pada hari yang sama
dikebumikan di Taman Pahlawan Kalibata. Sekarang, giliran para aktivis,
dan korban HAM mulai dari tahun 1965, sampai kasus Trisakti dan Munir,
menuntut gelombang reformasi baru. Asmara Nababan, Ketua LSM Demos, amat
prihatin akan schizofrenia itu, katanya kepada Radio Nederland
Wereldomroep di Jakarta.
Asmara Nababan [AN]: "Ini satu momentum yang sebenarnya sangat
menyedihkan, karena yang meninggal ini adalah seorang diktator. Seorang
yang mempunyai catatan yang panjang berhubung dengan kejahatan
kemanusiaan, kejahatan ekonomi, kejahatan lingkungan. Tetapi dia
sekarang mendapat satu keistimewaan dari pemerintah, menggambarkan dia
sebagai pahlawan. Dan ini yang menyedihkan itu bahwa sebagai bangsa
Indonesia, kita tidak berhasil mengoreksi kesalahan masa lampau, bahkan
kita mempertontonkan satu kekerdilan yang memang betul bisa menjadi
bahan tertawaan masyarakat internasional."
[Tossi_demo-korban-ham-300ke.jpg] Media Massa dan Soeharto
Pemandangan Jakarta hari-hari ini juga tak lepas dari schizofrenia
seputar perginya Soeharto. Gedung-gedung pemerintahan dan perwakilan
asing di Kuningan taat mengibarkan bendera setengah tiang, namun tak
semua rumah, juga di kawasan elit Menteng, sudi mengerek setengah tiang.
Rakyat kecil kebanyakan tak peduli, tetapi iklan-iklan raksasa
mengungkap betapa akrab dan hangat hubungan antara media massa dan
Keluarga Besar Soeharto.
Televisi telah memberi peluang besar bagi elit dan eks kroni Soeharto
untuk unjuk diri dan unjuk hormat kepada sang mantan diktator semasa di
Rumah Sakit Pertamina. Kini media itu pula yang menelanjangi diri dengan
iklan-iklan bernilai Rp. 40an juta untuk mengucapkan "Selamat Jalan"
kepada "Bapak Pembangunan", "Jenderal Besar" dan "Bapak Bangsa"
Soeharto.
Suratkabar terbesar Indonesia juga tampil secara amat dubius. Kepala
beritanya sehalaman penuh, berjudul "Warisan Soeharto", namun isinya
sebuah obituari yang menyesatkan. Tokoh koran Orde Baru tersebut, Jakob
Oetama menulis bahwa akhir pemerintahan Soeharto sama dengan Soekarno,
yaitu berakhir dengan kesendirian yang diterlantarkan. Kepergian
Soeharto rupanya merupakan suatu kehilangan yang besar bagi media mapan
semacam Kompas. Di tempat lain koran itu dengan bangga menyebut Soeharto
sebagai tokoh yang "selalu memberi kesejukan". Di mata Kompas, Soeharto
adalah "Orang Besar" yang telah memberikan pertanggungjawabannya.
Namun seperti banyak media, khususnya Metro TV yang mengiringi prosesi
pemakaman Soeharto dengan puja dan puji, kilas balik riwayat Soeharto
diliput dengan singkat dan cepat ketika tiba di tahun 1960an. Soeharto
mendadak tampil sebagai Pangkostrad yang gagah dan jaya. Media itu lupa
bahwa Soeharto pernah menjadi apa yang oleh John Pilger disebut sebagai
"The Prince of Massacres," Sang Pangeran Pembantaian. Yang menarik,
Gubernur Irwandi dan Wagub Muhammad Nazar, atas nama pemda Aceh, turut
berbelasungkawa, namun dengan kata-kata bersayap: "Semoga Allah
mengampuni dosa-dosanya..."
Schizofrenia
Jadi, benarkah Indonesia mengidap schizofrenia sepeninggal Soeharto?
Reaksi para pendengar Radio Utan Kayu FM dari Sala sebenarnya malah
menunjuk betapa rakyat acuh saja. Tentu saja, orang ramai ingin
menyaksikan suatu prosesi kenegaraan yang penuh kebesaran. Tapi
jalan-jalan menuju Astana Giribangun tidak menunjukkan rumah-rumah
berbendera setengah tiang, dan kerumunan rakyat itu hanya menonton,
namun tidak melambaikan tangan kepada iringan jenazah jenderal besar
tersebut.
Kini gelombang pemaafan Soeharto harus menghadapi arus balik yang besar.
"Ini negara hukum, bukan negara halal-bihalal!" tukas salah satu
pengkritik Soeharto paling pedas, Fadjroel Rachman. "Tiada maaf bagi
Soeharto," seru Sukmawati, putri mantan Presiden Soekarno yang selalu
bersuara lebih tegas, ketimbang kakak-kakaknya.
[Tossi_demo-korban-ham-300.jpg] Momentum Menegakkan Hukum
Asmara Nababan yakin momentum kematian Soeharto dapat memacu gelombang
protes dan tuntutan para korban HAM demi mengungkap kebenaran.
Asmara Nababan: "Setiap hari Kamis mereka menuntut penyelesaian
pelanggaran hak azasi manusia. Setiap Kamis, hujan panas, mereka tidak
pernah absen. Ini satu modal yang saya pikir akan memberikan inspirasi
kepada banyak korban, juga keluarga korban yang selama ini diam. Dan
saya yakin, satu gerakan yang lebih masif dari masyarakat korban,
keluarga korban dan simpatisan korban, itu akan dapat memaksa pemerintah
untuk memberikan pertanggungjawaban."
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: "Menuju KKR, K-nya terutama,
kebenaran?"
AN: "Salah satu tuntutan yang tampaknya disepakati adalah mempercepat
pembentukan Komisi Kebenaran. Dan itu saya pikir justru sekarang
kontroversi mengenai peranan Soeharto itu harus memicu pemerintah untuk
menyepakati pembentukan Komisi Kebenaran ini."
RNW: "Jadi ini betul menjadi satu momentum balik, jadi artinya untuk
melawan kampanye yang kita lihat melalui media beberapa hari
belakangan?"
AN: "Saya lihat ada kemungkinan dalam dua lapis. Lapis pertama itu
kebutuhan pengungkapan kebenaran itu menjadi sangat mendesak tentang apa
yang terjadi masa lampau khususnya 65/66. Yang kedua sebenarnya ini
memberi peluang kepada penegak hukum yang selama ini ragu-ragu menindak
kroni dan keluarga Soeharto, karena Soeharto masih hidup. Sekarang
hambatan psikologis itu sudah hilang. Mudah-mudahan benar, harapan dari
banyak pengamat, bahwa dengan meninggalnya Soeharto, penegak hukum kita
itu berani menegakkan hukum berhubungan dengan kroni dan keluarga
Soeharto."
[Non-text portions of this message have been removed]