Jalan Baru, Jalannya Siapa? Indonesia Baru, Indonesia
yang Mana?
 

Berikut ini adalah orasi politik (kritik-otokritik)
sekjen Sarekat Hijau Indonesia di acara Deklarasi
untuk Bumi dan Kebangkitan Nasional yang digagas oleh
Walhi pada tanggal 28 Januari 2008.

(diantaranya di deklarasikan oleh Chalid Muhammad
(WALHI); Usman Hamid (Kontras); Hendri Saragih (FSPI);
Salma Safitri (Solidaritas Perempuan) Hendri Saparini,
Ray Rangkuti; Yudi Latif (akademisi Paramadina);
Hilmar Farid (aktifis buruh); Arif Satria (Akedemisi
IPB); Siti Maemunah (JATAM),; Patra M Zen; Kusfiardi
(KAU); Nurkholis (LBH); Wahyu Susilo (INFID); Romo
Mudji Sutrisno (Rohaniawan); Asmara Nababan; Jhonson
Panjaitan (PBHI); Rafendi Djamin; Happy Salma (artis);
Butet Kertaredjasa (aktor), Agung Putri (Elsam),
Hendro Sangkoyo, Franky Sahilatua (seniman), Slamet
Daroyni (Walhi)dll)

silah klik 
untuk deklarasi silah klik
http://www.walhi.or.id/kampanye/globalisasi/
utangeko/maklumat/


Jalan Baru, Jalannya Siapa? 
Indonesia Baru, Indonesia yang Mana?


Sebelum memulai orasi politik ini saya hendak
memberikan penghormatan dan penghargaan yang
setinggi-tinggi kepada Ibu Werima dari Soroako
(berlawan terhadap Inco dan penguasa sejak
kanak-kanak), kawan-kawan dari Porong (berlawan
terhadap Lapindo dan Penguasa), dan kawan-kawan dari
Rinjani yang melalui testimoninya telah mengajarkan
kepada kami untuk kembali menjadi manusia yang
bermartabat…..

Secara khusus kepada Ibu Werima saya sampaikan rasa
sayang saya, karena bagi saya ibu menjadi perlambang
kehidupan. Pemberi hidup, pemelihara hidup. Juga
adalah ibu pertiwi yang menegakan rumah Indonesia dan
menyusui anak-anak negeri ini…..

……hiduplah Indonesia Raya
(dinyanyikan..)

Selamat siang saudara-saudara, salam sejahtera, dan
tegaklah Indonesia Raya.


Tetapi awas, waspadalah dan jangan pernah lupa
saudara-saudara, patrikan di benakmu kita tidak akan
tertipu Indonesia Raya, yang dilantunkan hari-hari ini
didalam acara-acara seremonial penuh gincu di
kantor-kantor pemerintahan, wakil rakyat atau
peradilan. 

Saya menegaskan ini adalah Indonesia Raya yang
menggelora , ditengah kepal-kepal tangan kaum tani,
nelayan, buruh, miskin kota, pemuda, kaum perempuan
yang tiada henti dan terus menerus memperjuangkan
hak-hak konstitusionalnya. Menegakan harkat dan
martabat dirinya. Menolak miskin, menolak tunduk,
menolak takluk, menolak dijajah

Dan sesungguhnya kepal-kepal tangan itu adalah
pernyataan sikap, penegasan dan pengukuhan perlawanan
terhadap penguasa yang zalim. Penguasa yang
menggadaikan negeri ini, penguasa yang menjual negeri
ini. Penguasa yang sesungguhnya menjual harkat dan
martabat dirinya. Dan sesungguhnya mereka sampah yang
harus disingkirkan.

Saat ini, detik ini, di ruang ini sudah tegakkah
kepala saudara, sudah terkepalkah tangan saudara dan
sudah teracungkah tinju saudara ke angkasa.

Sepi…..


Saudara-saudara,
Beberapa bulan terakhir kita membaca begitu bisingnya
lalu lintas pemberitaan, dan pada akhirnya lalu lalang
selebriti dan kalangan elit perkotaan yang
mendengung-dengung JALAN BARU tentang kebangkitan
Indonesia.. Sebut saja Ikrar Kaum Muda atau sebut saja
Jalan Baru – Pemimpin Baru atau sebut saja gagasan
Restorasi Indonesia. Atau acara hari ini Deklarasi
Untuk Bumi dan Kebangkitan Nasional yang digagas oleh
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.


Walau saya menyambut dengan gembira (dan sejujurnya
saya juga bagian dari itu) kebangkitan kalangan kelas
menengah yang sdar dan terbangunkan ini 

Tetapi sesungguhnya beranikah kita mengatakan………,
layakkah kita mengatakan……..

Kita, anda, saya berdiri disini di detak jantung
kesadaran baru yang tumbuh dari pelajaran perjuangan
hidup rakyat yang bersimbah cucuran keringat, airmata
dan darah untuk menentang dan menolak tunduk terhadap
dominasi negara, pasar atau korporasi maupun
persekutuan kotor keduanya yang melahirkan penindasan
dan penghisapan.

Tetapi sesungguhnya beranikah kita mengatakan………,
layakkah kita mengatakan……..

Kita, anda, saya berdiri disini di detak jantung
kesadaran baru yang tumbuh dari pelajaran perjuangan
hidup rakyat yang bersimbah cucuran keringat, air mata
dan darah untuk kembali menegakan kedaulatan rakyat
atas bumi, air, udara dan kekayaan sosial ekonomi yang
dikandungnya.

Tetapi sesungguhnya beranikah kita mengatakan………,
layakkah kita mengatakan……..

Kita, anda, saya berdiri disini di detak jantung
kesadaran baru yang tumbuh dari pelajaran perjuangan
hidup rakyat yang bersimbah cucuran keringat, air mata
dan darah untuk kembali menegakan penghargaan terhadap
bumi, air, udara dan kekayaan alam sebagai sumber
kehidupan dan kesejahteraan rakyat dan sekaligus
menjadi ruang kelangsungan hidup rakyat.


Sungguhkah kita, beranikah kita menegaskan bahwa
sejatinya RAKYAT ADALAH KEKUATAN UTAMA JALAN BARU.
Murba, Kromo, Wong Cilik, Proletar, Marhaen Massa
Rakyat adalah kekuatan utama jalan baru. Murba, kromo,
wong cilik, proletar, marhaen, massa rakyat yang
BERHIMPUN, GEGAP GEMBITA, GEMURUH, MENGGELEDAK dan
BERGULUNG-GULUNG menegakkan rumah INDONESIA RAYA.

Sesungguhnya beranikah kita mengatakan bahwa
perjuangan rakyat semesta adalah keniscayaan untuk
lahirnya kembali Indonesia Raya, Indonesia Baru yang
bermartabat. Singkirkan keraguan untuk menempatkan
rakyat sebagai pilar dan kekuatan utama. 


Saudara-saudara ketika saya mengatakan kepal-kepal
tangan janganlah menjadi cemas dan takut dengan
gelombang massa rakyat, tetapi adalah tangan-tangan
yang sama siap bertaut erat dengan tangan-tangan lain,
tangan-tangan yang siap berjabat tangan dan
tangan-tangan yang siap berkeringat bekerja membangun
Indonesia Raya, menentukan nasibnya sendiri.

Karena itu kita sebagai bagian rakyat Indonesia yang
menolak tunduk harus mempersenjatai diri dengan 4 hal.

Pertama, kepercayaan diri dan persaudaraan orang-orang
merdeka
Kedua, organisasi
Ketiga, cita-cita politik bersama
Keempat, kepemimpinan.



Saudara-saudara
Di dalam derap perjuangan hidup sehari-hari kaum tani
dan buruh tani, masyarakat adat, nelayan, buruh
pabrik, buruh migran, pedagang kaki lima dan asongan,
guru rendahan, pegawai rendahan, pengusaha kecil
menengah, pemuda dan mayoritas rakyat di pelosok
negeri, perjuangan menegakkan harkat dan martabat
manusia menjadi nyata dan hidup. 

Inilah makna perjuangan yang sejati yang menjadi dasar
perumusan serta batu fondasi Negara Indonesia seperti
dirumuskan di dalam Pembukaan Konstitusi. 

“bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala
bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas
dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Ini adalah kontrak sosial, ini adalah surat hutang
negara untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarakan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Kembali ke pada tali mandat dan kontrak sosial 17
Agustus 1945 ini bukanlah perjalanan kepada paham dan
semangat kebangsaan sempit, tetapi ini adalah bagian
yang terpisahkan dari perjuangan untuk menegakkan
harkat dan martabat semua manusia di semua negeri.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB pun
menegaskan “Semua rakyat mempunyai hak menentukan
nasib sendiri. Atas kekuatan hak itu, mereka dengan
bebas menentukan status politiknya dan bebas mengejar
perkembangan ekonomi, sosial dan budaya”.


Ketika kita berbicara Jalan Baru, Indonesia Baru,
sebenarnya kita akan menemukan bahwa perjalanan itu
sesungguhnya bukan sesuatu yang asing, jauh,
diawang-awang tetapi kita memulai dengan kembali ke
jiwa konstitusi seperti tertuang dalam pembukaan
konstitusi kita.

‘bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala
bangsa……

Kita inginkan merdeka di bidang politik dan merdeka di
bidang ekonomi….

Mari kita usah ragu untuk mengibarkan kembali
panji-panji MERDEKA 100% yang pernah di acungkan oleh
Front Persatuan, oleh Tan Malaka dan Jenderal
Sudriman.


Ada jutaan kepal-kepal tangan yang mengacung ke
angkasa…..

Tetapi ratusan rakyat negeri ini sesungguhnya
mengepalkan tangan di dada menyimpan amarah mereka
sendiri, di dalam sepi…..


Karena tugas sejarah kita untuk menyatukan kepal-kepal
tangan di angkasa itu, dan membangkitkan kesadaran,
kepercayaan diri kepal-kepal tangan yang sepi sendiri
dan mempersenjatai mereka dengan organisasi dan
cita-cita politik bersama. Mulailah dengan cita-cita
politik, kembali ke jiwa konstitusi kita. Dasar
berdiri dan tegaknya rumah Indonesia Raya. Dari
sanalah kita merumuskan kapal Indonesia yang jaya
mengarungi samudra yang penuh gejolak hari ini. 

Patrikan ini di kepala kita. Sesunguhnya tak perlu
jauh-jauh, cita-cita politik adalah apa yang
dipikirkan, dirasa dan diperjuangkan oleh kaum kaum
tani dan buruh tani, masyarakat adat, nelayan, buruh
pabrik, buruh migran, pedagang kaki lima dan asongan,
guru rendahan, pegawai rendahan, pengusaha kecil
menengah, pemuda. Murba, Kromo, Wong Cilik, Proletar,
Marhaen dan massa rakyat

Saya ingin menutup orasi politik ini dengan menjumpai
Lao Tzu dan de Mello


Kau kira bagaimana saya, Chalid Muhammad, Rizal Ramli,
Yudi Latif, Ray Rangkuti, kalangan intelektual, elit
perkotaan, kelas menengah yang sadar dan terbangunkan,
TERHUBUNG dengan masyarakat di Soroako, Porong,
Rinjani dan di tempat manapun penindasan di hadapi
dengan keteguhan perlawanan massa Rakyat. 



Boneka Garam

Sebuah boneka garam
berjalan beribu-ribu kilometer
menjelajahi daratan sampai akhirnya
ia tiba di tepi laut

Ia amat terpesona oleh pemandangan baru,
massa yang bergerak-gerak,
berbeda dengan segala sesuatu
yang pernah ia lihat sebelumnya

Siapakah kau?” tanya boneka garam kepada laut

Sambil tersenyum laut menjawab:
“Masuk dan lihatlah!”

Maka boneka garam itu menceburkan diri ke laut.
Semakin jauh masuk ke dalam laut,
ia semakin larut,
Sampai hanya tinggal segumpal kecil saja.
Sebelum gumpalan terakhir larut,
boneka itu berteriak bahagia:
“Sekarang aku tahu, siapakah aku!.

Deklarasi untuk Bumi dan Kebangkitan Nasional, Ikrar
Kaum Muda, Jalan Baru Pemimpin Baru apakah akan
tinggal sebagai bongkah-bongkah garam, boneka garam
atau akan melebur di lautan luas.


Lantas siapakah Pemimpin itu?!!!! Kalian itukah……?
Mari menjumpai Lao Tzu.


Berjalanlah bersama rakyat
Tinggal bersama mereka
Belajar dari mereka
Cintailah mereka
Mulailah dengan apa yang mereka ketahui
Membangunlah dari apa yang mereka miliki
Hanya dengan pemimpin-pemimpin yang terbaik
Ketika pekerjaan sudah selesai dan tujuan tercapai
Rakyat akan berkata
Kita telah melakukannya sendiri
(Lao Tzu)

Saat ini, detik ini, di ruang ini sudah tegakkah
kepala saudara, sudah terkepalkah tangan saudara dan
sudah teracungkah tinju saudara ke angkasa.

Hingar bingar……


Saudara-saudara pada akhirnya saya harus mengatakan
perjuangan ini haruslah dilandaskan panggilan sejati
setiap manusia, untuk menemukan panggilan hidupnya
untuk membangun kehidupan dengan dasar kasih dan hanya
kasih.

Salam DAMAI untuk kita semua orang-orang merdeka,
orang-orang yang tetap menjaga asa menolak tunduk dan
terus berlawan.

INILAH BUMI MANUSIA, DIMANA KEBANGKITAN INDONESIA
SEGERA MENJADI NYATA.


…….hiduplah Indonesia Raya…. (dinyanyikan)



Andreas Iswinarto
Sekjen Sarekat Hijau Indonesia


http://sarekathijauindonesia.org
http://ruangasadirumahkata.blogspot.com/



      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

Kirim email ke