Kok, jilbab yang disalahkan. Salah sendiri kenapa tidak kreatif. Dulu memang
tidak ada baju renang khusus orang yang berjilbab tapi kan bisa diatur
jamnya. Misalnya jam 7 pagi sampai jam 9 untuk anak perempuan. Jam 9 s/d 11
untuk anak laki-laki. Atau kalau anak laki-laki ga mau kesiangan, tuh kolam
renang disekat.

Guru yang ngajar khusus juga, yang perempuan untuk perempuan, yang laki-laki
untuk laki-laki. Kalau ga ada perempuan, sewa orang perempuan.

Saya juga hidup tahun 1980-an dan tinggal di Jakarta, banyak kok teman-teman
saya ga begitu bisa berenang. Saya perhatikan teman-teman lelaki lebih
berani main di tempat yang dalam daripada perempuan. Perempuan itu senangnya
main ditempat cetek dan main pukul2 air.



2008/1/31 mediacare <[EMAIL PROTECTED]>:

>
> ----- Original Message -----
> From: Dewi Candraningrum
> To: [EMAIL PROTECTED] <jurnalperempuan%40yahoogroups.com>
> Sent: Thursday, January 31, 2008 12:58 AM
> Subject: Re: [Jurnal Perempuan] Nong di Munster-Jerman, "Keindonesian,
> Kesetaraan, Keisla
>
> Gadis, juga Aquino,
> kawan-kawan terkasih,
>
> 1. Kuasa Politik atas Selembar Tudung
> Jilbab hanyalah selembar kain. Selembar tudung kepala. Tetapi
> kepadanya, kuasa politik telah banyak memainkan dur angkara. Saya,
> masih kecil waktu itu, di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, di tahun
> 1980-an. Ya, saya, kita, waktu itu adalah anak-anak perempuan
> Soeharto. Memakai "kerudung" (yang pasca 1998 mendapat nama baru lebih
> Islamis, "jilbab") pada hari Jumat saja. Sedang hari Senin sd Kamis
> memakai rok pendek warna merah, dan atasan putih. Lalu, di hari Sabtu,
> diajari berenang oleh guru olah raga, dengan memakai pakaian renang
> nan mungil.
>
> 2. Empat kali lipat perempuan meninggal karena tidak bisa berenang
> Pasca 1998, saya persaksikan gadis-gadis mungil di SD tersebut telah
> memakai "jilbab" rapat, dari Senin sd Sabtu, dan tak ada lagi kelas
> renang di hari Sabtu. Kejadian di Boyolali itu ternyata telah berada
> dimana-mana. di Aceh, juga. Saya terhenyak, meratap, menangis pula,
> karena empat kali lipat perempuan Aceh meninggal dunia lebih banyak
> daripada laki-laki, hanya, dikarenakan, salah satunya, tidak bisa
> berenang kala Tsunami menerjang.
>
> Saya, hormat sepenuhnya kepada para Pecinta Tuhan, yang kepada jilbab,
> mereka ekspresikan cinta non-duniawiyah. Tetapi, bersamaan pula, saya
> bersedih-duka, kerana, gadis-gadis belia tak bisa lagi berenang.
>
> Ini sekedar keping cerita, dari ribuah keping lainnya yang tercecer.
> Itu sekedar sepenggal kisah.
>
> salam,
> dewi
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke