Jurnal Sairara:
SAUT SITOMURANG TUR JAWA BACA PUISI
Subuh waktu Paris. Dari Yogyakarta aku menerima sms berbunyi: "saut
situmorang akan tur baca puisi di jatim, jateng, jabar 13 feb di ngawi, 15-16
di surabaya, 17-18 malang, 19 jember, 22 gresik, 24 kudus, 25 semarang, 26
tegal, 27 purwokerto, 29 tasik".
Untuk memancing komentarku mengenai hal ini, teman Yogya-ku si pengirim sms
yang memang suka mengusik mencandaiku kemudian menutup sms-nya dengan
kata-kata: "Hebat ya Rara"!
Karena kehabisan pulsa, aku tak bisa menjawab dan sekaligus menanyakan lebih
rinci tentang kegiatan baca puisi ini: disponsor oleh siapa, siapa-siapa yang
turut serta, apakah hanya Saut Situmorang sendiri ataukah ada penyair-penyair
lain, siapa dan bagaimana pengorganisasian kegiatan baca puisi skala Jawa ini
serta dalam rangka apa ia diselenggarakan.
Lepas dari ketiadaan keterangan lebih lanjut mengenai pertanyaan-pertanyaan
di atas, tapi bisa kupastikan bahwa penyelenggaraan Tur Jawa Baca Puisi [TJBP]
ini, tapi bisa kupastikan ada suatu sistem pengorganisasian tertentu dan
jumlah dana tertentu yang tersedia. Yang terakhir ini aku tidak mau
menduga-duga, sebab yang terpenting, sponsor kegiatan memperlihatkan perhatian
besar pada puisi, baca puisi , arti dari puisi serta baca puisi bagi kehidupan.
Sehubungan dengan ini aku teringat akan kegiatan "Musim Semi Puisi" [Printemps
des Poésies] yang diselenggarakan saban tahun, dengan bantuan lembaga-lembaga
terkait pemerintah Perancis dalam skala dunia. Bukan hanya skala oleh Perancis.
Bahkan sampai ke Indonesia: Jakarta, Bandung dan Surabaya. Penanggung jawab
Musim Semi Puisi [MSP] di Paris antara lain mengatakan bahwa MSP
diselenggarakan dengan maksud memasyarakatkan puisi, mengembalikan puisi kepada
ibu kandungnya yaitu masyarakat, mengakrabkan masyarakat dengan
puisi dan yang terakhir mendekatkan penyair dengan masyarakat. Arti penting
masyarakat, oleh penanggungjawab MSP Paris, dilukiskan dalam kata-kata bahwa
sebenarnya masyarakat itu sendiri adalah penyair. Mereka tahu apa yang mereka
sukai dan tidak sukai. Karena itu melalui pilihan mereka, mereka menciptakan
puisi mereka sendiri. Betapa pun sulitnya sebuah puisi dipahami, tapi puisi
senantiasa diperlukan dan dicari. Misteri yang dikandung puisi seperti sebuah
suara yang menyeru-nyeru dan menggoda. Demikian penanggungjawab MSP Paris
tahun lalu dalam berkala bulanan "Poésie". Dan benar juga, pembacaan puisi yang
diselenggarakan secara massal di berbagai tempat senantiasa dihadiri oleh
banyak pengunjung. Penyelenggaraan MSP terinspirasi oleh Fête de la Musique
yang diprakarsai oleh Menteri Kebudayaan Pemerintah Mitterrand tahun 1981
dengan tujuan mengembangkan kreativitas di bidang musik, menjadikan musik satu
dengan masyarakat. Fête de la Musique yang diselenggarakan saban
bulan Juni sekarang sudah mentradisi dan menjalar ke berbagai negeri Eropa
Barat dan Afrika Utara.
Tentu saja skala Tur Jawa Baca Puisi yang dilakukan oleh Saut Situmorang
tidak sebesar MSP dan Fête de la Musique. Karena sponsornya pun tidak sekuat
MSP. Hanya saja dari TJBP ini, aku melihat bahwa kerja sama antar
jaringan-jaringan sastra-seni di berbagai daerah makin kuat oleh makin
disadari arti pentingnya untuk pengembangan kebudayaan dari bawah, bukan
pemerintah dan untuk memenuhi kepentingan masyarakat itu sendiri. Banyaknya
kemungkin yang dibuka oleh kerjasama antar jaringan ini telah diperlihatkan
oleh penyelenggaraan Ode Kampung di Serang [Banten], oleh Festival Lima Gunung
di Magelang, Jawa Tengah serta beberapa kegiatan kesenian di Solo sewaktu Halim
HD masih berada di kota kediaman Gesang, pencipta lagu Benggawan Solo yang
anggota Lekra itu.
Pengalaman penyelenggaraan temu Ode Kampung dan Festival Lima Gunung yang
diselenggarakan saban tahun [sampai dengan 2007 sudah diselenggaraan 4 kali]
bersandar pada kemampuan masyarakat lima gunung, memperlihatkan bahwa
berdasarkan kerjasama serta berangkat dari kekuatan jaringan-jaringan, sangat
mungkin dikembangkan suatu gerakan kebudayaan oleh, dari dan untuk masyarakat
itu sendiri. Gerakan kebudayaan berdasarkan dan berangkat dari bawah ini jika
terujud akan melahirkan suatu gerakan kebudayaan rakyat. Barangkali untuk
menyerempakkan langkah maka kiranya perlu dipikirkan penyelenggaraan Kongres
Kebudaaan dari bawah atas dasar jaringan. Sementara kongres-kongres kebudayaan
yang diselenggarakan oleh pemerintah, nampaknya tak lagi bergaung setelah
kongres berakhir.
Aku kurang tahu banyak tentang Kongres Jaringan Kebudaayan yang baru-baru ini
diselenggarakan di Kudus dengan sponsor pabrik rokok Jarum. Hanya dari press
release penyelenggara, terbaca olehku bahwa Kongres Kudus yang oleh sementara
penulis dikatakan "sukses besar", lebih bersandar pada nama-nama beken, bukan
bersandar pada massa jaringan. Penyelenggara pun tidak seperti Temu Ode Kampung
menyiarkan rinci jaringan-jaringan peserta, dari mana dan siapa-siapa yang
diundang. Apa patokan undangan, dan banyak pertanyaan lain lagi masih tidak
jelas keterangannya, untuk tidak mengatakan tanpa penjelasan dan kejelasan.
Hasil yang kuketahui hanya berupa sebuah pernyataan. Tapi betapa pun, Kongres
Kudus tetap bisa dibaca sebagai salah satu usaha saja yang masih perlu
dikembangkan sehingga akhirnya jaringan-jaringan kebudayaan benar-benar bisa
jadi tulang punggung gerakan kebudayaan rakyat dari bawah. Gerakan kebudayaan,
boleh jadi, akan merupakan fundamen sekaligus perekat kuat
bagi tegaknya republik dan Indonesia sesungguhnya, seperti halnya Masyarakat
Eropa membangun Komunitas atas basis kebudayaan Eropa. Gerakan kebudayaan
rakyat tidak lain dari menyemai nilai.
Perjalanan Saut Situmorang keliling Jawa kali ini pun kupahami dari segi
peranan jaringan dan berkembangnya kesadaran tentang arti pentingnya jaringan,
di samping tujuan-tujuan seperti yang dilakukan melalui MSP. Bagi Saut sendiri
dan penyair-penyair lain yang mungkin tampil bersama Saut, TJBP, kukira
merupakan usaha sangat produktif guna mematangkan janin gerakan kebudayaan
rakyat. Sama produktifnya dengan kegiatan baca puisi periodik di Kedai Kebun
Yogyakarta. Kegiatan-kegiatan produktif dan kreatif begini, berbeda dengan
kritik saling kritik yang tidak produktif , kukira sejalan dan merupakan
pengejawantahan ide "biar bunga mekar bersama, seratus aliran bersaing suara"
untuk mengisi ruang luas yang diciptakan oleh konsep republik dan
keindonesiaan. Republik dan Indonesia yang bagiku merupakan serangkaian nilai,
kukira, merupakan patokan dalam kritik saling mengkritik serta otokritik guna
membudayakan diri sendiri, manusia dan kehidupan. Dengan patokan nilai-nilai
republiken dan keindonesiaan ini, kukira akan mungkin berlangsung kritik,
saling kritik dan otokritik yang produktif.
Kalau penglihatanku benar, dalam sejarah kebudayaan kita, pernah berlangsung
polemik sehat berprinsip , aku ulangi polemik sehat berpinsip!, misalnya yang
dilakukan pada tahun 1930 oleh kalangan Poedjangga Baru, atau Polemik antara
Harian Merdeka dan Harian Rakjat mengenai Gerakan Aksi Sepihak di tahun 60an.
Barangkali dalam masalah kritik, saling kritik dan otokritik ini, kita masih
perlu belajar. Belajar mendengar untuk mampu menangkap pendapat interlokutor
serta kesanggupan menyediakan ruang bagi kebenaran orang lain. Di soal ini pun,
kukira konstatasi Mao Zedong waktu ia berada di Yen An bahwa sekali pun tujuan
baik, tapi dibawakan dengan cara yang tidak tepat, tidak bakal membawa kita
sampai ke tujuan, bahkan bisa-bisa menimbulkan soal baru, perlu dimasukkan
sebagai acuan. Artinya cara dan tujuan perlu rasuk [compatible]. Mencari musuh
lebih gampang dari mencari dan membangun persahabatan.
Dalam menyertai Saut Situmorang dan penyair-penyair lain dari jauh melakukan
TJBP mereka, aku membayangkan bahwa puisi-puisi yang dibacakan tentu bakal
sepadan dengan alur pikirnya ketika mengkritik puisi-puisi "berlendir" ,
apalagi puisi-puisi itu akan dikomunikasikan di depan publik, bukan untuk
dinikmati di ruang kamar sendiri. Lagi pula, puisi itu sejenis "lahap" [bahasa
Dayak Katingan = pekik pertarungan] dan mandau indah tergantung di pinggang
penyair menghadapi kehidupan yang tak pernah ramah. Sebagai "lahap" , puisi
menunjukkan kekuatan mantera , kemagisan kata sebuah puisi.
Teringat akan pembacaan puisi periodik di Kedai Kebun Yogya yang diorganisasi
oleh Saut Situmorang, dihadiri oleh penyair-penyair dari berbagai pulau, aku
pun mimpi [karena aku memang seorang pemimpi], pada suatu saat, melihat
penyair-penyair luar Jawa datang ke Jawa melakukan tur puisi dan sebaliknya.
Mengapa tidak jika kerjasama jaringan menguat dalam gelombang dahsyat bernama
gerakan kebudayaan rakyat yang paralel dengan konsep "sastra-seni kepulauan"?
Selamat ber -TJBP Saut. Horas! "Has eh, Hari!", ujar orang Dayak Katingan.
Hebat? Nanti dulu! Hebat dan kalah adalah hasil pertarungan sedangkan
pertarungan adalah sebuah jalan seumur hidup. Penyair belum bisa mengucapkan
kata penghabisan selagi ia bernafas. Berhenti menyair selagi masih hidup adalah
suatu kematian penyair. Nyontek pun suatu gejala kematian kreativitas.
Dengan ini, aku pun sudah menjawab sobatku pengirim sms dari Yogya yang suka
mengusik mencandaiku dengan gaya uniknya.***
Paris, Musim Dingin 2008.
-----------------------------------
JJ. Kusni, pencinta sastra-seni, pekerja biasa pada Koperasi Indonesia, Paris.
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
[Non-text portions of this message have been removed]