Jurnal Sairara:
MENANYAI DIRI SENDIRI
Tanggal 6 Februari 2008 malam, aku menyaksikan acara periodik "Journal de la
Nuit", asuhan Philipe Levebre, yang membahas buku-buku tentang sastra-seni
langsung dengan para penulisnya. Acara ini berlangsung tengah malam selama satu
jam lebih. Ditayangkan oleh France2, salah satu terusan tivi Perancis. Yang
tampil kemarin malam adalah Peter Knapp, pelukis, fotograf dan kepala bagian
artistik Majalah Elle, Paris. Hadir juga dalam diskusi tersebut,
novelis-novelis Jacques Chessex , Berdolini dan pekerja nulis teater Joël
Pommerat.
Yang menarik perhatianku dari diskusi mereka, terutama proses kreatif dan
pencarian serta pertanyaan-pertanyaan mereka pada diri sendiri dalam berkarya.
Jawaban-jawaban dan renungan yang kuncinya dibuka oleh pertanyaan-pertanyaan
dalam menukik hakekat dari pemandu acara, Philipe Levebre. Oleh
pertanyaan-pertanyaan dan jawaban mereka, aku diajak merenung ulang, menanyakan
kembali masalah-masalah sastra-seni Indonesia sebatas yang kuketahui dan sering
kudengar, seperti hubungan politik dengan sastra-seni, yang ditabukan dalam
tema, serta bentuk yang realis dengan yang non-realis. Singkatnya, berkisar di
sekitar pertanyaan: Bagaimana berkesenian?
Beberapa hal yang menarik dalam jawaban Peter Knapp yaitu bagaimana ia ketika
masih muda dan setelah tua. Ketika sudah tua begini, ujar KNAPP, saya lebih
banyak bertanya tentang soal makna di samping terus mengotak-atik masalah
artistik. Ketika Philipe bertanya mengejar maksud Knapp dengan "makna", Knapp
menjawab bahwa ia mencoba menangkap hakekat atau sari dari hal-ikhwal yang
diolahnya sebagai tema lukisan atau pun foto serta menuangkannya dalam bentuk
yang seindah mungkin dengan meramu semua unsur secara maksimal serta
mengeksploatasi segala kemungkinan. Untuk menjelaskan maksudnya Knapp
memperlihatkan sebuah kayu berbentuk segi empat berwarna-warni yang ada
digenggamannya. Kayu segi empat itu merupakan sarana percobaan bagi Knapp
untuk mendapatkan kombinasi warna seharmoni mungkin dan mencoba mengeksplorasi
serta mengeksploatasi segala kemungkinan. Bagi Knapp kreativitas dan percobaan
membuat kemungkinan tak terbatas oleh waktu guna mengungkapkan "arti dan
perasaan". Keadaan "kemungkinan" yang demikian , disebut oleh Knapp sebagai
"l'absence du temps".
Sehubungan dengan proses kreatif Knapp, sambil memperlihatkan lukisan
"Langit" Knapp, Philipe Levebre menanyakan mengapa Knapp melukiskan langit
dalam bentuk tataan kombinasi berbagai warna. Menjawab pertanyaan ini, Knapp
bertutur bahwa sebelum melukis, ia lama sekali menatap langit untuk mendapatkan
makna langit sambil merenung. Hasil amatan dan renungannya maka Knapp sampai
pada kesimpulan bahwa langit merupakan kombinasi harmonis berbagai warna. Dan
kesimpulan inilah yang ia tuangkan dalam lukisan "Langit"nya.
Mendengar jawaban Knapp ini, aku secara spontan berkata pada diriku: "Wah,
indah sekali. Luarbiasa juga bahwa dari memandang langit, ia bisa sampai pada
hakekat demikian. Lalu berpikir dan menanyai diriku: Apakah kehidupan tidak
punya kemiripan dengan langit sedangkan toleransi serta kebhinekaan bukannya
paduan harmoni dari segala warna yang ada? Jadi langit adalah lambang dari
kehidupan dan masyarakat yang tak pernah tunggal warna. Pertanyaan ini lalu
hubungkan dengan perlawanan orang Perancis pada yang mereka "la pensée unique"
[pikiran tunggal]. Karena kebudayaan Perancis adalah kebudayaan campuran dan
olen mantan Presiden Jacques Chirac dilambangkan dengan pemakaman ulang
Alexandre Dumas, pengarang Perancis berdarah Afrika, di Pantheon, makam
putera-puteri terbaik Perancis. Politik kebudayaan begini kemudian, oleh
Sarkozy , presiden Perancis sekarang, dilanjutkan dengan memungut ide
"kompeksitas" dari filosof dan sosiolog Perancis: Edgar Morin.
Simbolisme begini pun pernah digunakan oleh Pelukis Salim kita ketika
melukiskan Katedral sebagai sebuah hutan.
Jika demikian, mengapa bentuk kesenian dibatasi pada satu dua kemungkinan,
dipagari misalnya hanya oleh realisme. Yang belum dimengerti pada suatu tingkat
tertentu, yang tidak atau belum kita pahami itu, tidak identik sebagai
sesuatu yang salah. Awal-awal memvonisnya sebagai salah, kukira bertentangan
dengan ciri "langit", kehidupan dan masyarakat. Awal-awal memvonis sesuatu
yang tidak kita pahami mendekati sifat sektarisme dan atau mencoba mengukur
dalamnya laut dengan kain panjang sejengkal, mengukur baju orang lain dengan
bajunya sendiri.
Penjelasan Knapp dan apa yang juga dilakukan oleh Pelukis Salim, Ferdinand
Leger atau Picasso, untuk sekedar menyebut beberapa nama saja, kupahami bahwa
karya sastra-seni, termasuk lukisan pada galibnya mempunyai roh. Lukisan atau
karya seni lebih seperti tubuh bagi jiwa manusia. Baik buruknya roh ini,
terletak pada pertanyaan apakah ia memberi yuran pada pemanusiawian manusia,
masyarakat dan kehidupan atau tidak. Kalau pun ia merupakan roh jahat,
barangkali , ia pun diperlukan untuk menguji dan mematangkan roh baik.
Karya-karya seni turut mengasah kepekaan kita. Ketidakpekaan akan membuat kita
tak memperhitungkan orang, tak gubris pada kehidupan dan masyarakat.
Pada kesempatan malam ini pun diperlihatkan lukisan Knapp tentang langit yang
disilang oleh cahaya terang. Seperti halnya dengan "Langit", lukisan ini pun
membuka pintu besar bagi segala tafsir. Terbukanya sekian tafsir dan wayuh
makna ini seperti halnya puisi, kukira justru merupakan salah satu ciri
sastra-seni seperti yang pernah terhadap sajak "Aku" Chairil Anwar.
Jika demikian, apakah bukannya, untuk memahami suatu karya sastra-seni
diperlukan pengetahuan sejarah, politik, psikhologi, sosiologi , filsafat dan
lain-lain. Diperlukan peningkatan apresiasi. Apresiasi ini bukan hanya
diperlukan oleh penikmat dan atau pembaca yang berdaulat, tetapi juga oleh
sastrawan-seniman itu sendiri, sehingga mereka tidak berkesenian secara
instingtif tapi jadi sastrawan-seniman sadar. Dengan alasan ini, aku sama
sekali belum bisa memahami pernyataan penulis yang mengatakan bahwa diskusi dan
teori tidak diperlukan oleh sastrawan-seniman. Sastrawan-seniman sebatas
mencipta. Ya, boleh saja, dan memang sastrawan-seniman akan berhenti sebagai
sastrawan-seniman jika tidak lagi mencipta. Tapi kalau berkesenian tanpa studi,
tanpa membaca kehidupan, lalu apa bagaimana hasilnya walau pun puluhan buku
sudah ia tulis. Kehidupan adalah bahan mentah berkesenian yang penggarapannya
dan tingkat pengolahannya ditentukan oleh tingkat si penciptanya.
Mengikuti diskusi "Journal de la Nuit" malam ini, kudapatkan tidak seorang
pun peserta yang berkutat sebatas soal tekhnis atau estetika murni -- yang juga
tidak murni benar-benar. Semua peserta entah pelukis, entah dramawan, entah
novelis atau romansier, menuturkan proses kreatif mereka dari berbagai segi,
terutama filsafat. Misalnya Joël Pommerat ketika berbicara tentang teaternya
menyentuh soal "action et mouvement" [aksi dan gerak], tentang ruang, suara,
bising, tubuh , wajah, récit, narasi, conte, tokoh, puisi teater, puisi
dramatik, dan makna kata. Mereka membahas soal-soal ini dari segi filsafat,
sosiologis dan politik sehingga kita mendengar kalimat "Pekerjaan sama dengan
udara yang kita hirup, hak dan keperluan. Tapi pekerjaan juga menjadikan kita
memperdagangkan hidup kita". Sedangkan romansier Jacques Chessex melukiskan
keadaan masyarakat Perancis dengan kata-kata: "Bibel di tangan kiri, cognac di
tangan kanan".
Dalam sebuah percakapan dengan seorang insinyur Perancis yang lama bekerja di
Jatiluhur, mengatakan bahwa "tanpa membaca sastra Perancis, kita tidak akan
bisa memahami roh sejarah Perancis".
Pandangan-pandangan yang kudengar malam ini, menyulut pertanyaan dalam diri
pada diriku sendiri. Memberikan acuan perenungan. Dari diskusi ini juga aku
melihat jelas kegelisahan sastrawan-seniman negeri ini dalam mencari dan terus
mencari. Bertanya dan terus bertanya, kemudian mengambil sikap.***
Paris, Musim Dingin 2008.
------------------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia Paris.
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
[Non-text portions of this message have been removed]