> > NGOBROL BARENG BUTET DAN DJADUK SEPUTAR "SIDANG SUSILA" > > > > > Hal-hal mengenai moral dan susila Negara akan dilaksanakan dengan > cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya > > > > > NAMPAK lelah setelah latihan. Tapi Butet Kartaredjasa dan Djaduk > Ferianto masih punya energi untuk mendiskusikan apa yang telah mereka > capai dalam latihan bersama kawan-kawan Teater Gandrik. Terasa benar, > betapa ada semangat yang begitu besar ketika mereka mempercakapkan > hal-hal tekhnis dan kemungkinan-kemungkinan estetis yang ingin > diwujudkan dalam adegan. Mereka memang tengah mempersiapkan lakon Sidang > Susila, karya Ayu Utami dan Agus Noor. > > Yang menarik dari lakon ini setidaknya ada pada tema dan penuisnya, ujar > Butet. "Temanya sangat aktual, dan sebenarnya merupakan keprihatinan > kita bersama pada hari-hari ini. Dan semangat yang terkandung dalam tema > itu sangat sesuai dengan semangat Teater Gandrik. Lakon-lakon Teater > Gandrik, seperti Pensiunan, Pasar Seret, Upeti, Dhemit, Orde Tabung, > dll, memang punya relevansi dengan persoalan kemasyarakatan. Setiap > memilik lakon, kami memang selalu menakar soal relevansi lakon bagi > masyarakat. Karena ketika hendak manggung, Teater Gandrik sesungguhnya > meyakini bahwa pentas kami adalah suatu upaya untuk berbagi persoalan > dengan masyarakat." > > Lebih jauh Butet menjelaskan > > Butet: "Pada Sidang Susila itu, persoalan sosial yang aktual diolah > melalui simbolisasi yang cukup menantang. Katakanlah, lakon ini pada > dasarnya juga merupakan tafsir dan kreasi yang cukup provokatif dari > penulisnya. Tafsir yang simbolik dan futuristik. Ada imajinasi yang luar > biasa, yang melampaui zaman " > > Maksudnya? > > Butet: "Secara tematik, lakon ini ingin merespon seputar isu RUU > Antipornografi dan Antipornoaksi. Nah, kisah dan peristiwa dalam lakon > ini membayangkan bagaimana ketika rezim moral itu hendak diterapkan dan > ditegakkan. Ada suasana represif, ketakutan, keganjilan-keganjilan. > Keganjilan-keganjilan yang seharusnya membuat kita selalu waspada > terhadap upaya sistemik yang ingin memonopoli nilai-nilai > kehidupan." > > Sebuah lakon yang suram, ya? > > Butet: "Suram, tetapi tidak kehilangan semangat humor. Sewaktu > naskah ini masih berupa monolog, saya sudah merasa bahwa nahkah ini > `Gandrik banget'. Ada semangat guyonon, yang sejak awal terasa > mewarnai lakon ini. Ini saya rasa jumbuh dengan semangat `guyon > parikeno' yang selama ini dikembangkan Teater Gandrik. > > Bisa diceritain sedikit seputar proses penulisan naskah itu? > > Butet: "Mestinya Ayu Utami dan Agus Noor yang menjawab pertanyaan > ini. Tapi saya bisa sedikit cerita. Semula Sidang Susila hendak > dipentaskan sebagai monolog. Waku itu muncul gagasan: bagaimana kalau > saya membawakan naskah yang ditulis orang di luar komunitas saya. Ketika > bertemu Ayu, dia meresponnya dengan antusias. Maka ditulislah Sidang > Susila. Setahu saya, ini kali pertama Ayu Utami menulis lakon panggung. > Kami sempat berproses latihan mempersiapkan pertunjukan. Tapi kemudian, > seperti yang saya katakan tadi, naskah ini terasa `Gandrik > banget'. Kenapa tidak dipentaskan Gandrik saja? Maka kami pun > membedah, mendiskusikan kemungkinan-kemungkinannya. Dan Agus Noor mau > menyusunnya sebagai naskah lakon teater. Tranformasi ide pun berkembang. > Dan hasilnya ya seperti yang bisa Anda tonton nanti > > Teater Gandrik kan sudah lama nggak manggung. Terasa berat nggak proses > Sidang Susila ini? > > Butet: "Yang terasa berat, lebih kepada persoalan manajemen waktu, > mengingat sekarang ini ritme hidup para pendukung Gandrik sudah sangat > berbeda dengan tahun 80-an. Militansinya sudah lain. Sudah memiliki > prioritas hidup sendiri-sendiri. Kekuatan dan kesehatan fisik para > pemainnya juga sudah ada yang mulai rapuh. Tapi itu bukan halangan, > karena kami meyakini: dalam setiap proses penciptaan akan selalu > ditemukan berkah-berkah yang tidak terduga, yang mungkin saja malah akan > memperkaya pencapaian artistik." > > Katanya kali ini ada juga energi baru dalam Gandrik, ya? > > Butet: "Pada Sidang Susila ini memang ada keterlibatan teman-teman > yang lebih muda. Bolehlah disebut ini `bergabungnya generasi > baru'. Bagi saya ini berkemungkinan mengimbuh kekayaan kreativitas. > Entah seperti apa nantinya. Inilah spekulasi-spekulasi yang hendaknya > selalu terjadi dalam semangat pencarian berbasis kesenian tradisional, > sebagaimana sejak dulu mewarnai Gandrik " > > Bagaimana dengan penonton, apa yang Anda bayangkan? > > Butet: "Setelah lama tidak tampil, gaya Gandrik mungkin akan > berhenti sebagai dongeng. Mungkin banyak penonton baru yang tidak kenal > lagi kayak apa Gandrik itu. Itu konsekuensi yang mesti ditanggung > Gandrik. Tetapi Pentas ini memang tidak dimaksudkan sebagai upaya > `membangunkan Gandrik'. Ini pentas dengan energy kreatif hari > ini. bahwa ada sejarah estetis yang melekat pada gandrik, itu juga tidak > bisa ditepis. Itulah sebabnya, bisa saja Sidang Susila ini meniupkan > aroma Gandrik masa lalu, katakanlah jejak `sampakan' itu. Tapi > dengan karakter naskah yang lebih terbuka, bahkan terasa sarkasme di > sana-sini, kami merasa bahwa Gandrik mau terbuka terhadap perubahan. > Zaman berubah, dan karenanya Gandrik mesti berbenah. Setidaknya, melalui > lakon ini kami ingin menakar dan mempertimbangkan kembali > pencapaian-pencapaian yang telah kami lakukan. Kesediaan untuk selalu > mempertimbangkan ini, mungkin akan menjadi modal pentinguntuk > pengembangan kreativitas selanjutnya. Sebab, hanya dengan begitu, saya > harapkan, Gandrik tidak akan vakum lagi. Tapi terus tergoda dan > tertantang untuk membangun produktivitasnya lagi. > > Katanya sekarang Anda naik pangkat dan derajatnya jadi sutradara, ya? > > Butet: "Hahaha Menjadi sutradara bukanlah karier, bukanlah > peningkatan status dari orang yang awalnya aktor. Menjadi sutradara > adalah sebuah pilihan, persis sebagaimana pekerja teater memilih profesi > sebagai penata cahaya atau pemain. Dan saya, sesungguhnya nggak minat > jadi sutradara. Saya lebih suka sebagai aktor. Perlu diketahui, di > Teater Gandrik pada dasarnya tidak ada status sutradara dalam pengerian > orang yang memiliki otoritas tunggal dalam menentukan pilihan estetis. > Di Teater Gandrik itu, sutradara lebih bersifat semacam forum bersama: > dimana setiap gagasan dikelola dan diakomodasi. Nah, makanya, dalam > Sidang Susila ini pun saya sebenarnya bukan `sutradara'. Saya > hanya melakukan fungsi `trafick' alias semacam `pengatur > lalu lintas gagasan' dan menjaga tafsir cerita supaya tidak berbelok > terlalu jauh. Di situlah saya lebih menjalankan `fungsi > penyutradaraan'. Yakni, mendorong semua pendukung untuk menyetor > kontribusi kreatifnya, memberikan sumbangan artistiknya. Dan jika > ide-ide sudah berseliweran dan saling berbenturan, saya akan mengajak > untuk bersama-sama memilih keputusan yang terbaik dari aneka gagasan > itu. Jika sudah buntu mungkin saya terpaksa mengambil keputusan terbaik > yang paling mendekati gagasan cerita, atau yang paling dekat dengan > semangat yang ingin dikembangkan Gandrik. Proses seperti inilah yang > sebenarnya sejak dulu kala mendasari terciptanya gaya permainan Gandrik. > > Sekarang untuk Djaduk Katanya Anda ikut main juga, ya? Nggak > sekadar menata musik? > > Djaduk: "Ya, ini musibah yang membawa berkah yang saya terima dari > teman-teman Gandrik. Saya dapat peran Petugas Kepala. Boleh dibilang, > ini kesempatan bagi saya untuk bisa mengasah kembali apa yang dulu > pernah saya dapat dalam pembelajaran ke aktoran, walaupun dunia > keaktoran yang saya geluti itu lewat kesenian tradisional. > > Bisa ceritain seputar peran itu? > > Djaduk: "Tokoh ini adalah penanggungjawab Operasi Moral ketika > Undang-undang Susila ditetapkan, dan hendak ditegakkan dengan keras. > Tokoh ini yang mempimpin operasi besar-besaran, ketika terjadi > perlawanan menentang Undang-undang Susila. Tokoh yang menganggap moral > adalah sebuah proyek sosial yang menguntungkannya. Benda, manusia dan > seluiruh kegiatannya selalu dicurigari dalam konteks pornografi dan > dimanafatkan untuk diproyekan demi kepentingan pribadi. > Bagaimana untuk musik lakon ini? > Djaduk: "Sebagaimana semangat dasar dalam lakon-lakon Gandrik yang > lain, musik sesungguhnya bukan sekadar ilustrasi pelengkap. Musik, di > Teater Gandrik, ialah bagian dari orkestrasi pertunjukan. Bagian dari > alur dramatik. Bagian inheren dari komposisi pengadegan. Musik dan > aktor, adalah bagian dari keseluruhan ornamentasi pertunjukan. Semangat > itu yang terus dikembangkan. > > Kalau peran Anda dalam lakon ini? > > Butet: "Hooh, aku memainkan karakter perempuan yang berprofesi > pembela " > > Menarik dong? > > Butet: "Menantang, ya Tapi, terus terang saya merasa kesulitan > mengobservasi karakter perempuan, tanpa harus terjebak menjadi banci. > Sebenarnya ini sebuah pilihan peran yang agak riskan. Tapi, bukankah > seorang aktor akan selalu menemukan keasyikan jika menghadapi > kesulitan " > > Kenapa memainkan karakter peran itu? > > Butet: "Ada gagasan untuk meniatkan lakon Sidang Susila ini dengan > gaya ludrukan, dimana semua karakter dimainkan para lelaki. Tapi > kemudian dipilah-pilah karakter mana yang cocok untuk gaya ludrukan. > Nah, saya dan Whani Darmawan kebagian memainkan peran perempuan. Mungkin > ini juga karena sudah kebacut. Inilah spekulasi ala Gandrik, yang > barangkali justru akan melahirkan daya tarik tersendiri. > > Tentang karakter itu sendiri, bisa ceritain? > > Butet: "Dia seorang pembela yang tampak heroik. Malah terkadang > heroiknya rada over. Dan selalu ngotot membela kebenaran yang > diyakininya. Karakter ini diam-diam ingin menjadi hero dan terkadang > kelewat bangga pada dirinya sendiri. Tapi kita tahu sendirilah kualitas > integritas orang model ginian. Dan dalam setiap perjuangan, model > mahkluk beginian selalu bertebaran, tidak sulit mencari modelnya." > > Kembali ke Teater Gandrik, apa ini awal kelahiran kembali? > > Butet: "Semua musti dikembalikan kepada kesanggupan dan kesediaan > komunitas yang sekarang ini berproses bersama Gandrik. Yang tua maupun > yang muda. Gandrik akan hidup jika didorong oleh kebutuhan bersama: > kebutuhan berproses, kebutuhan bicara dan kebutuhan mengartikulasikan > gagasan artistik. Sebab, Gandrik bukan representasi dari seseorang, tapi > representasi dari sekumpulan orang yang kebetulan suka geguyonan. Koloni > orang yang memuliakan tawa... > > Hahaha > >

