(Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm)

Catatan A. Umar Said




                            Suharto dan Golkar adalah

                            sumber penyakit bangsa



« Suara-suara gila » (terutama dari kalangan Golkar) yang mengusulkan supaya
Suharto diberi gelar pahlawan nasional kelihatannya sudah agak reda, tidak
selantang dan tidak lagi bertubi-tubi seperti ketika Suharto baru meninggal.
Apa sajakah sebabnya, kiranya bisa sama-sama kita coba analisa, meskipun
sementara dan tidak menyeluruh,  sambil menunggu perkembangan lebih lanjut.



Meredanya suara-suara tersebut bisa karena “mereka” (Golkar dan para
Suhartois lainnya) terpaksa mundur dulu, berhubung dengan adanya perlawanan
yang keras dari banyak kalangan, yang mencerminkan kemarahan besar terhadap
usul ini. Tetapi “mundurnya” sikap Golkar dan para Suhartois ini tidak
berarti bahwa mereka menyerah begitu saja, atau bahwa mereka sudah berubah.
Golkar, yang sudah terbentuk sejak lebih dari 40 tahun yang lalu (dan ini
jangka waktu yang lama sekali!) dengan ideologi tertentu akan tetap
merupakan Golkar yang itu itu juga, walaupun pimpinan utamanya atau
pendirinya, Suharto, sudah tidak ada lagi.



“Mereka” terpaksa untuk “mundur” dan defensif


“Mereka” terpaksa mundur dulu dan mengambil posisi defensif karena sulit
menahan serangan-serangan berbagai kalangan yang anti-Suharto, yang dengan
argumentasi yang kuat dan jelas telah menelanjangi segala dosa-dosa Suharto,
baik kejahatannya yang parah dan banyak di bidang HAM, maupun di bidang KKN.
Banyak sekali arugumentasi atau alasan-alasan dan bahan-bahan yang diangkat
oleh berbagai kalangan anti-Suharto itu tidak bisa diungkiri atau dilawan
oleh “mereka”. Sebab, pelanggaran HAM yang berupa pembantaian besar-besaran
orang-orang”kiri”  -- yang tidak bersalah apa-apa ! -- pada akhir 65 dan
permulaan 66 adalah kejahatan yang jelas nyata kelihatan dan merupakan hal
yang disaksikan sendiri atau dialami langsung  oleh banyak orang di
Indonesia. Saksi-saksi hidupnya masih bisa banyak ditemukan sampai sekarang
di berbagai tempat di Indonesia.



Banyaknya eks-tapol yang pernah ditahan atau dipenjarakan secara
sewenang-wenang sampai puluhan tahun tanpa pengadilan (ingat : pulau Buru)
juga merupakan bukti lainnya yang tidak dapat dibantah oleh para Suhartois
dan para pendukung rejim militer Orde Baru tentang jahatnya politik rejim
Suharto.  Karenanya, para korban Orde Baru, yang banyak sekali jumlahnya,
bisa menjadi penggugat yang kuat dan sah terhadap berbagai kejahatan
Suharto. Terhadap gugatan yang sah dan berdasar keadilan ini, pada umumnya
para Suhartois tidak bisa atau sulit membantahnya. Di sini pulalah terletak
kelemahan mereka, sehingga mereka terpaksa berada dalam posisi defensif.



Segala usaha untuk menjunjung “kehormatan” Suharto


Dengan sakitnya dan kemudian meninggalnya Suharto para pendukung setia Orde
Baru (terutama dari kalangan Golkar dan militer)  telah berramai-ramai
muncul dan menggunakan kesempatan ini untuk mencoba mengkonsolidasi lebih
lanjut pengaruh dan memperkuat kekuasaan politik yang mereka pegang di
berbagai bidang dewasa ini. Dengan segala cara dan segala jalan, mereka
mengusahakan supaya sosok Suharto mendapat simpati dari masyarakat luas,
sehingga ia bisa “diselamatkan” dari hujatan atau kutukan orang banyak.
Untuk itu telah dilontarkan  -- secara terus-menerus – seruan untuk memberi
ma’af kepada Suharto atas segala kesalahannya, dan membebaskannya dari
tuntutan pengadilan atas kejahatan-kejahatannya di bidang KKN. Di antara
usaha-usaha untuk “menjunjung” nama baik dan kehormatan Suharto adalah
adanya “usul gila” (terutama dari kalangan Golkar) untuk memberikan gelar
pahlawan nasional kepadanya.



Seperti dapat kita baca sendiri dari berita-berita dan tulisan-tulisan dalam
berbagai suratkabar dan juga di mailing-list di Internet, berbagai kalangan
telah menyuarakan kemarahan yang besar dan menunjukkan perlawanan mereka
yang keras  -- dan juga luas --  terhadap usul-usul untuk “menyelamatkan”
Suharto dengan memberikan gelar pahlawan nasional kepadanya. Mungkin (sekali
lagi, mungkin) karena perlawanan yang luas dan keras dari berbagai kalangan
inilah maka “mereka” (Golkar dan para Suhartois lainnya) terpaksa “mundur”
dulu dan tidak lagi berkaok-kaok secara lantang mengenai “kehebatan
jasa-jasa” Suharto sehingga pantas mendapat gelar pahlawan nasional.



Menghadapi fenomena yang demikian ini, seluruh kekuatan pro-demokrasi dan
anti-Suharto perlu kiranya untuk tidak buru-buru puas dan merasa sudah
“menang”. Sebab, nyatanya, kekuatan pro Suhartois adalah masih kuat sekali
dalam pemerintahan yang pada hakekatnya adalah Orde Baru jilid II sekarang
ini. Seperti kita saksikan sendiri, orang-orang Golkar (atau
simpatisan-simpatisannya)  dewasa ini menduduki pos-pos penting dalam bidang
eksekutif, legislatif, judikatif, dan angkatan bersenjata. Karenanya, bisa
dikatakan bahwa kekuasaan politik dewasa ini didominasi oleh sisa-sisa
kekuatan Orde Baru, yang manifestasi utamanya adalah Golkar dan militer.
Segala “kebesaran” dan “kemegahan” yang dipertontonkan oleh pemerintah
SBY-JK selama meninggalnya Suharto merupakan cermin yang gamblang sekali
mengenai masih kuatnya pengaruh buruk Orde Baru.



Kalau seandainya Suharto diberi gelar pahlawan



Mengingat hal itu, sudah  sepatutnyalah kalau seluruh kekuatan pro-demokrasi
dan anti Suharto dalam masyarakat tetap terus menggelorakan perlawanan
terhadap usul pemberian gelar pahlawan untuk Suharto. Sebab, kalau  (sekali
lagi : kalau!) gelar pahlawan itu jadi diberikan kepada Suharto, maka ini
merupakan penjungkirbalikan banyak soal dalam Republik kita. Ini akan bisa
diartikan bahwa apa yang telah dilakukan Suharto selama 32 tahun Orde Baru
dianggap baik, benar, dan sah, padahal kita tahu bahwa banyak sekali terjadi
pelanggaran HAM yang berat dan tindakan KKN yang parah sekali yang dilakukan
olehnya. Pemberian gelar pahlawan kepada Suharto berarti mengkhianati dan
menyakiti hati para korban Orde Baru yang puluhan juta orang itu.Pemberian
gelar pahlawan kepada Suharto juga berarti mengkhianati  perjuangan yang
gagah berani generasi muda dalam tahun 1998 yang telah memaksanya turun dari
tahta kepresidenan karena KKN dan berbagai politiknya yang otoriter.  Selain
itu, pemberian gelar pahlawan kepada Suharto akan bisa dipertanyakan atau
dipersoalkan  -- bahkan digugat dan dikutuk  --oleh generasi kita yang
datang.



Jadi, sekali lagi, perlawanan terhadap usul Golkar untuk pemberian gelar
kepada Suharto merupakan juga perlawanan langsung terhadap Golkar sendiri,
yang merupakan kekuatan pokok (di samping militer) dari eksistensi Orde Baru
jilid II sekarang ini. Dan perjuangan berbagai golongan di Indonesia
terhadap dominasi Golkar dalam kekuasaan politik adalah syarat mutlak bagi
terjadinya perubahan-perubahan besar dan fundamental di negeri kita.
Pengalaman berpuluh-puluh tahun di negeri kita sudah menunjukkan –dengan
gamblang sekali !   -- kepada kita semua bahwa tidak bisa ada perubahan
besar yang sejati, yang memungkinkan perbaikan nasib rakyat (terutama rakyat
miskin), selama Golkar masih bisa memegang peran yang besar dalam
pemerintahan negeri kita.



Perlawanan terhadap Golkar perlu dikembangkan



Oleh karena itu, sesudah meninggalnya Suharto, maka perlawanan terhadap
Golkar kiranya tetap perlu terus dikembangkan bersama oleh semua kekuatan
yang anti Suharto. Dalam kaitan ini, bisalah dikatakan bahwa pembelejedan
kejahatan-kejahatan Suharto adalah perlu sekali  untuk sekaligus membelejedi
Golkar juga. Kalau ditarik panjang, maka pembelejedan kejahatan Suharto
(meskipun ia sudah meninggal) bisa juga merupakan bagian dari perjuangan
melawan Golkar yang menjadi tulang punggung Orde Baru jilid I dan juga jilid
II sekarang ini.



Sudah sama-sama kita saksikan bahwa Golkar selama 32 tahun Orde Baru
ditambah 10 tahun pasca-Suharto bukanlah partai yang memberikan sumbangan
untuk pendidikan moral bangsa, dan bukan pula kekuatan yang memupuk
kesedaran orang banyak untuk dengan bersih dan tulus mengabdi kepada rakyat.
Bahkan serba sebaliknya ! Sudah terbukti bahwa Golkar merupakan kumpulan
dari orang-orang yang terlalu mengejar kemewahan dengan cara-cara yang tidak
luhur, yang banyak  melakukan korupsi berjamaah, yang tidak peduli dengan
penderitaan rakyat banyak. Bisa dikatakan dengan tegas bahwa Golkar tidak
mungkin akan bisa mendatangkan kebaikan bagi bangsa dan negara, bahkan
kebalikannya.



Kalau Golkar tetap terus memegang peran besar dalam kekuasaan politik dan
tetap menduduki pos-pos penting dalam bidang eksekutif, legislatif,
judikatif, dan angkatan perang negara kita, maka negara dan bangsa kita akan
tetap terpuruk seperti dewasa ini, dan akan tetap terus terpuruk juga di
kemudian hari. Untuk melihat lebih jelas tentang kesulitan atau persoalan
yang dibikin oleh Orde Baru jilid I dan jilid II, maka beberapa contohnya
berikut di bawah ini saja sudah cukup untuk mengukur parahnya situasi yang
dihadapi rakyat kita :



--   Jumlah sarjana yang menganggur melonjak drastis dari 183.629 orang pada
tahun 2006 menjadi 409.890 orang pada tahun 2007. Ditambah dengan pemegang
gelar diploma I, II, dan III yang menganggur, berdasarkan pendataan tahun
2007 lebih dari 740.000 orang (Kompas, 6 Februari 2008)



---  Gizi buruk masih menjadi ancaman anak-anak Indonesia. Saat ini
diperkirakan 5,1 juta balita mengalami gizi buruk. Dari jumlah tersebut 54%
meninggal dunia. (Pos Kota, 23 Januari 2008)



--   Angka kemiskinan yang dilansir BPS untuk 2006 mencapai 39,30 juta
orang. (Suara Pembaruan , 28 Agustus 2007)



--  Data riset Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia
menunjukkan, 94 persen penduduk Indonesia saat ini mengalami depresi dari
tingkat yang ringan hingga berat. Dampak dari depresi berat ialah
ketidakpatuhan,  apatis, pasrah tanpa usaha, dan tidak berpengharapan atas
hidup yang dijalaninya. (Kompas, 21 Juni 2007)



-- Sekitar 10 juta penganggur terbuka (open unemployed) dan 31 juta setengah
penggangur (underemployed) bukanlah persoalan kecil yang harus dihadapi oleh
bangsa Indonesia dewasa ini dan ke depan. (Suara Pembaruan, 7 September
2004)



Itulah sekadar beberapa contoh dari masalah-masalah besar yang menjadi beban
bangsa kita. Ditambah dengan banyaknya soal korupsi yang terus merajalela
dan belum juga tak kunjung bisa ditangani secara tuntas  (termasuk di
antaranya kasus BLBI) maka  situasi negara dan bangsa kita tidak akan bisa
menjadi lebih baik dalam masa dekat ini. Banyak dari masalah-masalah besar
yang sedang dihadapi bangsa dan negara dewasa ini adalah warisan dari Orde
Baru dimana Golkar memegang peran utama di samping Suharto.



Golkar ikut bertanggung-jawab atas dosa-dosa Suharto


Ini berarti bahwa Golkar, yang didirikan oleh golongan militer dan
dibesarkan oleh Suharto, ikut bertanggungjawab secara langsung atas segala
kesalahan dan kejahatan Suharto yang dilakukan selama 32 tahun. Bolehlah
dikatakan bahwa Golkar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
kejahatan Suharto ini. Dan Golkar yang “jiwanya” menjadi satu dengan Suharto
ini jugalah yang sekarang ini memegang peran politik yang penting di negeri
kita.



Oleh karena Golkar telah dipupuk dan dibesarkan oleh para Suhartois selama
lebih dari 40 tahun – dengan tangan besi dan cara-cara “luar biasa” --  maka
sekarang pun memiliki jaring-jaringan pengaruh dan juga kekuatan dana dan
tenaga manusia yang “luar biasa” pula besarnya. Karena itu, untuk bisa
mengalahkan Golkar diperlukan perjuangan yang makan waktu yang panjang di
samping perlunya ada kekuatan besar yang bangkit melawannya. Kekuatan besar
untuk mengalahkan Golkar ini haruslah dibangun bersama-sama  --atau berkat
kerjasama --oleh seluruh kekuatan anti Orde Baru.

Perlawanan untuk  mengalahkan Golkar adalah agenda utama atau tugas pertama
bagi seluruh  kekuatan dalam masyarakat yang menginginkan adanya
perubahan-perubahan mendasar bagi kepentingan rakyat banyak.



Peran yang penting kaum muda


Dalam menggalang kekuatan untuk mengalahkan Golkar ini peran generasi muda
adalah sangat penting. Melihat tingkah laku yang serba mengecewakan dari
para politisi, pejabat pemerintahan, dan tokoh-tokoh elite masyarakat, yang
kebanyakan terdiri dari “orang-orang tua” sekarang ini, maka sudah makin
terasa pentingnya kaum muda dari berbagai kalangan dan golongan mengambil
alih kepemimpinan politik negeri kita. Sebab, pengalaman sudah
enunjukkan  --dengan jelas sekali --bahwa dengan orang-orang tua yang
menjadi elite di berbagai bidang kehidupan bangsa sekarang ini tidak
mungkinlah ada perbaikan-perbaikan besar atau perubahan mendasar bagi rakyat
banyak. Perubahan besar bisa diciptakan di negeri kita, kalau kaum muda kita
nantiya berhasil merombak, atau mengubah, atau menggeser, atau mengganti,
atau merebut kekuasaan politik.



Tetapi, kita harus realis juga dan menyadari bahwa kepemimpinan kaum muda
dalam kekuasaan politik ini tidak bisa diciptakan dengan segera dan juga
tidak mudah. Diperlukan proses pengalaman yang tidak sedikit. Namun, harus
diusahakan ditegakkannya keyakinan bahwa kaum muda yang teguh berpendirian
pro-rakyat dan anti Orde Barulah yang justru bisa mendatangkan perbaikan
besar-besaran di negeri kita.Kaum muda dari berbagai golongan dan kalangan
yang masih belum terkontaminasi oleh kebejatan moral atau kebusukan mental
ala Golkar inilah yang bisa diharapkan akan mengadakan  perubahan besar atau
perbaikan mendasar di berbagai bidang yang sekarang dalam keadaan serba
semrawut sekarang ini.



Ikut bangkitnya secara aktif dan  massif kaum muda dari berbagai kalangan
(antara lain para mahasiswa) dalam melawan anjuran  untuk mema’afkan Suharto
dan memberikan gelar pahlawan kepadanya adalah langkah permulaan yang amat
penting dan baik dalam rangka memblejedi Golkar. Dibongkarnya segala
keburukan dan kebusukan Golkar adalah syarat mutlak untuk usaha-usaha yang
tujuan akhirnya adalah menyingkirkan Golkar dari kekuasaan politik.



Golkar adalah sumber penyakit bangsa


Walaupun perjuangan untuk menyingkirkan Golkar dari kekuasaan politik
sekarang ini kelihatan sulit sekali, dan juga bisa makan waktu panjang,
tetapi bagi seluruh kekuatan anti Orde Baru tidaklah ada jalan lain, kalau
menginginkan diselamatkannya negara dan bangsa dari kemerosotan lebih lanjut
atau kehancurannya. Sebab, seperti sudah dibuktikan selama puluhan tahun
Orde Baru ditambah 10 tahun pasca-Suharto, ternyata dengan jelas sekali
bahwa Golkar merupakan sumber banyak penyakit parah bangsa dan negara, sama
seperti halnya Suharto adalah sumber penyakit bangsa dan negara.



Dengan cara memandang yang demikian ini, maka kita akan bisa menghadapi
berbagai persoalan negara dan bangsa dengan lebih jelas dan jernih,
umpamanya dalam menghadapi pemilu 2009, dalam usaha melaksanakan reformasi
(yang sudah mandeg sekarang ini), dan dalam usaha bersama memperbaiki
kehidupan rakyat. Dengan cara memandang yang demikian ini akan  makin
jelaslah siapa-siapa kawan seperjuangan kita, dan juga siapa-siapa saja
musuh kita yang sebenarnya. Dalam kaitan ini bisalah kiranya kita katakan
dengan tegas bahwa “mereka” yang menganggap Suharto sebagai pahlawan adalah
bukan kawan seperjuangan kita.



Dalam sejarah bangsa Indonesia nantinya di kemudian hari akan tercatat bahwa
perjuangan melawan Golkar – sebagai kepanjangan perjuangan melawan Suharto –
merupakan tindakan yang benar, sah dan adil dalam rangka membela kepentingan
rakyat dan negara. Dan, sebaliknya,  juga akan tercatat bahwa tidak
melakukan perlawanan terhadap Golkar adalah sikap politik yang salah dan
sikap moral yang sesat.



Paris, 9 Februari 2008





































No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.21/1265 - Release Date: 07/02/2008
11:17


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke