http://www.antara.co.id/arc/2008/2/2/internet-gaya-hidup-baru-masyarakat-jatim/
 
Internet, Gaya Hidup Baru Masyarakat Jatim

Oleh Slamet Hadi Purnomo

Surabaya (ANTARA News) - Pencanangan Jawa Timur (Jatim) sebagai 
electronic-province (e-Province) oleh Menteri Komunikasi dan Informatika 
(Menkominfo) Mohammad Nuh pada 11 Nopember 2007, telah memberikan dampak besar 
terhadap minat masyarakat setempat pada internet.

Bahkan, berinternet telah menjadi gaya hidup baru masyarakat Jatim. Mereka 
memiliki keinginan yang kuat untuk mengenal dan bisa mengoperasikan komputer 
berikut cara-cara mengakses internet.

"Masyarakat jadi ingin `melek` internet ketimbang dikatakan gagap teknologi 
atau kurang gaul oleh koleganya," kata Communication Manager Telkom Divre V 
Jatim, Djadi Soegiarto dalam suatu kesempatan.

Fenomena itu tentu memberikan dampak terhadap pemanfaatan internet di 
masyarakat. Masyarakat pengguna internet di Jatim kini terus tumbuh seiring 
dengan semakin mudahnya memperoleh layanan tersebut.

Selain itu, pemanfaatan layanan kemajuan teknologi informasi itu pun kini 
berkembang untuk berbagai kebutuhan. 

Pengguna internet di Jatim yang sebelumnya lebih banyak untuk hiburan 
(entertainment) seperti "game-online" dan chatting", kini banyak juga yang 
dimanfaatkan untuk dunia pendidikan dan bisnis.

Contohnya, jika kita berkunjung ke "Cafe Telkom" di Tunjungan Plasa Surabaya, 
maka akan banyak ditemui kalangan profesional muda pengguna komputer jinjing 
(notebook) memanfaatkan hotspot wi-fi Speedy yang ada di tempat itu untuk 
urusan bisnis.

"Disini cukup nyaman, sambil minum kopi, kita juga bisa bekerja," kata Palvi, 
seorang eksportir warga Ngagel Wasana Surabaya, yang setiap hari selalu 
memantau harga kopi Arabika di pasar New York dan kopi Robusta di pasar London 
melalui internet.

Bahkan, menyadari pentingnya layanan internet untuk menunjang aktivitas di era 
teknologi seperti saat ini, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim 
secara khusus menggelar pelatihan internet untuk anggotanya.

GPEI Jatim bekerjasama dengan Uni Eropa beberapa waktu menggelar pelatihan 
internet untuk anggotanya yang termasuk kategori Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

"Di era teknologi informasi saat ini, mengenal internet sudah menjadi 
keharusan. Kami berharap eksportir dapat memanfaatkan layanan itu secara 
maksimal untuk mengembangkan produk dan pasar," kata Ketua Umum GPEI Jatim, 
Isdarmawan Asrikan.

Pemandangan serupa tampaknya kini tidak hanya mudah ditemui di kafe 
berfasilitas hotspot wi-fi, tapi juga di area publik seperti alun-alun kota 
maupun kabupaten di Jatim. 

Masyarakat dapat dengan mudah mengakses internet setelah Telkom menggelar 
layanan hotspot wifi Speedy di kawasan-kawasan tersebut.

Peran TI

Praktisi Teknologi Informasi (TI), Hendrawan Tejo Sukmono ST, dalam suatu 
pelatihan untuk pelaku usaha belum lama ini mengakui bahwa teknologi informasi 
mengalami kemajuan yang sangat pesat. 
Berbagai penemuan di bidang teknologi semakin mendorong pesatnya teknologi 
informasi. Apalagi didukung oleh minat masyarakat untuk berinvestasi di bidang 
tersebut.

Bahkan, media internet sebagai bagian dari kemajuan teknologi informasi, telah 
menunjukkan peranannya dalam berbagai aspek kehidupan.

Keunggulannya bukan hanya terletak pada fungsinya sebagai alat komunikasi 
melainkan juga sebagai sarana pendidikan, hiburan, dan juga yang dikenal 
masyarakat akhir-akhir ini adalah sebagai sarana bisnis.
Internet sebagai sarana bisnis lebih dikenal dengan nama electronic commerce 
(e-commerce). E-commerce adalah semua kegiatan usaha oleh perusahaan yang 
berhubungan dengan promosi, jual beli, penyediaan informasi bagi pelanggan 
perusahaan melalui perantaraan media elektronik dan jaringan komputer.

Teknologi informasi telah banyak mendorong perkembangan ekonomi. Peran itu 
telah tampak pada perekonomian negara-negara maju seperti Amerika Serikat, 
Kanada, dan negara-negara lain di Eropa. 
Para pelaku ekonomi dunia, para analis bisnis, para ahli ekonomi agaknya telah 
sepakat, sekarang ini sedang terjadi pergeseran perekonomian yang tidak 
terelakkan ke arah ekonomi yang lebih berbasis digital dan internet.

Namun, Tejo sangat menyayangkan jika hanya karena alasan orang lain juga sudah 
memanfaatkan jaringan internet, pelaku usaha di Indonesia masuk ke jaringan 
internet dan membuka website dengan pemikiran sederhana, supaya tidak 
ketinggalan jaman. 

Akibatnya, perdaganan dan bisnis yang ada di internet sekarang hanya 
mendigitalisasikan isi perusahaan di jaringan internet, belum memberikan nilai 
tambah sama sekali.

Akselerasi

Terlepas dari masalah itu, karena animo masyarakat yang terus tumbuh dan 
berkembang, Telkom sebagai penyedia jasa layanan telekomunikasi, berusaha dapat 
menyiapkan akses layanan internet secara memadai. 

Telkom selama ini memiliki tiga jenis layanan internet yakni AstiNet, TelkomNet 
Instan dan Speedy. Layanan tersebut selama ini sudah banyak dimanfaatkan 
masyarakat. 

Namun, guna mengakselerasi tercapainya Jatim e-Province, Telkom Jatim terus 
membangun akses internet "hotspot wi-fi" di sejumlah lokasi. Sudah ada 338 
lokasi di Jatim yang kini memiliki akses internet "wi-fi" menggunakan Speedy. 
Pada 2008 Telkom Jatim akan menambah menjadi 1.000 titik.

Dari 338 lokasi tersebut, menurut Communication Manager Telkom Divre V Jatim, 
Djadi Soegiarto, alun-alun Malang, Ngawi, dan Tulungagung menggunakan 
"bandwidth" paling besar, sekitar 20 Gigabyte sebulan. 

Sedangkan untuk kalangan akademik, area paling besar adalah Universitas 
Brawijaya Malang, dan Pasaraya Sri Ratu Madiun untuk area publik.

Sementara itu, untuk mempercepat proses pembelajaran, Telkom juga sudah 
membangun lebih dari 25 laboratorium "Broadband Learning Center" (BLC) di 
beberapa kota di Jatim.

Jumlah itu akan terus ditambah lagi pada 2008. Di BLC masyarakat bisa belajar 
internet gratis. Telkom memberi pelatihan dua kali sehari. Rata-rata ada 600 
peserta per bulan yang memanfaatkan masing-masing BLC. 

Sementara itu, sebagai bentuk komitmen Telkom membangun Indonesia cerdas 
melalui internet, pada 2008 Telkom Jatim meluncurkan tarif internet murah. 
Tarif TelkomNet Instan yang sebelumnya Rp9.900 per jam diturunkan hingga 
sekitar Rp2.000 per jam. 

Paket murah TelkomNet Instan yang diluncurkan Telkom Jatim awal tahun 2008 itu 
tampaknya telah direspon positif masyarakat.

Buktinya, sejak diluncurkan hingga kini okupansi jaringan TelkomNet meningkat 
dari 20 persen menjadi 30 persen.

Okupansi jaringan TelkomNet Instan tersebut masih rendah jika dibandingkan 
kapasitas yang tersedia, yakni baru sekitar 20 persennya.

Karena itu, program paket murah TelkomNet Instan diharapkan dapat terus 
meningkatkan okupansi jaringan TelkomNet.

Dua paket hemat TelkomNet Instan yang ditawarkan Telkom adalah paket limited 
dan un-limited. Program tarif murah TelkomNet Instan itu berlaku hingga 31 
Maret 2008. 

Layanan paket limited, biaya langganan sebesar Rp50.000 per bulan, kuota 25 
jam, biaya kelebihan kuota Rp50 per menit dan tagihan maksimum Rp400.000 per 
bulan (termasuk biaya langganan).

Sedangkan layanan paket un-limited, biaya langganan Rp300.000, dan kuota tanpa 
batas penggunaan.
Selain peningkatan okupansi jaringan, durasi rata-rata akses TelkomNet Instan 
juga meningkat sekitar 30 persen, dari semula 361 menit menjadi 428 menit. 

"Artinya, kebiasaan rata-rata mengakses internet masyarakat secara keseluruhan 
menjadi meningkat. Jika semula Rp50.000 bisa dipakai untuk akses lima jam 
sekarang bisa dipakai untuk 25 jam," kata Djadi menjelaskan.

Kendati begitu, Telkom juga tetap mengakomodasi pelanggan yang tidak mau repot 
mendaftar. Pelanggan tersebut tetap dikenakan tarif Rp165 per menit atau 
Rp9.900 per jam.

"Program ini sangat `customized` disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Untuk 
pelanggan `high usage` kami menyarankan untuk menggunakan paket TelkomNet 
Instan unlimited Rp300.000 per bulan," kata Djadi.

Pelanggan "high usage" adalah pelanggan yang dalam sebulan mengakses internet 
lebih dari 30 jam, atau minimal mengakses satu jam sehari. 

Pelanggan TelkomNet Instan eksisting yang tergolong "high usage" sekitar 10 
persen dari keseluruhan pelanggan TelkomNet Instan. 

Jumlah pelanggan di Jatim saat ini sekitar 150 ribu, sedangkan pelanggan aktif 
sekitar 70 persennya.
Sementara dari pengguna TelkomNet tersebut, 4.000 diantaranya adalah pelanggan 
paket hemat TelkomNet Instan.

Kemajuan teknologi informasi tampaknya telah mengambil peran besar dalam 
pembentukan gaya hidup masyarakat. Gaya hidup yang positip atau negatif, semua 
itu tentu tergantung dari cara menyikapi hadirnya teknologi tersebut.(*)


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke