http://www.antara.co.id/arc/2008/2/6/maya-soetoro-senjata-rahasia-barack-obama/
Maya Soetoro, Senjata Rahasia Barack Obama
Oleh A Jafar M. Sidik
Jakarta (ANTARA News) - Sepanjang sejarah pemilihan Presiden Amerika Serikat
(AS), baru sekarang nama Indonesia sangat kerap disebut oleh media massa
setempat.
Selasa (5/2), nama Indonesia disebut lagi secara luas setelah Barack Obama
menang dalam pemungutan suara pemilih Partai Demokrat di Indonesia, kaukus
suara di luar negeri yang sekarang menjadi salah satu yang amat menarik untuk
diberitakan.
Barack Obama-lah, calon Presiden AS dari Partai Demokrat, yang membuat
Indonesia tiba-tiba begitu dekat dengan AS.
Keterikatan Obama dan Indonesia bahkan lebih pekat dari yang diperkirakan
setelah pemberitaan mengenai peran dan identitas adik perempuannya yang
berdarah Jawa, Indonesia, Maya Soetoro Ng, semakin luas.
Sebelumnya, orang Indonesia lebih mengenal Obama hanya sebagai seorang AS yang
menghabiskan sebagian masa kecilnya di Indonesia. Kini, pengetahuan itu
bertambah dengan kepopuleran Maya Soetoro.
Ayah kandung Obama yang bernama Barack Hussein Obama adalah seorang Afrika
berkewargnegaraan Kenya, sedangkan ayah kandung Maya adalah Lolo Soetoro, pria
Jawa Timur tulen. Baik ayah kandung maupun ayah tiri Obama menganut keyakinan
Islam.
Obama dan Maya beribu sama, seorang perempuan kulit putih bernama Stanley Ann
Dunham.
Selama ini orang AS mengenal Michelle Obama, istri Obama, sebagai orang kuat di
balik kampanye kecalonpresidenan dan karir politik Obama.
Tapi, setelah kampanye itu memasuki babak terpanasnya, orang AS mulai ingin
mengenal lebih dekat sosok Obama, terutama keluarganya.
"...(selain Michelle) ada dua lagi senjata rahasia Barack Obama, yakni kakak
perempuannya Auma Obama dan adik perempuannya Maya Soetoro Ng," tulis Amy
Argetsinger dan Roxanne Roberts dari Washington Post (22/1).
Kedua wartawati The Post itu menyebutkan, aset politik terbesar Obama adalah
tradisi multikultur yang ada dalam keluarganya. Tradisi itu dikembangkan oleh
para perempuan di sekitar Obama, mulai ibunya sampai Maya Soetoro.
Begitu besarnya peran perempuan terhadap Obama tercermin dari perangai dan
sikapnya yang lembut. Hampir semua orang terdekatnya adalah perempuan. Lima
perempuan menjadi kekuatan inti pribadi Barack Obama, yaitu Michelle, ibundanya
yang almarhum, sang nenek, Maya, dan Auma.
Keluarga Obama yang unik, karena berkomposisi ras warna-warni, sungguh menarik
perhatian banyak orang di AS.
Auma adalah asli keturunan Kenya. Ibunda Auma adalah istri pertama dari Barack
Obama Sr. Sedangkan, Maya, membawa darah campuran Asia (Jawa, Indonesia).
Saudara-saudara Obama yang lain hidup tenteram di Iowa, New Hampshire, dan jauh
dari publikasi media, sehingga menyembunyikan keunikan keluarga Obama yang
sesungguhnya merangsang apresiasi publik AS itu.
Meski berbeda ayah, mereka selalu berdekatan dan berkomunikasi sangat rekat,
khususnya hubungan antara Maya dengan Obama.
Sampai sekarang Maya yang tumbuh besar bersama Obama di Indonesia dan Hawaii
tetap mengenang masa kecil yang indah bersama sang abang. Berjam-jam ngobrol di
telepon, menjadi tempat berkeluhkesah tatkala dibelit frustasi dan dirundung
bingung, atau sebagai pelindung yang kadang terkesan protektif.
"Dia membantuku menentukan pilihan," kata Maya kepada Chicago Sun Times edisi 9
September 2007.
Maya yang sering dikira orang Latin atau hispanik itu sekarang telah menjadi
istri pria Kanada keturunan Cina, Konrad Ng. Mereka dikarunia anak perempuan
berusia 3 tahun bernama Suhaila.
Maya memeroleh gelar PhD dari Universitas Hawaii, dan sekarang mengajar pada
sebuah sekolah di Honolulu, sedangkan suaminya adalah PhD ilmu politik yang
aktif dalam kampanye kepresidenan Obama.
"Apakah anda akan berkampanye untuk kakak anda?" tanya wartawati New York
Times, Deborah Solomon, dalam satu wawancara dengam Maya pada 20 Januari 2008.
Maya menjawab antusiastis, "Ya."
"Di bemper mobil ku ada stiker bertuliskan, `1-20-09. End of an Error` (Akhir
bagi Kekeliruan)," kata Maya.
Kombinasi angka 1-20-09 merujuk pada waktu pelaksanaan pemungutan suara untuk
pemilihan Presiden AS pada 20 Januari 2009, sedangkan maksud kalimat "akhir
dari kekeliruan" adalah bahwa kemenangan si abang menjadi Presiden AS akan
mengakhiri kekeliruan bangsa AS, karena telah memilih rezim yang salah.
Bersama para selebritis top, seperti Robert de Niro dan Oprah Winfrey, Maya
kini aktif berkampanye bagi pencalonan Obama sebagai kandidat Presiden AS dari
Partai Demokrat dan presiden kulit hitam pertama AS.
"Kukira hal terpenting yang bisa kulakukan sekarang adalah membagi alasan
dengan orang-orang mengapa saya tergerak mendukung kampanye presidensial Obama,
bahkan jika dia bukan abang ku," kata Maya.
Kepada New York Times, Maya menerangkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang
bersemayam dalam keluarganya, terutama setelah ditanam oleh sang ibu.
Nilai-nilai keluarga ini pula yang merasuki pikiran, pandangan, dan prilaku
Obama.
Maya menyebut ibunya sebagai seorang agnostik (masih mempertanyakan keberadaan
Tuhan dan konsep Ketuhanan), tetapi sang ibu pula yang mengajarkan
kebaikan-kebaikan ajaran spiritual.
"Mama kerap menghadiahi kami buku-buku bagus, Injil, Kitab Hindu Upanishad,
Budhisme, dan Tao Te Ching. Beliau menginginkan kami meyakini bahwa setiap
orang mempunyai sesuatu yang indah untuk disumbangkan kepada dunia," kata Maya.
"Anda tak menyebut-nyebut Al Quran? Anda khawatir kalau menyebut Islam akan
mengundang kampanye hitam yang memburukkan citra politik kakak anda?" tanya
Deborah.
Maya yang mengaku secara filosifis Budhis menjawab, ibunya tak mengajarkan
banyak hal soal Al Quran, namun keluarga kerap membacanya, bahkan setiap pagi
mereka mendengarkan lantunan ayat suci Al Quran selama di Indonesia.
Maya menolak kekhawatiran identitas keislaman yang menempel ketat pada
keluarganya --terutama ayah kandung dan ayah tirinya-- akan mencederai citra
Obama.
"Aku tidak menyangkal Islam. Aku kira sangatlah penting untuk diketahui bahwa
kami memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Islam. Tapi, akan sangat salah
jika itu dihubung-hubungkan dengan abang ku karena ia berkeyakinan Kristen
sejak 20 tahun lalu," kata Maya.
Maya mengungkapkan, pesan keberagaman, kebersamaan, cinta, dan sikap saling
menghormati yang diajarkan ibunya kepada mereka telah membuat mereka tumbuh
sebagai anak-anak yang menoleransi perbedaan dan bercita-cita demi toleransi
itu.
Keluarga mereka, bahkan dinilai sangat melambangkan keragaman AS.
"Saya adalah wujud dari kebijakan luar negeri dan kekuatan Amerika. Jika nanti
anda kabarkan pada orang-orang bahwa `Kita mempunyai presiden yang neneknya
tinggal di satu gubuk di pinggir Danau Victoria dan mempunyai adik setengah
Indonesia yang menikahi seorang Cina Kanada,` maka orang-orang akan menilai si
presiden adalah orang yang akan lebih memahami apa yang dihadapi rakyat dan
negerinya. Dan, mereka benar," kata Obama kepada New York Times edisi 4
November 2007.
Tak hanya soal keberpihakan pada kaum terpinggirkan, Obama juga menjadi salah
seorang kandidat presiden yang lebih bisa menawarkan cara kreatif dalam
pendekatan internasional AS yang lebih ramah dan dialogis.
Obama yang dikenal santun berperilaku dan berucap akan menjadi bekal dalam
membangun dialog antar-bangsa yang lebih terbuka, berderajat, dan saling
menoleransi.
Selama ini pendekatan internasional AS pimpinan Presiden George Bush yang
agresif penuh retorika keras dan anti dialog telah membuat AS keliru untuk
kemudian gagal membina hubungan baik dengan dunia.
Untuk alasan mengakhiri kekeliruan ini pula Maya Soetoro menyebut Obama sebagai
yang tertepat untuk rakyat AS. Namun, banyak pihak tentunya berkomentar, "Kita
lihat saja nanti." (*)
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs
[Non-text portions of this message have been removed]