AS di Mata Santri: Nasib Mie-ku Tercinta 

Ditoreh oleh Rizqon Khamami
Peserta program Visiting Leaderships-USA 2008



Pesawat North-West dengan penerbangan no.20 tiba di airport 
Minneapolis disambut kumpulan salju. Meskipun matahari bersinar 
cerah, salju tampak dari jendela bandara berjatuhan. Pagi yang 
indah. Ini pengalaman pertama saya melihat langsung keindahan salju 
dan pengalaman pertama ke Amerika Serikat dalam mengikuti program 
Visiting Leaderships atas undangan Kementerian Luar Negeri Amerika 
Serikat dari tanggal 8 Februari hingga 1 Maret 2008. Meskipun cukup 
lama di luar negeri, 13 tahun –Iraq dan India-- saya menetap dan 
singgah di negara-negara tidak bersalju kala musim dingin. 
Perjalanan yang mengesankan. Tidak lupa saya membawa-serta mie 
andalanku, mie goreng instan rasa ayam. Ingin tahu bagaimana cerita 
nasib mie tersayangku? 

Memasuki ruang pemeriksaan imigrasi saya berdebar. Pemegang visa AS 
tidak serta merta bisa lolos pemeriksaan yang dikenal ketat setelah 
peristiwa WTC 11 September. Jujur, saya agak gugup menapak masuk 
ruang tersebut, kaki mulai bergetar. Apalagi di pagi dingin itu, 
jempol kaki menari-nari ingin lari dari. "Aah, tenanglah", sergap 
hati saya mencoba berdamai dengan diri saya sendiri. Rasanya tidak 
mudah, apalagi begitu banyak cerita teman-teman yang sudah pernah 
berangkat lebih dulu tentang kesulitan sesi imigrasi ini.

Pemeriksaan di bandara AS tidak cukup sekali, cerita beberapa 
diantara mereka. Benar saja. Ini berbeda dengan negara-negara lain 
yang pernah saya kunjungi. Saya tidak cukup beruntung pada 
pemeriksaan kali ini, saya dilempar ke pemeriksaan lapis kedua, 
secondary inspection. Mungkin karena nama yang terlalu Arab, atau 
mungkin karena wajah terlihat terroris --padahal saya sudah mencukup 
jenggot manis saya. Entahlah. Alhamdulillah, pemeriksaan tidak 
terlalu ketat, meski berlangsung cukup lama, dari pukul 11 hingga 1 
siang. Saya keluar dari ruang pemeriksaan itu di saat sudah tidak 
ada lagi orang, padahal saya adalah termasuk orang pertama dalam 
rombongan penerbangan tersebut yang masuk kamar pemeriksaan 
tersebut. Dan tidak sedikit orang digiring seperti saya, dari 
berbagai jenis kulit dan bangsa, bahkan ada diantara mereka menjawab 
petugas imigrasi dengan bahasa Tarzan. Ternyata, proses yang saya 
lalui menjadi lama karena si pemeriksa, petugas cewek, cantik dan 
muda, belum begitu pengalaman memasukkan data ke komputer. Oaaaalah. 
Lega.

Dari Minneapolis saya melanjutkan perjalanan menuju Washington DC. 
Sebelum menuju pintu penerbangan berikutnya tas dan barang bawaan 
saya melewati pemeriksaan X-ray yang ketat.
"Anda dari mana?"
"Indonesia." Jawab saya mantap, bangga dengan Tanah Leluhur.
"Anda membawa ayam?"
"Tidak."
"Tanaman atau binatang?"
"Tidak ada."
"Makanan?"
"Iya, mie instan."
Saya membawa satu kerdus penuh berisi mie goreng rasa ayam. Mie 
favorit kala malam-malam begadang. Saya sengaja membawanya, jujur 
saja, atas nama pengiritan. Dasar orang kampung.
"Apapun makanan yang terkait dengan ayam," Ujarnya sontak dengan 
wajah galak, "tidak boleh masuk ke AS terutama dari negara-negara 
terkena flu burung. Seperti Indonesia, Malaysia, Cina dan lain-lain"
Saya menatap lunglai mie satu kerdus dilempar begitu saja ke tong 
sampah airport. Saya lemas, tidak tahu harus bagaimana, ingat saat 
terburu-buru beli dan mengepak bekejaran dengan waktu keberangkatan. 
Malang nian mie tercintai. Good bye, mie-ku sayang. Ku kubur dirimu 
di tanah Amerika, temui aku di sorga nanti.


http://rizqonkham.blogspot.com/2008/02/as-di-mata-santri-nasib-mie-
ku-tercinta.html



Kirim email ke