Rupanya perkataan sederhana.....sorry......bisa memberikan tekanan moril yang
amat berat bagi orang se-orang bahkan bisa kita lihat juga ...ucapan ...sorry
..bisa yang satu dengan ichlas diucapkan bagi yang lain...sampai matipun tidak
akan terucaplan perkataan sorry ini.
Rupanya soal perkataan sorry apabila kita kaitkan dengan negara per negara
akan membawa perbedaan bahkan bertolak belakang penerimaan dan pengertian yang
muncul dari perkataan sorry ini bagi pelbagai negara.
Apakah ada alasannya/perbedaannya , bagi orang Asia dan orang Barat yang
ingin menggunakan perkataan sorry bagi semua kejadian, tapi yang satu engah dan
yang lain dengan tulus bersedia mengatakan sorry?
Apakah benar kalau orang Asia itu punya kecenderungan....sangat sukar
menentukan sikapnya, apalagi bila kesalahan ada pada dirinya tapi enggan
mengatakan...sorry aku! Apakah orang Asia itu punya kecenderungan...takut
kehilangan muka?
Yang jelas dalam sejarah bisa ditemukan kejadian dimana kesalahan telah
terjadi tapi bagi negara satu sukar meng-ia-kan dan minta maaf tapi bagi negara
lain dengan tulus bisa mengatakan...sorry, itu adalah kesalahanku...sorry!
Coba lihat saja si Jepang yang telah melakukan kejahatan perang, misalnya
dengan kejadian apa yang terkenal dengan kejadian....the rape of
Nanking...eeeee malahan sepanjang masa para PM-nya Jepang mengunjungi kuil
Yasakuni untuk menghormati arwah para penjahat perang Jepang.
Coba lihat Willie Brandt yang dengan chusuk berlutut dimuka tugu peringatan
di Polandia dan dia menyatakan penyesalannya...sorry.... kami telah berbuat
salah,....
yang telah membantai jutaan orang dalam PDll.
Coba lihat peristiwa apartheid yang terjadi di Afrika Selatan, rekonsiliasi
terjadi setelah PM (FW de Klerk) mengakui bahwa kesalahan telah terjadi dan
inti sarinya yalah mereka berucap...sorry.
Bagaimana dengan kita sendiri. Peristiwa tahun 65 malahan di olor2 dan ini
memang dimungkinkan, karena sampai sekarangpun yang berkuasa sepertinya tetap
saja sisa2 rezim yang telah berbuat kemaksiatan membantai bongso dewek. Boro2
minta maaf lha wong perkara kenapa dan siapa yang bertanggung jawab atas
holocaust ini juga senantiasa di-tutup-i. Boro2 mau rekonsiliasi apalagi lantas
ber-ucap sorry.....sampai achir zaman pun sepertinya ini tidak mungkin.
Achirnya yang jeblok ya nasib negara sendiri yang akan menanggung tugas yang
tak terselesaikan dan ini akan menghambat perkembangan negara. Ngak ada fondasi
bobrok akan terbangun suatu "gedung" yang kuat dan megah.
Se-tidak2nya faktor psikologis akan selalu menghantui negara dan bangsa yang
tidak mau/tidak berhasrat untuk introspeksi masa lalu, mengakui apa yang
baik sudah dikerjakan tapi juga berniat memperbaiki apa yang salah. Kalau aspek
ini di lupakan maka negara dan bangsa tidak punya pegangan, apa yang baik dan
yang buruk teraduk jadi satu achirnya terjadi gado2 prinsip hidup yang nantinya
akan sukar di pisahkan mana yang baik dan mana yang maksiat. Alhasil negara
akan terus jadi deldel duwel, simple as that!
Harry Adinegara.
---------------------------------
Get the name you always wanted with the new y7mail email address.
[Non-text portions of this message have been removed]