syukurlah masih ada polisi yang baik.

kejadian-kejadian seperti ini yang membuat saya selalu
optimistis terhadap bangsa ini. kiamat dan bangkrut
masih jauh.


At 08:40 AM 2/15/2008 +0700, you wrote:



>_____
>
>( menarik untuk dibaca )
>
>_____
>
>Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji,
>"Jangan Pernah Setori Saya"
>
>*Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008*
>
>RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H.,
>M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat
>polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar
>sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai
>pukul 16.00 WIB.
>
>Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit.
>Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak" dan
>"menyentak". Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya dua kali
>tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.
>
>Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di
>lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan
>lainnya). "Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya.
>Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi
>pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah
>ingin dilayani," tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.
>
>Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari
>pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan
>bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan
>kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.
>
>Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah,
>menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan masih
>ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan," kata suami dari Ny.
>Herawati itu.
>
>Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di
>lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke
>pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno
>tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil
>Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK
>adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan
>Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji besi.
>
>Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy Suhaeri
>dengan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar
>menguak korupsi.
>
>Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau korupsi?
>
>Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja sebagai
>seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. Terbayang kan
>betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang pas-pasan. Oleh
>karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena gratis.
>
>Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa di
>antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. Sepertinya,
>enak sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat. Sejak itulah,
>terpatri di benak saya, ada yang tidak benar di negara ini dengan
>kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat bersyukur
>bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi di PPATK. Itulah tugas
>saya yang paling berkesan selama ini karena bisa menjebloskan menteri,
>mantan menteri, dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada
>kepuasan batin.
>
>Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang
>melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?
>
>Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau
>pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar adalah
>korupsi. Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? Karena
>sejak zaman Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat
>hukum yang korup. Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas
>korupsi kalau kitanya sendiri korupsi.
>
>Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di dalam,
>baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati,
>direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi.
>Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini.
>
>Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan tertingginya,
>yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat di
>Polda. Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan seterusnya.
>
>Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di Polda
>Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang
>bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang ketik,
>atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran. Akan
>tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu.
>
>Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-macam,
>seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-pengusaha,
>mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran anggota saya.
>Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit dari dirlantas, direskrim,
>atau kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran mereka, atau uang bensin
>mereka.
>
>Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan
>karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah saja.
>Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.
>
>Untuk program "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target sampai
>kapan?
>
>Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita
>menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut nama
>kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita tidak akan
>jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau polisi
>berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran.
>
>Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika memang
>saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya saya
>pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus ditakutkan.
>
>Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari korupsi. Polisi
>itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya justru merasa lebih
>tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya banyak korupsi.
>
>Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus korupsi
>bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor Polda
>Jabar mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu
>kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?
>
>Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih
>mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus
>pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan
>pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa
>kemungkinan lainnya.
>
>Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal,
>uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana
>uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu
>paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan rekanan.
>Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang
>sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat.
>Harus diakui, itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu
>nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan.
>
>Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda.
>Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang.
>Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau
>saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa
>sih duit banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya saja
>sekarang sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang tunjangan
>ini-itu. Sudah lebih dari cukup. Anak-anak saya juga sudah kerja semua.
>Bahkan, gajinya lebih besar dari saya.
>
>Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat mengungkap
>kasus korupsi?
>
>Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah
>bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan
>menjadi salah satu target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus
>korupsi biar Jabar bergetar.
>
>Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut
>kasus-kasus korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti
>mau membantu asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga
>bisa diberi kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap "bermain"
>bagaimana bisa dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka
>banyak kasus yang masuk.
>
>Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi
>digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib
>administrasi, salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara
>berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa?
>Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk.
>
>Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah
>perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana tahu
>isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya ada
>klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil, polres,
>dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal lapor
>boleh di mana saja.
>
>Kita juga harus mempertanggungjawabkan hal itu ke pelapor dengan
>mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik
>ini, ini, dan ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan
>menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui semua
>ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak suka
>yang pabaliut-pabaliut. Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu enak
>karena sesuatu yang tidak tertib administrasi itu paling enak untuk
>diselewengkan. Benar tidak?
>
>Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar
>kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan
>anggaran yang minim. Menurut Anda?
>
>Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau
>anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik.
>Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain.
>Siapa yang suruh? Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis
>untuk menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan.
>
>Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak perlu
>ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu kasat
>serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk melayani
>kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus agar
>tidak ada lagi sistem setoran.
>
>Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga
>karena mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau
>bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha
>judi, dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya hanya Rp
>5-6 juta.
>
>Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin
>kaya. Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha.
>
>Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di lingkungan
>kepolisian?
>
>Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana
>yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas
>dilarang dan ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan.
>Titik.
>
>Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan
>dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta
>nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan
>petantang-petenteng, tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan
>memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita
>lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan), sementara rakyat
>macet. Itu juga korupsi.
>
>Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya
>korup dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya
>dengan pelacur. ***
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke