Ir. H. Sutjipto Soedjono.

Siapa yang tidak mengenal dunia wayang? Wayang adalah hasil budaya 
manusia Indonesia, yang telah diakui sebagai budaya dunia, seperti 
halnya keris. Banyak hal yang bisa dipetik dari dunia pewayangan. Tak 
lain karena wayang sendiri berasal dari kata "bayang-bayang". 
Artinya, wayang menjadi bayangan atau cermin manusia dengan segala 
hidup dan karakternya. Dunia wayang bisa dijadikan sumur untuk 
menimba berbagai macam kebijaksanaan, termasuk soal kepemimpinan.

Nah, salah satu orang yang menimba kebijaksanaan wayang dalam 
panggung kepemimpinan adalah Ir. H. Sutjipto Soedjono, Ketua DPP PDI 
Perjuangan periode 2005-2010. Sosoknya yang kalem, berbalut kemeja 
coklat, bersuara renyah, Sutjipto fasih mengisahkan tokoh-tokoh 
wayang idolanya.

"Kalau membicarakan kepemimpinan ada sosok wayang yang bisa dijadikan 
inspirasi, yakni Kresna. Kalo mencari sosok kejujuran dan keberanian, 
lihatlah Brotoseno. Lihat kelemah-lembutan dan keredahan hati, 
tengoklah Janaka," kata lelaki kelahiran Trenggalek, 61 tahun silam 
itu.

Kepemimpinan pada zaman sekarang tidak boleh melupakan tuntutan 
demokrasi. "Hakekat demokrasi dalam dunia pewayangan digambarkan 
dengan kehadiran goro-goro. Goro-goro terdiri dari Semar, Gareng, 
Petruk, Dan Bagong. Kalo kita cermat, tokoh-tokoh wayang yang 
senantiasa diikuti oleh Semar dan kawan-kawan itu biasanya orang 
sakti," katanya.

Sedikit mengubah posisi duduk, Sutjipto menambahkan, "Apa artinya? 
Artinya, pemimpin yang mendapat dukungan rakyat akan menjadi pemimpin 
yang kuat. Semar dan kawan-kawannya adalah simbol rakyat jelata. 
Sering digambarkan mereka sebagai bala dupakan, yang sukanya disuruh-
suruh, dan diperlakukan seenaknya dengan ditendang. Mereka 
diperlakukan sebagai abdi. Tapi, ingat, kalau Semar sudah menjelma ke 
wujud aslinya, yakni Betara Ismaya. Nah, ini menjadi refleksi yang 
bagus juga. Suatu saat, kalau rakyat kembali pada kedaulatannya, 
sekuat apapun pemimpinnya, pasti akan lengser."

Sutjipto langsung memberikan contoh drama wayang di atas dengan masa 
kejatuhan rezim Soeharto. Saat rakyat memegang kendali kedaulatannya, 
Soeharto yang sudah menancapkan kekuatannya di berbagai lini 
kehidupan masyarakat, tetap saja turun tahta.

Selain wayang, Sutjipto senantiasa belajar dari apa yang diajarkan 
oleh orangtuanya. Kata-kata bijak dari orangtuanya ini yang menjadi 
api Sutjipto dalam melaksanakan karya-karyanya. "Saya paham persis 
semboyan yang dihidupi orangtua saya : sing seneng ndandani dalane 
wong akeh, besok dalane bakal didandani karo wong akeh. Artinya, 
siapa yang senang memperbaiki dan membangun jalan hidup bagi banyak 
orang, kelak banyak orang akan ikut memperbaiki dan membangun jalan 
hidupnya," kata suami dari Sudjamiek ini.

"Ada satu lagi yang tetap saya pegang sampai sekarang. Orangtua saya 
pernah bilang, pager omah ora neng pinggir ndalan, neng nang lambemu! 
(pagar rumah itu dibangun bukan di tepi jalan, melainkan ada di 
bibirmu!). Maksudnya, yang membuat dirimu aman, yakni segala ucapanmu 
pada banyak orang. Oleh karena itu, saya sampai sekarang tidak pernah 
mengunci pagar, walau hidup di Jakarta," kata ayah dari Lesmana Dewi 
dan Wisnu Sakti Buana itu.

Karir Sutjipto berjalan baik. Latar belakangnya adalah dunia 
pendidikan. Dia seorang insinyur yang ahli kontruksi. Buah 
keahliannya pun bisa patut diperhitungkan termasuk dengan konsep 
kontruksi Jaring Laba-Laba. Dia dikenal sebagai penemu. "Seorang 
pemimpin harus mempunyai kreatifitas, inovasi, dan kerja keras. Nah, 
saya senang dengan dunia utak-atik penemuan ini," kata lulusan S1 
Tehnik Sipil ITS tahun 1978 ini.

Pengalaman berorganisasi mengantarnya dalam samudera perpolitikan 
Indonesia. Berawal menjadi Sekretaris GSNI Cabang Kediri pada tahun 
1964. Berlanjut masuk DPD PDI Jawa Timur pada tahun 1986 sebagai 
Bendahara, Ketua DPD PDI Jawa Timur pada tahun 1994. Terus berlanjut 
dengan peristiwa pecahnya tubuh PDI dan Sutjipto bergabung dalam PDI 
Perjuangan pimpinan Megawati Soekarnoputri. Waktu bergulir, dia 
dipilih menjadi Sekjen DPP PDI Perjuangan pada 2000-2005 dan sekarang 
terpilih menjadi Ketua DPP PDI Perjuangan periode 2005-2010. 

Dalam jabatannya, ia juga pernah menjabat Wakil Ketua MPR RI periode 
1999-2004. Sekarang (saat artikel ini ditulis) dia lagi mengikuti 
bursa Calon Gubernur Jawa Timur dari PDI Perjuangan.

Dalam kepemimpinannya, ia tidak mau melepaskan semangat 
partainya. "Visi pribadi internal adalah menjayakan partai dan 
eksternalnya dalam pemilihan ini adalah membangun kesejahteraan 
rakyat Jawa Timur," Katanya. Roh kerakyatan inilah yang senantiasa 
dia pegang. Roh kerakyatan ini, diwujudkan dalam dua aspek yang harus 
diperhatikan oleh pemimpin. Yaitu aspek proses penentuan kebijakan 
dan aspek keberpihakan pada rakyat. Roh inilah yang menurut Sutjipto 
telah menempatkan pemimpin daerah berasal dari PDI Perjuangan selalu 
lebih unggul dalam hal orientasi kepemimpinan kepada rakyat.

Filosofi kepemimpinan yang dipegang disebut dengan Hasta Prasetya. 
Filosofi ini wajib dilaksanakan oleh seluruh kepala daerah yang 
bernaung dari PDI Perjuangan. Delapan Prasetya itu, antara lain 
adalah menjaga kelanggengan NKRI, memajukan pendidikan, memajukan 
kesehatan, meningkatkan pelayanan publik, memberantas KKN, membangun 
kemandirian ekonomi rakyat, menciptakan hunian layak bagi rakyat, dan 
menggalakkan semangat gotong royong.

Kearifan dalam memimpin senantiasa ia pelihara. Konsep 
ngewongke "memanusiakan manusia" menjadi utama dalam pengejawantahan 
program-program untuk masyarakat. Ia mengandalkan Pancasila sebagai 
alat pemersatu di tengah pluralisme yang sedang dicabik-cabik di 
negeri ini. Ia menunjukkkan sikap pedulinya pada bencana. Di Negeri 
yang lagi dirudung bencana ini, Sutjipto mempunyai refleksi 
menarik. "Bagi saya, leadership di wilayah bencana harus memiliki 
kejujuran, memiliki iman dan memiliki rasa syukur. Bencana ini bukan 
tak ada hubungannya dengan perilaku penguasa dan rakyatnya sendiri. 
Walaupun ini terkesan sebagai cara pandang klenik, tapi ini ada 
relasi dengan hubungan itu. Hubungan manusia itu ada dua unsur : 
Unsur lahir dan nyata yang bisa ditarik dengan olah pikir, dengan 
intelektualitas, dan satunya dengan unsur roh. Padahal unsur roh ini 
menjadi unsur yang lebih besar yang tidak bisa dijangkau dengan itu," 
katanya.

Ia menambahkan, "Dulu raja itu punya pedoman yang hakiki yang kalo 
dia melanggar pasti akan datang bencana. Sebut saja Sabda Pandhita 
Ratu. Artinya, kalau ulama, raja, pemimpin, penguasa bersabda, jangan 
seenaknya. Kalo salah bisa membawa bencana. Sekarang, pemimpin 
mengumbar janji seenaknya," katanya. Demikianlah Sutjipto membaca 
Indonesia dan menumpahkan energinya untuk andil dalam memperdayakan 
manusia Indonesia.

Sudah sepantasnyalah, bila sejumlah 38 DPC di Jawa Timur telah 
mendorong Sutjipto untuk menjadi sebagai calon Gubernur Jawa Timur 
2008.

Pada tanggal 2 Oktober 2006 telah diselenggarakan deklarsi pencalonan 
Sutjipto untuk Gubernur Jawa Timur oleh seluruh DPC PDI Perjuangan se-
eks karesidenan Surabaya, yaitu kota Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Kota 
Mojokerto, Jombang dan Kabupaten Mojokerto.

Berikut ini dalam deklarasi tersebut, cuplikan dukungan yang 
diberikan kepada Sutjipto :

"Sekaranglah saatnya kader-kader PDI Perjuangan bangkit dan memimpin 
Jawa Timur. Bukan orang lain yang numpang lewat partai! Karena hanya 
kader-kader partai yang memiliki konsep Hasta Prasetya. Konsep yang 
memastikan kepemimpinan berpihak kepada rakyat." Bela Bahana Binanda, 
Sekretaris DPC Jombang.

"Sutjipto adalah salah satu pemimpin terbaik yang ada di Jawa Timur." 
Bambang DH, Walikota Surabaya.

"Bagi kami di DPC Gresik, Sutjipto itu adalah Soekarno kecilnya Jawa 
Timur." H. Hadi Kusno, Ketua DPC Gresik.

"Tokoh kepemimpinan di Jawa Timur adalah tokoh dari PDI Perjuangan, 
bukan lewat PDI Perjuangan." H.M. Sochid, Ketua DPC Kota Mojokerto.

"Ibu Mega pernah janji kepada kita, bahwa bila calon itu sudah di 
survey dan didukung oleh rakyat, maka DPP akan memberikan rekom 
kepada calon itu. Kita sudah bulatkan tekad bahwa calon Gubernur 
Jatim nanti adalah kader partai. Bahwa pencalonan ini bukan karena 
keinginan Pak Tjip, tetapi karena dorongan kita semua," Saleh Ismail 
Mukadar.

"Kita satu suara dan suara kita satu. Sutjipto Gubernur! Tidak ada 
sedikitpun keraguan dari Mojokerto." Hariyanto, wakil ketua DPC 
Kabupaten Mojokerto.

"Kita di Sidoarjo bahkan telah memulai dukungan kepada Pak Tjip jauh-
jauh hari yang lalu. Hanya satu nama Sutjipto." Tito Pradopo, Ketua 
DPC Sidoarjo.

"Jangan mengulang kesalahan lama. Jangan tergoda calon lain yang mau 
lewat partai kita. Sudah jelas buktinya : Gubernur yang lama pun cuma 
numpang partai kita. Apa akibatnya? Dia bahkan tidak perduli dengan 
PDI Perjuangan. Karena itu, sekali lagi jangan ulangi kesalahan 
lama!" H. Kusno, Ketua DPC Gresik. (Sigit K, DanG)

Sumber : www.irsutjipto.com

Contack : [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke