Publik AS kelihatannya lebih suka Presiden laki-laki.

-----------------------------------------------------
http://www.antara.co.id/arc/2008/2/15/barack-obama-sedot-simpati-dunia-arab/

Barack Obama Sedot Simpati Dunia Arab

Oleh Munawar Saman Makyanie

Jakarta (ANTARA News) - Barack Obama, tidak hanya sedang berkibar di atas 
pentas politik Amerika Serikat dalam ajang perebutan kandidat presiden dari 
Partai Demokrat melawan saingan ketatnya, Hillary Clinton, ternyata juga mampu 
mendapat tempat tersendiri di hati kalangan dunia Arab.

Jajak pendapat yang dilansir beberapa media massa di dunia Arab menunjukkan 
bahwa umumnya warga dunia mengidolakan kandidat berkulit hitam asal Afrika itu.

Suratkabar "Al-Anba", misalnya, dalam jajak pendapatnya pada Sabtu akhir pekan 
lalu menemukan 72,5 persen responden memilih Obama sebagai kandidat favorit.

"Wawasan politik internasional Obama amat luas dan bersikap penuh persahabatan, 
terutama menyangkut proses perdamaian Timur Tengah. Oleh karena itu, ia sangat 
layak menjadi presiden AS," kata seorang responden memberi alasan.

Responden lainnya menyatakan keyakinan senada. "Obama bakal dapat memulihkan 
kembali citra AS di mata dunia Arab, yang tercoreng di masa pemerintahan 
(Presiden George W) Bush," katanya.

Majalah mingguan "Al-Usbuu" dalam jajak pendapat serupa menunjukkan 68 persen 
responden menyatakan mendukung Obama.

"Maju terus Obama, kami berada di belakangmu," tulis Ilham Salim di laman 
internet "Al-Arabiya.net" mengomentari kemenangan Obama di negara bagian South 
Carolina, Georgia, Alabama pekan silam.
Sementara itu, para analis politik di Timteng umumnya berpendapat bahwa dunia 
Arab mengingkan Partai Demokrat tampil mengambil alih kekuasaan AS menggantikan 
pemerintahan Partai Republik pimpinan Presiden Bush.

Montaser Abdel Hameed, peneliti masalah hubungan Arab-AS memandang Obama 
sebagai tokoh yang dapat menghidupkan kembali proses perdamaian Timur Tengah.

"Obama dipandang oleh dunia Arab sebagai tokoh yang dapat menyatukan kembali 
hubungan AS-Timur Tengah yang sangat amburadul di masa pemerintahan Bush," 
katanya dalam wawancara dengan "Al-Anba", Kamis silam.

Adapun pengamat politik dan kolomnis kesohor Mesir, Salama A Salam, dalam kolom 
khususnya di suratkabar "Al-Ahram Weekly", Minggu (10/2), mengatakan, 

"Negara-negara Arab, yang meyakini prinsip-prinsip keadilan dan kebebasan yang 
sama seperti warga AS, tidak akan memaafkan pemerintahan Bush atas 
kesalahan-kesalahan yang bertentangan dengan budaya dan tradisi mereka (AS) 
sendiri," tulis Salama.

Bush memicu bencana 

Menurut wartawan yang beralih profesi sebagai pengamat itu, pemerintahan Bush 
telah memicu perang antara Islam dan Barat. Ia (Bush) menjadikan Islam sebagai 
musuh pilihannya, dan lebih jauh lagi melancarkan invasi dan menduduki 
Afghanistan dan kemudian Irak.

Selain itu, Salama juga menilai AS mendukung Israel dalam invasinya ke Lebanon, 
dan bersekongkol dengan negeri Yahudi untuk menghukum dan memecah-belah rakyat 
Palestina. 

"Kebanyakan dunia Arab berpendapat, tidak penting apakah Obama atau Hillary 
yang menang. Yang penting adalah bukan dari Partai Republik yang akan 
melanjutkan kebijakan pemerintahan Bush," tulisnya.
Pemerintahan Bush, di mata Salama A Salam, sejauh ini benar-benar berhasil 
merubah krisis menjadi bencana, merujuk kepada krisis politik di Pakistan dan 
Kenya, di samping masalah Arab-Israel.

"Lihat itu di Pakistan, (mantan PM Benazir) Bhutto dibunuh dibunuh tak lama 
setelah tercapainya saling-pengertian dengan pemerintahan Bush. Sementara di 
Kenya, pemerintah Bush menyatakan berada di belakang Presiden Kibaki, dan 
perang saudara pun muncul," katanya.

Hasil sementara pemilihan pendahuluan ini Obama dilaporkan meraih kemenangan 
telak dari rival politiknya, Hillary, dalam pemilihan pendahuluan pekan lalu. 

Obama dalam pemilihan pendahuluan tersebut meraih kemengan di Virginia, 
Maryland, dan Washington DC, Selasa. 

"Kita menang di Maryland, kita menang di Virginia. Dan, meskipun kita menang di 
Washington DC, langkah ini tidak akan berhenti sampai terjadi perubahan di 
Washington DC," kata Obama di hadapan pendukungnya.

Kemenangan Obama dalam pemilihan pendahuluan itu membuat pamor senator asal 
Illinois itu meningkat di mata publik AS, dan mulai dielus-elus untuk 
dihadapkan dengan kandidat kuat dari Partai Republik John McCain.

Dalam jajak pendapat yang dilansir oleh Associated Press-Ipsos memperlihatkan 
Obama unggul tipis atas McCain jika mereka berhadapan pada pemilu nasional 
November mendatang.

"Kami merebut pemilih yang tidak memberi tempat kepada Partai Demokrat 
kesempatan di masa lalu," kata Cornell Belcher, penyelenggara jajak pendapat 
untuk Obama, merujuk dukungan dari kalangan independen.

Obama menyapu bersih delapan kemenangan berturut-turut, suatu kesempatan emas 
bagi Obama untuk unjuk gigi. 

Kemenangan Obama ini menimbulkan kepanikan di pihak Hillary Clinton.

Kepanikan itu terlihat pada Minggu (10/11) ketika Hillary terpaksa mengganti 
manager kampanye menyusul semakin ketatnya persaingan melawan Obama.

Senator Illinois dan mantan ibu negara itu kini bersiap-siap untuk bertarung 
sengit di Texas dan Ohio pada Maret mendatang.

Kedua kandidat separtai itu tengah bertarung memperebutkan delegasi super 
(superdelegates), yakni para fungsionaris partai dan pejabat negara bagian yang 
tidak terikat pada kandidat mana pun dan bebas memilih sesuai keinginan mereka.

Kubu Obama menginginkan agar para delegasi super mendengarkan aspirasi pemilih, 
sedangkan kubu Hillary menghendaki delegasi super tetap memilih sesuai 
keinginan mereka.

Kedua kandidat Demokrat itu kini bersaing ketat, di mana Obama telah meraih 
1.144 delegasi, sementara Hillary memperoleh 1.138 delegasi. 

Untuk maju ke panggung sesungguhnya melawan kandidat Republik pada pemilihan 
nasional pada 4 November nanti, capres Demokrat harus merebut 2.025 delegasi. 
(*)


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke