Cinta Sejati Seorang Don Kisot

Novel terkenal Gabriel Garcia Marquez, Love in the Time of Cholera, 
diangkat ke layar lebar. Romantis, meski mungkin bagi penggemar Marquez 
mengecewakan.

**-
Namanya Florentino Azira. Umurnya 70-an. Selama 51 tahun, ia tidur dengan 
662 perempuan. Tiap bulan ada saja perempuan berbeda yang mau bercinta 
dengannya. Entah apa yang membuatnya menawan. Padahal ia terlihat sudah 
uzur. Rambutnya putih, bila jalan tertatih-tatih sedikit bungkuk. Suaranya 
lirih. Setiap perempuan yang ia tiduri kemudian dicatatnya dalam buku harian.

Bagi Florentino, seks adalah pelampiasan kesepiannya karena hati yang 
patah. Ketika muda, pada saat miskin, ia jatuh cinta kepada seorang anak 
pedagang kaya Fermina Daza. Cintanya tak tergapai. Tapi ia yakin suatu saat 
cintanya itu bakal terwujud. Maka, tatkala menanti saat yang tak pasti itu, 
sebanyak-banyaknya ia menyetubuhi siapa saja--janda, istri orang--untuk 
menyembuhkan lukanya, penderitaannya.

Itulah kisah seorang tua yang menggelikan sekaligus mengharukan. Novel 
terkenal Gabriel Garcia Marquez, Love in the Time of Cholera, berkisah 
tentang cinta segitiga di Cartagena, Kolombia, antara Florentino Azira, 
Fermina Daza, dan dokter Juvenal Urbino. Sutradara Mike Newell (film 
terakhirnya Harry Potter and The Goblet of Fire)--membuka adaptasinya 
dengan adegan Florentino (Javier Bardem) tengah bercinta dengan seorang 
mahasiswi. Hari itu tahun 1930. Tiba-tiba lonceng gereja 
berdentang-dentang. Florentino menghentikan persetubuhannya. Ia melongok ke 
jendela.

Ia tahu, momen yang dinanti sepanjang umurnya itu tiba. Lonceng itu tanda 
kematian dokter Juvenal Urbino (Benjamin Bratt), suami Fermina. Pada hari 
duka itu ia menemui Fermina: ”Aku menunggu 50 tahun….” Film lalu 
menyuguhkan kilas balik ke masa muda. Bagaimana Florentino, saat menjadi 
pegawai kantor telegram, menyerahkan kiriman telegram untuk ayah Fermina 
dan ia terpesona menyaksikan anaknya.

Ia yang berbakat menulis puisi itu lalu menulis surat ke Fermina. Mereka 
berbalas. Cinta meledak di antara mereka--sampai mereka berikrar akan 
kawin. Ayah Fermina yang berang mengungsikan Fermina selama setahun jauh ke 
pedesaan, ke rumah sepupunya. Ketika Fermina balik, ia menyadari bahwa 
hubungannya dengan Florentino memang kekanak-kanakan. Di umur 21 tahun ia 
kawin dengan seorang dokter ahli kolera bernama Juvenal Urbino.

Permainan Javier Bardem sebagai seorang pecundang lumayan. Bagai Don Kisot, 
Florentino menyadari takdirnya adalah menderita karena cinta. Mulanya ia 
bersumpah akan mempertahankan keperjakaannya, sebagai bukti baktinya kepada 
Fermina. Namun, ketika merasakan seks, ia keterusan. ”Aku adalah pecinta 
yang tak pernah menampilkan wajah,” kilahnya.

Pada saat tua, hasrat seksnya terus menggebu. Ketika tua itu, ia menjadi 
salah satu orang terkaya di Cartagena. Ia menggantikan Don Leo, pamannya 
yang memiliki perusahaan pelayaran dan pengiriman barang. Akting Javier 
Bandem memerankan Florentino tua lebih berhasil dibanding Florentino muda. 
Ia mampu menampilkan Florentino sebagai sosok tua santun, berkepribadian 
halus. Sosok yang ketika senggang suka membantu menuliskan surat cinta bagi 
siapa saja, hingga tak menduga bahwa di balik itu aktivitas seksnya liar.

Akan halnya Giovanna Mezzogiorno, yang memerankan Fermina, tak 
diperlihatkan sebagai seorang yang memiliki daya sensual melainkan seorang 
yang anggun. Sayang, tatkala Fermina berumur 70-an, perubahan raut wajahnya 
tak begitu tampak.

Latar novel Marquez adalah pada saat kolera menjadi epidemi. Membaca 
novelnya, terasa kisah cinta ini berbelit dengan kemiskinan dan kekacauan 
politik masyarakat Amerika Latin. Kondisi ini merasuk dalam diri Florentino 
yang melakukan persetubuhan terus-menerus tanpa didasari rasa cinta. Tapi 
kondisi sosial yang mencekam itu yang tak terasa dalam film ini.

Film ini terasa ringan. Di akhir cerita, setelah Fermina marah melihat 
kemunculan Florentino, ia mengundangnya makan siang. Dan hubungan 
berlanjut. Florentino mengajak Fermina melakukan perjalanan dengan kapal 
mewahnya. Tatkala pulang, ia menginginkan kapal hanya ditumpangi mereka 
berdua. Maka sang kapten kapal menaikkan bendera hitam tanda kolera. Kapal 
“kosong” itu melaju.

Para fans Marquez mungkin banyak mencerca film ini jatuh ke dalam komedi 
romantis. Mereka kecewa dan menganggap sutradara gagal menangkap esensi 
realisme magis yang disampaikan oleh Marquez. Tapi, bagi para penonton yang 
tak peduli, dan sebelumnya tak pernah membaca novel Marquez , film ini bisa 
menjadi film cinta yang berbeda.

Di kamar mewah kapal, Fermina membuka bajunya. Tampak dadanya telah kisut. 
Kakek-nenek itu kemudian bercinta.

  Seno Joko Suyono

Majalah Tempo, 18 Februari 2008


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke