wah, pengamatan oom satriyo kayaknya emang kurang jeli.  soalnya 
orang jepang itu, yg anak muda justru maniak gadget dan gila merk.  
kelakuan mereka udah terkenal kok dimana mana.  :p  terutama gila 
merk itu.

kalau lagi jalan ke luar negeri, dan ada jualan murah cuci gudang di 
butik principal, mereka rela banget ngantri barang murah.  yg 
penting ber - merk.  :)  cuman hp bikinan jepang aja, yg model jelek 
jelek.  tapi lihat, penjualan ipod di jepun.  nomer satu, jek !



salam,
ari



--- In [email protected], Satrio Arismunandar 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> "NDESO"
> 
> Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, 
kampungan, udik, sock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika 
mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, 
maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus 
menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. 
Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang 
baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan 
dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan 
menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-
kagum sama seperti dia. 
> 
> Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap 
langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, 
seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus 
berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, 
serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan 
alias deso.
> 
> Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan 
atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. 
Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen 
yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman 
kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di 
Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan di 
jemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.
> 
> Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara 
ceremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat 
setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka 
pakai Merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. 
Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda 
penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita 
tidak tahu mana pengawalnya.
> 
> Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran 
Thailand. Dia seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah 
selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak 
serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas 
orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa 
dari perguruan tingginya.
> 
> Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp 
komunikator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca 
Koran ternyata konsumen terbesar hp komunikator adalah Indonesia. 
Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta 
di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga 
naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai 
jenis sepatu yang di pakai masyarakat jepang ternyata tak bermerk, 
wah ini yang deso siapa yaa?
> 
> Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang atau di 
Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau 
rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu 
pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan orang jepang 
diajak ke Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede dan 
mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa 
dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun 
banyak yang lesehan. 
> 
> Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana Negara dan 
Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang 
ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemawahan 
istana raja-raja Negara sekelilingnya, karena Beliau punya 
pengalaman berdagang. Ternyata Beliau tidak menjadi silau terus ikut-
ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas 
kenegaraan dilakukan? Mengingat beliau sebagai kepala Negara. 
Jawabannya ya di masjid.
> 
> Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. 
Di mekkah nikah dengan janda kaya, di madinah jadi kepala Negara, 
punya hak prerogative dalam mengatur harta rampasan perang, dan ada 
jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah 
dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut 
dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk 
menahan perih perut dan seterusnya.
> 
> Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk, rakyat 
banyak yang mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri 
beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak 
bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain 
asing, banyak ceremonial yang gonta-ganti bajuseragam, baju dinas, 
merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst
> 
> Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, 
kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada 
lagiwanita tidak solat (WTS) , angka criminal rendah, korupsi 
berkurang, punyaposisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang 
Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi kerisis karena tidak bisa 
menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. 
Nah karenayang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma 
yang dipakai adalahNegara normal atau bahkan mengikut Negara maju. 
Bayangkan ada daerah yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar 
sementara anggaran kesranya 100 juta,wiiieh!
> 
> Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan 
dari atas sampai bawah:
> -Orang bisa antri raskin sambil pegang hp
> -Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
> -Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli tv dan 
kulkas
> -Orang kampung mabok patungan Orang bule mabuk kelebihan uang
> -Lagi mabok muntah keluar kangkung, genjer toge
> -Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
> -Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
> -Orang mo beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
> -Ijzah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang 
sempit di cibubur
> -Kelihatannya orang sibuk ternyata masih intensive keluar masuk Mc 
Donald
> -Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia 
persepakbolaan. Jadi masih sempat ngurusin kulit bulat diisi angin
> -Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp
> -62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
> -Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di 
acara tembang kenangan.
> -Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol 
ngebor
> -Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan 
wakuncar
> -Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
> -Agar kelihatan inklusif maka harus bisa menggandeng siapa saja, 
kalo perlu jin tomang bisa digandeng
> 
> Yang lebih mengerikan adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka 
harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu 
dirinya kere. (*)
> 
> Tulisan ini dibuat oleh: Abdulllah Muadz (dari milis tetangga)
> 
> -- 
> regards,
> 
>   
> 
> 
> 
>       
_____________________________________________________________________
_______________
> Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
> http://www.yahoo.com/r/hs
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke