Dokumentasi Kronik Sairara:
   
   
  WAHAI TAMPAKUL!
   
   
   
  Ah, barangkali kau katakan  bahwa aku orang sangat memboyakkan.Bolak-balik 
membicarakan hal yang itu-itu saja. "Bosan deh!". "Bosan!"
   
   
  Jika benar kau berkata demikian,  Sai, maka jawabku: Coba lihat, apakah di 
negeri ini orang bukannya suka melupakann sadar menjadi pelupa sejenis 
kepikunan kotemporer karena masih dibayangi oleh mentalitas ketakutan dan cari 
selamat bagi selembar nyawa hingga sanggup mencampakkan nilai manusiawi,  
menohok dari belakang kawan seiring, selama lebih dari tigawarsa.  Kadar 
kemanusiaan anak negeri menjadi demikian merosot di balik penampilan jas 
berdasi dan mobil keren terbaru, sambil membanggakan gelar akademi luar negeri 
tapi masih tak bisa membebaskan dari mental budak mendewakan sarjana-sarjana 
panutan dari luar. Tidak bisa menjadi dirinya sebagaimana sarjana-sarjana  ilmu 
sosial Amerika Latin. Gelar kesarjanaan bukan tanda kemerdekaan 
intelektualitas. Sarjana budak! Apakah yang bisa diharapkan dari mereka kecuali 
menyemai budakisme yang mendapat lahan subur di tengah kerancuan nilai?  
"Bosan" , hanyalah pernyataan lain dari pola pikir dan mentalitas "mie instan", 
nilai
 yang masih dominan di negeri kita sehingga suka pada "having fun" dan segala 
yang bercorak narsistik sebagai putera-puteri globalisasi kapalistik serta 
warisan Orba. 
   
   
  Indonesia bukan Arab. Indonesia bukan Amerika, bukan Belanda [ingat yang 
disebut Hollands denken dan yang disebut Belanda Godong, jika mengguanak  
istilah orang Jawa Tengah, yang sarinya tidak lain dari  pola pikir dan 
mentalitas budak?], bukan pula  Eropa Barat. Indonesia adalah Indonesia dengan 
syarat sejarah, budaya dan psikhologis sendiri. Pendewaan asing, kukira, tidak 
lain menunjukkan kita belum menjadi diri sendiri, masih menjadi manusia dan 
sarjana "catatan kaki". Namanya saja merdeka tapi belum merdeka. Apakah kita 
memahami arti kemerdekaan  dan anak manusia seta putera-puteri bumi, ketika 
diri kita sendiri pun kita tidak mengerti. Kita tak obah manusia gelembung 
sabun, tak obah sebagai daun masih hijau rontok dari pohonnnya, melayang-layang 
di udara dan jatuh di tanah. Lalu diinjak sepatu para yang lewat. 
   
   
  Karena itu aku kira, meng-Arab-kan , meng-Amerika-kan Indonesia atas nama apa 
saja, termasuk nama Tuhan sekali pun akan merupakan anjuran dan tindakan yang 
membawa kita ke jurang petaka. Tidak akan pernah menjadikan diri kita sebagai 
Indonesia , putera-puteri dunia. Ujud dari ketidakmampuan menjadi diri sendiri, 
menjadi Indonesia. Ketidak mampuan menggunakan kepala sendiri. 
   
   
  Coba saja, kau lihat Sai, jauh sebelum kedatangan orang Arab dan orang Barat, 
etnik-etnik di kawasan nusantara punya tatanan nilai sendiri untuk mengelola 
masyarakat mereka. Tatanan nilai dan sistem ini kemudian sejalan dengan invasi, 
terutama invasi ekonomi berkendaraan sarana politik, termasuk yang disebut immu 
antropologi dan ethnologi, disebut sebagai "ragi usang",, "budaya jin" jika 
menggunakan istilah Kelompok Subud yang sekarang aktif di Kalteng, "budaya 
setan" , menurut istilah sementara Kristen cupet dan kristen-kristenan, disebut 
"musyrik" oleh Islam. Tujuannya? Untuk menaklukkan Dayak, Dayak disebut 
"musyrik", "Dajakers", "primitif". Rasa rendah diri dikembangkan dengan 
berbagai cara. Kolonialisme disebut sebagai "la mission sacrée" yang 
menempatkan penindasan, masakre sebagai tindak beradab dan  sebagai 
membudayakan bangsa-bangsa yang disebut primitif. Atas nama Yesus dan tancapan 
salib, begitu Colombus mendarat di daratan Amerika pada 1492, tanah Amerindian 
 pun sah menjadi milik Spanyol. Australia disebut sebagai "terra in cognita".  
Dengan seruan Allahuakbar, bom diledakkan tanpa pandang bulu siapa yang menjadi 
korban dan sengaja tidak perduli akan  dampak ekonominya pada mayoritas  
lapisan masyarakat , terutama kaum jelata.  Bom Tuhan mensahkan segalanya. 
Tuhan diajak melakukan pembunuhan dan kriminalitas. Republik dan Indonesia 
hanya sebanding dengan hapalan 2 X 2. 
   
   
  Kau hitung saja,Sai, secara garis besar dan manual. Tidak usah menggunakan 
mesin hitung, berapa anak negeri ini yang sekali pun tinggal di Indonesia tapi 
asing dari Indonesia? 
   
   
  Wahai! Ini adalah suatu kewahaian yang tidak membanggakan siapa pun. Kecuali 
narsis yang bernegeri di diri sendiri. Siap jadi apa pun. Karena tak punya 
prinsip manusiawi. Sementara Robinson Crosoe hampir gila sendiri karena hidup 
sendiri. Jangan lihat jas dan dasi, jangan lihat gincu dan rok mengkilap serta 
dandanan mereka. Bangkai tetap bau sekali pun dibungkus dengan sutera mengkilap 
jenis apa pun. Alam akan mencatat sejarah dan bertutur  jujurkepada mereka yang 
kemudian bertanya dan mencari. Gejala tidak pernah bisa membantah  hakekat. 
Membiarkan diri dicengkram oleh penampilan semu hakekat begini, kukira,  Sai, 
kau akan terperangkap oleh dunia masyarakat  pertunjukan [la société de 
spectacle]. Dunia semu. Sedihnya, menjadi dunia yang kita hidupi secara nyata. 
Kesemuan lebih dihargai dari hakiki , suatu pandangan yang berdampak jauh. 
Menjalari  seluruh penjuru hidup hingga pelosok-pelosoknya, termasuk 
sastra-seni.
   
   
  Keadaan mencampakkan diri dan mendewakan penakluk, rela menjadi budak dan 
inlander, cari selamat sendiri, inilah yang kusebut sebagai ironi dunia dan 
ironi Indonesia. Men-Tuhankan Setan. Setan di Tuhan-kan. Sekarang ia berujud 
sebagai l'argent roi"[uang adalah raja]. Tuhan dan Setan, dua lambang dari dua 
mimpi dan bentuk harapan imajiner yang bertolak belakang.  Dari kedua nilai dan 
harapan imajiner ini, mana gerangan  yang nyata dominan di negeri kita?
   
   
  O, wahai fanatisme, wahai kecupeten,  wahai ketidaktahuan, wahai kebodohan  
dan kemalasan berpikir serta  bertanya, telah dan terus memerosotkan diri 
manusia jadi tidak manusiawi tapi  masih merasa diri mengemban  misi agung 
sementara tangan dan tubuh berlumuran  darah mendambakan sorga dibalik kabut. 
Telah mejauhkan kemanusiaan dan keadilan serentang bumi dan matahari.   O 
wahai, wahai, wahai dan wahai, yang mendominasi negeri dan dunia yang tersimpul 
dalam rumusan Presiden Amerika Serikat Bush Jr tentang "poros baik dan buruk 
"dunia,  mendominasi nilai saat dunia kita yang galau.  Pada saat begini, 
sastrawan-seniman banyak tiarap asyik tiarap. Don Quichot, ujar Cervantes. 
Tampakul, ujar orang Dayak. Tampakul menguasai negeri secara kongkret dan nilai.
   
   
  Dunia yang galau dengan wahainya pola pikir, mentalitas dan kerancuan 
nilai,membuatku  hanya mengurut  dada KETIKA  Bersihar Lubis karena melaporkan 
keadaan sebagaimana adanya, divonis penjara 1 bulan dan masa percobaan tiga 
bulan. Aku pun hanya mengurut dada dengan kepala tegak menatap cakrawala yang 
jauh, ketika mendapatkan para wartawan, sastrawan-seniman banyak diam  tapi 
asyik bicara tentang diri sendiri, tentang cinta, sanggama, dan halhal aman 
sebagai usaha pembaharuan,  di hadapan kasus Bersihar yang mengandung hakiki: 
keadilan, hak-hak dasar termasuk kebebasan menulis dan berpendapat. 
   
   
  Aku jadi teringat pada puisi Rendra yang ditulis pada 23 Oktober 1977:
   
   
  "Ya! Ya! Akulah seorang tua !
  Yang capek tapi belum menyerah pada mati.
  Kini aku berdiri di perempatan jalan.
  Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing.
  Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.
  Sebagai seorang manusia."
   
   
  Yang memvonis Bersihar karena berucap seadanya apakah yang bersangkutan 
sedang "menulis sajak". Apalagi wartawan, sastrawan-seniman yang diam dan tak 
acuh, sambil  asyik bicara tentang dirinya, tentang ranjang dan sanggama, 
apakah  kebungkaman mereka , kebungkaman karena sedang "menulis sajak" "sebagai 
seorang manusia"?
   
   
  Tapi kusadari kemudian, bahwa dunia manusia memang penuh Wahai! Wahai yang 
menantang Utus Panarung menjadi panarung-- sejenis kutukan pada Ahasveros 
karena cintanya dan Sisyphus karena pencariannya. Sejenis absurditas yang tak 
terhindar. Ooo, absurditas dan keberadaan [eksistensi].***
   
   
  Paris, Akhir Musim Dingin 2008
  ---------------------------------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.

       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke