Jurnal Sairara:
   
   
  MENUJU SARAWAK [3]
   
   
  Menggunakan pesawat untuk pergi ke Pontianak harus melalaui Jakarta, yang 
berada sepulau dengan Palangka Raya, terasa  sungguh merupakan suatu ironi yang 
menyakitkan bagi anak pulau. Merenungkan keadaan begini, aku mempertanyakan 
hanya sebeginikah hasil sekian puluh tahun merdeka, sementara di Jawa untuk 
berpergian dari satu tempat ke tempat lain, jalan tol merentang mulus. Padahal 
dari segi penghasilan, Kalimantan tidak kekurangan sumber daya alam yang bisa 
membeayai pembangunan jalan menghubungkan propinsi satu dengan yang lain. Ke 
mana gerangan hasil sumber daya alam yang dieksploatasi , kadang secara buas, 
sonder nalar? Yang jelas kulihat bahwa eksploatasi sumber daya alam Kalimantan, 
tidak memberikan kesejahteraan apa pun pada penduduk lokal. Yang nampak jelas 
bahwa sesudah sumber daya alam ini dikuras habis-habisan, penduduk lokal hanya 
mengenyam petakanya. Sungai penuh air raksa, hutan jadi padang pasir sebagai 
buah "agama"pembangunan.  Aku hanya menyaksikan
 kebuasan "agama"  pembangunan yang diteoritasikan bakal memberikan "trickle 
down effect". Keadaan yang kulihat di Kalteng pun kulihat di Kalimantan Barat 
dalam perjalananku ke Nyarungkup, tak jauh dari perbatasan Kalbar dan Sarawak. 
Kerusakan alam lingkungan Kalbar sama parahnya dengan yang kusaksikan di 
Kalteng. Kaltim pun tidak kalah rusaknya. Bukit  Soeharto masih saja 
terbakar.Suatu "kebakaran adi" sebagai hasil pembangunan Orde Baru.  
   
   
  Ketika mendarat di bandara Supadio, aku mengambil taksi yang sopirnya juga 
sangat kukenal.  Ia mengantarku ke hotel sederhana. Di ibukota Kalbar ini, aku 
jadi ingat akan yang kualami pada saat pertama kali datang ke kota Pontianak. 
Waktu itu , jam dua pagi. Aku dibangunkan oleh anak-anak muda Dayak yang 
mengajakkku hadir di rapat mereka. Yang penting bukan jam aku diajak rapat. 
Tapi apa yang kudengar di pertemuan ini. Di pertemuan pagi menjelang subuh ini, 
anak-anak muda Dayak mengkritik kebijakan mantan Gubernur Ouwang Urai yang 
sekarang membuahkan dominasi Melayu di Kalbar. Kurasakan dari mendengar 
pembicaraan subuh ini, bahwa sentimen etnis sangat kuat terasa.  Setelah mereka 
mengetengahkan pikiran dan perasaan mereka, mereka kemudian meminta pendapatku.
   
   
  Aku sadar bahwa aku harus sangat hati-hati dan menghitung setiap kata yang 
keluar dari mulutku, sekali pun aku tak pernah merasa lebih hebat dari mereka. 
Karena itu sebagai pengantar kukatakan bahwa apa saja yang kuucapkan hendaknya 
tidak dipandang sebagai patokan tapi lebih bersifat pendapat orang sesaudara, 
sesama Dayak.  Jika sikap ini bisa diterima maka aku bersedia mengajukan 
pendapat.  Seorang pun tak ada yang kukenal pribadi di pertemuan subuh ini. 
Yang jelas mereka semuanya dari etnik Dayak.  Sementara aku juga tidak pasti, 
apakah kebiasaan Dayak Kalteng sama dengan kebiasaan orang Dayak Kalteng kalau 
berbicara. 
   
   
  Dengan memperhitungkan segala dampak kata yang kuucapkan maka kukatakan bahwa 
sentimen bermusuhan dan menyalahkan etnik ini dan itu, terhadap keterpurukan 
Dayak, mungkin tidak tepat. Sedangkan kritik terhadap kebijakan Ouwang Urai, 
selama beliau menjadi gubernur --dan secara pribadi kukenaml baik --  kukira 
kritik ini memperlihatkan bahwa masalah politik mempunyai dampak menentukan 
bagi perkembangan daerah dan khususnya terhadap etnik Dayak.  Karena itu 
memusuhi dan menuding etnik ini dan itu sebagai biang keladi keterpurukan Dayak 
, kukira tidak menyentuh soal hakiki. Di kalangan etnik mana pun terdapat 
golongan yang terpuruk.  Keterpurukan adalah hasil dan akibat dari suatu 
sistem. Buah dari satu pilihan politik.  Jalan keluar yang kutawarkan 
menghadapi situasi ini adalah memberdayakan diri, karena keterpurukan bukanlah 
hal yang fatal. Menjadikan diri Dayak sebagai etnik  bermutu. Menyasar etnik 
ini dan itu, hanya memperunyam keadaan dan salah sasaran. Adanya etnik ini
 dan itu di suatu tempat, bukanlah penyebab keterpurukan. Tidak pernah ada 
suatu tempat, apalagi suatu propinsi didiami oleh etnik tunggal. Adanya 
keragaman etnik di sebuah propinsi, bukanlah penyebab keterpurukan.Keragaman 
begini tidak bisa dielakkan.  Maka akupun bertutur tentang Dayak yang datang ke 
pulau raya bernama Kalimantan  ini dengan  menggunakan Banama Tingang [Perahu 
Enggang] serta tentang kerelatifan  arti "penduduk asli", "pendatang dan bukan 
pendatang".   Jalan keluar dari keterpurukan , kukira adalah menjadikan diri 
sebagai etnik dan manusia bermutu, bukan dengan menuding etnik ini dan itu, 
memahami arti dan perana sistem dan pemerintahan sebagai penyelenggara 
kekuasaan politik.  Keterpurukan adalah hasil dari suatu sitem politik.
   
   
  Guna melihat soal secara jernih aku menganjurkan agar pemuda-pemuda Dayak 
mempelajari sejarah Dayak  dan budaya Dayak dengan cermat.  Melalui studi ini, 
bisa diketahui apa-siapa Dayak dan mengapa sekarang ia terpuruk dan oleh 
Belanda disebut sebagai "Dayakers" , simpul dari segala keburukan, 
keterbelakangan dan kejahatan.  Dayak itu sendiri sebenarnya adalah nama asing 
bagi berbagai sub suku Dayak di Kalimantan. Nama hinaan. Tapi oleh Kongres 
Nasional Dayak di Pontianak, polemik berlarut-larut tentang istilah ini 
dihentikan dengan menyatakan bahwa "iya kami orang Dayak. Hinaan kita sambut 
sebagai tantangan untuk mengisi tantangan ini dengan isi baru". Secara  lain 
sikap ini bisa dikatakan mengobah hal yang negatif menjadi positif. 
   
   
  Dengan semangat inilah, dengan konsep jelas menolak keterpurukan sebagai 
fatalisme maka Yayasan Pancur Kasih Pontianak didirikan. "Dayak dan Kalimantan 
tidak miskin, orang Dayak tidak bodoh, masalahnya bagaimana kita mengelola 
kekayaan pulau untuk memberdayakan diri", ujar Mecer, dosen Universitas 
Tanjungpura, salah seorang pemikir teras dari Pancur Kasih Pontianak.  
Berangkat dari pandangan ini maka Pancur Kasih memulai kegiatan pemberdayaan 
masyarakat Dayak dengan hasil yang sebenarnya tidak kalah dari yang dicapai 
oleh Mo.Yunus dari Bangladesh, peraih Hadiah Nobel Perdamaian.Bahkan jika 
dilihat dari urutan tahun , Pancur Kasih  Pontianak, bergerak jauh lebih dahulu 
daripada Yunus, dan dengan hasil yang tak bisa diremehkan dan bisa bertanding 
dengn hasil yang dicapai Yunus. Bedanya, Yunus lebih diekpos secara 
internasional. Tentu saja , meperoleh Nobel adlaah suatu prestasi terutama bagi 
pribadi penerimanya, tapi kukira yang lebih penting dari Hadiah Nobel adalah
 dampaknya bagi masyarakat.  Arah inilah yang ditempuh oleh Pancur Kasih sampai 
sekarang. Apalah artinya Hadiah Nobel jika masyarakat masih saja terpuruk. 
Ketenaran individu tidak pernah mengeluarkan masyarakat dari keterpurukan. 
   
   
  Paris,  Akhir Musim Dingin 2008.
  ---------------------------------------------
  JJ. Kusni,  pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia Paris.
   
   
  [Bersambung..]  

       
---------------------------------
Tired of visiting multiple sites for showtimes? 
  Yahoo! Movies is all you need


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke