Jurnal Sairara:
   
   
  MENUJU SARAWAK [4]
   
   
   
  Kalbar, khususnya Pontianak, yang tanahnya kuinjak pertama kali pada saat 
Kongres Nasional Dayak tahun 1991, selamanya meninggalkan kesan dan pesan 
tersendiri bagiku.  Pesan untuk bertarung memanusiawikan diri, baik sebagai 
individu maupun sebagai kolektif etnik dan nasion,  yang kutemui rumusannya 
dalam kata-kata Oloh Katingan: "rengan tingang nyanak jata" [anak enggang 
putera-puteri naga] diucapkan dalam "lahap" [pekik pertarungan] dan "takir 
petak" [menumiti bumi]" isyarat bahwa "rengan tingang nyanak jata" menerjuni 
kancah pertarungan dengan semangat "isen mulang" [tidak pulang jika tak 
menang].  Pontianak bagiku adalah seruan untuk sanggup menjadikan  "pengorbanan 
pahit membulatkan tekad yang kuasa menempa surya dan candra bercahya di 
cakrawala baru". Nasehat untuk senantiasa bangun kembali saat terhempas jatuh 
dan kalah, sambil mengebas debu-debu dari tubuh yang luka-luka. Pontianak,  
bagiku adalah simpul dari serangkaian mimpi bersama orang-orang terpuruk yang
 menolak terus terpuruk, dan  yang diharapkan bisa seperti matahari  menyinari 
seluruh pulau, memberi cahaya menghalau keburaman kampung dan kegelapan jiwa 
yang bertaburan di ribuan sungai di mana pun, sebagaimana yang telah dirintis 
oleh Pakat Dayak  dengan jatuh-bangun.  
   
   
  Di Pontianak pun tak terlupakan dan selalu  menyemangati diriku oleh  
kasihsayang orang sesaudara dari anak-anak muda Dayak yang menyanyikan lagu 
"Teluk Bayur" dan"Batu Batangkup" ketika  menyambutku tiba dan melepasku pergi 
melanjutkan kembara tak berujung tanpa tahu akankah sampai "ke pantai ke 
empat".  Lagu kasihsayang yang betapa pun jauhnya langkah membawa diri, tak 
pernah jeda menggaung bersipongang  -- membangun sarang di lubuk hati si anak 
enggang. "Ouee Rara Hasian".
   
   
  Aku sering dikatakan terlalu Dayak, bahkan terlalu berpandangan Dayak 
sentris. Tapi mengapa aku harus membantah bahwa diriku adalah memang seorang 
Dayak, walau pun tidak pernah menjadi Dayak sentris.  Aku memang bermimpi agar 
etnik ini, dan juga etnik-etnik lain, bisa menjadi etnik bermutu yang punya 
sikap berdiri di kampung halaman, memandang tanahair merangkul bumi -- 
menjadikan setiap tapak tanah diinjak sebagai bumi tempat anak manusia bisa 
hidup secara manusiawi. Inilah Dayak modern, Dayak kekinian, Dayak bermutu yang 
kuimpikan.  Tidaklah nista dan tidaklah hina menjadi Dayak apalagi jika sanggup 
menjadi Dayak bermutu. Dayak kekinian. Menjadi Dayak Kekinian, pada akhirnya 
akan membuat etnik dan bangsa hanyalah perbatasan semu  bagi kemanusiaan tapi 
patut dihitung dan diindahkan oleh panarung realis karena ia dilahirkan oleh 
tahap sejarah tertentu. Karena itu dalam diskusi dengan teman-teman dari 
Sabah-Sarawak, aku dengan jelas menampik ide  untuk mengobah perbatasan
 karena bisa jadi  usaha demikian hanya akan menimbulkan korban sia-sia yang 
tak memecahkan soal mendasar Apalagi perbatasan tidak menghalang guna melakukan 
kerjasama saling menguntungkan, apalagi dalam hati "anak enggang putera-puteri 
naga" perbatasan hanyalah sesuatu yang sangat sumir.
   
   
  Menjadi Dayak bermutu dan Dayak kekinian, sebenarnya sekaligus suatu 
tanggungjawab. Sebab siapakah yang paling bertanggungjawab atas 
timbul-tenggelamnya suatu etnik jika bukan putera-puteri etnik itu sendiri? 
Tanggungjawab ini, kukira akan menjadi "banama tingang" yang membawa pulang 
putera-puteri yang di luar, seusai mereka menimba pengetahuan dari "Tamuei si 
Kayau Pulang" [Kembara Si Kayau Pulang] , sehingga dengan demikian sebagai 
penanggungjawab timbul-tenggelamnya kehidupan pulau, dengan menghimpun seluruh 
kemampuan, mereka punya keperkasaan "memungkas gunung",  "menimba mengeringkan 
tasik" yang tertuang dalam legenda lisan para leluhur Dayak. 
   
   
  Dari segi teori dan filsafat pun kukira, tak ada salahnya dan tidak bisa 
dikatakan salah mengaku diri sebagai Dayak, apalagi Dayak Kekinian. Bahkan 
sebaliknya yang keliru adalah mengingkari diri dan malu menjadi diri sendiri.
   
   
  Menyusur jalan-jalan Pontianak, dari bandara Supadio hingga masuk kota, masih 
kulihat ciri Dayak pada bangunan-bangun seperti gubernuran, masing kulihat 
patung enggang tanpa naga. Walau pun ciri dan arsitektur Dayak masih tidak 
semenonjol Palangka Raya. Hanya saja masih lebih tersisa dan nampak 
dibandingkan dengan Samarinda atau Balikpapan. Samarinda dan Balikpapan agaknya 
sudah tidak lagi menjadi kota-kota Dayak, walau terletak di Kalimantan, pulau 
yang sama di mana terdapat Pontianak, Sampit dan atau Palangka Raya.  Tak 
nampaknya ciri Dayak di Balikpapan dan Samarinda barangkali ada tautannya 
dengan komposisi demografis di kedua kota tersebut,  di mana orang Dayak sudah 
tidak lagi dominan. Tapi anehnya, jauh sampai ke Melak, sebuah  kota kecil yang 
 terletak jauh di pedalaman   Sungai Mahakam, aku pun tidak juga mendapat ciri 
Dayak. Perkembangan industri, dan pengaruh luar yang deras,  barangkali telah 
melarutkan ciri-ciri Dayak ini.
   
   
  Menyeberangi jembatan panjang yang menyatukan dua tebing sungai Kapuas Bohang 
[sebagaimana orang Kalteng menyebutnya, untuk membedakan Sungai Kapuas yang 
membelah Kota Kuala Kapuas],  terkesan memang keperkasan sungai Bohang ini. 
Pada riak gelombangnya kudengar memang suara sejarah yang ia sembunyikan di 
lubuknya dan belum di angkat ke permukaan seperti masakre cendekiawan Kalbar 
oleh militerisme Jepang,  riwayat desa Mandor di mana Jepang menderita  
kekalahan pertama di Indonesia, di ujung mandau, tombak dan sumpitan anak 
enggang, putera-puteri naga.  Sungai Bohang pun tahu betapa di Kalbar, terutama 
di pedalaman,  rumah-rumah panjang [betang] dihancurkan dengan alasan tidak 
hiegienis, tak sesuai adab Pancasila, dan lain-lain , dan lain-lain dalih, yang 
mendiskreditkan  budaya Dayak, sebagai selubung politik keamanan oleh Orde Baru 
untuk memadamkan perlawanan Paraku [Pasukan Rakyat Kalimantan Utara] dan PGRS 
[Pasukan Geriliya Rakyat Sarawak] yang beroperasi di sepanjang
 perbatasan Malaysia- Indonesia.Pada saat ini pulalah  muncul istilah 
"membudayakan suku terasing".  Dan masih banyak lagi kisah sejarah lain yang 
mengendap bersama humus dedaunan rontok di lubuk Kapuas Bohang.  Terkadang 
kisah-kisah itu sengaja dibiarkan mengendap di lubuk karena kita takut  pada 
sejarah sendiri.  Takut dan gemetar membaca sejarah sendiri. Kita ngeri melihat 
wajah berborok kita sendiri di kaca sejarah. Lalu kita pun berlagak lupa 
padahal lupa pada sejarah akan berdampak jauh, apalagi jika kita sepakat dengan 
Benedetto Groce bahwa "sejarah itu selalu kontemporer". Sejarah itu selalu 
aktual. 
   
   
  Kapuas Bohang memang perkasa seperkasa Mahakam, Barito, Kahayan dan Kapuas 
atau Mentaya. Seperkasa dan serahasia  ratusan bahkan ribuan  sungai-sungai 
besar dan kecil Borneo  yang lain. Putera-puteri sungai, sayangnya masih 
dikalahkan dan masih dipandang bocah oleh sungai-sungai ini. Bocah yang belum 
bisa menaklukkannya, belum bisa memaksimalkan kekayaan dan kemungkinan yang 
disediakan oleh sungai-sungai ini. Yang bisa adalah perusakan demi perusakan, 
sungai salah satu sumber kehidupan putera-puteri sungai.  Pontianak yang 
dibelah oleh Kapuas Bohang, sungai raya, pada musim kemarau malah kekurangan 
air. Aku merasakan benar secara langsung bagaimana, untuk mandi di kamar mandi 
hotel pun, mengalami kesulitan pada musim kemarau. Orang-orang antri untuk 
mendapatkan air dari Perusahaan Air Minum Daerah. Restoran-restoran bahkan 
terpaksa masak menggunakan air dari botol "Aqua".  Aku memandang  Kapuas 
Bohang, sebagai putera sungai, sebagai anak naga yang kalah di hadapan
 keperkasaan sungaiku. Berkaca di permukaannya, aku merasa diri tak lebih  dari 
seorang anak Pang Palui , tokoh yang melambangkan kebodohan di sastra lisan 
Kalteng. Melihat wajahku di air sungai, aku merasa benar "batu kedunguan" masih 
bersarang di kepalaku. 
   
   
  Lihatlah, Rara, lihatlah. Betapa manusia Dayak, melalui kisah Pang Palui, 
sesungguhnya  sejak lama  sanggup menertawakan diri. Apakah kesanggupan ini 
masih terdapat pada generasi sekarang yang memandang posisi pegawai negeri 
sebagai pekerjaan dambaan dan idola? Yang sejarah kampung sendiri tidak mereka 
ketahui? Gong dan kangkanong, gandang, kecapi, suling balawong  serta sansana, 
larut di arus sungai dilempar oleh rock 'n roll bergaung melalui parabola 
hingga jauh  ke hulu. Pada saat menyempitnya bumi menjadi sebuah "desa kecil", 
kita makin kehilangan diri. Menjadi bilis-bilis kecil santapan ikan-ikan besar 
. Orang-orang tidak berinsiatif tapi mereaksi. Orang-orang tidak membidas tapi 
mengekorn hanyut di arus. Bukan seperti May Swan pengarang Indonesia-Singapura 
yang berseru "Against the Wind", brothers and sisters! "Stand up! Stand up!" 
seru Bob Marley.
   
   
  Sebelum meninggalkan Kapuas Bohang dan  kampung Bakar Jagung, di mana aku 
sering bermain dengan Romang, bocah lelaki lucu dan cerdik yang saban subuh 
menggabung tidur bersamaku,  aku kembali merenungi Kapuas Bohang melihat diriku 
yang kalah tapi menolak menyerah. Pada riak gelombang di kaki jembatan dan di 
tebing-tebing, kudengar riak gelombang itu seperti suara seorang ibu pada 
anaknya mendorong menyemangatiku agar tak urung janji sebagai "anak enggang 
putera-puteri naga".  Aku hanya bisa mengatupkan bibir kuat-kuat tanpa berucap, 
ketika mengambil bus malam menuju Sarawak, apalagi melihat pulau lahirku dijual 
diperjajakan secara tak bertanggungjawab atas nama Republik dan Indonesia.  
Padahal kutahu ini pulauku. Padahal kutahu ini pulau lahirku. ***
   
   
  Paris,  Akhir Musim Dingin 2008.
  ---------------------------------------------
  JJ. Kusni,  pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia Paris.
   
   
  [Bersambung..]  

       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke