Jurnal Sairara:
   
   
  MENUJU SARAWAK [6]
   
   
  Fajar  sudah di langit ketika aku tiba di perbatasan. Perbatasan dua negara. 
Perbatasan di satu pulau. Sementara di hati penduduknya, terutama yang Dayak, 
perbatasan ini tidak ada. Aku tertawa pahit sendiri mengenang sejarah 
terjadinya perbatasan ini. Kalimantan Utara yang oleh seluruh Dayak dipandang 
sebagai bagian dari "Borneo Tanahairku", dipisah dari bagian  pualu lainnya 
oleh sejarah. Kalimantan Utara [Kaltara] dijual oleh Belanda kepada James Brook 
karena menganggap Kaltara sebagai daerah yang tidak punya apa-apa untuk 
dieksploatasi oleh Belanda sebagai  bangsa pedagang primer. Ketika Soekarno 
mencetuskan konfrontasi di bawah slogan "Ganyang Malaysia" dan terjadi 
Permberontakan Azahari [secara tak terduga aku berjumpa dengan tokoh ini di  
satu lift sebuah hotel di Beijing tahun 60an], satu batalion Dayak dari 
Kalimantan Indonesia,   berangkat ke Utara dengan semangat membantu sesama 
Dayak. Kuketahui hal ini dari sumber keluarga, yang kebetulan berada pada posisi
 penyelenggara propinsi pada waktu itu. Saling bantu antara Dayak Utara dan 
Dayak Kalimantan Indonesia berlangsung sampai sekarang. Terutama pada saat 
"mangkok merah" [isyarat orang Dayak berada dalam keadaanperang] diletakkan. 
Peletakan "mangkok merah" darah adalah pemberitahuan ke seluruh Dayak bahwa 
Dayak diancam bahaya perang.  Solidaritas sesama Dayak ini kurasakan dan 
kusaksikan sendiri, ketika di luar mauku aku berada di tengah konflik etnik 
tahun 2000. Telpon rumah kontrakanku tidak henti berdering dari berbagai 
daerah, menanyakan: Apakah Kalteng memerlukan bantuan, yang kujawab 
sederhana:Tidak! Kami bisa menangani sendiri masalah Kalteng. "Kami siap 
pasukan!". Dan kembali kukatakan : Terimakasih, kami bisa atasi sendiri soal di 
Kalteng.
   
   
  Yang ingin kutunjukkan dengan tuturan begini, bahwa di kalangan Dayak, 
perbatasan negara adalah perbatasan semu. Perbatasan di hati yang tak pernah 
bisa dikawal dan di pagar oleh pasukan Republik dan Kerajaan betapa pun 
rapatnya.  Aku kira, keadaan begini merupakan modal penting untuk menggalang 
kerjasama manusawi di pulau raya, pulau keempat terbesar di dunia. Tanpa usah 
mengobah atau meniadakan perbatasan legal seperti yang pernah diusulkan 
kepadaku pada tahun 1991 serta tahun 2000 di Palangka Raya. Sampai sekarang aku 
menganggap  bahwa ide "Borneo Merdeka" sebagai ide tidak tanggap zaman 
dibandingkan dengan konsep Republik Indonesia. Tidak relevan. Walaupun 
teman-teman dari GAM mendorong-dorongku menerima ide ini [lihat: JJ.Kusni: 
Seorang Dayak Memandang Masalah Kemerdekaan", di majalah RD Jakarta nomor 
terakhir].
   
   
  Adanya rencana membangun jalan dan kereta-api trans-Borneo, kukira akan  
berdampak besar bagi kerjasama seluruh pulau. Masalahnya terletak pada 
pertanyaan terletak pada Quo Vaids? Ke mana dan  untuk apa serta diapakan jalan 
dan kereta-api trans Borneo ini nanti? Yang pasti ia akan mempunyai dampak di 
berbagai sektor kehidupan, seperti yang sekarang terlihat dengan gencarnya 
penjualan tanah di tempat-tempat stragegis. Di masa depan, jalan darat akan 
menggantikan fungsi sungai. Malangnya, tanah-tanah di sekitar jalan  banyak 
yang sudah dijual oleh orang Dayak kepada pihak luar  demi kepentingan se jauh 
ujung jari belaka. Kukira, kejadian begini, merupakan salah satu petunjuk lain 
lagi tentang keterpurukan orang Dayak, sekaligus tentang ketidakmampuan manusia 
Dayak melihat jauh setelah alamnya dihancurkan. Sementara keadaan berkembang, 
mereka masih berada di masa "rumah betang" dan alam yang memanjakan mereka 
dahoeloe. Dayak kehilangan diri mereka. Belum tahu, apa yang harus
 mereka lakukan untuk menanggap perkembangan. Keadaan begini oleh orang Banjar 
dikatakan ketika menyebut Palangka Raya sebagai "Palang Terbuka", dan orang 
Batak  Kalteng menyebut sifat  Dayak kurang solidaritas dalam keadaan damai, 
yang suka "hakayau kulaae" [saling memotong kepala orang sesaudara] sebagai 
"semangat jago yang menguntukan bebek". Semangat merasa diri semua sebagai 
"pangkalima" agaknya berbau narsisme, tinggalan pemanjaan alam yang sekarang 
sudah rusak. Etos kerja yang tak membanggakan pun, barangkali bermuara dari 
pemanjaan alam ini. Pandangan bahwa mendapatkan kerja sebagai "pegawai negeri" 
yang dominan, barangkali, juga berakar dari tinggalan dari pemanjaan alam ini. 
"Lebih terhormat menjadi pengantar surat walau pun jadi pekerja upahan harian, 
daripada mengelola restoran", adalah ucapan yang membekas di ingatanku ketika 
aku membangun restoran koperasi dan pusat budaya Dayak : "Utus Itah" di 
Palangka Raya. Koperasi Restoran terbaik di Kalteng tapi dijual
 setelah tiga bulan Kalteng kutinggal, tanpa memberitahuku secara resmi sampai 
sekarang.  Aku malah dituduh korupsi ketika menggunakan gajiku sendiri yang 
minim dibandingkan yang kudapatkan di Perancis. Jika Dayak mau tanggap zaman, 
maka Dayak harus jadi etnik bermutu dan mawas diri dengan keras. Gelar sarjana 
, apalagi hanya setingkat S1, bukanlah  petunjuk bahwa  Dayak sudah bermutu. 
Otak!Hati!Wawasan, yang patut dibersihkan. Tanpa pembersihan ini, aku tak yakin 
, Dayak akan bisa bermutu dan tanggap zaman. Paling-paling akan menjadi "jipen 
kekinian" [budak kekinian] dengan kamuflase rupa-rupa ujud.
   
   
  Begitu bus ke Sarawak-ku berhenti di daerah Malysia, aku segera turun bus dan 
mengambil beberapa foto dengan kamera kunoku. Yang jelas dan sangat jelas 
penampilan fisik duane Indonesia dan Malaysia sangat beda. Penampilan daerah 
perbatasan Indonesia nampak sangat kumuh, jorok dibandingkan dengan duane 
Malaysia.  Padahal daerah perbatasan adalah cermin dan pintu pertama saat 
memasuki sebuah  negeri. Pintu pertama untuk membaca sebuah negeri, betapa pun  
dari segi gejala.Indonesia seakan acuh tak acuh pada ciri ini.
   
   
  Di duane, sebelum memberiku visa,  petugas imigrasi menanyaiku untuk apa aku 
ke Kuching. Kujawab untuk studi banding. Mentereng memang istilah yang 
kugunakan, tapi memang itulah maksudku ke Kuching. 
   
  "Mau berapa lama?" tanya petugas imigran Malaysia dengan ramah.
   
  "Empat hari!" , jawabku tanpa ragu.
   
  "Aku kasih enam bulan", tukas petugas imigrasi sambil membubuh stempel.
   
  "Terimakasih atas kebaikan hati".
   
  "Kita kan orang sepulau", jawab petugas imigrasi.
   
  "Masih berartikah hal ini bagi Tuan?", tanyaku.
   
  "Tentu saja,tentu saja. Sangat berarti". 
   
  Sepintas aku melirik daftar cekal yang dikirim pemerintah Indonesia yang ada 
di meja petugas imigrasi Malaysia ketika memeriksa pasporku. 
   
  "Buset", ujarku pada diri sendiri ketika membaca nama-nama orang Indonesia 
yang dicekal oleh Orba itu. Heran juga , bahwa namaku tidak terdapat dalam 
fdaftar cekalan itu. 
   
  Cekal, daftar cekal mengingatkan aku akan keadaan yang menimpa diriku dan 
banyak penerima beasiswa yang dikirim oleh Pemerintah Soekarno untuk kemudian 
membangun negeri. Paspor dicabut dan menjadi stateless, kemudian jadi "orang 
klayaban". Tenaga-tenaga ahli Indonesia ini kemudian dimanfatkan oleh berbagai 
negeri tanpa mengeluarkan beaya pendidikan mereka.  Tenaga-tenaga ahli begini 
jugalah yang banyak dibinasakan secara fisik dan dikirim ke pulau pembuangan 
Buru atau Nusakambangan, serta penjara puluhan tahun oleh Orba, yang oleh 
sementara orang dibilang berjasa pada negeri dan bangsa. Pada masa Orba, 
Indonesia merupakan negeri penjara dan kuburan tanpa tanda bagi 3 juta [angka 
Jendral Sarwo Eddi yang turut aktif  melakukan masakre] orang yang di masakre. 
Karena itu aku merasa bahwa  cinta dan mimpi itu sesungguhnya senantiasa 
bertaruhkan kepala, apalagi mencintai tanahair.Kecuali kalau cinta yang 
disertai oleh rangkaian mimpi itu tidak lebih dari celoteh remaja puber di
 tengah periode "sturm und drank".  Tapi cinta pubertas begini, kukira,  tidak 
menjadi keperluan dan kerinduan negeri dan bangsa yang menagih tanggungjawab 
seharga nyawa.
   
   
  Usai urusan di imigrasi perbatasan aku melanjutkan perjalanan  busku menuju 
Kuching, ibukota Sarawak. Matahari sudah makin tinggi di atas hijau hutan yang 
mengapit jalan ke Kuching. Dingin subuh tertinggal di hutan-hutan dan jalan di 
belakang busku. Terbayang juga alangkah baiknya jika aku bepergian bersama 
anakku dan ibunya. Aku akan  bisa berkisah tentang Borneo dan mimpi Borneo dari 
zaman ke zaman. Suatu romantisme sederhana alami. Aku ingin anakku, baik yang 
kembar dan tidak kembar, tidak kehilangan akar Dayak dan Borneonya saat ia 
menghadapi dunia. Menjadi diri sendiri, tidak mungkin terujud tanpa sejarah dan 
akar budaya. Dayak, Indonesia adalah salah satu akar dari pohon raksasa budaya 
dunia. ***
   
   
  Paris,  Akhir Musim Dingin 2008.
  ---------------------------------------------
  JJ. Kusni,  pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia Paris.

       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke