Quote:
"..
Masalah utama rakyat kecil dalam setiap kenaikan harga BBM bukanlah
semata-mata naiknya barang yang dimaksud, melainkan adalah kenaikan
harga-harga lainnya. Titik. Di sisi lain, kenaikan harga-harga barang pokok
itu tidak diimbangi dengan kenaikan tingkat pendapatan mereka.
Kita sering dengar rakyat menjerit, "Gaji tetap, harga meningkat." Nah
inilah
yang disebut sebagai derita rakyat itu. Problem BBM selalu membawa
konskuensi beratnya beban hidup masyarakat. Apalagi jumlah pengangguran
diperkirakan akan bertambah, dan demikian pula dengan angka kemiskinan.
.."

Inilah prestasi penguasa di RI.. mampu menaikkan harga barang" non-bbm,
hanya
dengan menaikkan harga BBM.. Penentuan harga BBM dalam negeri sendiri
mengacu
pada harga BBM di LN (mis: spore).. tapi giliran kemampuan memberikan
pendapatan
per kapita yang sama dengan di LN, boro-boro? Padahal negara ini memiliki
kekayaan
SDA yang lebih besar dibanding kebanyakan negara lain (termasuk spore yang
jadi
acuan soal harga BBM)..

Masih ada yang mampu membela kepentingan rakyat/wong cilik atau gak, sih?
:-|

Wassalam,

Irwan.K

---------- Forwarded message ----------
From: HKSIS <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, Feb 27, 2008 at 8:30 AM
Subject: Rakyat, Kambing Hitam Kebijakan BBM

   *http://www.sinarharapan.co.id/berita/0802/26/opi01.html*

*Rakyat, Kambing Hitam Kebijakan BBM*



Oleh
Benny Susetyo

Pemerintah kabarnya berencana membatasi pemakaian BBM bersubsidi pada Mei
2008 dengan menggunakan smartcard yang dibagikan mulai April 2008. Dengan
smart card, masyarakat bisa membeli BBM bersubsidi sesuai jatah. Namun jika
memerlukan BBM tambahan, si pengguna kartu harus mengeluarkan dana tambahan.
Langkah ini diharapkan mampu mengurangi subsidi BBM Rp 10 triliun.
Situasi ini sebenarnya menunjukkan kepanikan pemerintah dalam mengatasi
kebutuhan rakyat yang mendasar, yakni masalah energi. Bila hal ini
diberlakukan tanpa pertimbangan yang matang dari berbagai aspek dan dimensi,
dikhawatirkan justru solusi ini menjadi problem baru di tengah masyarakat.
Masyarakat mengalami kesengsaraan baru, setidaknya harga akan melonjok
begitu tinggi karena pembatasan bahan bakar akan menimbulkan masalah dalam
hal distribusi barang-barang.
Kebijakan ini pada akhirnya potensial memicu kekacauan. Kebijakan pembatasan
konsumsi BBM tanpa memperhatikan aspek sosial kemasyarakatan akan memicu
kekacauan publik. Masyarakat akan mengeluarkan anggaran 70% untuk kebutuhan
BBM nonsubsidi, dan jika menggunakan BBM bersubsidi melebihi jatah harian.
Jumlah kenaikan orang miskin akibat salah kebijakan BBM sudah sering
dialami. Sampai saat ini negara belum menemukan solusi yang tepat bagaimana
menciptakan alternatif untuk mengatasi solusi ini.
Atas dasar pengurangan subsidi, negara selalu mengorbankan rakyatnya. Di
sisi lain, tidak ada langkah revolusioner, misalnya bagaimana memberantas
semaksimal mungkin jumlah korupsi di negeri ini. Dana yang diselewengkan
koruptor bila digunakan secara tepat justru akan jauh lebih efektif daripada
selalu menjadikan rakyat sebagai kambing hitam subsidi BBM. Di sisi lain
kebijakan pembatasan BBM justru potensial menimbulkan korupsi baru, misalnya
distribusi secara gelap. Kekhawatiran ini perlu disampaikan sebagai
bagaimanapun juga aroma birokrasi kita masih sangat korup.

Subsidi Tepat Sasaran?
Selama ini kebijakan BBM Indonesia tidak pernah memikirkan solusi jangka
panjang. Misalnya kita ingat bagaimana uang negara-negara
"dihambur-hamburkan" kepada rakyat miskin beberapa tahun lalu dengan model
sinterklas. Sudahkah dievaluasi sejauh mana orang miskin berkurang dengan
model seperti itu? Alasan pemerintah untuk menaikan harga BBM adalah supaya
biaya subsidi bisa diberikan tepat sasaran, yakni kepada mereka yang miskin.
Alasan yang dikemukakan ini memang begitu rasional dan logis. Logika yang
dipakai pemerintah selama ini, bahwa yang menikmati harga BBM tersubsidi
adalah hanya orang kaya.
Pertanyaan yang mendasar adalah apakah pilihan untuk menaikkan harga BBM
sungguh-sungguh mempunyai pengaruh untuk mengurangi kemiskinan? Apakah
dengan kenaikan harga BBM, rakyat miskin bisa menikmati biaya pendidikan dan
kesehatan murah, bahkan gratis? Pertanyan inilah yang pertama-tama
seharusnya dipersiapkan untuk dijawab terlebih dahulu. Pemerintah harus
memiliki kredibilitas yang kuat untuk menyakinkan publik bahwa kenaikan
harga BBM memang dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteran kaum miskin. Ini
perlu ditegaskan dengan tepat. Bukan semata-mata dengan pembuktian
berdasarkan angka-angka yang bagi publik sulit untuk dinalar. Nalar publik
sebenarnya sangat sederhana, yakni berharap bahwa kenaikan harga BBM harus
diimbangi dengan pelayanan publik yang lebih efisien dan murah.
Realitasnya, kenaikan harga BBM sering tidak diimbangi dengan kemudahan bagi
orang miskin dan perbaikan fasilitas umum. Ada kecenderungan bahwa dana
kompensasi yang ada kurang tepat sasaran karena disalahgunakan untuk
kepentingan di luar hal ini. Inilah yang membuat publik selalu ragu bahwa
kenaikan harga BBM akan mengurangi kaum miskin. Dua hal yang menurut publik,
dalam kenyataannya, selalu bertolak belakang dan tak ada buktinya di
lapangan secara kongkret. Kenaikan harga BBM sering tidak dimbangi dengan
penghapusan praktek pungli yang melekat dalam diri birokrasi dan pelayanan
publik.
Ketidakmampuan pemerintah menghapuskan biaya tinggi (hight cost) inilah yang
membuat kebijakan kenaikan harga BBM tidak mengubah nasib kaum miskin. Kaum
miskin hidupnya semakin tersisih dalam daya tawarnya terhadap kekuatan
global yang sekarang ini telah merasuki kekuatan politik dan pasar. Kekuatan
global ini sekarang telah menguasai hajat hidup kehidupan ekonomi kita.

Minus Empati
Ini terjadi karena ketidakmampuan elit politik dalam rangka membangun
kemandirian ekonomi bangsa. Elit politik yang ada saat ini tidak memiliki
kemampuan untuk membaca sebuah perubahan tata dunia global. Dan lebih
jelasnya, mereka tidak memiliki visi yang akurat ke arah mana kaum miskin di
negaranya akan diarahkan untuk berkompetisi dalam pasar global.
Memang dalam setiap kebijakan BBM, yang sulit dilakukan oleh pemerintah
adalah bagaimana berempati terhadap kesusahan rakyat. Karena itulah meskipun
terdapat berbagai argumen yang sangat ilmiah dan rasional tentang alasan
menaikkan harga BBM, rakyat tetap tidak bisa menerimanya.
Meskipun alasan pemerintah sangat logis, di mana pemerintah tidak lagi
seharusnya menyanggah subsidi BBM yang begitu berat dan perlu diturunkan
tahun per tahun, tetapi alasan menaikkan BBM itu hanya berpreferensi pada
kepentingan pemerintah. Rasa empati apa yang terjadi di kalangan rakyat
kecil tidaklah terlalu menjadi urusan pemerintah. Jadi, bukanlah kebijakan
menaikkan harga BBM itu yang salah secara teoritis, melainkan kelalaian
pemerintah memberikan peluang untuk peningkatan ekonomi rakyat itulah yang
salah secara teoritis dan praktis.
Masalah utama rakyat kecil dalam setiap kenaikan harga BBM bukanlah
semata-mata naiknya barang yang dimaksud, melainkan adalah kenaikan
harga-harga lainnya. Titik. Di sisi lain, kenaikan harga-harga barang pokok
itu tidak diimbangi dengan kenaikan tingkat pendapatan mereka. Kita sering
dengar rakyat menjerit, "Gaji tetap, harga meningkat." Nah inilah yang
disebut sebagai derita rakyat itu. Problem BBM selalu membawa konskuensi
beratnya beban hidup masyarakat. Apalagi jumlah pengangguran diperkirakan
akan bertambah, dan demikian pula dengan angka kemiskinan. Di sisi lain
terdapat ketidakjelasan orientasi pemerintahan dalam pemulihan ekonomi.
Kebijakan BBM terkait dengan berbagai kebijakan pemerintah lainnya. Menaikan
harga BBM dengan cara apapun seharusnya juga memaksa pemerintah berpikir
keras untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Penguasa tak
bergeming ketika dihadapkan logika bahwa angka kemiskinan bukannya menurun
tapi sebaliknya akibat berbagai kebijakan BBM. Mengapa beban berat selalu
rakyat yang menanggung, sementara keuntungan tetap diraih oleh para
penguasa? Inilah yang tak pernah bisa kita mengerti dari perilaku sebagian
besar elite Indonesia.

Penulis adalah Pendiri Setara Institute.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke