http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.02.29.17030281&channel=1&mn=15&idx=16

Untuk Pertama Kalinya, Minyak Tembus 103 Dollar AS!

SINGAPURA,JUMAT - Harga minyak mentah dunia menembus level 103 dollar AS untuk 
pertama kalinya, seiring dengan pelemahan dollar AS dan perkiraan akan turunnya 
kembali suku bunga Federal Reserve, sehingga menarik dana segar ke pasar 
minyak. Harga minyak mentah jenis light sweet pengiriman April sempat meloncat 
untuk menciptakan rekor tertinggi pada 103,05 dollar AS per barrel di pasar 
Asia, sebelum kembali turun ke 102,79 dollar AS.

Kenaikan harga minyak didukung oleh pernyataan Ketua the Fed, Ben Bernanke yang 
menyebutkan perekonomian AS tidak akan segera terancam oleh stagflasi (situasi 
dimana pertumbuhan ekonomi melemah tetapi inflasi meningkat). Investor 
memandangnya pernyataan Ben sebagai sinyal the Fed akan kembali menurunkan suku 
bunga untuk menolong perekonomian AS.

Turunnya suku bunga akan memicu pelemahan dollar AS dan pasar minyak menawarkan 
jaminan terhadap melemahnya dollar AS. "Terkait pelemahan dollar AS dan 
meningkatnya kekhwatiran inflasi, investor harus menaruh uangnya di komoditas, 
termasuk di minyak," sebut analis energi Purvin & Gertz Singapura, Victor Shum, 
seperti dikutip AP.

Shum menyatakan harga yang meggelembung membahayakan pasar berjangka minyak, 
karena investor mengabaikan fundametal pasar, seperti cadangan minyak AS yang 
terus meningkat serta beberapa prediksi bahwa pertumbuhan permintaan terhadap 
minyak akan menurun karena adanya pelambanan ekonomi.

Shum juga memperingatkan kemungkinan adanya koreksi tajam. "Saat ini, 
perdagangan lebih berdasarkan emosi, emosi sedang tinggi dan itu dapat membantu 
meningkatkan harga minya. Namun pasar menghadapi risiko jatuhnya harga," 
sebutnya.

Di lain pihak, Jepang, Jumat (29/2), meminta organisasi negara pengekspor 
minyak (OPEC) untuk meningkatkan produksi minyaknya untuk menekan harga tidak 
terlalu tinggi. "Tingginya harga minyak secara bertahap akan mengancurkan 
perekonomian dunia, yang juga akan merusak ekonomi negara-negara penghasil 
minyak," tegas Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Akira Amari.

OPEC yang akan bertemu pada 5 Maret ini di Viena, Austria, sepertinya tidak 
akan mengubah tingkat produksi minyak mereka, sebagaimana disebutkan Presiden 
OPEC Chakib Khelil. Menurut Khelil, persedian minyak terus meningkat dan 
naiknya harga minyak saat ini karena melemahnya dollar AS dan spekulasi  selain 
risiko geopolitik.


      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke