Berbagai kenaikan harga barang termasuk pangan di
Indonesia yang ”mengikuti” harga Internasional di
Pasar Singapura dan New York akhirnya menimbulkan
korban jiwa yang mati akibat kelaparan.

Hari Sabtu 2 Maret 2008 di Indosiar dan SCTV
diberitakan seorang ibu yang tengah hamil 7 bulan dan
anaknya yang berusia 5 tahun mati kelaparan di
Makassar, sementara anaknya yang berumur 4 tahun dalam
keadaan kritis di Rumah sakit karena kelaparan.
Suaminya yang tukang becak juga dirawat di Rumah Sakit
karena kelaparan.

Ini karena para pengusaha, ekonom yang mempengaruhi
kebijakan pemerintah, dan pemerintah selalu mengacu
pada ”Harga Internasional” yang ada di Pasar
Singapura dan New York. Mereka tak sadar bahwa
penghasilan mayoritas rakyat Indonesia tidak setinggi
penghasilan rakyat Singapura dan warga New York.
Akibatnya karena tak mampu membeli pangan, sebagian
rakyat Indonesia mati kelaparan. Menurut VHR Media,
50.000 rakyat Indonesia bunuh diri karena kemiskinan
selama 3 tahun. 

GNP per kapita rakyat Singapura per tahun US$ 21.230,
rakyat AS US$ 37.870, sementara Indonesia hanya US$
810. Penghasilan mereka 26 kali lipat lebih banyak
dari rakyat Indonesia. Jadi kalau rakyat Indonesia
dipaksa membeli barang/makanan dengan harga sama
seperti di Singapura dan AS, niscaya rakyat Indonesia
KO dan berguguran. Sebagai contoh, jika biaya minimal
kebutuhan pangan besarnya US$ 5.000 per tahun, maka
penduduk Singapura dan AS bisa membelinya dan masih
dapat menabung US$ 16.000 lebih per tahun. Namun
penduduk Indonesia tidak mampu. Mereka hanya dapat
membeli sebanyak US$ 810 atau  kurang dari 1/6
kebutuhan minimal. Tak heran jika banyak penduduk
Indonesia kelaparan.

Apalagi pendapatan keluarga yang ada di Makassar itu
tidak sampai US$ 810 per tahun. Dalam sebulan paling
hanya Rp 300.000 (kalau penghasilan masih Rp 500 ribu
per bulan masih belum mati kelaparan) atau kurang dari
US$ 32 per bulan. Dengan 4 anggota keluarga, maka
”GNP per capita” keluarga tukang becak tersebut
hanya US$ 96 per tahun!

Berbagai berita tentang kemiskinan rakyat Indonesia
sehingga anak SD umur 11 tahun bunuh diri karena tidak
tahan sakit maag yang diderita akibat hanya bisa makan
1 kali sehari, dsb bisa dibaca di sini:
http://infoindonesia.wordpress.com/category/kemiskinan

Meroketnya harga beras hingga Rp 5.000/kg dan kedelai
dari Rp 3.500/kg menjadi Rp 8.000/kg disertai dengan
hilangnya minyak tanah bersubsidi (kompor dan tabung
gas cukup mahal bagi mereka) membuat kehidupan warga
miskin cukup sulit. Minimal untuk makan ”MENTAH”,
keluarga dengan 4 anggota keluarga harus mengeluarkan
Rp 400.000 per bulan. Pemerintah tak mampu memberi
subsidi langsung karena kebocoran, kurangnya disiplin
petugas (pembagian beras untuk orang miskin paling
cuma 2-3 bulan sekali), serta lokasi sebagian warga
miskin yang cukup terpencil.

Pemerintah sepertinya kurang peka terhadap kemiskinan
yang diderita sebagian warganya. Kenaikan harga BBM
yang bertubi-tubi disertai kenaikan tarif tol akhirnya
memicu kenaikan harga-harga barang lainnya. Kalau ada
yang demo, paling cuma sebenar. Mungkin begitu pikir
pemerintah. Ada segelintir demonstran yang memprotes
kenaikan harga, namun diabaikan. Mayoritas rakyat
sendiri tidak melakukan demonstrasi karena sudah
apatis. Untuk apa capek-capek demo toh tidak akan
didengar.

Kenaikan harga barang yang terus menerus apalagi besar
kenaikannya sampai begitu tinggi (30% lebih per tahun)
akan semakin memiskinkan rakyat karena pendapatan
rakyat belum tentu naik lebih dari 5% per tahun.
Rakyat yang dulunya tidak miskin, dengan kenaikan
harga barang yang tinggi dan terjadi terus menerus
bisa saja sekarang tergolong miskin.

Saya akan mencoba agar tulisan ini tidak sekedar
mengemukakan fakta yang ada. Tapi sebisa mungkin
menganalisa penyebabnya sambil berusaha memberikan
solusinya.

Harga minyak goreng di dalam negeri naik karena harga
Internasional naik, begitu pernyataan yang sering kita
dengar. Kalau kita tidak menghasilkan kelapa sawit dan
minyak goreng sebagai turunannya hal ini wajar karena
kita harus beli dari luar negeri dengan harga
Internasional. Tapi kita punya banyak kelapa sawit dan
pabrik minyak goreng sehingga merupakan eksportir
terbesar di dunia. Kenapa harga minyak goreng di dalam
negeri harus mahal? Harga minyak goreng meroket dari
Rp 6.000/kg menjadi Rp 11.000/kg hanya dalam tempo
kurang dari 6 bulan. Dan sekarng minyak goreng
melonjak jadi RP 12.000/kg.

Tidak bisakah pengusaha kelapa sawit dan minyak goreng
di Indonesia menjual produk mereka seharga Rp
12.000/kg di luar tapi di dalam nengeri cukup Rp
8.000/kg?

Memang sulit untuk merubah pola pikir kapitalis. Kalau
bisa untung lebih, kenapa harus kurang? Ini bisnis
bung! Ini pola pikir standar para kapitalis.

Untuk itu pemerintah harus berani bertindak tegas.
Memang ini sangat sulit mengingat sebagian pejabat
sendiri justru adalah kapitalis bahkan ada yang
menjadi pengusaha perkebunan kelapa sawit. Perlu
kesadaran yang tinggi dari pemerintah untuk ini. Pada
kasus Minyak Goreng, pemerintah hanya bisa mengenakan
pajak Ekspor sebesar 10%. Artinya kalau di luar negeri
harganya Rp 12.000/kg, maka di dalam negeri masih Rp
12.000-(10%x12.000) atau Rp 10.800/kg. Meski
pemerintah menghilangkan PPN sebesar 10%, harganya
tetap segitu

Agar harga minyak goreng bisa turun hingga Rp
8.000/kg, minimal pemerintah mengenakan Pajak Ekspor
sebesar 35%. Tapi mampukah pemerintah melakukan itu?
Terhadap warga miskin mungkin pemerintah bisa
bertindak tegas misalnya dengan menggusur rumah
mereka. Tapi terhadap pengusaha berduit di mana
beberapa di antaranya bahkan ada yang jadi menteri,
apa bisa? Di perlukan pemimpin yang kuat untuk ini.

Pajak Ekspor bisa dikenakan pada produk-produk lain
yang sangat penting bagi rakyat banyak. Selain bisa
membuat harga lokal semakin murah, juga meningkatkan
pendapatan negara dari sektor pajak.

Untuk kasus kedelai yang meroket harganya dari Rp
4.000/kg menjadi Rp 8.000/kg kasusnya agak sedikit
lain. Tidak seperti kelapa sawit dan produk
turunannya, 60% kedelai diimpor dari AS oleh
segelintir importir. Meski ada yang bilang kenaikan
harga terjadi karena harga di luar negeri naik, tapi
para pengusaha tahu dan tempe menuduh kenaikan harga
terjadi karena permainan kartel importir kedelai.

Solusi dari ini adalah Indonesia harus memproduksi
kedelai sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.
Sebetulnya Jawa adalah tempat yang ideal untuk menanam
kedelai. Namun pulau Jawa saat ini 7 kali lipat lebih
padat dari Cina. Pulau Jawa yang luasnya 134.000 km
per segi jika dibagi rata ke semua penduduknya yang
berjumlah 135 juta jiwa, maka luas lahan yang didapat
hanya kurang dari 0,1 hektar untuk tiap orang. Jadi
pulau Jawa harus ”dikurangi” jumlah penduduknya
agar setiap orang bisa bertani dengan luas lahan yang
cukup. Caranya adalah dengan memindahkan ibukota
negara Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan Tengah
(lihat artikel pemindahan ibukota di
www.infoindonesia.wordpress.com). Pulau lain yang bisa
jadi alternatif penanaman adalah Sumatera dan
Sulawesi.

Pembukaan lahan pertanian/perkebunan baru selain agar
rakyat Indonesia tidak kekurangan pangan juga
berfungsi untuk membuka lapangan kerja sebagai
petani/pekebun. Ini bisa meningkatkan kemakmuran
bangsa Indonesia.

Kemudian satu lagi penyebab kenapa rakyat miskin ada
yang kelaparan hingga bunuh diri atau mati kelaparan,
yaitu gagalnya pola subsidi langsung yang dilakukan
oleh pemerintah.

Di negara maju atau kaya di mana jumlah penduduk
miskin jumlahnya sedikit (kurang dari 10%), mungkin
subsidi langsung lebih tepat. Tapi di negara Indonesia
yang mayoritas rakyatnya miskin (paling tidak 50%),
pola subsidi langsung sulit diterapkan. Apalagi
tingkat korupsi di Indonesia masih cukup tinggi
sehingga rawan kebocoran. Selain itu banyak penduduk
yang tinggal di daerah-daerah terpencil seperti di
sawah atau bahkan pedalaman di Sumatera, Kalimantan,
dan Papua. Biaya pengiriman subsidi langsung bisa
lebih besar dari jumlah subsidi yang diberikan.
Penjualan beras raskin selain jarang juga sering
mengakibatkan anak-anak dan orang tua terinjak-injak
karena rebutan.

Oleh karena itu untuk produk yang sangat vital bagi
masyarakat misalnya beras dan kedelai, lebih baik
pemerintah mensubsidi untuk semua. Sehingga harganya
terjangkau di seluruh pasar dan dapat dibeli warga
miskin. Untuk mencegah orang-orang kaya membeli beras
dan kedelai yang disubsidi, pemerintah bisa menetapkan
hanya beras kedelai kualitas terendah saja yang
disubsidi. Tapi hendaknya kualitas terendah ini masih
manusiawi. Artinya tetap nyaman dan sehat untuk
dimakan. Jangan yang bulukan dan bau karena justru
menyengsarakan rakyat miskin.

Untuk mengembalikan subsidi yang diterima oleh para
orang kaya, pemerintah bisa menerapkan pajak kekayaan
bagi penduduk yang harta kekayaannya mencapai lebih
dari Rp 2 milyar sebesar 2,5% per tahun.

Untuk subsidi premium juga pemerintah bisa mengatur
agar angkutan umum plat kuning dan juga truk-truk
pengangkut bahan pangan bisa menikmati nya. Jika
tidak, maka harga pangan akan melonjak. Untuk
kendaraan pribadi, diharuskan membeli Pertamax.

Kebijakan pemerintah untuk meminta rakyat agar hemat
BBM juga keliru karena konsumsi BBM di Indonesia sudah
cukup rendah. Semakin rendah pemakaian BBM justru
menunjukkan kurangnya produktivitas satu negara.
Semakin banyak kantor dan pabrik yang tutup, maka
pemakaian BBM akan makin sedikit bukan?

Negara-negara yang perekonomian dan industrinya maju
justru banyak memakai BBM untuk mendukung perekonomian
dan industri mereka meski mereka tidak punya sumber
daya BBM. Contohnya Malaysia konsumsi BBMnya 7,8
barrel per kapita per tahun, AS 25,8, Singapura 59,5,
Korsel 16,3, dan Jepang 15,6. Tiga negara terakhir
tidak punya sumber daya BBM. Mereka cuma pembeli.
Sebaliknya Indonesia yang mengekspor BBM justru
konsumsinya hanya 1,7 barrel per kapita per tahun!

Akibat sulitnya mendapat BBM di dalam negeri, banyak
perusahaan atau pabrik sulit beroperasi di Indonesia.
Bahkan perusahaan-perusahaan asing selain enggan
berinvestasi di sini karena listrik yang kurang dan
sering padam, mereka yang sudah ada di sini
memindahkan pabriknya ke luar negeri. 

Berbagai cara mengurangi kemiskinan yang ada di
http://infoindonesia.wordpress.com/2008/01/15/beberapa-langkah-mengurangi-kemiskinan-di-indonesia
 ada baiknya dicoba. Memang keberhasilan sangat
ditentukan oleh pelaksanaannya karena sebaik apa pun
rencana jika pelaksanaannya buruk niscaya tidak akan
jalan. Tapi ini layak untuk dicoba.

Menaikan harga barang terus-menerus sehingga terjadi
lonjakan harga yang tajam, meminta rakyat untuk hemat
dan hemat listrik dan BBM sementara konsumsi listrik
dan BBM kita sudah termasuk paling rendah hingga
mengurangi produktivitas, dan juga berbagai pajak yang
dikenakan pada rakyat kecil (misalnya selain PBB
pemerintah akan menerapkan Pajak ”Orang” yang
mirip Pajak ”Kepala” Penjajah Belanda) sementara
pemerintah hanya menerapkan pajak yang ringan pada
pengusaha kaya (misalnya Pajak Ekspor Kelapa Sawit dan
produk turunannya hanya 10%), membiarkan kekayaan alam
(migas, emas, tembaga, dll) dikuras oleh
perusahaan-perusahaan asing, tidak adanya upaya
memberdayakan UKM, serta bunuh diri dan matinya warga
karena kelaparan menurut saya merupakan kegagalan Tim
Perekonomian dan juga Kesejahteraan Rakyat. 

Berbagai kebijakan yang mereka buat, bukan
mensejahterakan rakyat, namun justru memiskinkan
rakyat. Oleh karena itu selayaknya Kepala Negara
mengganti Menteri Perekonomian, Keuangan, Perdagangan,
dan Kesejahteraan dengan orang yang lebih baik dan
mampu.

Paham Neoliberalis yang memakai ”subsidi”
langsung, privatisasi BUMN sehingga keuntungan BUMN
lepas dari negara dan diterima segelintir kapitalis,
menyerahkan kekayaan alam untuk kantong pengusaha MNC
terbukti membuat segelintir orang berduit semakin kaya
dan membuat mayoritas rakyat semakin miskin. Oleh
karena itu hendaknya para menteri yang diangkat bukan
dari kelompok Neoliberalis. Tapi yang peduli rakyat.


===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau 
http://syiarislam.wordpress.com


      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke