Date: Thu, 6 Mar 2008 09:37:47 -0800 (PST)
From: heri latief <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Partai Binatang


Partai Binatang

Di Eropa yang lagi hot isunya sekarang adalah soal antiagama “import”.
Padahal jelas terlihat bahwa praktik pertentangan klas di dalam masyarakat
maju pun masih tetap saja terjadi, walau pun secara ekonomi dan sosial
Barat telah berhasil memakmurkan sebagian besar rakyatnya, tapi rupanya masih 
ada yang miskin alias tiarap ekonominya. Sudah tentu kemiskinan
di Eropa, misalnya di Negeri Belanda, lain lagi sifatnya jika dibandingkan
dengan situasi kemiskinan di negeri dunia ketiga seperti Indonesia, tidak adil 
membandingkannya. Kita tahu bahwa antrean minyak tanah tak akan terjadi di 
barat yang cara memasaknya memakai kompor gas atau kompor listrik.

Di Belanda kasus “kemiskinan” disimbolkan melalui pembagian sembako
via pos-pos sosial, namanya Voedselbank. Pos-pos sosial itu terdapat
di beberapa sudut Negeri Belanda, salah satunya di daerah  Amsterdam
Zuidoost. Menurut data statistik 83 persen dari para penerima bantuan ini 
terjerat urusan utang berat, sehingga bantuan tersebut sangat diperlukan. Maka 
bermunculanlah Voedselbank di seluruh negeri Belanda. Saya tadinya tidak 
percaya bahwa di Negeri Belanda juga ada antrean bantuan sembako, tapi setelah 
dipublikasikan media, saya pun maklum, tampaknya perbedaan kelas
yang tajam dalam masyarakat di suatu negara industri mesti tetap ada untuk 
menjaga keseimbangan antara sang kaya dan si miskin. Semua itu tentunya demi 
keuntungan sistem kapitalisme.

Belanda terkenal dengan watak klas pedagangnya, kruideniermentaliteit,
sehingga tidak mengherankan kalau roda ekonomi selalu berputar sejak zaman 
baheula sampai saat ini sesuai dengan semangat jiwa VOC.
Zaman dulu mereka berlayar jauh dari Amsterdam ke kepulauan Nusantara demi 
mencari rempah-rempah dengan aksi ambil untung  gila-gilaan: sebesar 25.00 
persen! Sekarang hanya dengan mengirimkan Unilever saja mereka sudah bisa 
mengeruk keuntungan besar dari jarak jauh tanpa mengeluarkan tembakan sebutir 
peluru pun.

Ruang hidup orang asing di Amsterdam sangat asyik dan penuh toleransi, ini 
mungkin karena Amsterdam terkenal sebagai kota kaum sosialis, liberal 
(pedagang) dan seniman.
Dalam dunia musik Belanda dikenal nama Andre Hazes (almarhum), seorang penyanyi 
rakyat, yang dicintai kawan dan lawan ini karena bersuara merdu. Patung sang 
maestro itu ada di pasar Albert Cuyp, bergaya lagi nyanyi duduk di kursi bar. 
Asli Amsterdamer, bir dan kafe sebagai gaya hidup.

Jangan lupa juga, ide kebebasan dalam arti kata kebebasan dalam memilih
cara hidup sangat dihormati di negeri kincir angin ini. Bahkan di depan gereja 
Westerkerk ada sebuah “Homo Monumen” marmer berbentuk segitiga. Contoh lainnya 
di depan gereja tua  Oudekerk di Zeedijk: ada kamar-kamar buat majang para 
pekerja sex. Di gereja tua itu pernah diselenggarakan pameran lukisan dari
pelukis Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat, Red) Basuki Resobowo. Amsterdam
pernah diberi judul: Kota Sodom dan Gomorrah yang punya serikat pekerja 
pelacuran. Tak heran jika setiap tahun jutaan orang mampir ke Amsterdam untuk 
sekedar buang “tai macan” atau “stoned” di coffeshop.
Vrijheid = Blijheid, kebebasan = kebahagiaan, demikian kata orang sana.

Risiko dari kebebasan itu juga minta korban, misalnya terjadi pemukulan di 
jalanan terhadap kaum gay, pembakaran sekolah Islam pada saat terjadinya 
pembunuhan terhadap sineas Theo van Gogh dan pertentangan antar ras semakin 
keras seperti batu cadas. Di kalangan anak mudanya terjadi situasi “saling 
mengawasi” dan selalu bersiap sedia.
Pembauran pada kenyataannya sangat sulit dilaksanakan. Dalam praktiknya
masih ada cap  orang asing sebagai warga negara kelas kambing dan superioritas 
penduduk asli. Padahal banyak orang asing pendatang yang sudah ikut dalam 
sistem secara seratus persen, bahkan ada yang jadi pejabat di Departemen 
Kehakiman Belanda. Namun demikian masih saja ada anggapan loyalitasnya ganda, 
sebab punya dua kewarganegaraan.
Ini juga perkara aneh: pernah terjadi suatu kasus politik di mana seorang 
pejabat publik memiliki dua macam paspor. Bingung kan? Itu bisa terjadi di 
Belanda. Kasus itu sempat diributkan oleh partai ekstrem kanan, tapi tak 
memengaruhi situasi yang ada, paspor ganda tak jadi soal selama bisa kerja 
optimal buat kepentingan Belanda. Pilihan pragmatis yang luar biasa sekali itu 
akibat dari
persaingan dalam mencari dukungan politik, artinya kepentingan Belanda
terhadap para pendatang sangat besar.
Bagaimanapun para pendatang adalah salah satu faktor pendukung kejayaan politik 
dan  ekonomi Belanda di Eropa dan dunia.

Orang Belanda juga punya sifat sosial yang besar terhadap binatang. Itu 
dibuktikan dengan adanya Partai Binatang yang punya wakil di parlemen.
Oleh karena itu hati-hati, jangan sembarangan nimpuk anjing atau nendang kucing 
di Belanda, bisa-bisa dilaporkan ke polisi dan kena denda. Jadi jangan 
marah-marah kalau sedang santai jalan-jalan di trotoar kota Amsterdam lalu tak 
sengaja kita menginjak kotoran anjing. Untuk soal yang satu ini, kayaknya kita
belum sah datang ke Belanda kalau sepatu kita belum menginjak kotoran
anjing di trotoar.

Perbedaan dasar orang kita dengan wong londo itu bisa saja dilihat dari cara 
orang membersihkan dirinya setelah buang air besar. Si londo cukup dengan lima 
lembar tisue sementara si orang asing menggunakan, paling tidak, sebotol air 
buat cebok.
Mana yang lebih ngirit? Siapa yang hipokrit? Mana yang lebih efisen dan keren?  
Jawabnya: suka-suka elu aja deh, yang penting bersih! &#1048708;

Heri Latief, penyair, bermukim
di Amsterdam, Belanda.




Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke