Revisi Perpres BRR Berlangsung Panas
Uang Tsunami
Dibeli Senjata dan Amunisi

[ rubrik: Serambi| topik: Rekontruksi
& Rehabilitasi Aceh ] 13/03/2008 09:14 WIB
BANDA ACEH - Dana rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh-Nias
pascagempa dan gelombang tsunami 2004 lalu, ternyata juga digunakan Badan
Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias, untuk membeli peralatan militer
seperti, suku cadang pesawat, senjata dan amunisi bagi TNI/Polri. Hal itu
terungkap dalam rapat pembahasan revisi (perubahan) isi Peraturan Presiden
(Perpres) Nomor 30 Tahun 2005 tentang Rencana Induk Rehabilitasi dan
Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat NAD dan Kepulauan Nias, yang
berlangsung di Hotel Sulthan, Banda Aceh, Rabu (12/3) kemarin.
 
Sejumlah peserta rapat mengaku sangat terkejut ketika melihatlampiran Perpres 
yang akan dibahas itu. Pasalnya, di sini tercantum pulapengadaan suku 
cadang/ban pesawat, peralatan berat, serta persenjataan ringandan amunisi bagi 
TNI/polri. Kalau dana rehab dan rekon (uang bantuan tsunami)terlalu banyak 
digunakan untuk beli peralatan persenjataan TNI/Polri, porsiuntuk membantu 
korban tsunami bisa berkurang, ujar seorang peserta kepadaSerambi, kemarin. 

Peserta itu menyebutkan, jumlah amunisi yang dibeli mencapai 19.769 butir, 
sukucadang dan ban pesawat 2.299 unit, alat utama militer 985 unit, senjata 
295unit, senapan dan pistol 56 unit, alat berat militer 483 unit, dan 
lainnya.Tapi kenapa untuk kegiatan rehab rumah korban tsunami, BRR hanya 
mencantumkantargetnya 67.890 unit, dari yang terdapat dalam rencana induk 
sebelumnyamencapai 155.838 unit. Untuk bantuan rumah, targetnya mencapai 
139.195 unitdari 90.158 unit yang dibuat dalam rencana induk, katanya 
mempertanyakan. 

Rehab tambak nelayan juga masih rendah, baru seluas 18.631 ha dari 
yangdirencanakan 36.597 ha. Rehab hutan mangrove (bakau) lebih sedikit lagi 
baruterealisir 10 persen atau sekitar 16.775 ha, dari yang direncanakan 164.640 
ha.Untuk pelebaran dan pengaspalan ruas jalan tengah (NAD) baru sepanjang 191 
kmdari 341 km yang direncanakan dalam perpres. Lintas timur, lebih pendek 
lagicuma 80 km dari 257 Km yang direncanakan, tapi untuk lintas barat 
sudahterlampui dari 441 Km menjadi 702 Km. Sedangkan untuk jalan di Nias, 
semuanyaterlampui. 

Rapat revisi Perpres itu pun dilaporkan berlangsung panas. Seorang pesertamalah 
mempertanyakan, mengapa pada awal pembuatan rencana induk, program itutak 
dimasukkan dalam lampiran Perpres sebelumnya. Tapi dalam perubahan Perpresyang 
sedang dibahas bersama, masuk dalam daftar lampirannya. Padahal, biladilihat 
dari waktu pembuatan rencana induknya, dibuat pertengahan tahun 2005,seharusnya 
volume dan jenis barang yang mau dibeli masuk dalam lampiransebelumnya. Fakta 
itu menujukkan, perencanaan BRR cukup lemah, ujarnya. 



Perlu dikaji 

Terkait dengan masalah pembahasan perubahan isi Perpres Nomor 30/2005 
ini,Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dalam pidatonya yang dibacakan Sekda Aceh, 
HusniBahri TOB mengamanatkan kepada aparatur yang ikut rapat pembahasan 
perubahanPerpres, apabila terdapat kegiatan yang melebihi sasaran rencana 
induk, makapemerintah Aceh pada perinsipnya dapat menerima penyesuaian 
dimaksud. Kedua,apabila dalam hal tertentu tidak tercapai sasaran dari rencana 
induk yang telahdibuat dalam perpres, maka alasan penyesuaian sasaran perlu 
dikaji secara lebihmendalam untuk memustuskannya. 

Pertama, kata gubernur, apakah sasaran dimaksud masih relevan untuk 
diupayakanpencapaiannya. Kedua, apakah terdapat alasan yang wajar untuk 
melakukanpenyesuaian dan ketiga apakah terdapat alasan yang kuat untuk 
mengurangi lebihlanjut sasaran baru yang diusul atau menghentikan upaya 
pencapaian sasarandimaksud. Apabila ada kegiatan yang tidak tercantum dalam 
rencana induk, tetapidilaksanakan BRR, maka pemerintah Aceh pada perinsipnya 
dapat menerimapenyesuaian dimaksud. Namun sebelum hasil kegiatan dimaksud 
diserahkan kepadapemerintah Aceh, perlu dilakukan verifikasi dan evaluasi 
bersama, katanya. 

Kemudian, apabila ada kegiatan yang tercantum dalam rencana induk tetapi 
tidakdilaksanakan sama sekali, dan diusul untuk dihapus, maka perlu dibahas 
dandisepakati bersama tentang tindak lanjut penanganannya. Dalam hal 
diperlukanpenyesuaian kebijakan strategi dan sasaran dalam rencana induk yang 
telah dirubah,maka penyesuaian dimaksud harus ditetapkan Ketua Dewan Pengarah 
BRR hinggaberakhirnya masa tugas BRR, tegas Gubernur. 

Dibeli sebelum MoU 

Deputi Perencanaan dan Keuangan BRR NAD-Nias, Amin Subekti yang 
dikonfirmasimengenai masuknya pengadaan ban pesawat dan amunisi dalam perubahan 
lampiranPerpres Nomor 30 Tahun 2005 itu, kepada Serambi mengatakan, dalam 
pelaksanaanrehab-rekon masuk juga program ketertiban dan ketahanan negara. 
Usulan danpengadaan perlengkapan/peralatan TNI/Polri itu, dilakukan Kasatker 
Ketertibandan Ketahanan BRR, sebelum adanya kesepakatan damai (MoU) Pemerintah 
RI-GAM,katanya. 

dikatakannya, setelah dilaksanakan kesepakatan damai, pengadaan 
peralatansenjata dengan menggunakan dana rehab-rekon tsunami telah dihentikan. 
KasatkerKetertiban dan Keamanan mengusul pengadaan peralatan TNI/Polri, dengan 
maksuduntuk menguatkan kembali peralatan TNI/polri yang telah hancur akibat 
tsunami.Jadi, sebelum ada MoU, kondisi itu sangat dimungkinkan untuk 
dilakukan,sehingga Kasatkernya mengadakan program tersebut, ujar Amin. 

Jumlah anggaran yang diusul untuk melengkapi kembali peralatan TNI/Polri 
yanghancur akibat tsunami, kata Amin Subekti, dananya mencapai Rp 1,2 
trilliun.Tapi mengingat kebutuhan untuk penanganan kemanusiannya saat itu 
masihdibutuhkan dana yang cukup besar, usulannya tinggal sekitar Rp 300 miliar 
saja.Dana sebesar itu digunakan Kasatker Ketertiban dan Keamanan untuk 
memenuhikebutuhan penguatan kelembagaan TNI dan Polri, setelah terlebih dulu 
dilakukanpengkajian yang mendalam, pungkasnya.(her) 




      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke