Dari lubuk hati yang terdalam, andai saya jadi juri lomba  atau kontes apalah, 
kok saya lebih senang memilih SAUT SITUMORANG sebagai Sastrawan Indonesia 
Terbaik di Abad ini. 

Saut adalah sastrawan saiber yang gagah berani, kreatif dalam mengemukakan 
ide-ide serta memiliki gagasan yang sungguh luar biasa dalam memajukan dunia 
sastra di seantero Indonesia. 

Karya-karya Saut Situmorang sungguh luar biasa. Karya yang amat disukai dan 
digilai anak-anak bangsa di negeri ini. Dari mulai tukang gorengan, penjual 
nasi uduk, pedagang ikan tongkol, hingga para pejabat tinggi di negeri ini 
begitu terhipnotis oleh karya-karyanya. Hampir tiap hari, karya-karya 
masterpiecenya dibincangkan oleh masyarakat luas. Pendeknya, tiada hari tanpa 
Saut Situmorang. Oh, namamu sungguh harum dan akan selalu dikenang. 

Andai saya jadi juri penghargaan Nobel, pasti nama Saut Situmorang akan saya 
pajang di urutan terdepan.  

Kelak, jikau kau dijemput Sang Ilahi, namamu akan kupajang sebagai nama jalan 
untuk menggantikan Jalan Malioboro. 






  ----- Original Message ----- 
  From: sautsitumorang 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Saturday, March 22, 2008 9:02 PM
  Subject: [*Apresiasi-Sastra*] Re: Selamat Datang Sastra Edol (Anugerah Pena 
Kencana)


  hehehe...

  bukan cuman eka, istrinya dan triyanto aja yang cerpennya masuk dalam 
  apa yang mereka klaim sebagai "cerpen terbaik Indonesia" itu, tapi 
  puisi-puisi para juri seperti laki-laki gaek bernama Sapardi Djoko 
  Damono, orang TUK bernama Sitok Sringekek, bahkan Triyanto pun masuk 
  sebagai "puisi terbaik Indonesia"! kan daftarnya sudah lama dopisting 
  ke milis ini, mosok akmal yang waktu itu masih "moderator" milis 
  sastra cyber "apsas" gak tahu? apa pura-pura gak tahu ya?! hehehe...

  ada sekelompok megalomaniak udah gak malu-malu lagi mengklaim diri 
  sendiri sebagai yang "terbaik" dari sastra Indonesia, wah gejala apa 
  ini?!

  hahaha...

  --- In [EMAIL PROTECTED], "Akmal N. Basral" 
  <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > 
  > saya belum membaca antologi ini, meski beberapa cerpen di dalamnya
  > sudah saya baca di beberapa koran.
  > 
  > hemat saya, setiap cara untuk semakin mendekatkan sastra kepada
  > masyarakat luas layak didukung, termasuk pemilihan dengan 
  mengirimkan
  > sms ini.
  > 
  > di sisi lain, review di bawah ini memang bermanfaat, terutama pada
  > bagian "Buku ini malah memuat cerpen karya Triyanto Triwikromo, Eka
  > Kurniawan dan Ratih Kumala, tiga cerpenis yang jelas-jelas terlibat
  > langsung dalam kepanitiaan program ini. Orang dalam, tepatnya. 
  Memang
  > tidak diragukan kualitas cerpen-cerpen karya mereka, tapi bilamana
  > mereka menjunjung tinggi sportifitas dan kode etik kepanitian,
  > semestinya dengan rendah hati mereka merelakan cerpen-cerpen itu 
  tidak
  > dimasukkan, meski tuan-tuan juri bersikukuh memilihnya. Ini akan 
  lebih
  > terhormat, dan hasil penjurian tentu akan lebih fair."
  > 
  > jika betul triyanto, eka, dan ratih, mengelola program ini dan pada
  > saat yang sama cerpen-cerpen ketiganya ada di dalamnya, tidakkah itu
  > menunjukkan tidak adanya "pagar api (fire wall" yang ketat yang 
  lazim
  > berlaku di dunia sayembara, apa pun bentuk sayembaranya, di mana pun
  > berlangsung, bahwa: festival/sayembara/kontes/perlombaan ini 
  tertutup
  > bagi penyelenggara, dst ...
  > 
  > tapi karena eka dan ratih ada di milis ini, barangkali ada jawaban
  > yang bisa dijelaskan.
  > 
  > sayang sekali jika di awal kemunculannya, anugerah pena kencana 
  sudah
  > menuai keraguan seperti resensi di bawah ini, bukan?
  > 
  > salam,
  > 
  > ~a~
  > 
  > 
  > "triyanto triwikromo, eka kurniawan, dan ratih kumala yang terlibat
  > dalam pengerjaan program ini, namun
  > 
  > --- In [EMAIL PROTECTED], gita pratama <tongky_dj@>
  > wrote:
  > >
  > > Selamat Datang Sastra Edol.
  > > 
  > > 
  > > Judul : 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008
  > > Penulis : Finalis Anugerah Sastra Pena Kencana 
  > > Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
  > > Cetakan : I, Februari 2008
  > > Tebal : 204 halaman
  > > 
  > > 
  > > (Media Indonesia, Sabtu 15 Maret 2008)
  > > Apa yang sesungguhnya hendak diperjuangkan oleh sebuah anugerah
  > sastra? Menghargai kedalaman ekplorasi estetik sebuah karya sastra,
  > atau justru hendak memartabatkan pengarangnya? Barangkali inilah dua
  > pertanyaan dilematis yang perlu disodorkan kepada panitia Anugerah
  > Sastra Pena Kencana (ASPK) 2008. Baru-baru ini pihak penyelenggara
  > meluncurkan buku 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 (2008) dari hasil
  > kerja penjurian dalam jangka waktu relatif panjang. Terjaring 
  sejumlah
  > cerpenis mulai dari nama-nama yang sudah tak asing di ranah `sastra
  > koran' seperti Seno Gumira Adjidarma, Gus Tf Sakai, Agus Noor, Eka
  > Kurniawan, Puthut EA, AS Laksana, Triyanto Triwikromo, Nukila Amal,
  > Gunawan Maryanto hingga nama-nama baru yang makin memperkaya 
  khazanah
  > cerpen Indonesia mutakhir seperti Antoni, Hasan Al-Banna, Etik 
  Juwita,
  > Naomi Srikandi, Komang Ira Puspitaningsih, dan lain-lain. Dua puluh
  > cerpen yang terhimpun dalam buku ini sekaligus menjadi nominator 
  dalam
  > ASPK yang pemilihan
  > > pemenangnya akan diserahkan `bulat-bulat' kepada pembaca. Tidak
  > seperti mekanisme pemilihan yang biasa, seleksi akan dilakukan 
  melalui
  > polling Short Message Service (SMS) terhitung sejak 15/02/2008 
  sampai
  > 15/08/08, hingga pada 1 September 2008 mendatang akan ternobat tiga
  > pemenang dengan hadiah masing-masing 25 juta, 15 juta dan 10 juta.
  > Sebentuk pemilihan idola-idola baru yang sejak beberapa tahun
  > belakangan ini begitu marak di stasiun-stasiun tv swasta. Dalam 
  bahasa
  > yang lebih gaul, anugerah ini barangkali bisa disebut; `Sastra 
  Idol'. 
  > > Pada bagian pengantar, Triyanto Triwikromo selaku Direktur
  > Program (agak mencengangkan cerpennya juga `nangkring' buku ini)
  > dengan tegas memaklumatkan bahwa ASPK diselenggarakan untuk 
  memangkas
  > jalur yang terlalu lama dan berbelit-belit pada sejumlah penghargaan
  > sastra sebelumnya. Misalnya mekanisme seleksi dalam penghargaan
  > Khatulistiwa Literary Award (KLA) yang terlalu rumit dan sangat
  > tergantung pada buku. Artinya, meski seorang cerpenis sudah menulis
  > ratusan karya, tapi bila karya-karya itu belum terbukukan, sampai
  > `lebaran monyet' pun ia tidak bakal memenuhi persyaratan dalam
  > pemilihan pemenang KLA. Karena itu ASPK melakukan penilaian dengan
  > mengumpulkan data-data cerpen yang sudah dipublikasikan oleh 
  sejumlah
  > surat kabar yang dianggap merepresentasikan sastra Indonesia 
  selama 1
  > tahun terakhir, di antaranya Kompas, Suara Pembaruan, Koran Tempo,
  > Suara Merdeka, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Republika, Jawa Pos,
  > Seputar Indonesia, Bali Pos, Lampung Pos, Pontianak
  > > Pos dan Fajar. 
  > > Lebih jauh dijelaskan, selain hendak menghargai keterampilan
  > artistik dalam kerja kreatif para pengarang yang sudah
  > malang-melintang di jagad cerpen Indonesia, ASPK juga hendak
  > memartabatkan sastrawan (yang bila dibandingkan dengan para 
  pekerja
  > seni yang lain memang masih kurang mujur dan makin terpinggirkan).
  > Sebuah kepedulian yang patut disambut dengan girang-gemirang. Tapi,
  > penyelenggara (PT. Kharisma Pena Kencana) sama sekali tidak 
  menegaskan
  > perihal standarisasi penilaian yang telah dikerjakan oleh tim juri
  > yang kali ini terdiri dari Sapardi Djoko Damono, Budi Dharma,
  > Apsanti Djokosujatno, Ahmad Tohari, Sitok Srengenge, Joko Pinurbo 
  dan
  > Jamal D Rahman. Dapat dimaklumi bahwa sangat sukar menemukan
  > mekanisme penjurian yang dapat meminimalisir subyektivitas `selera
  > sastra' masing-masing juri, tapi setidaknya dapat disepakati semacam
  > kriteria-kriteria artistik sebagai rambu-rambu yang perlu dipedomani
  > dalam kerja penjurian. Misalnya, kriteria `cerpen terbaik'
  > > versi buku ini adalah cerpen-cerpen yang tidak semata-mata
  > mengusung permainan kata, tetapi juga menyuguhkan kedalaman makna.
  > Atau cerpen koran yang kerap harus tunduk pada aktualitas berita
  > sebagaimana tuntutan surat kabar, tapi mampu menjadi cerita yang
  > mandiri dan mendedahkan kisah yang sanggup berdiri tegak di atas 
  kaki
  > sendiri, tanpa harus ditopang oleh `nilai berita' yang tersirat di
  > dalamnya. Dengan begitu, `babak penyisihan' yang telah menghasilkan
  > dua puluh cerpen terbaik dalam buku ini akan lebih terselamatkan. 
  > > Akibat ketidaktegasan menyangkut kriteria artistik yang 
  digunakan
  > dalam kerja penjurian, maka terminologi `Cerpen Terbaik Indonesia'
  > yang termaktub di sampul buku akan sulit dipertanggungjawabkan, baik
  > secara estetik, etik maupun akademik. Karena, boleh jadi pembaca dan
  > penyuka cerpen pada umumnya juga punya kecenderungan `selera 
  sastra' 
  > yang berbeda dengan selera juri-juri yang terhormat itu. Namun,
  > alih-alih menyuguhkan pertanggungjawaban hasil penjurian, Budi 
  Dharma
  > yang mengata-pengantari buku ini malah membincang sejarah genre
  > `sastra koran' sejak dari pertumbuhan yang paling mula di belantika
  > sastra Indonesia. Sebentuk perbincangan yang kerap berulang dalam
  > pelbagai polemik `sastra koran' sejak beberapa tahun belakangan ini.
  > Semula ia mengandaikan kata pengantar itu sebagai `jendela terbuka'
  > yang barangkali dapat digunakan pembaca untuk menelusuri dan 
  menyelami
  > ceruk kedalaman makna yang terkandung dalam cerpen-cerpen yang 
  disebut
  > terbaik itu, tapi pengamat sastra
  > > itu sama sekali tidak membekali pembaca dengan semacam pendekatan
  > akademik sebelum menggauli buku ini. Lebih ganjil lagi, Budi Dharma
  > membuat semacam perbandingan antara Edgar Allan Poe, perintis genre
  > cerita pendek Amerika dengan Balai Pustaka, sebuah penerbitan 
  kolonial
  > yang sangat berpengaruh terhadap gerak laju perkembangan cerpen
  > Indonesia. Bukankah Edgar Allan Poe adalah individu pengarang,
  > sementara Balai Pustaka adalah lembaga penerbitan yang dipenuhsesaki
  > oleh kepentingan politik kolonial?Bagaimana mungkin Budi Dharma bisa
  > membandingkannya dalam hal konsep dan format cerpen? Sebuah
  > perbandingan yang timpang, dan sangat tidak imbang, dan yang lebih
  > penting lagi, usaha banding-membanding itu tidak ada hubungannya
  > dengan cerpen-cerpen dalam buku ini. Agaknya akan lebih mengena bila
  > ia menjelaskan kenapa cerpen Bukan Yem karya Etik Juwita 
  terpilih
  > sebagai salah satu cerpen terbaik 2008, dan karena itu levelnya sama
  > dengan cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik karya
  > > Seno Gumira Adjidarma, tersebab sama-sama terbaik bukan? Padahal
  > Etik Juwita masih pemula sementara Seno tentu sudah tak disangsikan
  > sepak terjangnya dalam kepengarangan cerpen. Apa mungkin levelnya
  > disamakan? Begitu juga dengan Paragraf Terakhir karya Antoni yang
  > secara otomatis kalibernya juga sama dengan Sumur Keseribu Tiga 
  karya
  > AS Laksana dan cerpen-cerpen lain dalam buku ini? Kenapa pula
  > cerpen-cerpen yang pilihan setting geografi dan demografinya begitu
  > asing dan sukar digapai oleh imaji pembaca seperti La Cage aux
  > Folles (Eka Kurniawan), Sinai (F Dewi Ria Utari), Sebelum Ke Takao
  > (Naomi Srikandi) dan Cahaya Sunyi Ibu (Triyanto Triwikromo) juga
  > terpilih? Dari sisi mana cerpen-cerpen itu dinilai terbaik? 
  > > Kalau memang ASPK hendak memartabatkan sastrawan, lalu kenapa
  > sejumlah sastrawan yang semestinya patut dimartabatkan tidak 
  terjaring
  > dalam penjurian? Di mana Danarto, Yanusa Nugroho, Adek Alwi, 
  Kurnia
  > Effendi, S Prasetyo Utomo, Ratna Indraswari Ibrahim, Yusrizal KW,
  > Fakhrunnas MA Jabbar, Harris Effendi Taher, Sunaryono Basuki KS,
  > Isbedy Stiawan ZS, Raudal Tanjung Banua, dan sejumlah nama cerpenis
  > lain yang karya-karya mereka terus berhamburan dalam jangka waktu
  > penjurian berlangsung. Buku ini malah memuat cerpen karya Triyanto
  > Triwikromo, Eka Kurniawan dan Ratih Kumala, tiga cerpenis yang
  > jelas-jelas terlibat langsung dalam kepanitiaan program ini. Orang
  > dalam, tepatnya. Memang tidak diragukan kualitas cerpen-cerpen karya
  > mereka, tapi bilamana mereka menjunjung tinggi sportifitas dan kode
  > etik kepanitian, semestinya dengan rendah hati mereka merelakan
  > cerpen-cerpen itu tidak dimasukkan, meski tuan-tuan juri bersikukuh
  > memilihnya. Ini akan lebih terhormat, dan
  > > hasil penjurian tentu akan lebih fair. 
  > > Mencermati pelbagai ketidaktegasan dan ketidakpatutan dalam
  > penggarapan buku ini, alih-alih hendak menghargai etos kepengarangan
  > dan memartabatkan sastrawan, jangan-jangan proyek `Sastra Idol' itu
  > malah menurunkan derajat kepengarangan cerpen, bahkan menurunkan
  > `harga' penghargaan itu sendiri. Dan pemenangnya adalah. 
  > > 
  > > 
  > > LABUH KEMBARA
  > > Pecandu cerpen
  > > 
  > > Send instant messages to your online friends
  > http://uk.messenger.yahoo.com
  > >
  >



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke