Setiap pertumbuhan penduduk 1% atau tiap tahun penduduk bertambah 2 juta orang,
bisa menggerogoti pertumbuhan ekonomi sebesar 5% setelah 20 tahun ke depannya.
-------------------------------------
http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.24.1635261&channel=1&mn=20&idx=97
Program KB Cegah Kelahiran 80 Juta Jiwa
SEMARANG, SENIN - Pelaksanaan program keluarga berencana (KB) di Indonesia
selama tiga dekade terakhir telah mencegah kelahiran sebanyak 80 juta jiwa
sehingga menjadi prestasi membanggakan, demikian dikatakan Kepala Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief.
"Jika tidak ada program KB diperkirakan jumlah penduduk Indonesia pada tahun
2000 bisa menjadi sekitar 285 juta jiwa. Dapat dibayangkan bagaimana beratnya
beban pemerintah jika 80 juta penduduk tambahan benar-benar terlahir di
Indonesia," katanya dalam sambutan tertulis pada acara Rapat Kerja Daerah
Program KB Jateng 2008, di Semarang, Senin (24/3).
Berbagai masalah yang dihadapi belakangan ini mulai dari besarnya jumlah
pengangguran, kekurangan pangan, kesehatan, perumahan, lingkungan hidup, dan
bencana alam tampaknya tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa jumlah penduduk
Indonesia sudah terlalu banyak sehingga pertumbuhannya harus dikendalikan,
katanya.
Ia mengatakan, KB memang bukan segala-galanya. Tanpa KB pembangunan yang tengah
digiatkan bakal tidak bermakna karena meskipun laju pertumbuhan penduduk dapat
diturunkan dari sekitar 2,32 persen pada periode 1971-1980 menjadi sekitar 1,3
persen. Padahal jumlah kelahiran di Indonesia masih sekitar 4 juta jiwa.
"Ini tentu bukan jumlah yang sedikit dan dapat dipastikan akan menyebabkan
upaya pembangunan termasuk pengentasan kemiskinan akan menjadi semakin sulit.
Hal ini terjadi karena sebagian besar kelahiran menimpa keluarga kurang mampu
yang memang fertilitasnya lebih tinggi ketimbang keluarga dengan tingkat sosial
ekonomi lebih tinggi," katanya.
Menurut dia, kualitas penduduk Indonesia hingga kini masih rendah, jauh
tertinggal ketimbang negara maju di dunia, bahkan di ASEAN. Masalah kemiskinan
belum dapat diatasi dengan baik, angka kematian ibu dan bayi masih cukup
tinggi, indikator pendidikan masih rendah, dan indeks pembangunan manusia
Indonedia berada di tataran bawah. Ia menjelaskan, angka kematian ibu di
Indonesia saat ini diperkirakan masih di atas 200 per 100 ribu kelahiran hidup.
Sedangkan angka kematian bayi diperkirakan masih sekitar 30 per 1.000.
"Indikator ini, khususnya masalah angka kematian ibu masih jauh di atas angka
negara maju maupun ASEAN. Dari sisi pendidikan, tampaknya lebih dari separuh
penduduk Indonesia masih berpendidikan rendah, hanya tamat SD bahkan malah
kurang," katanya.
Jika dilihat dari "Human Development Index" atau Indeks Pembangunan Manusia,
katanya, Indonesia masih berada di urutan bawah, yakni nomor 107 dari 177
negara dan masih kalah dari negara-negara anggota ASEAN.
Untuk mempercepat perwujudan penduduk Indonesia yang lebih sejahtera, katanya,
kualitas penduduk memang harus ditingkatkan seiring dengan pengendalian
kualitas penduduk. Pembangunan ekonomi tanpa didukung kualitas penduduk yang
memadai tidak akan berjalan baik.
"Sebaliknya peningkatan kualitas penduduk tidak akan terjadi jika tidak ada
pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas penduduk akan
sulit dilaksanakan jika jumlah penduduk semakin besar dan rendah kualitasnya,"
katanya.
Ia mengatakan, membiarkan pertumbuhan penduduk dengan kualitas rendah menjadi
tidak terkendali akan mempersulit persoalan pembangunan, baik di tingkat daerah
maupun pusat. (ANT)
AC
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
[Non-text portions of this message have been removed]