Jurnal Sairara:
SEKALI PUN TANPA SANG GUBERNUR
Alkisah pada suatu hari, seorang gubernur dari sebuah provinsi Indonesia
berkunjung ke Paris setelah berada di Negeri Belanda selama beberapa hari.
Entah dalam rangka apa kedatangan sang gubernur, aku pun sudah lupa. Ketika
berada di Paris, ia diterima oleh pejabat-pejabat Perancis. Sejak dari Negeri
Belanda dan selama berada di Paris, sang gubernur disopiri oleh Tambun, teman
baikku, yang selain gemar menyopir, juga memang mendapatkan penghasilan dari
menyopiri tamu-tamu dari Indonesia ketika mereka berkunjung ke Eropa. Sebagai
sopir dan pemandu berpengalaman, Tambun selalu menyesuaikan penampilan diri
dengan tamu-tamu yang dia antar.
Kali ini, karena tahu bahwa tamu yang diantarnya adalah seorang pejabat
bertingkat gubernur, maka Tambun mengenakan kostum lengkap dan formal.
Berjas-berdasi. Sebelum meninggalkan rumah, ia sudah menyemir sepatu hitamnya
hingga mengkilat. Menyisir rambut hingga klimis. Tidak lupa memercikkan ke
tubuhnya sepercik dua minyak wangi buatan Paris.
Sesuai jam yang ditentukan, Tambun membawa mobilnya ke hotel mewah di mana
sang gubernur dan rombongannya menginap. Tidak berapa lama kemudian, sang
gubernur bersama rombongannya keluar dari ruang makan. Menemui Tambun.
"Sudah siapkah?", tanya sang gubernur berbasa-basi kepada Tambun yang sama
sekali mempunyai kompleks di hadapan siapa pun. Tidak ada rasa rendah diri
padanya karena ia hidup sebagai seorang sopir. Pekerjaan yang ia sukai.
Waktu berada di Republik Rakyat Tiongkok [RRT], sikap tanpa kompleks ini pun
sangat menonjol kulihat di kalangan buruh, petani Brigade Produksi atau pun
Komune Rakyat [sekarang organisasi produksi ini ditiadakan], pembersih toilet
di hotel-hotel, pekerja restoran, dan lain-lain... Mereka memandang hal ini
sebagai salah satu bentuk pembagian pekerjaan dalam masyarakat Tiongkok.
Pejabat-pejabat negara, perusahaan, Komune, berbagai tingkat pun, tidak
memandang mereka dengan sebelah mata. Di RRT pada masa aku berada di negeri ini
lebih dari 7 tahun, aku baru dapatkan adanya seorang pembersih toilet hotel,
tapi sekaligus menjadi anggota parlemen [Kongres Rakyat Nasional]. Ini adalah
pandangan terhadap arti kerja -- salah satu nilai dominan di RRT pada waktu aku
di sana sebagai pekerja yang disebut "ahli" pada Hsinhua News Agency dengan
gaji mengalahkan gaji PM Chou Enlai.
Sekali pun Tambun besar di Negeri Belanda yang kapitalis dengan dominasi
nilai sistem masyarakat kapitalis, dan bukan di RRT pada zamanku di sana,
Tambun sama sekali tidak mempunyai kompleks. Ia menghargai dirinya sendiri dan
menghargai orang lain secara patut. Sikap begini, di Perancis negeri yang
gandrung filsafat, disebut dengan istilah "respecte les autres" [menghargai
orang lain atau menghargai sesama]. Nilai dan sikap yang ditanamkan kepada
anak sejak dari Play Group. Pandangan dan sikap ini berlanjut pada pandangan
bahwa Kemerdekaan individual berhenti pada saat ia menyentuh kepentingan dan
kemerdekaan orang lain.
"Apa kita berangkat sekarang, Pak?", tanya Tambun pada sang gubernur yang
heran melihat bahwa sang gubernur ke acara resmi di musim panas hanya
menggunakan sandal jepit. Tanpa kostum resmi atau pun formal. Padahal ia tahu
benar mata acaranya hari itu. Penampilan sesuai sikon, kukira, termasuk bentuk
kongkrit "respecte les autres", hal yang jika menggunakan perbandingan dalam
sastra Tiongkok Kuno, sangat ketat dijaga oleh "bandit-bandit Liangsan" [San,
berarti gunung. Liangsan berarti Bukit atau Gunung Liang].
Tambun yang tak habis keheranan melihat penampilan sang gubernur hanya bisa
diam dan melakukan pekerjaannya sebagai sopir secara bertanggungjawab dan
sebaik mungkin.
Mobil Tambun yang membawa sang gubernur meluncur di jalan-jalan Paris yang
mulus dengan kecepatan tak lebih dari 40 Km/ jam, sesuai dengan ketentuan
berkendaraan di dalam kota yang mempunyai hari tanpa mobil dan daerah-hijau
terus-menerus dikembang-luaskan sejak Kelompok berkembang menjadi kekuatan
politik yang diperhitungkan. Kejiakan ini diundangkan agar jalan raya tidak
menjadi kuburan penduduk.
Sampailah mobil ke kantor pejabat yang dituju. Tambun keluar lebih dahulu
membuka mobil. Sang gubernur keluar dengan sandal jepitnya dengan rambut
digerai angin musim panas Paris rata-rata 25°, maksimal yang jarang 30°.
Apa yang terjadi pada saat itu?
Pejabat Perancis yang menjadi tuan rumah sang gubernur mempersilahkan Tambun
berjalan di depan. Tambun dengan kostum formalnya dikira oleh tuan rumah adalah
sang gubernur.
Tentu saja, Tambun menolak sambil tertawa geli tak tertahan. Berkata dalam
bahasa Perancis beraksen Belanda:
"Bukan saya.Bukan saya, Tuan" [Ce n'est pas moi. Ce n'est pas moi, Monsieur].
Sadar akan kekeliruannya, tuan rumah langsung minta maaf dan mempersilahkan
sang gubernur dan sandal jepit musim panasnya berjalan lebih dahulu. Maaf,
budaya asing di Indonesia sekarang. Seasing ucapan terimakasih. Keasingan yang
menggambarkan nilai dominan dalam masyarakat narsistik yang subuhnya diriuhi
teriak azan karena merasa Tuhan terlalu jauh, tanpa hirau orang lain sedang
lelap tidur memulihkan tubuh dari kelelahan dibanting hari-hari dengan siang
garang berdebu dan kemacetan jalan kota seperti di Jakarta.
Cerita Tambun ini agak aneh bagiku. Kerena ketika aku bekerja di Indonesia,
yang orang lihat bukan isi kepala tapi penampilan. Hingga aku jadi tertawa
betapa ketika aku mengenakan secarik kain bernama dasi, sikap orang jadi
berbeda ketika aku hanya menggunakan sandal jepit dan jaket atau T-shirt basah
keringat. Satpam pun dengan seragamnya sanggup bersikap sebagai penguasa
negeri, mengganti dubes dan menteri. Negeri imajinernya yang mungil dan
setempurung tentu saja.
"Ah, kau bohong, Tambun", ujarku yang menuturkan kisah ini dalam bahasa
Indonesia beraksen Belanda dan menjadi ciri Tambun.
"Benar, Oom. Untuk apa aku membohongi Oom. Sebagai orang Indonesia, aku tidak
bisa menyembunyikan rasa malu-ku. Maka langsung jas dan dasi kucopot sambil
menyumpah-nyumpah diriku sendiri sebagai orang yang tak bisa memilih lahir
sebagai Indonesia".
Aku lurus memandang mata Tambun masih dengan keraguan.
"Oom masih tidak percaya aku, ya?" , ujar Tambun dengan cahaya mata tertawa,
apalagi ia mengenalku sebagai orang sedikit urakan. Aku hanya bisa tertawa.
Sekaligus menertawai diriku sebagai orang Indonesia yang tak juga kusesalkan.
Karena mau apa lagi? Sekali pun masih ada hari esok, tapi hari ini beginilah
aku dan negeriku. ""Inilah Indonesiaku", jika menggunakan istilah Mas Dullah,
orang Indonesia asal etnik Arab dari Tegal. "Indonesiamu , Mas", ujar Dullah
yang rajin sholat ngledegku.
"Lho sih, Mas. Saban sholat lupa bangsa dan negeri. Lho cuma mikir mo jadi
kaya.Mabok fulus mulu", balasku menangkis ledegan . Gelak pun berderai.
Disambung koor mengucap: "Indonesia tanahairku", separo tanda frustrasi dan
pilu yang menusuk. Tapi juga rasa cinta padamu bangsa dan negeri.
"Oom kan masih gak percaya aku?", lanjut Tambun meneruskan ceritanya sambil
memancing jengkelku.
"Apalagi?"
"Sang gubernur kan merasa dirinya berduit".
"Iya, lalu?"
Kepada orang Perancis yang menemaninya, sang gubernur bertanya menantang dan
pongah: Di daerah mana terdapat apartemen terbaik dan termahal di Paris? Berapa
harganya? Aku mau beli". Tanya sang gubernur dalam bahasa Inggris tak sempurna
dan beraksen Melayu seperti aksen Malaysia dan Singapura jika berbahasa
Inggris, dengan embel-embel "lah"nya.
"Tentu saja ada, Monsieur le Gouverneur", jawab si Perancis. Entah dengan
perasaan bagaimana.
"Ada di daerah Tour Eiffel", lanjut si bulé Perancis.
"Ayo kita ke sana.", ujar sang gubernur.
Si Perancis bulé meminta Tambun mengantar ke daerah yang dimaksudkan. Tibaa
di tempat yang dituju, sang gubernur menanyakan berapa harga apartemen tersebut.
"Ya sekitar 2 juta francs Perancis", jawab si bulé Perancis tenang.
"Berapa ya jika di rupiahkan?
"Saya tidak tahu", jawab si bulé Perancis. Sang gubernur asyik menghitung,
memindahkan jumlah tersebut ke dalam rupiah. Mesin hitung sang gubernur tidak
sanggup menampung jumlah nol harga tersebut,. Sang gubernur lalu menjerit
spontan tak terkendali seperti seorang anak kecil yang kaget ketika jarinya
terbakar api:
"Wah, mahal sekali. Khoq bisa mahal sekali sih?".
Si bulé Perancis menjawab : "Kan tadi, Monsieur le Gouverneur ingin mencari
apartemen yang terbaik dan termahal. Inilah keadaan Paris dan harga apartemen.
Di Paris tidak ada rumah. Yang ada adalah apartemen. Rumah akan jauh lebih
mahal lagi, jika ada di Paris. Atau Monsieur le Gouverneur mau membeli seluruh
apartemen di sebuah immeuble?", si bulé Perancis menantang sang gubernur yang
merasa dirinya sangat berduit dan masalah uang sama sekali tidak ada persoalan
baginya. Konsep apartemen di Indonesia dan di Perancis, agaknya tidak dipahami
oleh sang gubernur adalah jauh berbeda. Latar sebabnya pun mungkin tidak ia
pahami. Celakanya, dari hari ke hari, aku dikesankan oleh Indonesia makin
banyak yang sesungguhnya tak layak berada di posisi kunci propinsi begini.
"Aku malu deh, Oom", ujar Tambun . "Malu karena merasa diri sebagai orang
Indonesia,khoq ada seorang gubernur seperti ini.
Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa Tambun sedang menuturkan sebuah anekdot
sebagaimana Gus Dur saban berjumpa atau berbincang di telpon tak pernah absen
dari humor dan anekdot. Tapi ketika rombongan anggota DPR ke Paris, bukanlah
anekdot mereka ramai-ramai berbelanja. Tanpa kecuali walau pun di depan publik,
mereka berbicara tinggi dan muluk tentang jender, HAM dan segalanya yang
"indah-indah" itu. Mereka dipotret dengan belajaan mereka oleh anak-anak PPI
Perancis. Tidak heran Ken Pitra, meragukan makna kata di Indonesia. Dan ini
bukan anekdot , puan-puan, nona-nona, nyonya-nyonya dan nonya-nonya.
Kalau Anda yang menanyaiku tentang gejala ini maka kukatakan dengan
pengetahuan sederhana serta instingku yang primer bahwa ini adalah bentuk
kerusakan pola pikir dan mentalitas anak bangsa dan negeri serta kerancuan
nilai dominan dalam masyarakat. Di negeri yang paternalistik dan maskulinis
seperti Indonesia, jika guru kencing berdiri maka murid akan kencing berlari.
Kepada Ken Pitra, ibu Rara anak perempuanku, kutanya: "Kau mau anakmu
demikian?".
Mempunyai anak dengan nilai dominan demikian, Indonesia sebagai bangsa dan
negeri akan lambat-laun tenggelam seperti halnya kota Pompei ditenggelamkan
oleh gempa. Daya rusak pola pikir dan mentalitas begini jauh lebih dahsyat dari
ledakan gunung berapi dan tsunami. Malangnya pendidikan di negeri kita bukan
menjadi pendidikan yang memanusiawikan dan membebaskan tapi menjadi barang
dagangan. Bujet untuk pendidikan pun minim. Padahal menjadi manusia Indonesia,
kukira, tidak lain dari suatu kualitas, komitmen serta tanggungjawab manusiawi
dan berslogan "dia jadi bari"[bahasa Dayak: tidak menjadi nasi] adalah slogan
yang konyol . Indonesia dan Republik Indonesia memerlukan manusia Indonesia
nama dari suatu kualitas dan tatanan nilai, sekali pun tanpa sang gubernur.
Tak akan ada Republik dan Indonesia tanpa manusia Indonesia yang republiken dan
berkeindonesia.****
Paris, Musim Seni 2008
-----------------------------
JJ.Kusni
---------------------------------
Tired of visiting multiple sites for showtimes?
Yahoo! Movies is all you need
[Non-text portions of this message have been removed]