Essay – Alicia, Maria Girgis, dan Pencari Kebenaran
dalam Film Ayat-Ayat Cinta

Oleh Satrio Arismunandar

Salah satu karakter, yang muncul secara singkat dalam
film Ayat-Ayat Cinta (AAC), namun cukup berkesan pada
saya, adalah Alicia. Alicia adalah jurnalis Amerika,
yang mewawancarai Fahri, tokoh utama AAC, yang adalah
mahasiswa program S-2 di Universitas Al-Azhar, Cairo. 

Dalam novel aslinya, karya Habiburrahman El-Shirazy,
tidak disebutkan Alicia itu jurnalis dari media apa.
Namun sutradara AAC, Hanung Bramantyo, lewat kartu
nama yang diberikan Alicia pada Fahri, memberi
identifikasi bahwa nama media tempat Alicia bekerja
adalah American Times. 

Saya tak ingat, siapa pemeran tokoh Alicia ini, yang
memang hanya peran kecil dalam film AAC. Namun, saya
cukup respek bahwa Hanung bisa memilih sosok yang pas,
untuk menggambarkan karakter Alicia. Tokoh Alicia
muncul sebagai seorang perempuan jurnalis berusia di
atas 30-an, yang cukup berpengalaman, ulet dan kritis,
dengan semangat pencarian informasi, dan keinginan
memahami yang tinggi. 

Namun, Alicia bukan tipe jurnalis simplistis, yang
terlalu cepat menyimpulkan, sebelum melakukan
pencarian informasi mendalam. Ia juga bukan tipe
jurnalis, yang terlalu bersemangat “menghakimi” subjek
liputannya. Dalam film dan buku AAC, Alicia tampil
sebagai jurnalis yang profesional, kritis tetapi tetap
santun, sekaligus memiliki empati, atau minimal
berusaha sedalam mungkin memahami materi liputan dan
narasumber yang diwawancarainya. 

Hanung (dan Habiburrahman El-Shirazy) menggambarkan
Alicia sebagai sosok jurnalis yang pas dan
proporsional. Alicia bukan figur jurnalis yang
mentah-mentah menerima pendapat orang lain begitu
saja. Tetapi, menyadari bahwa seorang jurnalis juga
memiliki keterbatasan, dan bukan makhluk yang tahu
segalanya, Alicia tidak sok mengkuliahi atau sok
menghakimi narasumber. Padahal, jika memang mau,
masalah yang ia tanyakan memberi kemungkinan untuk
“mencecar” atau memojokkan Fahri. 

Alicia bertanya soal adanya ayat Al-Quran, yang
membolehkan seorang suami “memukul” istrinya. Ketika
menanyakan hal itu, Alicia tidak memberondong Fahri
dengan amunisi seperangkat pasal-pasal penganiayaan,
dari Piagam HAM (Hak Asasi Manusia) PBB. Sebaliknya,
Alicia memilih mengajukan pertanyaan terbuka. Yakni,
apa sebenarnya maksud yang dikandung Al-Quran (atau
penjelasan konsep Islam), tentang adanya ayat
Al-Quran, yang –jika ditafsirkan secara simplistis dan
serampangan—bisa dikesankan melanggar HAM, atau
sebentuk pembenaran atas KDRT (kekerasan dalam rumah
tangga). 

Dalam semangat memberi pengertian yang benar tentang
Islam, Fahri pun bersedia diwawancarai Alicia.
Digambarkan di film AAC, Fahri menjelaskan apa
sebetulnya makna “memukul” tersebut, yang bukan
berarti suami boleh menggampar atau menganiaya
istrinya. Tetapi ada tahapan-tahapan yang bisa
dilakukan seorang suami, jika seorang istri melanggar
komitmen perkawinan. 

Mulai dari tahap menasehati (dengan ucapan),
memperingatkan (misalnya, dengan tindakan pisah
ranjang), dan terakhir “memukul.” Tetapi, pengertian
“memukul” di sini adalah tidak boleh memukul muka
(lambang kehormatan dan martabat seorang manusia),
tidak boleh memukul untuk menyakiti, apalagi memukul
yang bisa menyebabkan luka atau cacat anggota tubuh
(Maaf, saya bukan ahli dalam hukum Islam, jadi saya
cuma mengutip AAC tentang penjelasan ini).

Sosok jurnalis Alicia mengingatkan saya pada sosok
seorang “pencari.” Dalam film ini, setidaknya ada dua
sosok perempuan yang melakukan pencarian, meski dalam
hal yang berbeda dan dengan cara yang berbeda pula,
yaitu Alicia dan Maria Girgis. Maria (dimainkan oleh
Carissa Puteri) adalah mahasiswi dan tetangga Fahri,
yang kemudian jatuh cinta pada Fahri.

Maria, yang beragama Kristen Koptik, melakukan
pencarian spiritual lewat kesamaan namanya dengan
figur Maria, ibunda Isa Almasih. Bahkan, digambarkan
bahwa Maria Girgis sempat hafal surat Maryam (Maria)
dalam Al-Quran, kitab suci yang ia kagumi keindahan
bahasanya. Ilustrasi ini menyiratkan karakter
“pencari” dalam diri Maria Girgis.

Kembali ke sosok Alicia dan karakter jurnalis. Meski
mungkin tidak sedramatis para filsuf, ilmuwan,
rohaniwan, atau sufi, seorang jurnalis pada hakekatnya
adalah juga seorang pencari kebenaran. Dengan metode
kerjanya, dan seperangkat prosedur yang sudah baku
dalam praktik jurnalistik, seorang jurnalis seperti
Alicia juga mencari kebenaran. 

Boleh jadi, kebenaran yang ia peroleh bukan kebenaran
hakiki, tetapi lebih merupakan kebenaran prosedural.
Jika semua prosedur yang layak sudah ditempuh, seorang
jurnalis bisa mempertanggungjawabkan kebenaran yang ia
peroleh itu di depan publik, lewat berita atau artikel
yang ia tulis, atau tayangan TV dan siaran radio yang
ia buat.

Meski demikian, kebenaran prosedural itu bagi
pribadi-pribadi tertentu (yang kebetulan berprofesi
jurnalis) tidak selalu dan tidak harus menjadi
terminal kebenaran terakhir. Karena, seorang pencari
sejati biasanya tidak mudah terpuaskan. 

Setiap jawaban, seringkali justru akan memancing
munculnya pertanyaan-pertanyaan baru. Pertanyaan baru
ini akan melahirkan pencarian baru, yang jika akhirnya
menemukan jawaban, juga akan melahirkan pertanyaan dan
pencarian yang lebih baru lagi. Dan, begitu
seterusnya. 

Tentunya, tidak semua jurnalis adalah “pencari
sejati.” Di berbagai perusahaan media, juga ada
(bahkan banyak) jenis jurnalis yang sudah cukup puas
dengan informasi permukaan atau sekadar kebenaran
prosedural biasa. Saya tidak menyalahkan mereka,
karena pilihan atau hasrat untuk menjadi seorang
“pencari sejati” itu pada hakikatnya memang sesuatu
yang sangat personal, sangat bersifat pribadi. Tidak
bisa dipukul rata.



Depok, 25 Maret 2008



      Satrio Arismunandar 
Producer "SISI LAIN" (tayang Senin-Jumat, pukul 13.30-14.00 WIB) - 
  News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4023,  Fax: 79184558, 79184627
   
  http://satrioarismunandar6.blogspot.com
  http://satrioarismunandar.multiply.com  
   
  "Ungkapkanlah kebenaran itu, meskipun pahit" (Hadist Nabi)






      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke