Catatan Bantimurung:
   
   
  INISIATIF SASTRA DARI MAKASSAR
   
   
  1.
   
   
  Kegiatan bersastra di Makassar sering sering kudengar dari syohibku Halim HD, 
budayawan asal Banten yang bolak-balik berada dan tinggal untuk sementara waktu 
di ibukota propinsi Sulawesi Selatan [Sulsel] ini.  Saban ketemu, Halim selalu 
dengan gairah berkisah tentang potensi sastra daerah dan isi kandungannya yang 
belum tergarap penuh. Hal ini bukan hanya terdapat Sulsel tapi juga di 
daerah-daerah seperti Kalimantan Timur misalnya. Tutur Halim sambil memberiku 
contoh-contoh kongkretnya.
   
   
  Apa yang dikatakan oleh Halim HD ini kusaksikan ujudnya dalam sebuah Festival 
sastra-seni internasional  yang berlangsung di Balai Budaya Solo beberapa tahun 
silam. Festival ini turut dimeriahkan oleh pentas oleh grup-grup sastra-seni 
dari berbagai kota seperti Tegal, Pekalongan. Masih tercatat baik di ingatanku, 
bahwa karya-karya orisinal yang dipanggungkan secara isi, berbicara tentang 
kerusakan lingkungan, tentang kehidupan daerah, politik dan ekonomi.  Isi ini 
dituangkan dalam bentuk yang artistik. Menyaksikan pergelaran oleh grup-grup 
dari kota-kota kecil yang pada masa remajaku bisa dikatakan "tandus" dari 
kegiatan kesenian, ingatanku segera melayang ke tuntutan Lembaga Kebudayaan 
Rakyat [Lekra] kepada para anggotanya. Dalam berkesenian, Lekra menuntut kepada 
para anggotanya agar senantiasa berpatokan pada "dua tinggi": tinggi mutu 
ideologi dan tinggi taraf artistiknya. "Meluas dan meninggi", memadukan unsur 
baik tradisi dengan kekinian yang revolusioner".   
   
   
  Melalui pertunjukan di Balai Budaya Solo malam Frestival Internasional 
beberapa tahun silam itu, aku melihat bahwa apa yang dituntut oleh Lekra kepada 
para anggotanya di atas telah diterapkan oleh para seniman dari 
komunitas-komunitas sastra-seni daerah. Sekalipun mereka bekerja dan berkaya 
tanpa slogan.Ketika pulang, pikiranku masih terpancang pada apa yang kusaksikan 
di pertunjukkan tersebut. Pikirku, tidak salah-salah juga mengatakan bahwa 
sastrawan-seniman adalah anak zamannya, jurubicara zamannya, nurani bangsa dan 
negerinya. Di bawah tindasan yang betapa pun sengitnya, kadang harus 
mempertaruhkan nyawa, mereka adalah suara nurani yang tak terbungkamkan tak 
obah arus mengalir mencari muara dan laut. Sedangkan suara nurani bangsa dan 
negeri ini, sering berhadapan dengan kebijakan dan sikap penyelenggara negara. 
Suara nurani adalah suara keadilan, mimpi manusiawi anak manusia. Sementara 
kepentingan penyelenggara negara sering bertentangan dengan mimpi manusiawi 
sekali
 pun dengan pun mengatasnamai bangsa dan kemanusiaan. Karena itu sering 
kukatakan bahwa sastra-seni adalah republik berdaulat dan sering berhadapan 
dengan republik politik. Lebih lanjut, aku melihat bahwa sastrawan-seniman pada 
galibnya adalah manusia sadar, manusia yang berwawasan, manusia yang banyak 
tahu, manusua yang berpendiriandan jelas berpihak. Manusia begini oleh 
Pramoedya A. Toer dikatakan seniscayanya berdiri setapak lebih dahulu dari 
orang kebanyakan. Ia bisa berdiri setapak di depan bukan karena zenialitasnya 
tapi karena ia banyak tahu dan tahu lebih dahulu zamannya, demikian ujar 
seorang penulis dari Amerika Serikat.
  Dalam hal ini jadinya ada dua unsur yaitu unsur tingkat kualitas pengetahuan, 
wawawan , pendirian sastrawan-seniman dan kadar pengungkapan diri dlam bentuk 
karya. Yang terakhir ini adalah masalah keterampilan atau skill know how. 
Kerasukan dua kualitas inilah yang disebut oleh Lekra sebagai "dua tinggi". 
   
   
  Berangkat dari pandangan ini  dan bahwa sastrawan-seniman adalah "warga 
republik berdaulat saastra-seni" maka aku sepakat bahwa "proses kreatif dalam 
penulisan sastra memang tidak bisa dibingkai oleh batasan-batasan di luar 
sastra.  Yang disentuh oleh inisiatif ini adalah pengorganisasian kerja kreatif 
tersebut, bukan karya  kreatifnya sendiri". 
   
   
  Hanya kesepakatanku ini dibatasi oleh hanya.  Hanya ini bahwa sekali pun 
"penulisan sastra memang tidak bisa dibingkai oleh batasan-batasan di luar 
sastra" , tapi penulis tidak menutup mata  pada dunia dan kehidupan dan asyik 
dengan diri sendiri, memandang diri sendiri dan keasyikannya sebagai gantang 
penakar kebenaran.  Sikap yang oleh penyair Perancis Paul Eluard disebut 
sebagai sikap "anak raja" atau "pangeran".Tapi benar juga bahwa sikap menutup 
mata ini pun hak sang penulis yang tidak bisa diganggugugat. Sementara pembaca 
yang berdaulat pun berhak menentukan sikap dan memberi angka pada karya-karya 
yang disuguhkan kepada mereka. Kalau penglihatanku benar, sejarah kelahiran 
sastra-seni selain memerlukan kemerdekaan dan kebebasan berpikir dan berkarya, 
sebagai syarat utama, para seniman karya lisan dan tertulis, juga tidak 
terpisah dari masyarakatnya. Karena itu mereka bisa jadi anak zaman dan nurani  
masyarakat zamannya. Membuang bingkai, termasuk bingkai nurani
 manusiawi dalam berkesenian barangkali akan menjadikan karya-karya itu mata 
damak beripuh yang meluncur dari sumpitan bernama karya. Kebebasan dan 
kemerdekaan bagiku adalah kebebasan dan kemerdekaan untuk memanusiawikan diri 
sendiri, manusia, kehidupan dan masyarakat seperti yang dibudayakan padaku 
sejak bocah melalui konsep "rengan tingang nyanak jata" [anak enggang 
putera-puteri naga].b Sastra lisan dan tulisan pada awal sejarahnya, kurang 
lebih lahir dari rahim kenyataan ini  pula. Polemik terjadi sejalan dengan 
sejarah perkembangan masyarakat yang bergerak dari masyarakat komunitas 
"primitif" hingga ke tingkat globalisasi kapitalis seperti sekarang ini.
   
   
  Kegiatan "Inisiatif Sastra Dari Makassar" yang berlangsung dari Maret hingga 
April seperti yang diberitakan oleh Press Release organisator [22 Maret  2008] 
agaknya lebih bertolak dari konsep Republik dan berkindonesiaan di bidang 
budaya. Memperlihatkan bahwa kebudayaan Republik Indonesia sejajar dengan 
konsep bhinneka tunggal ika, tidak menghancurkan identitas lokal tapi justru 
dari rahim identitas-identitas lokal ini akan lahir identitas nasional. Tentu 
saja identitas bukan identik dengan sektarisme karena sektarisme menutup pintu 
terhadap saling pengaruh yang tak terelakkan, apalagi di tingkat tekhnologi 
seperti sekarang yang membuat bumi menjadi sebuah "desa kecil".****
   
   
  Paris, Musim Semi 2008
  ---------------------------------
  JJ.Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia Paris.
   
   
   
  LAMPIRAN:  
   
   
  Press Release: Inisiatif Independen Sastra dari Makassar
   
   
  Kegiatan Sastra di tanah air semakin digairahkan oleh kehadiran inisiatif 
Sastra Dari Makassar. 

   
   
  Dengan target memberi sumbangan berarti bagi Kota Makassar sebagai tempat 
yang berbudaya, inisiatif ini menyadari bahwa proses kreatif dalam penulisan 
sastra memang tidak bisa dibingkai oleh batasan-batasan di luar sastra.  Yang 
disentuh oleh inisiatif ini adalah pengorganisasian kerja kreatif tersebut, 
bukan karya  kreatifnya sendiri. 
  
   
   
  Sebagai langkah awal, Sastra Dari Makassar menggelar diskusi dan peluncuran 
dua buku sastra: Kumpulan Puisi Aku Hendak Pindah Rumah karya M. Aan Mansyur 
dan Kumpulan Cerita Pendek Makkunrai dan 10 Kisah Perempuan Lainnya   karya 
Lily Yulianti Farid.  Pembacaan puisi dan cerita pendek yang dirangkai dengan 
diskusi dan workshop digelar di sejumlah kantor media cetak, stasiun radio, 
kantung-kantung seni, kampus perguruan tinggi dan Sekolah 
  Menengah Atas pada bulan Maret dan April 2008 di beberapa kota di Indonesia. 
   
  Untuk Jakarta, diskusi dengan tema Perkembangan Sastra Kontemporer di 
Makassar: Menelisik Kumpulan Puisi Aku Hendak Pindah Rumah dan Kumpulan Cerita 
Pendek Makkunrai dan 10 Kisah Perempuan Lainnya tersebut akan dilaksanakan di:
 
  Tempat: Galeri Cipta 2, Taman Ismail Marzuki
  Waktu  : Senin, 24 Maret 2008, pkl 19:00-22:00 WIB 
  Pembicara: Nurhady Sirimorok (pemerhati sastra, bergiat di Komunitas 
Ininnawa, Makassar)  Nur Zen Hae (penulis, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian 
Jakarta), Mariana Aminuddin (penulis, Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan, 
Jakarta)
  Moderator : Moch. Hasymi Ibrahim (pemerhati seni dan budaya, komisaris Taksi 
Putra, Jakarta) 
   
  Sekilas tentang penulis: 
  M. Aan mansyur, lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982 dan tinggal 
di Makassar.  Puisi-puisinya dimuat di Kompas, Koran Tempo, Fajar, Pedoman 
Rakyat dan lain-lain. Hujan Rintih-rintih (Ininnawa, 2005) dan Perempuan, Rumah 
Kenangan (InsistPress, 2007) dan Aku Hendak Pindah Rumah (Nala Cipta Litera, 
2008) adalah 3 bukunya  yang telah terbit.
  
  Lily Yulianti Farid, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 16 Juli 1971. 
Cerpennya pernah dimuat di harian Kompas, Media Indonesia, Surya  dan Fajar. 
Sejak tahun 2004, bekerja  dan tinggal di Tokyo, Jepang sebagai jurnalis di 
Radio Jepang NHK World.  Mendirikan dan  mengasuh situs citizen journalism 
Panyingkul! sejak tahun 2006 sampai sekarang. Kumpulan Cerita Pendek Makkunrai 
dan 10 Kisah Perempuan Lainnya (Nala Cipta Litera, 2008) adalah karyanya yang  
terbaru. 
  
===================================================================================================================
   Inisiatif ini terlaksana atas kerjasama situs citizen journalism 
Panyingkul!(www.panyingkul.com), Kafe Baca Biblioholic, Penerbit Nala Cipta 
Litera dan Forum Tenda Kata, Makassar. 
   
  Untuk informasi lebih lanjut hubungi: 
  Jakarta:
   
  Mirwan Andan            : [EMAIL PROTECTED], 0813 1924 2965
Farid M. Ibrahim         : [EMAIL PROTECTED], 0813 1982 6707 
  
   
  Makassar:
  M.Aan Mansyur        : [EMAIL PROTECTED], 0813 4247 8649, 0411-586459 
  atau kunjungi situs http://sastradarimakassar.org 
   
    [Sumber: M Aan Mansyur [EMAIL PROTECTED], in [EMAIL PROTECTED]  Sat, 22 Mar 
2008 10:56:13 -0000
Subject: [mediacare] Press Release: Inisiatif Independen Sastra dari Makassar].


       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke