PERKEMBANGAN DINAMIKA POLITIK AKIBAT DEMOKRATISASI DI ACEH SELAMA 1999-2008
Iklim perpolitikan di Aceh berhembus kencang setelah rezim Orde Baru tumbang medio 1998. Perubahan sosial terjadi secara gradual di level nasional juga terjadi di Aceh. Negara (Jakarta) yang dulunya 'super power' tiba-tiba menjadi lemah, kelompok-kelompok masyarakat sipil kembali bangkit dan menjadi kuat. Ini dibuktikan manakala kelompok sipil dengan gagahnya menuntut negara untuk mencabut DOM yang telah berlangsung sejak 1989 di Aceh. Secara hukum, Aceh dalam rentang waktu 1998-2006 telah mendapatkan payung hukum, mulai dari UU No. 44 Tahun 1999 Tentang Keistimewaan Aceh, UU No 18 Tahun 2001 Tentang Otonomi Daerah (pelaksanaan syariat Islam), UU No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah daerah, dan yang terakhir UU No. 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh. Pada rentang waktu diatas, secara politik Aceh juga mengalami kondisi sosial yang sangat radikal, dimana perubahannya menjadi sangat cepat. Ditandai dengan pencabutan DOM pada tahun 18 Agustus 1998, Sidang rakyat Aceh menuntut referendum pada 8 November 1999, operasi-operasi militer 2001-2005, perundingan- perundingan politik, dari Jeda kemanusiaan, Gencatan Senjata, CoHA hingga Perjanjian Helsinki. Semua kondisi diatas ternyata melahirkan perubahan sosial, agama, politik dan budaya di Aceh. Transisi politik ini ternyata melahirkan banyak aktor dan kelompok baru yang hadir untuk mengisi ruang keterbukaan yang dilahirkan angin reformasi. Sebut saja LSM, kelompok perempuan, partai politik, dan ulama. Perubahan signifikan yang terjadi di Aceh akibat demokratisasi inilah yang kemudian menjadi semakin dinamis seiring dengan perjalanan waktu dari 1999-2008. Diskusi ini juga ingin melihat implementasi UUPA terkait dengan tantangan dan hambatan pelaksanaannya di Aceh pra dan pasca perjanjian Helsinki.. Untuk melihat lebih jauh lagi "PERKEMBANGAN DINAMIKA POLITIK AKIBAT DEMOKRATISASI DI ACEH SELAMA 1999-2008", Aceh Institute mengundang Jacques Bertrand (Associate Proffesor of Political Science, Asian Institute, Munk Center for International Studies, University of Toronto, Canada) untuk memberikan paparan dan pandanganya dalam diskusi publik Aceh Institute pada Jumat 28 Maret 2008, Pukul Pukul 16.45-18.30 di Balee Seumike Aceh Institute. Diskusi terbuka untuk umum dan gratis. Profil Jacques Bertrand is Associate Professor of Political Science at the University of Toronto (Canada). A graduate of McGill University (BA 1984), he also holds an M.Sc. from the LOndon School of Economics and POlitical Science (UK), and a Ph.D. in Politics from Princeton University (1995). He is the founding coordinator of the Southeast Asia Group at the Asian INstitute, University of Toronto. Jacques Bertrand is the author of Nationalism and Ethnic Conflict in Indonesia (Cambridge University Press, 2004). He has also published articles in the International Journal of Constitutional Law, Comparative Politics, Pacific Affairs, and Asian Survey, as well as several book chapters. Jacques Bertrand Munk Centre for International Studies, Rm 107N 1 Devonshire Place Toronto, ON M5S 3K7 Canada http://id.acehinstitute.org//index.php?option=com_content&task=view&id=24&Itemid=42 ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

