Catatan Bantimurung:
   
   
  INISIATIF SASTRA DARI MAKASSAR
   
   
  2.
   
   
  Indonesia Bukan Hanya Jakarta Dan Jawa
   
   
  "Inisiatif Sastra Dari Makassar" [selanjutnya saya singkat dengan "Inisiatif] 
yang sejak bulan Maret 2008 ini dilancarkan , jika dilihat dari lingkup 
geografis kegiatan, nampak menjangkau daerah geografis yang luas dan bahkan 
memasuki titik-titik penting kegiatan kebudayaan selama ini, seperti TIM di 
Jakarta dan daerah-daerah lain di Jawa.  
   
   
  Cakupan geografis yang hingga memasuki titik-titik penting tradisional dan 
sering dijadikan "standar" oleh pandangan sentralisme nilai selama ini, bagiku 
mempunyai arti penting. Merupakan suatu gebrakan teguran. Suatu kampanye 
penyadaran bersifat konsepsional bahwa sastra-seni Indonesia [baik lisan atau 
pun tulisan] adalah suatu kehinnekaan. Sentralisasi nilai adalah mengingkari 
kebhinekaan dan merupakan ancaman bagi kebhinnekaan.Ujud dari sektarianisme 
yang hanya berujung pada kebuntuan. Sentralisme nilai atau standar tidak lain 
bentuk otoritarianisme dalam bidang kebudayaan dan tidak bakal pernah berhasil. 
 Karena pada dasarnya sastra-seni satu dengan kebebasan mengungkapkan diri 
secara alami. Kekangan atau standarisasi dalam bentuk apa pun seperti bendungan 
tidak bisa total mencegah rembesan air mencari laut. Sentralisme nilai juga 
pada dasarnya tidak rasuk [uncomptible] dengan Republik sebagai rangkaian 
nilai. Yang terjadi selama ini agaknya tidak lain dari keadaan
 dengan menggunakan label Republik dan Indonesia melakukan penindasan , 
penjajahan bahkan mendekati penghancuran kebudayaan daerah-daerah melalui 
politik budaya standar Jawanisasi atas nama Pancasila dan manusia Pancasila 
atau manusia Indonesia yang dilakukan oleh penyelenggara negara sesuai 
pendekatan "keamanan nasioanl dan stabilitas nasional.[Soal ini di sini 
rinciannya aku cadangkan karena akan melencengkan persoalan dari tema pokok]. 
   
   
  Jika penglihatanku  benar dan benar demikian, lalu seniscayanyakah  
sastrawan-seniman mengucilkan diri dari kehidupan, dari masyarakat dan 
berkurung di ruang kecil bernama estetika murni yang pada galibnya juga tidak 
murni seperti yang tersirat pada pandangan bahwa "proses kreatif dalam 
penulisan sastra memang tidak bisa dibingkai oleh batasan-batasan di luar 
sastra?". Pandangan yang barangkali akan  membuat sastrawan-seniman menjadikan 
diri sebagai "pangeran" dan "anak raja" bertengger di "menara gading" dan 
berasyikcumbu dengan diri sendiri [sebuah tema yang bisa dianalisa secara 
khusus lagi dari berbagai sudut pandang]. Sastrawan-jenis  "menara gading" dan 
"pangeran" serta "anak-anak raja" tidak akan perduli dengan kasus seperti 
ibu-ibu membunuh anak kandungnya karena tekanan ekonomi, tidak akan acuh dan 
tergerak nuraninya karena tekanan ekonomi ibu-ibu menjual anak yang keluar dari 
rahimnya. Karena soal-soal ini barangkali dianggap sebagai"bingkai di luar 
sastra".
 Karena "komitmen manusiawi" dipandang sebagai "bingkai di luar sastra".  
   
   
  Standarisasi atau sentralisasi nilai dan berasyikcumbu dengan diri sendiri 
sesunguhnya berada di satu tempat. Yang satu bersifat represif,  yang lain tak 
peduli dan hanya peduli diri , bentuk lain dari mentalitas budak dan eskapisme 
dengan latar ekonomi, sosial, sejarah dan politik tertentu. Kehidupan 
sastra-seni pada suatu periode tak terpisahkan dari kondisi sejarah, sosial, 
politik, ekonomi pada periode tertentu itu. Kebudayaan dominan suatu zaman 
tidak lain dari kebudayaan kekuasaan dominan suatu zaman. Tentu saja di samping 
itu ada yang disebut kebudayaan "arus bawah" [contre courant, budaya 
tandingan]. Dengan menyentuh sepintas masalah ini, saya sebenarnya sedang 
menyinggung arti penting konsep dalam kegiatan yang umum dikenal dalam 
kata-kata "tak ada kegiatan revolusioner tanpa teori revolusioner". Sastra-seni 
pada dasarnya adalah bersifat revolusioner.
  "Against the Wind" jika menggunakan istilah May Swan, sastrawan 
Indonesia-Singapura. "Inisiatif" ini pun pada hakekatnya mempunyai sifat 
"Against the Wind" ini juga.  Gebrakan yang mengatakan bahwa Indonesia adalah 
Indonesia yang berkeindonesiaan dan republiken. "Inisiatif" adalah pernyataan 
republiken dan berkeindonesiaan yang untuk Sulawesi Selatan telah ditradisikan 
oleh Karaeng Galesong dan para pejuang anti kolonial hingga mereka dibuang oleh 
kolonialis Belanda sampai ke Afrika Selatan karena merasa Srilangka [Ceylon]  
masih terlalu dekat dengan Sulsel sebagai tempat pembuangan.  
   
   
  Hal lain yang kubaca dari terselenggaranya "Inisiatif"  dengan jangkauan 
skala geografis kegiatan ini  adalah peranan organisasi dalam berkesenian. 
Kegiatan berkesenian, apalagi dalam skala seperti yang dilakukan oleh 
"Inisiatif" dengan skala jangkauan geograifisnya  tidak akan mungkin terwujud 
tanpa adanya peranan organisasi. Kerjasama jaringan adalalah bagian dari 
kegiatan berorganisasi. Adanha komunitas-komunitas sastra-seni di berbagai 
pulau dan daerah juga memperlihatkan peran orgnisasi dalam berkesenian.  Bahkan 
adanya milis-milis sastra-seni, sebagaimana halnya !dewan-dewan Kesenian di 
berbagai kota dan daerah, kukira merupakan bentuk organisasi dan sekaligus 
menunjukkan peran organisasi dalam berkesenian .Organisasi kesenian dan 
kegiatan berkesenian tidak bisa dipisahkan. Organisasi kesenian justru  
berperan  besar dalam mengembangkan kegiatan berkesenian.  Sanggar kesenian, 
apakah bukan bentuk dari organisi berkesenian? Pameran buku, pameran lukisan, 
patung dan
 lain-lain, apakaha mungkin berlangsung tanpa organisasi? Melalui organisasi, 
bisa dirancangkan sarana pengembangan dan kegiatan-kegiatan berkesenian. 
Organisasi kesenian dan kesenian berada di satu bingkai.Kalau bukan di satu 
bingkai, paling tidak  keduanya saling bertautan erat. Organisasi kesenian 
memungkinkan terselenggaranya seminar, sarasehan, konfrensi dan kongres yang 
menyimpulkan pengalaman berkesenian.  Penyimpulan pengalaman berkesenian akan 
membantu kegiatan berkesenian berkembang sistematik - tingkat lebih tinggi,  
terarah dan berencana daripada kegiatan spontanitas. Apabila "Inisiatif" 
mempunyai "target memberi sumbangan berarti bagi Kota Makassar sebagai tempat 
yang berbudaya", mungkinkah target ini tanpa organisasi? "Inisiatif" itu 
sendiri mungkinkah terselenggara tanpa organisasi? Organisasi adalah sarana 
pengejawantahan  konsep. Berkembang tidaknya organisasi akan dipengaruhi oleh 
tanggap tidaknya konsep terhadap tantangan zaman.
   
   
  Aku kira target yang niscayanya ingin dicapai bukan menjadikan "Kota Makassar 
sebagai tempat yang berbudaya" tapi apakah bukannya menjadikan Makassar sebagai 
salah satu pusat kebudayaan. Dengan menjadikan Makassar sebagai salah satu 
pusat kebudayaan di Indonesia maka berarti kita memencarkan pusat-pusat 
kebudayaan di negeri kita. Lepas dari kadarnya, sekarang pun , kukira Makassar 
sudah mempunyai kebudayaannya sendiri.  Memencarkan pusat kebudayaan di negeri 
ini, kukira, merupakan target strategis yang seniscayanya juga menjadi target 
penyelenggara negara. Untuk mewujudkan tujuan strategis kebudayaan ini, 
kegiatan aktif peran subyektif orang lokal sangat menentukan. Tanpa kegiatan 
aktif peran subyektif orang lokal, tujuan strategis kebudayaan ini akan lebih 
banyak menjadi angan-angan tertulis di kertas karena walau pun peran faktor 
ekstern, tapi faktor intern akan lebih berperan menentukan.  "Inisiatif", jika 
penglihatanku benar, tidak lain dari bangkitnya faktor intern
 untuk mewujudkan tujuan strategis kebudayaan mengejawantahkan sastra-seni 
kepulauan sesuai konsep Republik dan berkindonesiaan. Mewujudkan desentralisasi 
nilai dan kebudayaan yang pada dasarnya memang bersifat bhinneka.
   
   
  Tumbuh berkembangnya budaya lokal yang beridentitas sama sekali tidak identik 
dengan tutuppintuisme atau sektarianisme tapi justru sesuai dengan prinsip 
repibliken dan berkeindonesiaan yang oleh Paul Ricoeur dirumuskan dalam 
kata-kata: "kebudayaan itu majemuk kemanusiaan itu tunggal". Identitas lokal 
hanyalah bentuk atau warna unik bagi kemanusiaan yang tunggal. Identitas budaya 
lokal dengan prinsip ini akan tinggal angan-angan jika kita tidak mengenal apa 
siapa diri kita, tidak mengenal daerah kita, asing dari budaya di mana kita 
dilahirkan dan diasuh. Dan akan menjadi kerdil bagai kerakap di atas batu jika 
tidak menyerap, tidak mengeksplorasi dan mengeksploatasi khazanah budaya dan 
intelektualitas dari luar. 
   
   
  Dengan pandangan begini, aku menyambut hangat "Inisiatif" sebagai ayunan 
langkah pertama menelusur jalan panjang tak punya sampai budaya anak manusia. 
Menjadikan Makassar sebagai salah satu pusat, kubayangkan membangunnya sebagai 
sebuah dermaga berlabuh dan berangkat para pekerja budaya yang berjiwa pencari 
seperti para awak pinisi Bugis. Jiwa pinisi adalah jiwa dan semangat Karaeng 
Galesong. Adalah jiwa dan semangat pencari dan pembaharu, penarung dan penakluk 
gelombang. Barangkali merumuskan konsep dasar budaya untuk menjadikan Makassar 
sebagai salah satu pusat budaya di negeri ini dalam konteks sastra-seni 
kepulauan merupakan sesuatu yang menentukan. Makassar mempunyai tenaga-tenaga 
mampu selain Lily Yulianti, Ann Mansyur  dan lain-lain, masih ada tenaga 
berkemampuan besar berpengalaman seperti budayawan Andi Makmur Makka di The 
Habibie Center Jakarta.  Dengan tenaga-tenaga begini, sungguh bukan angan-angan 
menjadikan Makassar sebagai salah satu pusat budaya di negeri
 kita. Menghimpun semua tenaga dari semua generasi akan mempunyai arti besar 
dalam mencapai tujuan. Kepongahan angkatan adalah sikap yang mendekati ulah 
orang tanpa pengalaman dan pikiran jauh. Kekuatan tersimpan pada kebersamaan 
semua angkatan.  Jika Makassar tumbuh menjadi pusat kebudayaan disusul oleh 
kota-kota lainnya di luar Jawa, jika  demikian maka benar bahwa  Indonesia 
bukan hanya Jakarta dan Jawa. Jika demikian maka benar Republik ini adalah 
republik yang berkeindonesiaan.***
   
   
  Paris, Musim Semi 2008
  ---------------------------------
  JJ.Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia Paris.


       
---------------------------------
 
 Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke