Dalam Al-Quran, Allah berfirman maksudnya: "Yang paling takut kepadaKu di kalangan hamba-hambaKu ialah ulama." Al-Fathir:28 Ayat ini jelas menunjukkan yang paling takut kepada Allah adalah ulama. Ilmu yang ada pada ulama itu melayakkan mereka untuk jadi orang yang takutkan Allah. Tapi realitanya yang terjadi ulama yang ada pada hari ini sudah tidak takutkan Allah, malah ramai di antara mereka sewenang-wenang mengabaikan perintah Allah. Apa yang sudah terjadi? Apa yang tidak tepat sehingga realita itu berlawanan dengan kehendak ayat ini? Mari kita analisa dan kaji. 1) Ulama menjadi orang yang tidak takutkan Allah disebabkan ilmu mereka tidak cukup. Ilmu tidak global. Ilmu mereka hanya pada satu-satu bidang saja dan tidak menyeluruh. Kebanyakan bertumpu pada ilmu fekah. Mereka menguasai ilmu fekah sehingga mereka mampu membuat hukum dan memberi fatwa. Tetapi mereka tidak pula berminat pada tasawuf. Ada juga yang mengambil ushuluddin hingga mahir, hebat berpidato dan menguraikan tentangnya. Tapi tidak pula mendalami fekah dan tasawuf. Sedangkan untuk takutkan Allah, ilmunya harus diambil kesemuanya sekali. Tidak boleh bertumpu pada satu-satu ilmu saja. Haruslah dipelajari, dipahami dan dihayati ketiga-tiga bidang ilmu iaitu tauhid, fekah dan tasawuf. Bila sudah bergelar ulama tidak boleh pula dia disebut sebagai ulama tauhid atau ulama fekah atau ulama sufi. Sebut saja ulama, bermaksud ilmu mereka mencakupi ketiga-tiga bidang tersebut. Ini yang sepatutnya dipahami. 2) Ulama tidak takutkan Tuhan karena mereka mengambil ilmu itu hanya sebatas belajar (Taklim) saja tapi melupakan unsur pendidikannya (Tarbiyah). Sedangkan pada ilmu itu ada pengajian/pelajaran dan ada pendidikan/pengajaran. Ilmu itu pengajiannya adalah dengan belajar atau berguru sedangkan pendidikan itu adalah pelaksanaan ilmu. Daripada perlaksanaan ilmu itulah baru ilmu itu boleh diapply dengan berkesan. Daripada pelaksanaan ilmu barulah ilmu itu boleh dihayati dan dijiwai. Pelaksanaan ilmu itu pula haruslah ada murysid yang memonitor, jika tidak pelaksanaan ilmu tidak akan berhasil. Ulama tidak boleh berdiri dengan sendirinya, kecuali dia adalah sebagai mursyid. Ulama patut bersandar pada mursyid karena di situ dia akan menempuh proses pendidikan. 3) Ulama juga tidak menjadi sebab atas faktor niat menuntut ilmu sudah kesasar. Awal niat itu menentukan kejayaan ulama bersama Tuhannya. Jika awal niat belajar atau menuntut itu karena Tuhan, maka natijahnya (hasil) adalah baik dan sampai kepada Tuhan. Tetapi jika niat itu bukan karena Tuhan, ada terselip kepentingan pribadi dan dunia (kebendaan), maka natijahnya ulama itu rusak hubungannya dengan Tuhan. Dia tidak dapat menjadi orang yang takutkan Tuhan karena ilmu yang ada padanya tidak dapat membentuk dirinya. Ini disebabkan roh ilmu itu sudah dirusakkan oleh niatnya yang kesasar tadi. Ilmu yang tanpa roh tidak akan memberi kesan pada jiwa. Tidak memberi kekuatan pada dalam diri. Ia sekedar ilmu biasa yang bertapak dan bertumpu di akal saja, bukan di hati. 4) Faktor guru memainkan peranan sangat penting dalam menuntut ilmu. Walaupun sudah menuntut ilmu dan seseorang itu boleh diclaim dirinya ulama tetapi harus dilihat siapakah gurunya. Apakah dengan mendapat ijazah dari lulusan sekolah agama Islam itu sudah bisa diberi gelar sebagai ulama? Sedangkan entah siapa-siapa gurunya yang sudah barang tentu boleh diperdebatkan pula entah daripada mana ilmu guru itu. Hakikatnya, hanya ulama yang melahirkan ulama. Sebab itu ulama yang tidak menjadi ini, boleh dikatakan kesalahan paling besar mereka adalah dalam memilih guru. Mereka sangka guru mereka ada di universitas saja. Mereka sangka belajar secara formal dengan guru tersebut boleh melayakkan diri mereka menjadi ulama. Sedangkan mereka tidak teliti dan berhati-hati dalam memilih guru yang benar-benar ulama dalam mengajar dan mendidik mereka. Guru yang sepatutnya membawa mereka cintakan Tuhan, bukan sekedar cintakan ilmu. Sekian. _________________________________________________________________ Easily manage multiple email accounts with Windows Live Mail! http://www.get.live.com/wl/all
[Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

