Peringatan (yang terlambat) oleh SALAH SATU dari 3 juta penonton AAC di 
Indonesia...he,..he.,.he....
Kalau dimasukkan juga penonton di Malaysia, Brunei, Singapura, dll.... mungkin 
menjadi SALAH SATU dari 5 juta penonton AAC..... 

Berbeda dengan emabdullah, kalau saya memilih menonton AAC dan diberi HP Nokia 
terbaru. Tarif bioskop Rp 25.000. Harga HP Nokia terbaru bisa Rp 9.000.000.  
Untung ribuan persen....he..he..he... (saya malah merasa boldoh, kalau menolak 
nonton AAC dan kehilangan peluang mendapat HP Nokia terbaru seharga Rp 
25.000.....he..he..)


----- Original Message ----
From: emabdulah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, March 28, 2008 10:06:53 PM
Subject: [ppiindia] Ayat – ayat Cinta, Hati-hati Menontonnya

Ayat – ayat Cinta, Hati-hati Menontonnya

Oleh: [EMAIL PROTECTED] com

Menonton film Indonesia? Rasanya walaupun diberi imbalan HP Nokia terbaru saya 
kok memilih lebih baik menemani ponakan saya main petak-umpet. . Kenapa begitu. 
Film Indonesia, Sinetron Indonesia, setiap kali saya – tanpa sengaja – 
menontonnya, malah membuat saya seperti orang bodoh. Jalan ceritanya terlalu 
mudah untuk dicerna dan ditebak. Dialog-dialognya kosong dan tak ada yang 
memancing indera “keingintahuan” . Personil yang main juga tidak didukung 
dengan karakter yang tajam. Aktingnya terasa sekali dibuat – buat. Yang 
ditonjolkan hanya wajah-wajah cantik yang mengundang imajinasi porno para 
penontonnya. 

Begitu juga dengan film Indonesia terbaru, Ayat-ayat Cinta (AAT). Tidak ada hal 
yang baru dalam alur ceritanya. Semuanya berputar-putar pada masalah primitif 
hawa nafsu manusia, hubungan lain jenis, yang 90 persen menjadi topik film dan 
sinetron Indonesia.

Kalau bukan karena istri saya yang merengek-rengek minta nonton film kacangan 
seperti itu, saya tak akan merepotkan diri membuang duit ke bioskop. Bujukan 
saya untuk membeli VCD bajakannya saja ternyata tidak mempan. “Kalau nonton di 
VCD kan bisa diulang-ulang dan lebih murah,” Rayu saya. Tapi bibirnya malah 
makin manyun, pipinya jadi merah, dan tubuh saya habis dicubitin. “Tapi ini 
bagus, Mas. Ceritanya Islami dan tetang poligami”, serunya. Wah, kalau alasan 
yang terakhir itu saya tertarik. Akhirnya sebagai suami yang sayang istri, saya 
pun dengan gentleman mengantarnya nonton. 

Benar tuduhan saya terhadap film AAT. Jalan ceritanya membuat saya menguap 
berkali-kali. Topik yang disuguhkan tidak fokus. Ceritanya sendiri mengisahkan 
seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Di mana lagi 
kalau bukan di Universitas Al Azhar yang kesohor itu. Tapi di situ tidak 
dijelaskan, sang bintang, yang bernama Fahri, mengambil fak apa, jurusan apa. 
Pokoknya kuliah, gitu aja. 

Dan selama film berlangsung, saya menunggu-nunggu setting gambar fisik bangunan 
Al Azhar yang sudah berumur 1000 tahun itu. Tapi sampai film habis, tak 
diperlihatkan sama sekali suasana kampus, suasana para pemain yang sedang 
kuliah menuntut ilmu dengan dosen-dosennya yang brilian. Atau sebagian bentuk 
bangunan Al Azharnya. Malah pemandangan tangga kampus, yang menurut saya mirip 
tangga masuk masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, bukan Al Azhar Kairo. 

Adegan pertama, terjadi dalam sebuah kereta api. Sang bintang menjadi “hero” 
dengan membela seorang wanita bercadar yang hendak ditampar seorang muslim 
radikal karena memberi tempat duduk pada ibu-ibu Amerika. Adegan diawali degan 
sikap dan dialog para penumpang di kereta yang terasa mengada-ada. “Ada orang 
kafir lewat” begitu kira-kira mereka berkata. Padahal mereka adalah 
mahasiswa-mahasiswa yang tentunya punya rasa humanisme yang tinggi. Mesir 
adalah negara muslim yang moderat dan cenderung liberal. Jadi bukan hal aneh 
lagi kalau ada cewek asing lewat. Dan tak akan mungkin mereka mendisposisikan 
turis itu sebagai “kafir” secara explisit. Attitude seperti itu sangat 
melecehkan warga Mesir (dan muslim), karena segitu banyak penumpang, masak tak 
ada yang mau memberi tempat duduk pada wanita tua, walaupun beda agama. Yang 
memberi tempat duduk malah seorang muslimah bercadar yang berkewarganegaraan 
Jerman, Aishah.

Seperti sinetron-sinetron lainnya, sang wanita yang dibela kemudian merasa 
simpati terhadap “pahlawannya” yang telah membelanya, apalagi wajah si pembela 
bonyok dihantam si penjahat. Di sini supaya lebih heroik sebenarnya si Fahri 
tidak perlu ditolong oleh kawan-kawannya. Dengan ilmu kanuragan ala Lamongan 
mustinya si Fahri bisa membela diri, gitu. Walaupun nantinya si penjahat 
ternyata lebih sakti, dan si Fahri kalah. 

Drama babak pertama berakhir dengan kemenangan si penjahat yang berteriak 
“Allahu Akbar”. Di sini saya bingung. Kenapa si antagonis, extrimis muslim yang 
keras kepala tsb sampai akhir cerita tidak dimunculkan lagi. Ceritanya akan 
sedikit lebih bagus kalau orang yang mukul si Fahri tsb kemudian menyadari 
kekeliruannya dan kembali ke jalan yang benar.

Sang amerika yang ditolong Aishah ternyata adalah jurnalis yang sedang 
mengadakan penelitian mengenai Islam. Si Fahri, yang membela Aishah, ternyata 
kemudian dijadikan nara sumber. Dalam wawancara antara jurnalis dan Fahri 
nampak sekali kemiskinan dialog yang disuguhkan. Setiap pertanyaan si jurnalis 
selalu dijawab Fahri dengan singkat, ditambahi dengan kata, “Semuanya sudah 
saya tulis di buku saya”. Kalau begitu, ngapain si Jurnalis jauh-jauh datang 
dari amrik, mendingan baca artikel tentang Islam di internet. Cukup dua 
pertanyaan saja yang dimunculkan di film itu. Lalu adegan berganti. Cewek amrik 
itu tak pernah dimunculkan lagi sampai film habis. Mustinya sutradara lebih 
jeli dengan memunculkannya di hari pernikahan Fahri.

Adegan berganti dengan acara ta’aruf antara Aishah dan Fahri. Si Fahri yang 
hanya anak penjual tape, ditaksir si Aishah yang anak konglomerat Jerman. Tokoh 
Aishah di sini sangat tidak mirip dengan wajah Jerman. Mungkin terlalu mahal 
untuk menyewa artis Jerman asli. Begitu juga dengan orang-orang Mesirnya, 
banyak yang gadungan. Disewa dari hasil pencarian di pinggir-pinggir jalan 
Matraman (kasar amat. Sorry). Mereka hanya turunan. Untung hidungnya masih 
kelihatan mancung. 

Walaupun si Fahri mengaku miskin, anak penjual tape (tapi bisa punya ongkos ke 
Mesir). Cinta Aishah tak terpatahkan. Semua biaya akan ditanggung pihak wanita. 
Enak tenaaan. Itulah sinetron. Padahal di dunia nyata, sekaya apa pun seorang 
perempuan, pasti dia akan mencari lelaki yang lebih kaya. 

Di antara kebingungan antara kawin dengan tidak kawin, si pemeran utama menemui 
gurunya. Di sini saya merasa sangat dilecehkan. Pertemuan murid dan guru sebuah 
perguruan prestisius setingkat Azhar terjadi di sebuah ruangan gelap, mirip di 
sudut-sudut musholla, ketika seorang ustadz mengajar Iqra muridnya, di kampung 
saya. Mungkin si sutradara mengira, Al Azhar itu gak beda dengan 
halaqah-halaqah pengajian Kebon Jeruk, bukan universitas yang ada kursi dan 
bangkunya, lengkap dengan papan tulisnya.

Cerita singkatnya, si lakon kemudian “merit” dengan Aishah. Bulan madu 
dihabiskan di sebuah “kastil”. Di tengah suasana bulan madu, ternyata banyak 
gadis yang patah hati dengan menikahnya Fahri dengan Aishah. Salah satunya 
adalah Maryam. Maryam depresi berat mengetahui Fahri kawin dengan wanita lain. 
Aneh. Padahal pacaran aja enggak. Kok bisa patah hati. Fahri adalah penganut 
Islam yang textual (walaupun tidak jenggotan). Bersalaman dengan perempuan saja 
tidak mau, apalagi mau berkhalwat (menyepi) dengan wanita yang bukan ibunya, 
kok tahu-tahu gadis-gadis bergelimpangan kehilangan gairah hidup mengetahui 
Fahri tidak kawin dengan mereka. Aneh bukan? Nikmati saja. Udah terlanjur beli 
tiket.

Namun cerita bulan madu kedua sejoli itu tiba-tiba berubah berantakan, ketika 
si Fahri difitnah seorang wanita miskin yang merasa ditolak cintanya. 
Tuduhannya sangat berat, pemerkosaan. Tanpa alif, ba, ta, (gantinya ba, bi, bu) 
si Fahri dijebloskan ke penjara yang dipenuhi tikus. Sejorok itukah sebuah 
penjara di Mesir? Perlu klarifikasi. 

Dalam adegan di penjara ini, si sutradara nampak sekali memaksakan unsur 
“dakwahnya” yang diklaim sebagai film bernuansa islami. Ketika si pengantin 
baru itu memarahi Tuhan, dan mengomeli nasibnya, rekannya satu sel memberi 
nasehat dengan kisah Nabi Yusuf. Amat sangat tidak klop. Dalam Ushul Fiqh, 
mengkiyaskan sesuatu dengan hal yang berbeda itu bathil. Nabi Yusuf, yang 
memfitnah adalah wanita bangsawan. Sedang di kisah AAT, seorang gadis miskin 
yang patah hatilah yang memfitnah Fahri. Nabi Yusuf berdoa, lebih suka 
dipenjara daripada menuruti nafsu bejat para wanita bangsawan. Sedang Fahri 
tidak suka dipenjara, karena masih mencintai istrinya yang konglomerat.

Mustinya cerita AAT dibalik. Si gadis miskin itulah yang menikah dengan Fahri. 
Lalu Aishah datang menggodanya, dengan segala kekuasaan harta dan 
kecantikannya. Pasti ceritanya lebih seru. Baru cerita Nabi Yusuf terasa lebih 
mirip dijadikan dalil.

Seandainya sutradara punya instink yang lebih kreatif, tokoh yang menjadi rekan 
satu penjara dengan si Fahri adalah si muslim radikal yang muncul di adegan 
pertama di atas. Alasan di penjaranya karena terorisme. Sedang Fahri karena 
tuduhan pemerkosaan. Terus si Fahri, dengan kecerdasan emosional dan 
intelektualnya berhasil menyadarkan si teroris. Bukannya mencak-mencak meratapi 
nasib (Merengek seperti keponakan saya kehilangan baju Spiderman). Sebuah 
adegan klise dari sineas Indonesia. Dapat hadiah, nangis. Dapat musibah, 
nangis. Ditinggal ke pasar, nangis. Ditinggal suami, meraung-raung.

Kembali ke pokok persoalan. Istri si Fahri ternyata bukan tipe gadis cengeng 
yang menyerah begitu saja pada nasib. Dia berusaha sebisa mungkin membebaskan 
suaminya. Penonton film ini terasa sekali dipaksa untuk merasa bahwa perjuangan 
Aishah sangat berat. Tapi penggambarannya sangat hambar. Rintangan-rintangan 
yang dilalui istri Fahri terlalu mudah diselesaikan. Tanpa kesan yang 
menggigit. Tahu-tahu si Fahri bisa keluar penjara. 

Ternyata saksi kunci bahwa Fahri bukan pemerkosa ada pada Maryam, yang sedang 
sekarat karena patah hati dan ketabrak mobil. (entah kenapa para penonton 
seperti tidak bosan-bosannya disuguhi adegan wanita stress ketabrak mobil). 
Entah dapat ide dari mana, si wanita Jerman itu tiba-tiba saja meminta Fahri 
mengawini Maryam. Tentu saja si Fahri tidak mau. Tapi karena melihat kondisi 
Maryam yang semakin koma, akhirnya beliau mau juga.

Kembali di sini saya bertanya-tanya. Setahu saya, pernikahan dalam Islam itu 
harus dilakukan dalam keadaan sadar oleh semua pihak. Sedangkan dalam film ini, 
si Maryam kondisinya koma alias tidak sadar. Kok bisa dinikahkan oleh para 
pemeluk islam yang taat? Atau ada mazhab baru yang membolehkannya? Kalau ada, 
sangat berbahaya. MUI harus bertindak. Sebab diilhami film ini, bisa saja nanti 
seorang lelaki menikahi wanita pujaannya yang sedang tidur. Begitu juga 
sebaliknya. Tak peduli wanita atau lelaki itu suka atau tidak suka.

Kita lanjutkan kisah aneh AAT. Di adegan pernikahan kedua si Fahri, penonton 
diuji imajinasinya. Atau sutradara ingin menyembunyikan fakta bahwa di Mesir 
para pemudanya juga doyan pacaran seperti di Indonesia. Karena ternyata si 
Maryam begitu menaruh hati pada Fahri sesuai buku hariannya. Dan si Fahri pun 
ternyata buaya. Dalam kealimannya ternyata dia mencintai Maryam. Dan keduanya 
sering ngobrol (atau pacaran?) di tepi sungai Nil. Jadi mana unsur dakwahnya? 
Film ini tak ubahnya cerita-cerita roman sinetron yang mengisi prime time di 
TV-TV kita. Hanya bungkusnya Al Azhar, sungai Nil, dan tulisan-tulisan Arab, 
serta wajah-wajah Indo-Arab.

Terlepas dari syah atau tidaknya pernikahan si Fahri dengan Maryam, ketiga 
makhluk berlainan jenis itu kemudian bisa hidup bahagia dalam satu rumah. Tentu 
saja rumahnya Aishah. Tapi sayang, sutradara malah memilih “mematikan” tokoh 
Maryam, istri kedua Fahri. Hanya saja kematiannya sengaja didramatisir, terjadi 
ketika Maryam sedang shalat dalam keadaan berbaring. Endingnya tetap saja 
meniru tokoh Cinderella dan pangeran yang hidup bahagia berdua selama-lamanya. 
Kehadiran Maryam dirasa mengganggu keharmonisan rumah tangga.

Film ini memang diangkat ke layar lebar dari Novel dengan judul yang sama, 
Ayat-Ayat Cinta. Tapi si pembuat film tidak mau sedikit berimprovisasi, merubah 
sedikit jalan ceritanya supaya lebih pas disuguhkan di layar lebar, yang punya 
durasi kurang dari 2 jam. Novel adalah cerita yang tidak bisa habis dalam 
sehari bisa dibaca (kecuali yang membaca tak punya kesibukan cari duit). Dan 
tak akan muat bila dijejalkan dalam waktu 150 menit.

Kalau film ini tak ada istimewanya dengan sinetron-sinetron lainnya, kenapa 
laris? Bahkan kabarnya sampai tulisan ini diketik, sudah 2 juta tiket terjual. 
Tentu saja karena memang kemampuan penonton kita baru sampai segitu. Terus 
topiknya sedikit menyinggung poligami dan benuansa islami. Tapi menurut saya 
tidak islami, sebab, kalau memang mau menyuguhkan kisah yang islami, ending 
cerita mustinya berakhir dengan ketiganya yang hidup bahagia dalam satu rumah. 
Kalau perlu wanita yang telah menuduh si Fahri memperkosanya juga dinikahi. 
Begitu juga mantan kekasihnya di kampung yang stress berat, juga dinikahi. Jadi 
istrinya empat. Hidup dalam satu rumah. Hidup happily ever and after. Mungkin 
belum ada sutradara dan produser yang berani membikin film seperti itu. 
Nantilah, saya yang bikin. Tapi mau praktek dulu.

Wassalam 


------------ --------- --------- ---
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke