From: Dang Aryanyacala
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dear all
Cerita sukses film AAC kok mencemaskan ya. Buat saya succsess story AAC malah
mengerikan.
Bukan apa-apa, orang kreatif di dunia seni kita umumnya bermental pedagang
kelontong. Maka bukan mustahil, AAC menjadi sebuah genre yang yang bisa
terperosok kepada kultur budaya pop. Cirinya apalagi kalau bukan mengekor.
Malah kadang-kadang dibuat simple karena yang terbayang keuntungan yang bakal
diperoleh mumpung sedang digemari orang. Setelah AAC sukses, kompetitor MD
Entertainment, yaitu Sinemart sudah ancang-ancang cari talent untuk besutan
terbarunya, Ketika Cinta Bertasbih. Novelnya kang Abik juga. Nah lho.
Jadi bisa jadi seperti kisah sukses sinetron religi. Ustad Sombong Kuburannya
Gosong atau Tukang Bubur Bisa Naik Haji. Setelah rating-nya bagus terus
broadcast lainnya latah, bikin juga sinetron serupa. Lalu hilang setelah
antiklimaks. Aduh ngeri banget deh kalau sampai ini terjadi. Nggak kebayang
semua studio 21 muter jenis film nasional sejenis. Kayak zaman dulu ngeseks ya
semua bikin ngeseks juga. Terus Babi Ngepet, produser lainnya tak ketinggalan
kereta.
Ah, semoga kecemasan saya kali ini tak beralasan. Ayo bikin lagi film lain yang
bagus. Jangan biarkan film nasional mati suri lagi ditinggal penonton di
negerinya sendiri.
mediacare
http://www.mediacare.biz
[Non-text portions of this message have been removed]