saya turut berduka cita, semoga keluarga yg ditinggalkan tabah menghadapi
cobaan.
salam, heri latief
amsterdam
--- In [EMAIL PROTECTED], "samiaji" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
MURAD AIDIT In Memoriam
Wawancara dengan HD. Haryo Sasongko, 26 November 2000
Murad Aidit telah meninggal dunia pada hari Sabtu, 29 Maret 2008 pukul 05.00 di
Depok Jawa Barat dan dikebumikan hanya beberapa jam kemudian. Untuk mengenang
perjalanan hidup almarhum, berikut dipetikkan rekaman hasil wawancara dengannya.
* * *
Murad Aidit, adik kandung DN Aidit, Ketua CC PKI. Hanya seratus hari setelah
kembali ke Indonesia dari menjalani pendidikan di Uni Soviet, Murad ditangkap,
dijebloskan ke dalam tahanan dan akhirnya menghuni Pulau Buru selama sektiar 10
tahunan. Apa alasan menangkap saya dan membuang saya ke Pulau Buru, hingga
kini saya tidak tahu. Mungkin karena di belakang nama saya ada kata Aidit
itu. Sialnya, istri saya juga ikut ditahan juga tanpa penjelasan apa
alasannya, kata Murad.
Dilahirkan di Belitung Sumatera Selatan, Murad Aidit merupakan salah seorang
dari lima bersaudara anak Abdullah Aidit, seorang pejuang di masa revolusi dan
pendiri sebuah madrasah Nurul Islam di Belitung. Abdullah Aidit bersama dokter
Suryo adalah pengibar bendera Merah Putih yang pertama di masjid yang
dipimpinnya.
Abdullah Aidit mempunyai anak tertua, DN Aidit, menyusul kemudian Basri Aidit,
Murad Aidit, Sobron Aidit dan Asahan Aidit, yang bungsu. Murad dilahirkan pada
21 Agustus 1927, pendidikan HIS di Tanjungpandan.Melanjutkan belajar di MULO
Jakarta, hanya setahun karena pecah perang di mana Jepang mulai mendarat. Dia
menjual koran bersama kakaknya untuk menyambung hidup. Dia dikembalikan ke
Belitung oleh PKP (Penolong Korban Perang). Di Belitung Jepang sudah berkuasa
dan banyak rakyat sudah menjadi romusha. Oleh ayahnya dia dikirim kembali ke
Jakarta dengan naik kapal. Akibat angin kencang, kapal terbawa sampai pantai
Pekalongan, dan dia harus nak kereta api untuk kembali ke tujuan semula,
Jakarta.
Sambil meneruskan sekolah Murad masuk Angkatan Pemuda Indonesia (API), aktif di
Menteng 31, bertemu dengan Sukarni, Chaerul Saleh, Hanafi, Wikana dan
lain-lain. Murad masuk Laskar Rakyat Jakarta yang bermarkas di Karawang bersama
teman-temannya dari Pesindo. Di Karawang dia bergabung bersama Darwis dan Adam
Malik. Murad dipercaya sebagai pengantar surat dan banyak terlibat dalam
pertempuran.
Namun aktivitasnya harus dikurangi ketika menjelang Clash II ia menderita TBC
hingga saat penyerahan kedaualatan. Ia harus menjalani pengobatan di Rumah
Sakit Cisarua Bogor. Menjelang Pemilu 1955, Murad yang sudah sebagai veteran
perang kemerdekaan ini kembali ke Belitung untuk mendukung PKI di daerahnya.
Terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Belitung sekaligus anggota DPRD
Provinsi Sumatera Selatan.
Murad mendapatkan tawaran belajar ke luar negeri dengan pilihan Jepang atau Uni
Soviet. Ia memilih ke Uni Soviet dan belajar di Universitas Negara Patrice
Lumumba. Selesai pendidikan enam tahun (1965) dengan mengantongi ijazah
sebagai sarjana ekonomi. Murad kembali ke Indonesia pada bulan Agustus dan
ditempatkan di Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PP dan K)
golongan F/II. Karena seorang veteran, golongannya akan dinaikkan menjadi
F/III, setara dengan pejabat tinggi.
Namun sebelum naik pangkat, dia harus naik mobil petugas keamanan yang
tiba-tiba menangkapnya di rumahnya di Depok. Selanjutnya dibawa ke Bogor, terus
mendekam di penjara di Bandung. Tak lama kemudian dia dibebaskan dan pulang ke
Depok. Hanya sebulan, dia disambar Operasi Kalong dan kembali masuk tahanan
di Jakarta.Istri saya yang masih menyusui bayi ikut dibawa sampai dibuang ke
Plantungan, tuturnya lagi.
Sementara itu Murad mendekam di penjara Salemba selama beberapa tahun, untuk
kemudian diberangkatkan ke Pulau Buru bersama sekitar 500-an tapol lainnya.
Selama 10 tahunan dia berada di Unit XV pada barak khusus yang disebut Barak
Isolasi. Selanjutnya ia dipindahkan ke Unit V. Di Pulau Buru inilah Murad
Aidit bertemu dengan kakaknya, Basri Aidit yang menghuni Unit lain sehingga
jarang bisa berkomunikasi.
Selama menjalani pembuangan dan dalam kondisi sakit-sakitan, berbagai bentuk
kekerasan fisik dialaminya, di tengah kerja keras untuk bertani dan
berkebun.Dia hanya mendapatkan jatah 2 ons beras untuk makan sehari. Untunglah
bersama teman-temannya dia dapat mencuri hasil keringatnya sendiri sehingga
bisa makan 6 ons beras sehari.
Murad dibebaskan pada tahun 1978 dan langsung kembali ke Depok setelah
ditampung sementara di Bandung, kota di mana dulu dia diberangkatkan ke Pulau
Buru. Dan ternyata, istrinya malah masih mendekam di tempat pembuangan
Plantungan dan dia harus menengoknya ke sana sampai istrinya dibebaskan setahun
kemudian.
Meskipun sudah dibebaskan sebagai tapol, dia tetap hidup sebagai tapol, dalam
arti tidak bebas bergerak apalagi bekerja. KTPnya diberi tanda ET.Memasuki usia
73 tahun baru mendapatkan KTP seumur hidup. Dengan modal menguasai bahasa
Inggris, Belanda dan Rusia, dia menjadi penerjemah berkat bantuan Proyek
Sosial Kardinal di bawah lingkungan gereja di katedral Jakarta. Dari
penghasilan ini dia membeli rumah di Depok dan membuka usaha penerbitan Pustaka
Pena. Tahun 1996 dia naik haji dan hingga meninggalnya aktif di Majlis Taklim
di sekitar tempat tinggalnya.
Selamat jalan Bung Murad Aidit.
(Diangkat dari kumpulan dokumen Korban Tragedi 65).
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan
http://herilatief.wordpress.com/
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total
Access, No Cost.
[Non-text portions of this message have been removed]